Hampir Separuh Mahasiswa Universitas Ibadan Pernah Berjudi Daring

A A

Ilustrasi tangan memegang ponsel menyala di kamar asrama kampus pada malam hari [Foto: Dibuat dengan AI]

  • Sebanyak 200 dari 403 mahasiswa University of Ibadan atau 49,6 persen mengaku pernah berjudi secara elektronik.
  • Kesulitan ekonomi paling kuat kaitannya dengan pengalaman berjudi, dengan rasio odds 3,06.
  • Sebanyak 50,9 persen mahasiswa yang pernah berjudi setuju judi menambah stres dan kecemasan mereka.
  • Sebanyak 38,5 persen mengaku pernah meminjam uang atau menjual barang untuk membiayai judi.
Daftar Isi
  1. Dari Kedai Taruhan ke Layar Ponsel
  2. Dompet yang Menipis
  3. Asrama, Teman, dan Rasa Bisa Mengendalikan
  4. Utang dan Barang yang Dijual
  5. Meja Layanan Konseling Kampus
  6. Satu Kampus, Satu Pertanyaan Ya atau Tidak

Di kawasan hunian mahasiswa yang mengelilingi kampus-kampus di Ibadan, Nigeria, kedai taruhan mudah ditemukan. Di samping kedai itu, platform judi digital menjangkau mahasiswa secara langsung lewat iklan media sosial yang menyasar mereka.

Gambaran itu dicatat Tolani Samuel Fadipe dari GamblePause Africa Initiative di Lagos dan Chimezie Obinna Odionye dari GamblePause Africa Initiative serta University of Nigeria, Nsukka. Keduanya menuliskannya dalam Electronic gambling engagement and psychosocial outcomes among students at the University of Ibadan, Nigeria: a theory of planned behavior perspective, terbit di jurnal BMC Public Health volume 26 tahun 2026.

Fadipe dan Odionye bertanya kepada 403 mahasiswa sarjana dan pascasarjana University of Ibadan antara Maret dan Agustus 2025. Hasilnya, 200 orang atau 49,6 persen mengaku pernah berjudi secara elektronik, yakni berjudi lewat ponsel, laptop, atau komputer. Angka itu adalah prevalensi seumur hidup, artinya pernah berjudi setidaknya sekali.

Para penulis memilih kampus itu dengan beberapa alasan. University of Ibadan berdiri pada 1948 dan disebut para penulis sebagai universitas federal tertua di Nigeria, terletak di Ibadan, Negara Bagian Oyo, kota dagang besar dengan kepadatan operator judi yang tinggi. Menurut mereka, perpaduan akses digital, hunian yang dipadati anak muda, dan pemasaran komersial yang aktif membuat lingkungan perguruan tinggi sangat terpapar judi.

Dari Kedai Taruhan ke Layar Ponsel

Mahasiswa yang mengisi kuesioner rata-rata berusia 26,4 tahun. Laki-laki sedikit lebih banyak, yakni 209 orang atau 51,9 persen, sedangkan perempuan 194 orang. Jumlah mahasiswa sarjana dan pascasarjana nyaris berimbang, 203 berbanding 200, dan 209 orang atau 51,9 persen bekerja sambil kuliah.

Di layar, permainan yang dipilih beragam. Dalam tabel pola perjudian, poker berada di urutan teratas dengan 118 responden, disusul taruhan olahraga dengan 100 responden, mesin slot 93, dan permainan kasino daring 92. Para penulis mencatat poker dan taruhan olahraga sebagai bentuk yang paling umum.

Seberapa sering mereka bermain juga tercatat. Dari 200 mahasiswa yang pernah berjudi, 43 orang atau 21,5 persen bermain setiap hari dan 52 orang atau 26 persen setiap minggu. Sebanyak 58 orang atau 29 persen bermain setiap bulan, sementara 47 orang atau 23,5 persen mengaku jarang.

Di luar layar, pagar pengaman dari kampus belum ada. Menurut Fadipe dan Odionye, belum ada universitas di Nigeria yang memiliki kebijakan tertulis untuk mencegah dampak judi, dan National Universities Commission belum mengeluarkan pedoman kemahasiswaan tentang perilaku berjudi. Mahasiswa pun terpapar pemasaran judi tanpa perlindungan dari lembaganya.

Baca juga Kecanduan Ponsel Mahasiswa Bangladesh, 54 Persen Berisiko Tinggi

Dompet yang Menipis

Kesulitan ekonomi paling kuat terkait pengalaman berjudiKesulitan ekonomi 3,06; Sikap (positif) 2,34; Persepsi kontrol perilaku 2,03; Norma subjektif 1,86.Kesulitan ekonomi paling kuat terkaitpengalaman berjudiRasio odds tiap peubah terhadap pernah berjudi elektronik,403 mahasiswa University of Ibadan01234Kesulitan ekonomi3,06Sikap (positif)2,34Persepsi kontrol perilaku2,03Norma subjektif1,86Semua peubah bermakna pada p < 0,001.
Sumber: Tolani Samuel Fadipe dan Chimezie Obinna Odionye, Electronic gambling engagement and psychosocial outcomes among students at the University of Ibadan, Nigeria: a theory of planned behavior perspective, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Dari empat hal yang diuji, kesulitan ekonomi paling kuat kaitannya dengan pengalaman berjudi. Indeks kesulitan ekonomi disusun dari status pekerjaan, penilaian mahasiswa atas cukup tidaknya pendapatan, dan skala tekanan keuangan. Rasio odds-nya 3,06, tertinggi di antara keempat peubah dalam model. Tiga hal lain juga berkaitan secara bermakna. Sikap positif terhadap judi mencatat rasio odds 2,34, persepsi kontrol perilaku 2,03, dan norma subjektif 1,86. Secara keseluruhan, model itu menjelaskan 32 persen variasi keterlibatan berjudi di antara 403 mahasiswa tersebut.

Bagi para penulis, angka 3,06 itu mengubah cara membaca sikap positif mahasiswa. Dorongan di balik judi tampaknya bukan sekadar hiburan, melainkan sikap bertahan yang didorong kebutuhan uang. Dalam kerangka yang mereka pakai, sikap memang dipahami sebagai penilaian atas judi sebagai strategi keuangan atau investasi di tengah keterbatasan ekonomi.

“Mahasiswa tampaknya menilai judi sebagai strategi yang layak, meski berisiko, untuk bertahan hidup secara ekonomi di tengah sempitnya kesempatan,” tulis Fadipe dan Odionye, dalam terjemahan dari bahasa Inggris. Mereka menambahkan bahwa tingginya pengangguran kaum muda dan pendapatan yang tidak mencukupi di Nigeria kemungkinan memperkuat dinamika itu.

Asrama, Teman, dan Rasa Bisa Mengendalikan

Unsur berikutnya adalah norma subjektif. Dalam kajian ini, norma subjektif menangkap tekanan sosial dari lumrahnya taruhan di asrama mahasiswa dan dari banyaknya teman sebaya yang ikut berjudi. Unsur itu berkaitan secara bermakna dengan pengalaman berjudi para responden.

Menurut para penulis, maraknya kedai taruhan dan aplikasi ponsel menciptakan lingkungan tempat judi dipandang wajar secara sosial dan tersebar luas di kalangan mahasiswa. Mereka menyebutnya sebentuk ketidaktahuan pluralistik, yang bisa membuat mahasiswa terus bertaruh, bahkan mereka yang sebenarnya mungkin akan berhenti. Unsur ketiga, persepsi kontrol perilaku, mencakup mudahnya berjudi lewat ponsel pintar dan apa yang disebut ilusi kendali. Ilusi kendali adalah distorsi berpikir ketika seseorang melebih-lebihkan kemampuannya memengaruhi hasil yang sebenarnya ditentukan oleh peluang.

Fadipe dan Odionye memberi perhatian khusus pada temuan ini. Keyakinan keliru bahwa hasil bisa dikendalikan, tulis mereka, dapat memperkuat keikutsertaan meski mengalami kekalahan. Karena itu, pencegahan yang hanya menyasar sikap dan norma mungkin tidak cukup, dan keyakinan tersebut perlu dilawan dengan pendidikan tentang keacakan serta kenyataan matematis judi.

Baca juga Cemas Finansial Mahasiswa Berujung ke Distres Psikologis

Utang dan Barang yang Dijual

Bagi 200 mahasiswa yang pernah berjudi, ceritanya tidak berhenti di layar. Sebanyak 50,9 persen setuju atau sangat setuju bahwa judi menambah stres dan kecemasan mereka. Sebanyak 48,6 persen mengaku mengalami tekanan keuangan. Lalu 42,6 persen menyatakan judi berdampak buruk pada prestasi akademik mereka. Hampir separuh, 49,8 persen, merasa tidak mampu berhenti atau mengendalikan kebiasaan berjudinya. Sebanyak 38,5 persen mengaku pernah meminjam uang atau menjual barang untuk membiayai judi.

Dampak yang dilaporkan mahasiswa yang pernah berjudiStres dan kecemasan bertambah: Setuju atau sangat setuju 50,9%; Mengalami tekanan keuangan: Setuju atau sangat setuju 48,6%; Prestasi akademik terganggu: Setuju atau sangat setuju 42,6%; Merasa tak mampu berhenti atau mengendalikan: Setuju atau sangat setuju 49,8%; Meminjam uang atau menjual barang untuk berjudi: Setuju atau sangat setuju 38,5%.Dampak yang dilaporkan mahasiswa yangpernah berjudiPersen setuju atau sangat setuju, n = 200 mahasiswa yangpernah berjudi20%40%60%0Stres dan kecemasan bertambah50,9%Mengalami tekanan keuangan48,6%Prestasi akademik terganggu42,6%Merasa tak mampu berhenti atau mengendalikan49,8%Meminjam uang atau menjual barang untuk berjudi38,5%
Sumber: Tolani Samuel Fadipe dan Chimezie Obinna Odionye, Electronic gambling engagement and psychosocial outcomes among students at the University of Ibadan, Nigeria: a theory of planned behavior perspective, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Tidak semua responden mengiyakan. Untuk butir stres dan kecemasan, 34,7 persen tidak setuju atau sangat tidak setuju dan 14,4 persen memilih netral. Pada butir meminjam uang atau menjual barang, 45,2 persen tidak setuju atau sangat tidak setuju, sedangkan 16,3 persen netral. Menurut para penulis, tingginya laporan stres dan kecemasan serta tekanan keuangan menunjukkan keadaan ketika perilaku yang diambil untuk meringankan kesulitan keuangan justru bisa memperburuknya.

Mereka juga mengingatkan batas angka tersebut. Temuan ini bersifat deskriptif dan berasal dari butir laporan diri, sehingga tidak boleh dibaca sebagai penanda diagnosis gangguan judi. Angka 49,8 persen yang merasa tak mampu berhenti disebut sebagai indikator awal yang perlu diselidiki dengan alat ukur judi bermasalah yang sudah tervalidasi.

Meja Layanan Konseling Kampus

Dari temuan itu, para penulis menoleh ke layanan kesehatan dan konseling kampus. Mereka menyarankan alat penapisan singkat yang tervalidasi, seperti Brief Problem Gambling Screen, masuk ke pemeriksaan kesehatan rutin mahasiswa, terutama bagi yang datang dengan masalah keuangan. Konseling diminta menyentuh motif ekonomi sekaligus ilusi kendali, bukan hanya pesan tentang bahaya judi.

“Pelajaran kunci bagi pembuat kebijakan dan pengelola universitas adalah bahwa pencegahan judi di kalangan mahasiswa harus menjadi bagian dari tanggapan yang lebih luas terhadap ketidakamanan ekonomi kaum muda,” tulis keduanya, juga dalam terjemahan. Kampanye yang hanya mengandalkan pesan informasi, menurut mereka, kecil kemungkinan berhasil bila kerentanan keuangan di baliknya tidak ikut ditangani.

Untuk pengelola universitas, mereka mendorong kebijakan resmi tentang judi. Usulannya mencakup pembatasan iklan judi di dalam dan di sekitar kampus, serta pelatihan staf kemahasiswaan agar mampu mengenali dan merujuk mahasiswa yang kesulitan karena judi. Jalan keluar yang mereka tawarkan bersifat struktural. Program kerja sambil kuliah, hibah mikro kompetitif untuk wirausaha mahasiswa, dan pendidikan literasi keuangan yang mudah diakses disebut dapat mengurangi daya tarik judi sebagai cara mencari penghasilan.

Baca juga Distres Psikologis Naikkan Peluang Sulit Bayar Tagihan

Satu Kampus, Satu Pertanyaan Ya atau Tidak

Fadipe dan Odionye menyebut sendiri keterbatasan utama kajian mereka. Keterlibatan berjudi diukur dengan satu pertanyaan ya atau tidak tentang pengalaman seumur hidup, yang tidak membedakan judi sesekali, judi di masa lalu, judi rutin, atau judi bermasalah.

“Seseorang yang pernah berjudi sekali dan seseorang yang berjudi setiap hari digolongkan sama dalam pengukuran ini,” tulis mereka. Karena itu, faktor-faktor yang ditemukan berkaitan dengan pengalaman berjudi kapan pun, bukan dengan judi yang sedang berlangsung, yang sering, atau yang sudah menjadi gangguan.

Rancangan survei satu waktu juga membatasi kesimpulan sebab-akibat. Para penulis tidak dapat memastikan apakah kesulitan ekonomi dan sikap positif muncul lebih dulu, atau kekalahan yang membesar justru menambah rasa tertekan secara keuangan. Intensitas penggunaan internet tidak ikut diukur, dan dampak akademik dinilai menurut pengakuan mahasiswa sendiri.

Sampelnya pun berasal dari satu kampus. Mahasiswa University of Ibadan, meski beragam, belum tentu mewakili mahasiswa perguruan tinggi swasta, politeknik, atau universitas di wilayah lain, sehingga para penulis meminta kehati-hatian dalam menarik kesimpulan yang lebih luas.

Dalam kesimpulannya, Fadipe dan Odionye menyatakan keterlibatan berjudi secara elektronik di kalangan mahasiswa University of Ibadan berkaitan dengan kesulitan ekonomi serta sikap positif, norma subjektif, dan persepsi kontrol perilaku. Hasil itu, menurut mereka, menjadi landasan untuk merancang intervensi yang menyentuh akar ekonomi sekaligus cara berpikir yang menopang keterlibatan berjudi.

Bagikan

Baca Juga

Cuci Tangan Ibu dengan Air Saja Terkait Gejala Sakit Bayi Nigeria
Anemia Remaja Uganda Lebih Banyak Menimpa Anak Laki-laki
Hubungan Buruk dengan Pembimbing Seiring Cemas Mahasiswa Tiongkok
Bawahan Sedikit, Kepala Sekolah Swedia Lebih Jarang Bentrok Tugas
Lari Selang-seling Naikkan Stamina Mahasiswa yang Banyak Duduk
Warga Tepi Sungai Etiopia Nyaris Tak Kenal Penyakit Leptospirosis