- Sebanyak 172 dari 1.063 remaja, atau 16,2 persen, mengalami anemia.
- Anemia ditemukan pada 21,4 persen remaja laki-laki, dibanding 12,0 persen remaja perempuan.
- Dari 102 remaja yang positif H. pylori, 28,4 persen mengalami anemia.
- Bunyoro mencatat angka tertinggi, 42,1 persen, disusul Karamoja 33,3 persen dan Bukedi 25 persen.
Daftar Isi
Nakitta Jane bekerja di National Health Laboratory and Diagnostic Services di Kampala, Uganda. Ia menyusun gagasan sebuah penelitian dengan pertanyaan yang tampak sederhana: berapa banyak remaja berusia 10 sampai 19 tahun yang mengalami anemia, dan siapa yang paling rawan. Jawaban yang ia dan rekan-rekannya temukan berbalik dari yang lazim dilaporkan, sebab anak laki-laki yang diperiksa lebih sering anemia daripada anak perempuan.
Temuan itu ditulis Nakitta Jane dan rekan dari National Health Laboratory and Diagnostic Services serta College of Health Sciences Makerere University, Kampala, dalam makalah Prevalence and factors associated with anemia among adolescents in Uganda: a cross-sectional analysis of a national survey. Makalah itu dimuat jurnal BMC Public Health pada 2026. Enam orang tercatat sebagai penulis, di antaranya Pamela Kihembo dan Dathan M. Byonanebye dari Makerere University.
Nakitta Jane Menyaring Data Survei Nasional
Menurut catatan kontribusi penulis, konsep penelitian ini disusun Nakitta Jane, sementara rancangan analisisnya dikerjakan bersama Hellen Nansumba, Bridget Kabanyoro, dan Flaviano Mugalula. Dathan M. Byonanebye dan Pamela Kihembo memberi arahan dan ikut membangun gagasannya, lalu membimbing Nakitta Jane sekaligus ikut menulis artikelnya. Bahan mereka bukan data baru, melainkan modul gizi Uganda National Panel Survey 2018/2019, yang pengumpulan datanya melibatkan Biro Statistik Nasional Uganda (UBOS).
Dari survei itu, tim Nakitta Jane mengambil 1.063 remaja berusia 10 sampai 19 tahun yang kadar hemoglobinnya terukur. Sebanyak 590 di antaranya perempuan dan 473 laki-laki, dengan median usia 14,1 tahun. Anemia ditetapkan memakai ambang hemoglobin WHO yang berbeda menurut usia, jenis kelamin, dan kehamilan; untuk laki-laki berusia 15 sampai 19 tahun, batasnya di bawah 13,0 g/dL.
Nakitta Jane dan rekan mencatat sebagian besar remaja itu berstatus sosial ekonomi rendah. Sebanyak 837 dari 1.063 remaja, atau 78,7 persen, tinggal di perdesaan. Sebanyak 868 orang (81,7 persen) hidup di rumah tangga yang konsumsi pangannya tergolong buruk, dan 731 orang (68,8 persen) memakai jamban yang belum layak. Hasil tes H. pylori positif pada 102 remaja (9,6 persen) dan tes malaria positif pada 82 remaja (7,7 persen).
Menghitung Remaja yang Kurang Darah
Hitungan tim Nakitta Jane menghasilkan angka 172. Sebanyak 172 dari 1.063 remaja, atau 16,2 persen dengan selang kepercayaan 95 persen antara 14 dan 19 persen, mengalami anemia. Sebagian besar tergolong ringan, yakni 124 remaja (11,7 persen), sedangkan anemia sedang ditemukan pada 43 remaja (4,1 persen) dan anemia berat pada lima remaja (0,5 persen).
Rata-rata kadar hemoglobin peserta 13,4 g/dL, sama pada laki-laki dan perempuan. Namun, Nakitta Jane dan rekan mendapati sebaran anemianya berbeda. Di antara 473 remaja laki-laki, 79 orang (16,7 persen) mengalami anemia ringan, 21 orang (4,4 persen) sedang, dan satu orang (0,2 persen) berat. Di antara 590 remaja perempuan, 45 orang (7,6 persen) ringan, 22 orang (3,7 persen) sedang, dan empat orang (0,7 persen) berat.
Menurut klasifikasi WHO yang dikutip tim, angka anemia 5,0 sampai 19,9 persen tergolong masalah kesehatan masyarakat ringan. Nakitta Jane dan rekan menempatkan temuan mereka di golongan itu dan menyebut perlunya langkah dini, seperti penyuluhan kesehatan, agar masalahnya tidak naik ke derajat sedang atau berat. Mereka juga mencatat angka 16,2 persen sebanding dengan 16,7 persen pada perempuan berusia 15 sampai 45 tahun dalam survei yang sama.
Pembanding lain juga disodorkan tim Nakitta Jane. Angka mereka lebih rendah daripada 26 persen yang dilaporkan survei UNPS 2019/2020, dan sebanding dengan kisaran 10 sampai 15 persen pada remaja 15 sampai 19 tahun dalam survei UDHS 2018/2019. Karena angka pada remaja sebanding dengan beban di populasi umum, para penulis menilai program pencegahan anemia untuk remaja telah berhasil dan perlu dilanjutkan.
Baca juga Anemia Dewasa Malaysia Turun ke 15 Persen, Perempuan Paling Rawan
Nakitta Jane Menemukan Anak Laki-laki Lebih Rawan
Hasil yang tidak diduga tim muncul ketika data dipilah menurut jenis kelamin. Anemia ditemukan pada 101 dari 473 remaja laki-laki, atau 21,4 persen, dibanding 71 dari 590 remaja perempuan, atau 12,0 persen. Setelah faktor lain diperhitungkan, Nakitta Jane dan rekan mendapati rasio prevalensi terkoreksi pada laki-laki 1,83 dibanding perempuan, dengan selang kepercayaan 95 persen 1,39 sampai 2,41.
Temuan itu berlawanan dengan yang lazim dilaporkan, sebab remaja perempuan biasanya disebut lebih rawan karena kehilangan darah saat menstruasi. Dalam ringkasan makalahnya, Nakitta Jane dan rekan menulis, “Anemia secara paradoks lebih banyak ditemukan pada laki-laki dibanding perempuan, yang mengisyaratkan pergeseran beban baru-baru ini.” Kalimat itu diterjemahkan dari bahasa Inggris. Pola serupa, tulis mereka, juga dilaporkan riset pada remaja di Etiopia, Sudan, dan Tanzania.
Tim lalu mencari penjelasannya di data mereka sendiri. Anak laki-laki sedikit lebih banyak tinggal di perdesaan, 80,9 persen berbanding 76,9 persen pada anak perempuan, dan lebih banyak memakai jamban yang belum layak, 72,5 persen berbanding 65,8 persen. Nakitta Jane dan rekan juga mencatat anak laki-laki sedikit lebih jarang berada di kelompok terkaya, 13,3 persen berbanding 17,6 persen.
Namun, Nakitta Jane dan rekan sendiri menilai selisih itu relatif kecil dan kecil kemungkinan menjelaskan seluruh perbedaan anemia yang hampir dua kali lipat. Infeksi malaria dan H. pylori pun, tulis mereka, sebarannya mirip pada anak laki-laki dan perempuan. Mereka menyebut kemungkinan lain: pertumbuhan pesat saat pubertas menaikkan kebutuhan zat besi anak laki-laki, dan bila asupannya tidak mencukupi, risiko anemia ikut naik.
Ada pula soal cara mengukur. Karena ambang hemoglobin untuk remaja laki-laki yang lebih tua lebih tinggi daripada untuk perempuan, sebagian anak laki-laki dengan kadar di dekat batas, menurut tim, lebih mungkin tergolong anemia. Nakitta Jane dan rekan lalu menulis, “Alasan di balik lebih tingginya anemia pada anak laki-laki karena itu masih belum sepenuhnya dipahami dan perlu diteliti lebih lanjut.” Kalimat ini juga terjemahan.
Nakitta Jane Menelusuri Usia dan Infeksi
Faktor kedua yang ditemukan tim adalah usia. Di antara remaja berusia 15 sampai 19 tahun, 106 dari 483 orang atau 21,9 persen mengalami anemia, sedangkan pada kelompok 10 sampai 14 tahun angkanya 66 dari 580 orang atau 11,4 persen. Dalam analisis Nakitta Jane dan rekan, rasio prevalensi terkoreksinya 1,97 dengan selang kepercayaan 95 persen 1,48 sampai 2,61.
Nakitta Jane dan rekan menduga remaja yang lebih tua lebih leluasa memilih makanannya sendiri, yang bisa kurang seimbang serta kurang zat besi, asam folat, dan vitamin B12. Mereka juga merujuk evaluasi Uganda Multisectoral Food Security and Nutrition Project: setelah lima tahun, anemia pada kelompok remaja yang mendapat intervensi makanan kaya zat gizi mikro tercatat 26 persen, lebih rendah daripada 36 persen pada kelompok tanpa intervensi.
Faktor ketiga adalah infeksi Helicobacter pylori. Dari 102 remaja yang hasil tesnya positif, 29 orang atau 28,4 persen mengalami anemia, dibanding 14,9 persen pada remaja yang hasilnya negatif atau tidak valid. Tim Nakitta Jane mencatat rasio prevalensi terkoreksi 1,87, dengan selang kepercayaan 95 persen 1,35 sampai 2,58, sehingga infeksi ini masuk tiga faktor yang dinyatakan berhubungan dengan anemia.
Malaria menunjukkan gambaran berbeda. Sebanyak 21,9 persen remaja yang positif malaria mengalami anemia, dibanding 15,7 persen pada yang negatif atau tidak valid, tetapi menurut Nakitta Jane dan rekan hubungan itu tidak bermakna. Mereka membaca hasil ini sebagai isyarat bahwa pengendalian malaria efektif, sehingga upaya perlu diarahkan ke pemberantasan H. pylori serta perbaikan air bersih, sanitasi, dan kebersihan.
Temuan tentang ragam makanan juga tidak sejalan dengan riset sebelumnya. Remaja dengan ragam makanan tinggi justru tercatat anemia 20,0 persen, dibanding 16,5 persen pada yang ragam makanannya rendah. Nakitta Jane dan rekan menduga menu perdesaan banyak bertumpu pada pangan nabati, yang zat besinya kurang mudah diserap dibanding zat besi pangan hewani. Sekitar 25 persen peserta tidak punya data ragam makanan, sehingga tim meminta hasil ini dibaca dengan memperhitungkan kekosongan itu.
Baca juga Usia Kehamilan Terkait Anemia Ibu Hamil di Puskesmas Prambanan
Nakitta Jane Memetakan Lima Belas Subwilayah
Tim juga memetakan angka anemia di 15 subwilayah Uganda dengan perangkat lunak QGIS. Hasilnya, menurut Nakitta Jane dan rekan, Bunyoro mencatat angka tertinggi, 42,1 persen, disusul Karamoja 33,3 persen dan Bukedi 25 persen. Busoga mencatat 23 persen dan Teso 15,6 persen, sedangkan Acholi, Tooro, Central 1, dan Kampala berada di bawah 7,7 persen.
Meski begitu, angka anemia tidak berbeda bermakna antarwilayah besar setelah faktor lain diperhitungkan. Untuk Bukedi, Nakitta Jane dan rekan menduga penyebabnya pola makan rendah zat besi, seperti “emboli” berupa ubi jalar dan kacang yang menjadi makanan pokok di banyak bagian Uganda Timur. Karamoja yang semiarid, menurut mereka, mungkin terdampak rawan pangan akibat panen yang buruk.
Angka tinggi di Bunyoro dikaitkan tim dengan kemungkinan tingginya angka kurang gizi serta masuknya pengungsi dari Sudan Selatan dan Republik Demokratik Kongo. Rendahnya angka di Acholi diduga Nakitta Jane dan rekan terkait iklim sabana tropis yang mendukung pertanian setempat, sehingga ragam pangan lebih mudah didapat. Central 1, tulis mereka, mencakup ibu kota Kampala dengan infrastruktur dan status sosial ekonomi yang lebih baik.
Baca juga Kantong Plastik Lira Uganda: Warga Tahu, tapi Tetap Salah Buang
Nakitta Jane Mengakui Batas dan Menyusun Saran
Nakitta Jane dan rekan menuliskan sendiri batas penelitiannya. Karena rancangannya potong lintang, mereka tidak dapat memastikan hubungan sebab-akibat antara faktor-faktor tadi dan anemia. Bobot sampel dan rancangan survei juga tidak dimasukkan ke dalam analisis, yang menurut tim bisa membatasi keterwakilan nasional angka-angka itu. Data feritin serum dan vitamin B12 pun tidak tersedia.
Ada 38 remaja perempuan yang sedang hamil saat survei, dan dua di antaranya (5,2 persen) mengalami anemia. Tim Nakitta Jane menilai jumlah itu terlalu kecil untuk memengaruhi hasil, meski mereka mengakui tidak ada data pemeriksaan kehamilan maupun pemberian tablet zat besi dan asam folat.
Dari semua temuan itu, Nakitta Jane dan rekan menyimpulkan anemia remaja di Uganda masih menjadi masalah kesehatan masyarakat ringan, dengan beban lebih besar pada laki-laki, remaja 15 sampai 19 tahun, dan remaja yang terinfeksi H. pylori. Saran mereka, “Penapisan dan pencegahan anemia serta Helicobacter pylori perlu dipadukan ke dalam program kesehatan remaja dan sekolah di Uganda dan harus menyasar laki-laki dan perempuan secara setara.” Kalimat itu juga terjemahan.
Untuk penelitian berikutnya, Nakitta Jane dan rekan menyarankan pemakaian penanda status zat besi dan peradangan, penilaian makanan yang lebih rinci, serta ukuran perkembangan pubertas. Menurut mereka, langkah itu dapat membantu menjelaskan mekanisme di balik perbedaan anemia antara remaja laki-laki dan perempuan.















