- Sebanyak 32 dari 96 ibu hamil tergolong anemia, atau 33,3 persen dari seluruh responden.
- Satu-satunya karakteristik ibu yang berkaitan bermakna dengan anemia adalah usia kehamilan.
- Di trimester kedua, 15 dari 27 ibu anemia, sehingga jumlah ibu anemia di kelompok ini lebih banyak daripada yang normal.
- Sebanyak 26,0 persen responden punya kadar Hb normal, namun sel darah merah mereka sudah mikrositik.
- Dari 63 ibu yang patuh minum tablet besi, 19 orang tetap anemia.
Daftar Isi
Usia kehamilan berkaitan dengan anemia ibu hamil di Prambanan. Dari 96 ibu hamil yang darahnya diperiksa di Puskesmas Prambanan, Kabupaten Sleman, sepertiganya ternyata anemia. Kasusnya paling banyak ditemukan di trimester kedua, bukan di awal kehamilan ketika ibu baru mulai rutin memeriksakan diri.
Temuan itu ditulis Narendra Yoga Hendarta dan Agnes Fery Faulinda dalam Gestational age as a determinant of anemia in pregnancy: a case study at the Prambanan Community Health Centre, Yogyakarta. Artikelnya terbit di Jurnal Gizi Klinik Indonesia volume 23 nomor 1, tahun 2026, dan naskahnya ditulis dalam bahasa Inggris.
Narendra mengajar di Jurusan Teknologi Laboratorium Medis, Politeknik Kesehatan Kemenkes Yogyakarta, dan menjadi penulis korespondensi. Agnes bekerja di bagian laboratorium RSUD Prambanan, Kabupaten Sleman. Menurut naskahnya, penelitian ini tidak menerima pendanaan dari pihak mana pun.
Titik berangkat mereka adalah cara puskesmas menyaring anemia. Skrining ibu hamil di puskesmas selama ini umumnya hanya bertumpu pada kadar hemoglobin atau Hb. Menurut penulis, angka Hb hanya menunjukkan seberapa berat anemia seorang ibu, tetapi tidak menunjukkan jenis dan kemungkinan penyebabnya.
Sepertiga Ibu Anemia
Sebanyak 32 dari 96 ibu hamil tergolong anemia, atau 33,3 persen dari seluruh responden. Batas yang dipakai adalah Hb di bawah 11 g/dL, ambang anemia kehamilan menurut WHO. Sisanya, 64 ibu, punya kadar Hb yang normal.
Angka itu jauh di atas catatan rutin puskesmas yang sama. Prevalensi anemia ibu hamil Puskesmas Prambanan pada 2024 tercatat 15,29 persen. Rata-rata Kabupaten Sleman pada tahun yang sama bahkan hanya 9,46 persen, terendah sepanjang 2020 sampai 2024.
Prambanan sendiri masuk empat besar prevalensi tertinggi dari 26 puskesmas di Sleman. Rata-rata Daerah Istimewa Yogyakarta tercatat 12,3 persen. Angka nasional menurut Survei Kesehatan Indonesia 2023 lebih tinggi lagi, yaitu 27,7 persen.
Penulis menduga selisih itu datang dari cara pengambilan sampel dan waktu pengumpulannya. Data dikumpulkan selama tiga bulan, Februari sampai April 2024, dari ibu yang datang memeriksakan kehamilan. Sampel kecil dalam waktu pendek, tulis mereka, cenderung memberi angka yang lebih bervariasi dibanding data surveilans rutin.
Kebanyakan ibu anemia berusia 20 sampai 35 tahun, yaitu 26 dari 32 orang. Sebanyak 15 orang di antaranya belum pernah melahirkan. Namun usia ibu dan jumlah persalinan ternyata tidak berkaitan bermakna dengan kejadian anemia dalam penelitian ini.
Baca juga Standar BMI Asia Lebih Peka Deteksi Risiko Kehamilan
Trimester Kedua Tertinggi
Satu-satunya karakteristik ibu yang berkaitan bermakna dengan anemia adalah usia kehamilan. Rasio odds-nya 2,14 dengan interval kepercayaan 1,24 sampai 3,68. Artinya, peluang anemia cenderung naik seiring bertambahnya usia kandungan, tanpa bisa dibaca sebagai sebab-akibat.
Angka mentahnya memperlihatkan pola itu dengan jelas. Di trimester pertama, hanya 7 dari 46 ibu yang anemia. Di trimester kedua, 15 dari 27 ibu anemia, sehingga jumlah ibu anemia di kelompok ini lebih banyak daripada yang normal.
Trimester ketiga berada di antara keduanya. Dari 23 ibu di trimester ketiga, 10 orang anemia dan 13 orang normal. Kelompok trimester pertama tetap yang terbesar, 46 ibu atau hampir separuh dari seluruh responden.
Penulis menjelaskan pola ini lewat pengenceran darah selama kehamilan. Mengutip buku ajar obstetri, mereka menulis bahwa plasma darah ibu hamil naik 40 sampai 50 persen. Sementara itu, jumlah sel darah merahnya hanya naik sekitar 20 sampai 30 persen.
Ketidakseimbangan itu disebut hemodilusi atau anemia fisiologis. Menurut penulis, kondisi ini sering terlihat di trimester kedua dan ketiga. Prosesnya dimulai sejak trimester pertama dan mencapai puncaknya di trimester ketiga.
Tiga Pola Sel
Penelitian ini tidak berhenti pada angka Hb. Penulis juga membaca indeks eritrosit, yaitu ukuran sel darah merah dan kandungan hemoglobin di dalamnya. Indeks ini sebenarnya sudah ikut keluar dalam pemeriksaan darah lengkap yang biasa dilakukan laboratorium.
Sel berukuran normal disebut normositik, sedangkan sel yang kecil disebut mikrositik. Sel dengan warna normal disebut normokromik, sedangkan sel yang pucat disebut hipokromik. Kombinasi keduanya, menurut penulis, memberi petunjuk tentang penyebab anemia.
Pola terbanyak adalah normositik normokromik, ditemukan pada 56 ibu atau 58,3 persen responden. Dari jumlah itu, 17 ibu anemia. Menurut penulis, pola ini bisa terkait anemia fisiologis kehamilan atau kondisi peradangan.
Pola mikrositik hipokromik ditemukan pada 20 ibu, dan separuhnya anemia. Menurut penulis, pola sel kecil dan pucat ini umumnya menandai kekurangan zat besi. Pola mikrositik normokromik juga ditemukan pada 20 ibu, dengan 5 orang yang anemia.
Tidak ada satu pun ibu yang sel darah merahnya berukuran besar atau makrositik. Pola itu, tulis penulis, biasanya berkaitan dengan kekurangan asam folat atau vitamin B12. Dengan kata lain, dua kemungkinan penyebab itu tidak muncul dalam data 96 ibu ini.
Usia kehamilan berkaitan kuat dengan dua pola anemia. Untuk anemia normositik normokromik, rasio odds-nya 3,21 dengan interval 1,33 sampai 7,74. Untuk anemia mikrositik hipokromik, rasio odds-nya 3,71 dengan interval yang lebar, 1,04 sampai 13,19.
Angka di pola mikrositik hipokromik paling mencolok. Di trimester pertama, 4 dari 14 ibu dengan pola ini anemia. Di trimester kedua dan ketiga, semua ibu dengan pola ini anemia, meski jumlahnya hanya tiga orang di masing-masing kelompok.
Baca juga Kematian Ibu Purwakarta: 22 dari 24 Jarang Bertemu Dokter
Hb Normal, Sel Berubah
Temuan lain justru ada pada ibu yang lolos skrining Hb. Sebanyak 26,0 persen responden punya kadar Hb normal. Namun sel darah merah mereka sudah mikrositik, lebih kecil dari ukuran yang semestinya.
Rinciannya, 15,6 persen responden bersel kecil tetapi berwarna normal. Sebanyak 10,4 persen lainnya bersel kecil sekaligus pucat. Penulis membacanya sebagai kemungkinan tahap awal kekurangan zat besi atau gangguan metabolisme sel darah merah.
Dari situ penulis menyusun urutan perubahan sel. Mula-mula cadangan besi tubuh menipis, sementara Hb dan ukuran sel masih tampak normal. Setelah itu sel mulai mengecil, tetapi kadar Hb belum turun secara berarti.
Tahap terakhirnya adalah anemia defisiensi besi, ketika Hb turun dan sel menjadi kecil sekaligus pucat. Menurut penulis, urutan ini menunjukkan bahwa perubahan bentuk sel mendahului turunnya Hb. Temuan itu yang mereka anggap paling penting untuk puskesmas.
Karena itu, pemeriksaan indeks eritrosit dinilai penting untuk deteksi dini kekurangan zat besi. Seorang ibu dengan Hb normal bisa saja sedang berada di jalur menuju anemia. Skrining yang hanya melihat Hb akan melewatkan ibu seperti itu.
Patuh Tetap Anemia
Kepatuhan minum tablet besi ternyata tidak berkaitan bermakna dengan anemia. Dari 63 ibu yang patuh minum tablet besi, 19 orang tetap anemia. Dari 30 ibu yang tidak patuh, 10 orang anemia.
Hanya tiga ibu yang mengaku tidak pernah minum tablet besi sama sekali, dan ketiganya anemia. Jumlah itu terlalu kecil untuk ditarik menjadi kesimpulan apa pun. Rasio odds kepatuhan secara keseluruhan tercatat 1,84 dan tidak bermakna.
Penulis membaca anemia pada ibu yang patuh sebagai tanda bahwa penyebabnya beragam. Kebutuhan besi yang naik selama hamil, penyerapan yang kurang, dan peradangan ringan disebut sebagai kemungkinan. Menurut mereka, tablet besi yang diberikan seragam tanpa melihat jenis anemia bisa menutupi kondisi lain.
Kesimpulan itu dirangkum dalam naskah berbahasa Inggris. “Anemia pada ibu hamil tidak homogen dan tidak selalu mencerminkan kekurangan zat besi sebagai satu-satunya penyebab,” tulis Narendra Yoga Hendarta dan Agnes Fery Faulinda.
Kalimat aslinya berbunyi anaemia in pregnant women is not homogeneous and does not always reflect iron deficiency as the sole cause. Berdasarkan itu, penulis menyarankan puskesmas yang sumber dayanya memadai membaca Hb bersama indeks eritrosit.
Baca juga Banjir Tallo Makassar: Ibu Hamil Jatuh, Tirah Baring Dua Bulan
Batas Penelitian
Desain penelitiannya potong lintang, sehingga status anemia tiap ibu tidak bisa diikuti sepanjang kehamilan. Penulis juga tidak memeriksa penanda biokimia lain. Karena itu, penyebab anemia pada tiap ibu belum bisa dipastikan.
Kekurangan zat besi dalam penelitian ini hanya disimpulkan dari bentuk sel darah merah. Kadar feritin, penanda cadangan besi yang disebut sendiri dalam naskah, tidak diukur. Sampelnya pun hanya 96 ibu dari satu puskesmas selama tiga bulan.
Angka yang Perlu Dicek
Beberapa hal dalam naskah bisa diperiksa sendiri oleh pembaca. Kesimpulan menyebut ibu trimester ketiga paling berisiko anemia. Tabel 1 justru mencatat anemia terbanyak di trimester kedua, 15 dari 27 ibu, dibanding 10 dari 23 ibu di trimester ketiga.
Pola yang sama muncul di Tabel 3 untuk anemia normositik normokromik. Di trimester kedua tercatat 10 dari 20 ibu, sedangkan di trimester ketiga 6 dari 12 ibu. Proporsinya sama, bukan lebih tinggi di trimester ketiga.
Bagian hasil menulis pola normositik normokromik pada 56 responden atau 58,8 persen, sedangkan tabel dan abstrak menulis 58,3 persen. Diskusi menyebut mikrositik hipokromik 31,13 persen dari seluruh kasus anemia. Padahal 10 dari 32 kasus sama dengan 31,25 persen.
Abstrak juga menyebut 58,3 persen itu sebagai jenis anemia terbanyak, padahal angkanya dihitung dari seluruh 96 ibu, termasuk yang Hb-nya normal. Catatan kaki Tabel 1 menulis ambang anemia “Hb <11 dL/mL”. Satuan itu berbeda dari g/dL yang dipakai di bagian metode.
Sisa Pertanyaan
Data 96 ibu ini menunjukkan anemia kehamilan di Prambanan tidak berwajah tunggal. Sebagian mungkin pengenceran darah yang wajar, sebagian lagi kekurangan besi. Tanpa pemeriksaan feritin, garis pemisah keduanya masih ditarik dari bentuk sel.
Pertanyaan terbesarnya ada pada ibu ber-Hb normal dengan sel darah merah yang sudah mengecil. Apakah mereka kelak benar-benar jatuh anemia, penelitian ini tidak mengikutinya.















