Kematian Ibu Purwakarta: 22 dari 24 Jarang Bertemu Dokter

A A

Gedung dan papan nama Puskesmas Sruweng, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah [Foto: SATELIT BM9/Wikimedia Commons CC BY-SA 4.0]

  • Sella Zenitasari membandingkan 24 ibu Purwakarta yang meninggal pada 2023 dengan 66 ibu yang selamat.
  • Sebanyak 22 dari 24 ibu yang meninggal bertemu dokter kurang dari dua kali; hanya dua yang pelayanannya lengkap.
  • Pelayanan antenatal lengkap menekan peluang kematian menjadi sepersepuluh; komplikasi menaikkannya tajam.
  • Bidan dan dokter mengaku tanpa pelatihan dan pedoman khusus; izin suami masih menunda pemeriksaan dan rujukan.
Daftar Isi
  1. Menyandingkan 24 berkas kematian dengan 66 berkas yang selamat
  2. Membaca komponen mana yang paling sering hilang
  3. Menghitung seberapa besar mutu pelayanan menekan risiko
  4. Merinci komplikasi yang berujung kematian
  5. Mendengar bidan, dokter, dan ibu rumah tangga
  6. Menyusun tiga keterlambatan dan mengakui batasnya

Sella Zenitasari membuka berkas 24 perempuan Purwakarta yang meninggal karena kehamilan dan persalinan sepanjang 2023. Dokter kebidanan dan kandungan itu tidak berhenti pada penyebab medis yang tertulis di rekam medis. Ia menelusuri ke belakang: berapa kali tiap ibu memeriksakan kehamilannya, kapan pertama kali datang, berapa kali bertemu dokter, dan apakah keluhan yang muncul sempat ditangani. Hasil penelusuran itu ia sandingkan dengan berkas 66 ibu yang hamil pada tahun yang sama dan selamat.

Zenitasari mengerjakannya bersama Eugenius Phyowai Ganap dan Soerjo Hadijono, dan hasilnya terbit sebagai Quality of antenatal care and maternal mortality: a mixed-methods study in Purwakarta District, Indonesia di BMC Public Health tahun 2026, dalam status naskah dalam proses cetak sehingga volume dan nomornya belum tercantum. Zenitasari tercatat di Universitas Gadjah Mada dan Universitas Pendidikan Indonesia, Ganap di Universitas Gadjah Mada, Hadijono di Universitas Diponegoro. Naskahnya berbahasa Inggris, dan semua kutipan di sini diterjemahkan.

Angka yang membuat Zenitasari turun ke Purwakarta bukan angka kecil untuk satu kabupaten. Kematian ibu di sana melonjak saat pandemi, 32 kasus pada 2020 lalu 43 kasus pada 2021, yang disebutnya tertinggi dalam lima tahun. Pada 2023 tercatat 24 kematian. Zenitasari menulis angka itu memang tidak naik dibanding 2022, tetapi tetap mengkhawatirkan mengingat berbagai program yang sudah dijalankan untuk menekannya.

Menyandingkan 24 berkas kematian dengan 66 berkas yang selamat

Cara kerja Zenitasari sederhana untuk dibayangkan. Tiap ibu yang meninggal dibandingkan dengan ibu-ibu yang hamil pada tahun yang sama di kabupaten yang sama, sama-sama pernah memeriksakan kehamilan, dan sama-sama tercatat di rekam medis atau buku KIA. Zenitasari sempat menghitung bahwa ia butuh paling sedikit 28 kasus kematian agar ujinya cukup kuat. Yang tersedia hanya 24, sehingga seluruhnya dipakai dan ia mengakui daya uji serta ketepatan taksirannya bisa terpengaruh.

Ukuran mutu yang dipakai Zenitasari, Ganap, dan Hadijono adalah standar pelayanan antenatal terpadu Kementerian Kesehatan tahun 2020. Standar itu meminta paling sedikit enam kali pemeriksaan, kunjungan pertama sebelum usia kandungan 12 minggu, paling sedikit dua kali bertemu dokter, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang termasuk gula darah acak dan tes tiga eliminasi, USG, pemberian suplemen dan vaksin, edukasi, serta penanganan keluhan. Bagi ketiganya, satu saja komponen yang luput sudah membuat pelayanan itu tergolong di bawah standar.

Dengan ukuran seketat itu, Zenitasari menemukan 58 dari 90 ibu, atau 64,4 persen, menerima pelayanan yang memenuhi semua komponen. Perbedaannya baru tampak ketika dua kelompok dipisah. Di antara 66 ibu yang selamat, 56 orang atau 84,8 persen mendapat pelayanan lengkap. Di antara 24 ibu yang meninggal, hanya dua orang, atau 8,3 persen, yang pelayanannya lengkap. Sisanya, 22 ibu, kehilangan setidaknya satu komponen.

Membaca komponen mana yang paling sering hilang

Zenitasari lalu membongkar komponen satu per satu, dan pola yang muncul cukup terang. Dari 24 ibu yang meninggal, 20 orang atau 83,3 persen memeriksakan kehamilan kurang dari enam kali; di kelompok yang selamat angkanya 15,2 persen. Kontak dengan dokter lebih mencolok lagi. Sebanyak 22 dari 24 ibu yang meninggal, atau 91,7 persen, bertemu dokter kurang dari dua kali selama hamil, sementara di kelompok yang selamat hanya tiga orang atau 4,5 persen.

Pemeriksaan kehamilan 24 ibu yang meninggal dan 66 yang selamatPerbandingan pemeriksaan kehamilan ibu yang meninggal dan yang selamat di Purwakarta.Pemeriksaan kehamilan 24 ibu yang meninggaldan 66 yang selamatKabupaten Purwakarta, kehamilan tahun 2023Ibu meninggalIbu selamat83,3%15,2%Periksa hamilkurang dari 6 kali91,7%4,5%Bertemu dokterkurang dari 2 kali66,7%10,6%USG kurang dari 2kali62,5%90,2%Periksa pertama ditrimester satu91,7%15,2%Mutu ANC di bawahstandar95,8%10,6%MengalamikomplikasiSembilan dari sepuluh ibu yang meninggal bertemu dokter kurang daridua kali selama hamil.
Sumber: Sella Zenitasari, Eugenius Phyowai Ganap, dan Soerjo Hadijono, Quality of antenatal care and maternal mortality: a mixed-methods study in Purwakarta District, Indonesia, BMC Public Health (article in press), 2026. Grafik: Cekricek.id

USG mengikuti pola yang sama dalam catatan Zenitasari: 16 ibu yang meninggal, atau 66,7 persen, menjalani USG kurang dari dua kali, dibanding 10,6 persen pada yang selamat. Waktu kedatangan pertama juga berbeda. Hanya 62,5 persen ibu yang meninggal memeriksakan diri pada trimester pertama, sedangkan pada kelompok yang selamat tabelnya menulis 90,2 persen. Pemeriksaan fisik dan konseling tercatat diterima seluruh 90 ibu tanpa kecuali.

Ada satu komponen yang arahnya terbalik dan perlu dibaca hati-hati. Zenitasari mencatat 20 ibu yang meninggal, atau 83,3 persen, tercatat menerima penanganan atas keluhan selama hamil, dibanding 39,4 persen pada yang selamat. Ini bukan tanda pelayanan lebih baik. Dalam definisi Zenitasari, variabel itu mengukur penanganan yang tidak optimal: keluhan yang tidak ditangani, ditangani sebagian, atau ditangani tidak sesuai kondisi yang ditemukan.

Baca juga Tiga Tahun Tanpa Perubahan, Lalu Berobat ke Malaysia

Menghitung seberapa besar mutu pelayanan menekan risiko

Setelah semua faktor dimasukkan bersama, termasuk usia, paritas, pendidikan, dan status ekonomi, Zenitasari mendapati mutu pelayanan antenatal tetap berdiri sebagai faktor yang bermakna. Ibu yang mendapat pelayanan lengkap memiliki peluang kematian sepersepuluh dari ibu yang pelayanannya di bawah standar, dengan rasio ganjil 0,10 dan rentang kepercayaan 0,001 sampai 0,158. Komplikasi kehamilan berdiri di sisi lain dengan rasio ganjil 145,8.

Penanganan yang tidak optimal, yang tampak bermakna saat dihitung sendirian dengan rasio ganjil 7,692, kehilangan kebermaknaannya setelah faktor lain dimasukkan. Zenitasari, Ganap, dan Hadijono menduga sebabnya adalah tumpang tindih antara penanganan dan komplikasi: ibu yang mengalami komplikasi memang lebih mungkin membutuhkan penanganan tepat waktu, sehingga keduanya sulit dipisahkan dalam sampel sekecil ini.

Zenitasari sendiri yang mengingatkan agar angka 145,8 itu tidak dibaca sebagai ukuran pasti. “Meskipun hubungan ini kuat, rentang kepercayaan yang lebar menunjukkan ketepatan taksiran yang terbatas, kemungkinan akibat jumlah kematian ibu yang relatif kecil dan sebaran data yang tidak seimbang,” tulis Zenitasari, Ganap, dan Hadijono dalam naskah aslinya yang berbahasa Inggris. Rentang kepercayaan untuk komplikasi terbentang dari 8,71 sampai 251,78.

Yang paling ditekankan Zenitasari adalah bahwa jumlah kunjungan bukan inti persoalannya. “Temuan ini menunjukkan bahwa mutu pelayanan adalah penentu utama luaran ibu, bukan semata-mata jumlah kunjungan ANC,” tulis ketiganya. Mutu yang mereka maksud mencakup kelengkapan pemeriksaan klinis, pemeriksaan penunjang, edukasi, dan penanganan, bukan sekadar berapa kali ibu datang ke puskesmas atau bidan.

Merinci komplikasi yang berujung kematian

Dalam catatan Zenitasari, 30 dari 90 ibu mengalami komplikasi kehamilan, dan 23 di antaranya termasuk kelompok yang meninggal. Hanya satu ibu yang meninggal tanpa komplikasi tercatat. Preeklamsia menjadi yang paling sering, dialami 15 ibu; sembilan di antaranya meninggal. Perdarahan pascapersalinan tercatat pada 10 ibu, dan sembilan di antaranya meninggal pula. Empat kasus eklamsia dan tiga kasus infeksi seluruhnya berada di kelompok ibu yang meninggal.

Komplikasi kehamilan pada ibu yang meninggal dan yang selamatPreeklamsia: Ibu meninggal (24 orang) +37,5%, Ibu selamat (66 orang) +9,1%; Perdarahan pascapersalinan: Ibu meninggal (24 orang) +37,5%, Ibu selamat (66 orang) +1,5%; Eklamsia: Ibu meninggal (24 orang) +16,7%, Ibu selamat (66 orang) 0,0%; Infeksi: Ibu meninggal (24 orang) +12,5%, Ibu selamat (66 orang) 0,0%.Komplikasi kehamilan pada ibu yang meninggaldan yang selamatPersentase ibu dalam tiap kelompok, Purwakarta 2023Ibu meninggal (24 orang)Ibu selamat (66 orang)10%20%30%40%0Preeklamsia37,5%9,1%Perdarahan pascapersalinan37,5%1,5%Eklamsia16,7%0,0%Infeksi12,5%0,0%Eklamsia dan infeksi hanya tercatat pada kelompok ibu yang meninggal.
Sumber: Sella Zenitasari, Eugenius Phyowai Ganap, dan Soerjo Hadijono, Quality of antenatal care and maternal mortality: a mixed-methods study in Purwakarta District, Indonesia, BMC Public Health (article in press), 2026. Grafik: Cekricek.id

Zenitasari juga menemukan gambaran sosial yang berbeda di antara dua kelompok, meski tidak bermakna secara statistik. Sembilan dari 24 ibu yang meninggal tidak menamatkan sekolah dasar, dan tidak ada satu pun yang tamat SMA; di kelompok yang selamat, 30 orang tamat SMA. Sebanyak 22 ibu yang meninggal, atau 91,7 persen, tidak bekerja. Riwayat operasi sesar juga lebih sering pada yang meninggal, 45,8 persen berbanding 25,8 persen.

Baca juga Anggaran Gender Kota Padang Naik, Isinya Masih Formalitas

Mendengar bidan, dokter, dan ibu rumah tangga

Angka-angka itu Zenitasari bawa ke 13 orang yang ia wawancarai: kepala dinas kesehatan, dua kepala puskesmas, tiga dokter puskesmas, tiga bidan, dan empat ibu rumah tangga. Naskah hanya menyebut mereka dengan kode A1 sampai A13. Seorang bidan berkode A7 berkata dalam wawancara yang dikutip Zenitasari, “Kalau pelatihan, saya rasa tidak ada; sosialisasi terjadi setiap kali edisi baru buku KIA diterbitkan.”

Dokter puskesmas berkode A6 menjawab dengan nada serupa tentang pedoman kerja, seperti dicatat Zenitasari: “Tidak ada pedoman khusus; semuanya dikerjakan sesuai prosedur, mengikuti SOP.” Dari jawaban-jawaban seperti ini Zenitasari, Ganap, dan Hadijono menyimpulkan kompetensi petugas belum optimal karena pelatihan terbatas, dan pelayanan antenatal belum dibakukan secara konsisten dari satu tempat ke tempat lain.

Kepala dinas kesehatan berkode A1 bercerita dalam wawancara Zenitasari tentang program bernama Indung Rahayu yang melindungi ibu hamil, bayi baru lahir, dan balita, dengan suku kata “yu” yang berarti Purwakarta Unggul. Zenitasari mencatat program itu tersedia, tetapi belum menjangkau seluruh aspek pelayanan antenatal. Rujukan balik dari rumah sakit ke puskesmas, menurut dokter berkode A4, belum berjalan.

Bidan berkode A8 mengarahkan perhatian Zenitasari ke keputusan di dalam rumah pasien. “Kadang kesediaan pasien untuk memeriksakan diri atau dirujuk bergantung pada izin suami atau keluarga; kalau tidak disetujui, mereka menundanya,” kata bidan itu. Dokter berkode A5 menambahkan bahwa sebagian keluarga masih percaya melahirkan di rumah lebih alami dan lebih aman. Zenitasari menempatkan kedua pernyataan ini sebagai faktor luar yang menentukan apakah layanan sampai ke ibu.

Baca juga RPJMD Rajin Menulis Target, Hemat Menulis Capaian Lalu

Menyusun tiga keterlambatan dan mengakui batasnya

Zenitasari, Ganap, dan Hadijono membaca semua itu dengan kerangka tiga keterlambatan dari Thaddeus dan Maine. Pengetahuan ibu tentang tanda bahaya dan izin keluarga menunda keputusan mencari pertolongan. Jarak, transportasi, dan sistem rujukan yang belum matang menunda sampainya ibu ke fasilitas. Kompetensi petugas dan ketersediaan sarana menunda pertolongan yang memadai setelah ibu tiba. Rujukan dan faktor keluarga, menurut tabel integrasi mereka, hanya muncul dari wawancara, bukan dari angka.

Zenitasari menyebut sejumlah batas yang harus dibaca bersama temuannya. Data kuantitatif bersumber dari rekam medis, sehingga kelengkapannya bergantung pada mutu pencatatan petugas dan membuka peluang bias informasi. Dukungan keluarga dan sistem rujukan tidak diukur secara kuantitatif, jenis intervensi obstetri tidak dibedakan, dan mutu antenatal dinilai dari prosedur klinis semata. “Karena itu, temuan penelitian ini harus ditafsirkan dengan hati-hati,” tulis ketiganya.

Pembaca yang membuka naskah Zenitasari akan menemukan beberapa angka yang tidak saling bertemu. Di teks analisis bivariat, rasio ganjil mutu antenatal ditulis 0,16 dengan rentang kepercayaan 0,004 sampai 0,080, padahal angka 0,16 berada di luar rentangnya sendiri; tabel di halaman yang sama menulis 0,016. Pada tabel pemeriksaan, 60 dari 66 ibu yang selamat ditulis 90,2 persen, sedangkan hitungannya 90,9 persen, dan 5 dari 66 ditulis 8,3 persen.

Kejanggalan lain dalam naskah Zenitasari, Ganap, dan Hadijono menyangkut jumlah komplikasi. Preeklamsia, perdarahan, eklamsia, dan infeksi bila dijumlahkan menjadi 32 kejadian, sedangkan ibu yang berkomplikasi hanya 30 orang, dan naskah tidak menjelaskan siapa yang mengalami lebih dari satu. Angka kematian ibu Purwakarta 2022 juga tidak disebutkan, padahal angka 2023 dibandingkan dengannya. Nilai p mutu antenatal ditulis 0,001 di tabel dan kurang dari 0,001 di teks.

Zenitasari memulai dari 24 berkas kematian, dan pada berkas-berkas itulah semuanya kembali. Dua puluh dua di antaranya milik perempuan yang bertemu dokter kurang dari dua kali sepanjang kehamilannya, di kabupaten yang punya program bernama Indung Rahayu dan kelas ibu hamil. Yang dibuktikan Zenitasari bukan bahwa pemeriksaan tidak ada, melainkan bahwa pemeriksaan yang ada tidak lengkap, dan dalam sampel kecil ini, ketidaklengkapan itu berjalan beriringan dengan kematian.

Bagikan

Baca Juga

Model SEIQR Covid-19 dari Unand: Tracing Menekan R0 ke 1,18
Keluhan dan Sindiran Mendominasi Tuturan Felix Siauw di Podcast
Berat Badan dan Sikap ke Obesitas Mahasiswa Kesehatan Hanoi
Chiang Mai Buang Tahun Pandemi, Ramalan Kecelakaan Malah Meleset
Bekal Ibu, Bukan Kuasa Ibu, yang Menentukan Vaksin Anak Filipina
Gelombang Panas Dhaka: Merasa Terancam, 7,77 Kali Lebih Sakit