- Anemia pada orang dewasa Malaysia turun menjadi 15 persen.
- Survei Kesehatan dan Morbiditas Nasional Malaysia mencatat 24,6 persen pada 2015 dan 21,3 persen pada 2019.
- Prevalensi anemia pada perempuan 25,5 persen, sedangkan pada laki-laki hanya 5,5 persen.
- Prevalensi anemia pada penyandang diabetes 26,2 persen, hampir dua kali 13,9 persen pada orang tanpa diabetes.
- Karena itu, anemia mikrositik belum tentu berarti kurang besi.
Daftar Isi
Anemia pada orang dewasa Malaysia turun menjadi 15 persen. Angka itu setara sekitar 3,6 juta orang berusia 18 tahun ke atas di seluruh negeri. Menurut klasifikasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), anemia di Malaysia kini tergolong masalah kesehatan masyarakat ringan, bukan lagi sedang.
Temuan ini ditulis Kim Sui Wan, Nor’ain Ab Wahab, Yee Mang Chan, Wan Fei Khaw, Nur Hamizah Nasaruddin, Siti Hafizah Zulkiply, Kah Kian Chong, Ping Foo Wong, Lee-Ling Lim, dan Noor Ani Ahmad dalam artikel The nationwide prevalence of anaemia and the associated factors in the general adult population in Malaysia. Artikel itu dimuat BMC Public Health volume 26 tahun 2026.
Sebagian besar penulis bernaung di Institute for Public Health, Kementerian Kesehatan Malaysia. Mereka memakai data 1.030 orang dewasa dari seluruh negara bagian dan wilayah persekutuan Malaysia yang dihimpun pada 2023. Ibu hamil dan ibu yang baru melahirkan dalam 12 minggu terakhir tidak termasuk di dalamnya.
Anemia adalah kondisi ketika kadar hemoglobin darah turun di bawah ambang tertentu. Ambang yang dipakai adalah 120 gram per liter untuk perempuan tidak hamil dan 130 gram per liter untuk laki-laki. Kadar di bawah 80 gram per liter digolongkan anemia berat pada kedua jenis kelamin.
Turun dari 24,6 Persen
Angka 15 persen ini lebih rendah dari dua survei nasional sebelumnya. Survei Kesehatan dan Morbiditas Nasional Malaysia mencatat 24,6 persen pada 2015 dan 21,3 persen pada 2019. Kedua angka lama itu masih di atas 20 persen, batas yang menandai masalah kesehatan masyarakat tingkat sedang.
Kini Malaysia turun satu tingkat ke golongan ringan. Menurut penulis, penurunan ini mungkin sebagian mencerminkan dampak program gizi dan kesehatan masyarakat nasional. Program itu antara lain pencegahan anemia bagi ibu hamil dan ibu pascapersalinan, edukasi dan konseling gizi, serta program makanan tambahan.
Sebagian besar anemia yang ditemukan tergolong ringan. Prevalensi anemia ringan 9,9 persen atau sekitar 2,37 juta orang, sedangkan anemia sedang 4,5 persen atau sekitar 1,08 juta orang. Anemia berat tercatat 0,6 persen, setara sekitar 141 ribu orang dewasa.
Menurut penulis, prevalensi ketiga tingkat keparahan itu juga turun dibanding survei sebelumnya. Namun, penurunan ini belum bisa dibaca mentah-mentah. Penulis sendiri meminta tren tersebut ditafsirkan dengan hati-hati, karena cara survei lama dan survei baru dijalankan tidak sama.
Baca juga Satu dari Sepuluh Orang Dewasa Malaysia Gemuk dan Hipertensi
Besi atau Talasemia
Anemia juga dipilah menurut ukuran sel darah merah. Hasilnya, 8,1 persen orang dewasa mengalami anemia mikrositik, yaitu anemia dengan sel darah merah berukuran kecil. Anemia normositik atau berukuran normal tercatat 6,6 persen, sedangkan makrositik atau berukuran besar hanya 0,3 persen.
Di antara penderita anemia, lebih dari separuh tergolong mikrositik. Proporsinya 53,8 persen, disusul normositik 44,3 persen dan makrositik 1,9 persen. Menurut penulis, proporsi ini sebanding dengan temuan studi Malaysian Cohort yang juga meneliti orang dewasa Malaysia.
Dominasi anemia mikrositik tidak mengejutkan penulis, sebab kekurangan zat besi adalah penyebab anemia paling umum di dunia. Studi Malaysian Cohort juga menduga kekurangan besi sebagai penyebab utama anemia di Malaysia. Diagnosis banding yang lazim untuk anemia mikrositik adalah anemia defisiensi besi dan talasemia.
Asupan besi warga Malaysia memang rendah. Survei Gizi Dewasa Malaysia yang dirujuk penulis mencatat penduduk hanya mengonsumsi 78,4 persen dari asupan besi yang dianjurkan. Perempuan dewasa bahkan hanya mencapai 52,0 persen dari tingkat yang dianjurkan.
Namun, talasemia juga tidak jarang di Malaysia. Penyakit ini adalah kelainan darah bawaan paling umum di negara itu, dan sekitar 4,5 persen warganya diperkirakan membawa sifat talasemia. Karena itu, anemia mikrositik belum tentu berarti kurang besi.
Studi ini tidak memeriksa penanda besi maupun elektroforesis hemoglobin. Penyebab di balik anemia mikrositik pun tidak bisa ditentukan. Penulis menilai klasifikasi berdasarkan ukuran sel saja tidak cukup untuk menimpakan seluruh anemia mikrositik pada kekurangan besi.
Anemia normositik juga cukup umum, karena berkaitan dengan tahap awal kekurangan besi dan anemia penyakit kronis. Penulis mencatat penyakit tidak menular seperti diabetes dan penyakit ginjal kronis lazim di Malaysia. Anemia makrositik paling jarang, karena berkaitan dengan diagnosis langka seperti kegagalan sumsum tulang primer.
Perempuan Paling Rentan
Perempuan paling banyak terkena. Prevalensi anemia pada perempuan 25,5 persen, sedangkan pada laki-laki hanya 5,5 persen. Setelah faktor lain disesuaikan, peluang perempuan mengalami anemia 5,83 kali peluang laki-laki, angka tertinggi di antara faktor dalam analisis akhir.
Penulis menyebut beberapa penyebab, di antaranya asupan gizi penting yang kurang, menstruasi, dan kondisi kesehatan yang mendasari. Perdarahan berat saat haid serta perdarahan saat dan setelah melahirkan juga kerap memicu anemia. Risikonya naik bila cadangan besi tidak dipulihkan.
Pola makan ikut disorot. Studi lokal yang dirujuk penulis mencatat lebih dari seperempat perempuan vegetarian di Malaysia mengalami anemia. Namun, studi ini sendiri tidak punya data riwayat haid maupun asupan makanan peserta, sehingga dugaan itu tidak bisa diuji langsung.
Kelompok etnis India mencatat prevalensi 28,7 persen, tertinggi di antara kelompok etnis. Angka pada kelompok usia 60 tahun ke atas 19,5 persen, dan pada orang tanpa pendidikan formal 18,2 persen. Namun, perbedaan antaretnis, antarusia, dan antarpendidikan itu tidak bermakna secara statistik.
Jurang Pendapatan
Pendapatan rumah tangga juga membedakan. Anemia dialami 18,5 persen orang dari kelompok 40 persen berpendapatan terbawah. Di kelompok 20 persen teratas, angkanya hanya 6,5 persen, sedangkan kelompok 40 persen menengah berada di tengah dengan 15,2 persen.
Setelah disesuaikan, kelompok teratas punya peluang anemia 0,28 kali kelompok terbawah. Selisih kelompok menengah dengan kelompok terbawah tidak bermakna secara statistik. Artinya, perlindungan paling jelas hanya tampak pada lapisan pendapatan tertinggi.
Penulis menghubungkannya dengan akses. Orang berpendapatan tinggi umumnya lebih mudah menjangkau layanan kesehatan, sehingga penyakit pemicu anemia bisa dikenali lebih awal. Mereka juga lebih mampu membeli makanan beragam, sehingga risiko kekurangan besi, vitamin B12, dan folat lebih kecil.
Baca juga Skor Framingham dan Risiko Jantung Warga Miskin Malaysia
Diabetes dan Anemia
Temuan yang paling ditekankan penulis menyangkut diabetes. Prevalensi anemia pada penyandang diabetes 26,2 persen, hampir dua kali 13,9 persen pada orang tanpa diabetes. Setelah faktor lain disesuaikan, peluang penyandang diabetes mengalami anemia 2,15 kali.
Angka itu mirip hasil meta-analisis yang dirujuk penulis, yang mencatat 27 persen pasien diabetes tipe 2 mengalami anemia. Anemia juga disebut sebagai faktor risiko kematian tersendiri pada pasien diabetes. Meski begitu, pasangan kedua penyakit ini jarang dibahas dalam pedoman pengobatan.
“Koeksistensi anemia dan diabetes tampaknya kurang dikenali dan tidak cukup disebut di sepanjang pedoman klinis,” tulis Kim Sui Wan dan rekan-rekannya dalam naskah berbahasa Inggris itu. Karena itu, mereka mengusulkan skrining anemia masuk pemeriksaan rutin komplikasi diabetes.
Penulis juga menyarankan pedoman tata laksana diabetes di Malaysia mempertimbangkan skrining anemia tahunan. Tujuannya agar anemia pada penyandang diabetes terdeteksi dan diobati lebih dini. Program pencegahan pun diminta menyasar kelompok yang paling berisiko.
Batas Temuan
Temuan ini punya keterbatasan. Datanya diambil pada satu waktu, sehingga hubungan sebab-akibat tidak bisa ditetapkan. Diabetes yang lebih sering menyertai anemia belum tentu menjadi penyebabnya, dan arah hubungannya pun belum jelas.
Data yang dipakai awalnya dikumpulkan untuk meneliti sindrom metabolik. Feritin, fungsi ginjal, penanda peradangan, riwayat haid, dan asupan makanan tidak tersedia. Diabetes, hipertensi, dan kolesterol tinggi pun hanya berdasarkan pengakuan peserta, sehingga orang yang belum terdiagnosis bisa salah tergolong.
Perbandingan dengan survei lama juga tidak sepenuhnya setara. Survei 2015 dan 2019 mencakup penduduk 15 tahun ke atas dan memakai darah kapiler yang diukur dengan alat uji di tempat (POCT). Studi 2023 memakai darah vena yang diperiksa mesin di satu laboratorium terakreditasi.
Baca juga Pengetahuan Diabetes Turunkan Gejala Neuropati Pasien
Catatan pada Naskah
Ada beberapa hal yang bisa diperiksa pembaca. Penulis menyebut darah kapiler dengan alat POCT cenderung memberi kadar hemoglobin lebih tinggi, sehingga prevalensi studi baru semestinya lebih tinggi dari survei lama. Hasilnya justru lebih rendah, tetapi penulis tidak menjelaskan bagaimana arah itu memengaruhi pembacaan tren.
Rujukan nomor 23 dipakai untuk mendukung dampak program gizi nasional. Namun, judul rujukan itu membahas faktor pembawa talasemia pada siswa tingkatan empat di Kedah. Kaitannya dengan program gizi nasional tidak tampak dari judul tersebut.
Penyajian tabel juga tidak seragam. Tabel 2 menggabungkan usia 18 sampai 39 tahun dalam satu baris, sedangkan Tabel 1 dan Tabel 3 memisahkannya menjadi 18 sampai 29 dan 30 sampai 39 tahun. Tabel 3 bahkan tidak memuat baris Bumiputera yang ada di dua tabel lain.
Hitungan mentah di Tabel 2 mencatat 91 penderita normositik dan 78 penderita mikrositik. Setelah dibobot, mikrositik justru lebih tinggi, 8,1 persen berbanding 6,6 persen. Pembalikan urutan ini tidak dijelaskan dalam naskah, padahal kesimpulan soal dominasi mikrositik bertumpu padanya.
Sisa Pertanyaan
Penulis menyarankan riset lanjutan untuk mencari penyebab spesifik anemia di Malaysia. Pertanyaan soal besi dan talasemia masih terbuka. Begitu pula seberapa nyata penurunan dari 21,3 persen pada 2019 ke 15,0 persen pada 2023.
Anemia di Malaysia memang tercatat turun, dan kelompok yang paling terkena kini terpetakan. Penyebabnya masih menunggu pemeriksaan darah yang lebih lengkap.















