Satu dari Sepuluh Orang Dewasa Malaysia Gemuk dan Hipertensi

A A

Petugas kesehatan mengukur tekanan darah pasien di klinik National Referral Hospital, Honiara, Kepulauan Solomon, 2023 [Foto: Cpl. Nathanuel Mansfield/U.S. Army/Wikimedia Commons Domain Publik]

  • 10,0 persen orang dewasa Malaysia, sekitar 2,08 juta orang, gemuk sekaligus hipertensi
  • Perempuan 12,3 persen berbanding laki-laki 7,8 persen; peluang perempuan 1,53 kali
  • Diabetes faktor terkuat, 4,49 kali; kolesterol tinggi 2,30 kali; usia 60 ke atas 2,80 kali
  • Kota dan desa tidak berbeda; alkohol tidak berpengaruh; survei potong lintang 10.071 orang
Daftar Isi
  1. Tiga Syarat Sekaligus
  2. Perempuan Lebih Banyak
  3. Usia Empat Puluhan
  4. Pendidikan Rendah, Risiko Naik
  5. Diabetes Paling Kuat
  6. Batas Data Survei
  7. Angka yang Perlu Dicek
  8. Sisa Pertanyaan

Satu dari sepuluh orang dewasa Malaysia gemuk sekaligus hipertensi. Angkanya 10,0 persen, setara sekitar 2,08 juta orang. Mereka memenuhi tiga syarat sekaligus: obesitas umum, obesitas perut, dan tekanan darah tinggi.

Temuan itu ditulis Nor Azian Mohd Zaki, Hamizatul Akmal Abd Hamid, Khairul Hasnan Amali, Syafinaz Sallehuddin, Lalitha Palaniveloo, Azli Baharudin, dan Kishwen Kanna Yoga Ratnam dalam Prevalence and associated factors of obesity-related hypertension among Malaysian adults: findings from the National Health and Morbidity Survey 2023, terbit di BMC Public Health volume 26 nomor artikel 2469, tahun 2026. Semuanya bekerja di Institute for Public Health, Kementerian Kesehatan Malaysia.

Tiga Syarat Sekaligus

Datanya berasal dari National Health and Morbidity Survey 2023. Survei itu mencakup 10.071 orang dewasa berusia 18 tahun ke atas di 13 negara bagian dan tiga wilayah federal. Setiap orang diukur tekanan darah, berat, tinggi, dan lingkar pinggangnya.

Seseorang masuk kelompok hipertensi terkait obesitas bila memenuhi tiga syarat. Indeks massa tubuh 27,5 atau lebih, lingkar pinggang 90 sentimeter untuk pria atau 80 sentimeter untuk wanita, dan tekanan darah 140 per 90 atau pernah didiagnosis dokter. Satu syarat kurang, ia masuk kelompok lain.

Batas 27,5 itu mengikuti pedoman klinis Malaysia, bukan batas 30 yang lazim dipakai di Barat. Para peneliti beralasan orang Asia menyimpan lebih banyak lemak dalam perut pada berat badan yang lebih rendah. Indeks massa tubuh saja, tulis mereka, sering meremehkan risiko jantung yang sebenarnya.

Kelompok normal tetap terbesar, yaitu 59,2 persen orang dewasa atau 12,3 juta orang yang tidak gemuk dan tidak hipertensi. Sisanya terbagi tiga: hipertensi saja 20,0 persen atau 4,17 juta orang, obesitas saja 10,8 persen atau 2,26 juta orang. Kelompok gabungan, gemuk sekaligus hipertensi, mencakup 10,0 persen atau 2,08 juta orang.

Kelompok gabungan itu tidak sebesar hipertensi saja. Namun peneliti menganggapnya berbeda secara klinis. Jaringan lemak berlebih, tulis mereka, memicu rangkaian mekanisme tersendiri yang menaikkan tekanan darah.

Laki-laki dan perempuan Malaysia: empat kelompok tekanan darah dan berat badanHipertensi terkait obesitas 7,8 persen pada laki-laki dan 12,3 persen pada perempuan.Laki-laki dan perempuan Malaysia: empatkelompok tekanan darah dan berat badanPrevalensi tertimbang NHMS 2023, 10.071 orang dewasaLaki-lakiPerempuan62,0%56,1%Normal8,7%13,2%Obesitas saja21,5%18,4%Hipertensi saja7,8%12,3%Hipertensi terkaitobesitas849 ribu1,23 jutaJumlah orang,kelompok terakhir1,001,53Peluang (aOR)kelompok terakhiraOR = peluang terkoreksi dibanding kelompok normal; laki-laki sebagaipembanding 1,00.
Sumber: Nor Azian Mohd Zaki, Hamizatul Akmal Abd Hamid, Khairul Hasnan Amali, Syafinaz Sallehuddin, Lalitha Palaniveloo, Azli Baharudin, dan Kishwen Kanna Yoga Ratnam, Prevalence and associated factors of obesity-related hypertension among Malaysian adults: findings from the National Health and Morbidity Survey 2023, BMC Public Health, 26(2469), 2026. Grafik: Cekricek.id

Perempuan Lebih Banyak

Perempuan lebih sering masuk kelompok gabungan. Prevalensinya 12,3 persen pada perempuan dan 7,8 persen pada laki-laki, atau 1,23 juta perempuan berbanding 849 ribu laki-laki. Setelah faktor lain diperhitungkan, perempuan 1,53 kali lebih berpeluang gemuk sekaligus hipertensi, dan pada obesitas saja peluangnya 1,65 kali.

Arahnya terbalik pada hipertensi saja. Laki-laki lebih sering hipertensi tanpa gemuk, 21,5 persen berbanding 18,4 persen, dan peluang perempuan untuk kelompok itu hanya 0,77 kali laki-laki. Peneliti mengaitkannya dengan sebaran lemak tubuh: perempuan umumnya memiliki lemak total lebih tinggi dan pola timbunan yang berbeda, seperti juga ditemukan studi di Jepang dan Indonesia.

Baca juga Ketika Kepercayaan pada Dokter Dalam Negeri Retak

Usia Empat Puluhan

Kelompok gabungan paling banyak ditemukan pada usia 40 sampai 59 tahun, dengan prevalensi 15,1 persen. Pada usia 60 tahun ke atas angkanya 13,5 persen, dan pada usia 18 sampai 39 tahun hanya 5,7 persen. Peluangnya naik seiring usia: orang 40 sampai 59 tahun 2,44 kali lebih berpeluang dibanding orang muda, dan usia 60 ke atas 2,80 kali.

Pada orang lanjut usia, hipertensi lebih sering datang tanpa kegemukan. Sebanyak 54,6 persen warga 60 tahun ke atas masuk kelompok hipertensi saja. Peluang mereka untuk kelompok itu 12,48 kali orang muda, jauh di atas peluang kelompok gabungan.

Obesitas saja justru dominan pada orang muda. Prevalensinya 14,1 persen pada usia 18 sampai 39 tahun dan tinggal 3,1 persen pada usia 60 ke atas. Pola usia ketiga kelompok itu berbeda arah, dan hanya kelompok gabungan yang memuncak di usia paruh baya.

Pendidikan Rendah, Risiko Naik

Pendidikan ikut menentukan. Orang tanpa sekolah atau hanya tamat sekolah dasar 1,71 kali lebih berpeluang gemuk sekaligus hipertensi dibanding lulusan perguruan tinggi, dan lulusan sekolah menengah 1,55 kali. Prevalensinya bertingkat: pendidikan dasar 11,7 persen, menengah 10,2 persen, tinggi 6,7 persen. Peneliti mengaitkannya dengan pengelolaan faktor risiko yang lebih buruk dan literasi kesehatan yang terbatas.

Etnis juga berbeda. Orang Melayu 1,85 kali lebih berpeluang dibanding orang Cina. Selisih untuk orang India, 1,62 kali, dan etnis lain, 1,39 kali, tidak bermakna secara statistik.

Faktor pendorong hipertensi terkait obesitasDiabetes melitus: aOR +4,49; Usia 60 tahun ke atas: aOR +2,80; Usia 40-59 tahun: aOR +2,44; Hiperkolesterolemia: aOR +2,30; Etnis Melayu (vs Cina): aOR +1,85; Pendidikan dasar atau tanpa sekolah: aOR +1,71; Pendidikan menengah: aOR +1,55; Perempuan: aOR +1,53; Tidak aktif fisik: aOR +1,26.Faktor pendorong hipertensi terkait obesitasaOR terkoreksi dibanding kelompok normal, NHMS 2023123450Diabetes melitus4,49Usia 60 tahun ke atas2,80Usia 40-59 tahun2,44Hiperkolesterolemia2,30Etnis Melayu (vs Cina)1,85Pendidikan dasar atau tanpa sekolah1,71Pendidikan menengah1,55Perempuan1,53Tidak aktif fisik1,26Pembanding: tanpa diabetes, usia 18-39, tanpa hiperkolesterolemia,etnis Cina, pendidikan tinggi, laki-laki, aktif fisik. Semua bermakna p dibawah 0,05.
Sumber: Nor Azian Mohd Zaki, Hamizatul Akmal Abd Hamid, Khairul Hasnan Amali, Syafinaz Sallehuddin, Lalitha Palaniveloo, Azli Baharudin, dan Kishwen Kanna Yoga Ratnam, Prevalence and associated factors of obesity-related hypertension among Malaysian adults: findings from the National Health and Morbidity Survey 2023, BMC Public Health, 26(2469), 2026. Grafik: Cekricek.id

Diabetes Paling Kuat

Diabetes menjadi faktor terkuat. Penderita diabetes 4,49 kali lebih berpeluang gemuk sekaligus hipertensi dibanding orang tanpa diabetes, dan 22,6 persen penderita diabetes masuk kelompok gabungan. Kolesterol tinggi menyusul: orang dengan kolesterol total 5,2 milimol per liter atau lebih berpeluang 2,30 kali, dengan prevalensi 16,0 persen berbanding 6,7 persen pada orang berkolesterol normal.

Kurang gerak juga berpengaruh, tetapi lebih tipis. Orang yang tidak mencapai 600 MET-menit per minggu 1,26 kali lebih berpeluang, sedangkan alkohol sama sekali tidak berpengaruh dengan peluang 1,01 kali. Peneliti menduga alkohol tidak muncul karena konsumsinya memang rendah di Malaysia, norma budaya membatasi, dan yang minum mungkin tidak melaporkannya.

Baca juga Tiga Tahun Tanpa Perubahan, Lalu Berobat ke Malaysia

Tempat tinggal tidak berbeda. Prevalensi di desa 11,3 persen dan di kota 9,6 persen, tetapi selisih itu hilang setelah faktor lain diperhitungkan, dengan peluang warga desa 1,19 kali dan tidak bermakna. Status perkawinan juga tidak berbeda: orang menikah 11,4 persen, lajang atau cerai 7,6 persen, peluang terkoreksinya 1,22 kali dan tidak bermakna. Peneliti menyebut gaya hidup yang mulai seragam di seluruh negeri.

Kesimpulan mereka tegas. “Hipertensi terkait obesitas menimpa kira-kira satu dari sepuluh orang dewasa Malaysia dan merupakan beban kardiometabolik yang berbeda dan bermakna,” tulis Nor Azian Mohd Zaki dan rekan-rekannya dalam naskah berbahasa Inggris. Kalimat aslinya berbunyi obesity-related hypertension affects approximately one in ten Malaysian adults and represents a distinct and significant cardiometabolic burden.

Angka 10,0 persen itu lebih rendah dari 22,7 persen pada orang dewasa Cina berusia 45 tahun ke atas dalam studi yang mereka kutip. Peneliti menjelaskan sampel Cina lebih tua. Definisi Malaysia juga lebih ketat karena mensyaratkan tiga kondisi sekaligus.

Batas Data Survei

Penelitian ini potong lintang. Peneliti menegaskan hasilnya tidak bisa membuktikan sebab-akibat antara faktor yang ditemukan dan kondisi gabungan itu; diabetes berkaitan dengan kelompok gabungan, bukan berarti diabetes menyebabkannya. Aktivitas fisik dan alkohol dilaporkan sendiri oleh responden, sehingga peneliti mengakui bias ingatan dan bias keinginan tampil baik, sementara data pola makan, kepatuhan minum obat, serta lama dan beratnya penyakit penyerta tidak tersedia.

Faktor genetik dan stres psikososial juga tidak diukur. Model regresinya menjelaskan 34 persen variasi, dengan ketepatan klasifikasi 64,6 persen. Sisanya berada di luar jangkauan survei, dan peneliti menyebutnya sebagai sisa perancu.

Angka yang Perlu Dicek

Ada beberapa hal dalam naskah yang bisa diperiksa pembaca. Abstrak menonjolkan usia 60 tahun ke atas sebagai kelompok berpeluang tertinggi, 2,80 kali. Namun prevalensi tertinggi ada pada usia 40 sampai 59 tahun, 15,1 persen, dan naskah tidak menjelaskan selisih itu.

Bagian hasil menulis pendidikan rendah berkaitan dengan hipertensi saja dan hipertensi terkait obesitas saja. Kata saja yang kedua janggal, karena kelompok gabungan bukan kelompok tunggal. Nomor rujukan juga tampak bergeser: kuesioner survei disebut terbit di laporan NHMS 2023 dengan rujukan nomor 9, padahal rujukan 9 adalah artikel tentang pergeseran kardiometabolik Asia, dan laporan NHMS 2023 tercatat sebagai rujukan 13.

Definisi hipertensi dirujuk ke nomor 20, yaitu konsensus tentang lingkar pinggang. Batas obesitas 27,5 dirujuk ke nomor 28, yaitu pedoman hipertensi Malaysia. Pedoman obesitas Malaysia sendiri tercatat di nomor 29.

Baca juga RPJMD Rajin Menulis Target, Hemat Menulis Capaian Lalu

Sisa Pertanyaan

Peneliti mengusulkan skrining terpadu di layanan primer lewat skema PEKA B40 dan program komunitas KOSPEN. Sasarannya kelompok berisiko tinggi: perempuan, usia paruh baya, pendidikan rendah, penderita diabetes, dan orang berkolesterol tinggi. Program itu berada di luar cakupan penelitian.

Data 2023 hanya satu potret. Ia tidak menjawab apakah 2,08 juta orang itu bertambah atau berkurang dari tahun sebelumnya. Yang tersisa satu angka: satu dari sepuluh.

Bagikan

Baca Juga

Banjir Tallo Makassar: Ibu Hamil Jatuh, Tirah Baring Dua Bulan
Raider dan Defender Kabaddi Jawa Timur Berotot Hampir Sama
Harapan Hidup Subjektif Lansia Thailand Naik Seiring Usia
Dukungan Keluarga Gandakan Kepatuhan Obat Hipertensi di Kamboja
Siswa Laki-laki Merokok 34 Persen, Perempuan Hanya 1,5 Persen
Bibit Ginseng Jawa Ditanam di Salimpek, Pestisida Tetap Dipakai