- Waktu sedentari anak di enam SD negeri selatan Santiago berkurang 25,13 menit per hari menurut model statistik.
- Gerak ringan naik 22,38 menit per hari, sedangkan aktivitas berat dan MVPA tidak berubah bermakna.
- Hanya kekuatan lengan yang tetap naik bermakna setelah dibagi massa tubuh.
- Peluang ikut serta dalam bola voli naik paling tinggi dengan rasio odds 6,04.
Daftar Isi
Waktu ketika tubuh nyaris tak bergerak punya nama sendiri dalam riset kesehatan, yakni perilaku sedentari. Di enam sekolah dasar negeri di selatan Santiago, Chile, waktu semacam itu berkurang 25,13 menit per hari setelah anak-anak menjalani program gerak di sekolah selama dua tahun, menurut model statistik yang memperhitungkan usia, jenis kelamin, dan indeks massa tubuh.
Temuan itu ditulis Rubenyta Martins Podmelle dari Escola Superior de Educação Física, Universidade de Pernambuco, Brasil, dan rekan dalam artikel Impact of a school-based intervention on physical activity, muscular fitness, and sports participation in Chilean children: single-arm cluster study. Artikel itu terbit di jurnal BMC Public Health pada 2026. Sebagian besar rekan penulisnya berasal dari Universidad de Santiago de Chile.
Yang diteliti adalah 285 siswa kelas tiga berusia 6 sampai 13 tahun dari sekolah negeri di wilayah dengan kerentanan sosial tinggi, antara lain Lo Espejo, El Bosque, La Granja, dan Peñalolén. Program berjalan 24 bulan dalam rentang studi Oktober 2023 hingga April 2026, dan 209 anak memberikan data sah pada pengukuran akhir.
Programnya terdiri atas beberapa bagian. Pelajaran pendidikan jasmani berlangsung 90 menit dengan 45 sampai 60 menit kegiatan efektif berisi permainan berintensitas tinggi, sirkuit, lompat, dan lari. Jeda aktif 10 sampai 15 menit diadakan dua sampai tiga kali seminggu, sementara jam istirahat diisi tali lompat, simpai, bola busa, serta tanda permainan di lantai dan dinding. Materi tentang aktivitas fisik dan gaya hidup sehat juga disisipkan dalam pelajaran Bahasa dan Matematika lewat cerita, berita, resep, dan soal.
Sedentari, Waktu Ketika Tubuh Hampir Diam
Maksudnya bukan sekadar duduk. Setiap anak memakai akselerometer, alat penghitung gerak yang dipasang di pinggang dengan sabuk elastis selama 24 jam, sekurangnya tujuh hari berturut-turut. Alat itu mencatat hitungan gerak tiap 15 detik, dan 25 hitungan atau kurang digolongkan sebagai sedentari. Waktu tidur malam dikeluarkan dari perhitungan.
Pada data mentah, rata-rata waktu sedentari turun dari 512 menjadi 493 menit per hari, atau 3,7 persen. Dalam model statistik yang memperhitungkan usia, jenis kelamin, indeks massa tubuh, dan lama alat dipakai, selisihnya tercatat minus 25,13 menit per hari dibanding awal studi.
Aktivitas ringan adalah tingkat berikutnya, yakni 26 sampai 573 hitungan per 15 detik. Waktu untuk gerak ringan ini naik dari 337 menjadi 357 menit per hari, atau 6,1 persen. Dalam model yang sama, gerak ringan naik 22,38 menit per hari, dan kenaikan itu muncul di ketiga kelompok berat badan yang diteliti.
MVPA, Gabungan Gerak Sedang dan Berat
MVPA adalah singkatan bahasa Inggris untuk aktivitas fisik sedang hingga berat, yakni 574 hitungan gerak atau lebih per 15 detik. Pedoman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang dirujuk paper ini meminta anak menjalani sedikitnya 60 menit MVPA setiap hari. Pada data deskriptif awal studi, rata-rata MVPA anak-anak ini 55,40 menit per hari.
Menurut para penulis, perubahan pada gerak berintensitas lebih tinggi, terutama MVPA, terbatas. Dalam model statistik, aktivitas sedang naik 2,01 menit per hari dengan kebermaknaan statistik di ambang batas, p sama dengan 0,050. Aktivitas berat dan MVPA tidak berubah bermakna dibanding awal studi.
Kepatuhan pada pedoman dicatat terpisah. Di antara 153 anak yang data akselerometernya sah pada kedua pengukuran, yang memenuhi pedoman 60 menit naik dari 59 anak atau 38,6 persen menjadi 68 anak atau 44,4 persen. Kesembilan anak yang statusnya berubah semuanya beralih dari tidak memenuhi menjadi memenuhi.
Perbedaan menurut jenis kelamin juga tercatat. Dibanding anak laki-laki, anak perempuan mencatat 31,89 menit lebih banyak waktu sedentari dan 26,62 menit lebih sedikit MVPA per hari. Para penulis menyebut temuan ini sejalan dengan literatur internasional yang melaporkan anak perempuan lebih sedikit menjalani MVPA sejak masa kanak-kanak.
Baca juga Aktivitas Fisik Siswa Kepulauan Seribu: Duduk 2 Jam Sehari
Kekuatan Relatif, Tenaga yang Dibagi Berat Badan
Kebugaran otot diukur dengan tiga tes lapangan. Kekuatan tungkai dilihat dari lompat jauh tanpa awalan dalam sentimeter, kekuatan lengan dari genggaman tangan pada dinamometer, alat pengukur tenaga genggam, dalam kilogram, dan kekuatan perut dari jumlah gerakan curl-up yang benar dalam 60 detik.
Ketiga angka itu naik. Lompat jauh bertambah dari rata-rata 85,33 menjadi 92,10 sentimeter. Genggaman tangan naik dari 10,38 menjadi 14,31 kilogram, atau 37,9 persen, dan curl-up dari 19,39 menjadi 21,54 kali. Dalam model statistik, kenaikannya 6,73 sentimeter, 3,49 kilogram, dan 2,51 repetisi dibanding awal studi.
Persoalannya, anak-anak itu juga tumbuh selama dua tahun, dan rata-rata usia mereka naik dari 9,3 menjadi 11,1 tahun. Karena itu peneliti menghitung kekuatan relatif, yakni hasil tes dibagi massa tubuh dalam kilogram. Hanya kekuatan lengan yang tetap naik bermakna setelah dibagi massa tubuh, sedangkan kekuatan tungkai dan perut relatif tidak berubah bermakna.
Para penulis menulis bahwa sebagian kenaikan kekuatan absolut mungkin berasal dari bertambahnya ukuran tubuh dan kematangan, bukan dari program semata. Kematangan biologis anak tidak diukur langsung dalam studi ini, sehingga sumbangan pertumbuhan dan sumbangan program tidak bisa dipisahkan sepenuhnya.
Anak perempuan melompat 13,45 sentimeter lebih pendek dan mencatat 3,09 curl-up lebih sedikit daripada anak laki-laki. Indeks massa tubuh yang lebih tinggi berkaitan dengan lompatan lebih pendek dan curl-up lebih sedikit, tetapi juga dengan genggaman tangan yang lebih kuat.
Indeks Massa Tubuh, Penggolong Berat Badan Anak
Indeks massa tubuh atau IMT adalah berat badan dalam kilogram dibagi kuadrat tinggi badan dalam meter. Untuk anak, angka itu diubah menjadi skor z menurut acuan pertumbuhan WHO bagi usia dan jenis kelamin yang sama. Dari skor itu, anak digolongkan berberat kurang, berberat normal, kelebihan berat badan, atau obesitas.
Pada awal studi, dari 209 anak, 114 atau 54,5 persen berberat normal, 45 atau 21,5 persen kelebihan berat badan, dan 49 atau 23,4 persen obesitas. Ketiga kelompok inilah yang dipakai untuk melihat apakah perubahan berbeda menurut berat badan anak.
Waktu sedentari turun di ketiga kelompok: 18,41 menit per hari pada anak berberat normal, 16,61 menit pada anak kelebihan berat badan, dan 23,33 menit pada anak obesitas. Gerak ringan juga naik di ketiganya, dari 20,60 sampai 23,58 menit. Aktivitas sedang hanya naik bermakna pada anak berberat normal, sebesar 2,28 menit per hari atau 5,7 persen.
Untuk kebugaran otot, rinciannya begini. Lompat jauh hanya bertambah bermakna pada anak berberat normal, sebesar 11,69 sentimeter atau 13,5 persen, begitu pula curl-up yang naik 3,18 kali. Genggaman tangan naik di semua kelompok, dari 3,75 sampai 3,82 kilogram. Peneliti mengingatkan, hanya untuk kekuatan tungkai perbedaan antarkelompok itu teruji bermakna, sehingga rincian lainnya bersifat penjajakan.
Baca juga Game Online dan Kebugaran Jasmani 37 Siswa SD Tak Signifikan
Rasio Odds, Peluang Ikut Serta dalam Olahraga
Partisipasi olahraga ditanyakan lewat kuesioner yang dijawab anak, dengan lima pilihan frekuensi, dari tidak ikut sama sekali sampai tujuh kali atau lebih seminggu. Hasilnya dinyatakan sebagai rasio odds peluang ikut serta dalam tiap jenis olahraga sesudah program dibanding awal studi.
Bola voli mencatat rasio odds tertinggi, 6,04. Menyusul dansa 3,23, bersepeda 2,59, sepak bola 1,79, dan lari 1,54, semuanya naik bermakna dibanding awal studi. Bola basket, jalan kaki, lompat tali, sepatu roda, dan main aktif tidak berubah bermakna.
Angka deskriptifnya menunjukkan hal serupa. Pada awal studi tidak satu anak pun bersepeda lima kali atau lebih seminggu, sedangkan sesudah program ada 24 anak atau 11,5 persen. Untuk bola voli, kelompok yang sama naik dari 6 anak menjadi 25 anak, dan untuk dansa dari 18 menjadi 32 anak.
Pilihan olahraga anak perempuan dan laki-laki juga berbeda. Anak perempuan berpeluang lebih besar berjalan kaki, berdansa, bermain sepatu roda, dan lompat tali, dengan rasio odds untuk dansa 2,82. Sebaliknya, rasio odds mereka untuk sepak bola hanya 0,14 dan untuk bola basket 0,58 dibanding anak laki-laki.
Satu Lengan, Tanpa Kelompok Kontrol
Paper ini menyebut rancangannya studi satu lengan, dan para penulis mencatat tidak adanya kelompok kontrol sebagai keterbatasan pertama. Anak-anak yang sama diukur sebelum program dan sesudah 24 bulan.
Para penulis menduga perubahan berkaitan dengan program yang terdiri atas banyak komponen dan kesempatan bergerak yang berulang sepanjang hari sekolah, lewat pendidikan jasmani, jeda aktif, dan istirahat aktif yang didampingi. Namun mereka sendiri membatasi dugaan itu.
“Mengingat tidak adanya kelompok kontrol, mekanisme yang diajukan ini sebaiknya dibaca sebagai penjelasan yang masuk akal, bukan jalur sebab-akibat yang sudah terbukti,” tulis Podmelle dan rekan di bagian diskusi, diterjemahkan dari bahasa Inggris. Mereka juga menulis, perubahan praktik sekolah dan program promosi kesehatan pemerintah selama dua tahun itu bisa ikut berpengaruh dan tidak dapat dipisahkan dari perubahan yang terkait program.
Keterbatasan lain juga disebut terang. Pengukuran awal dan akhir dilakukan pada periode berbeda dalam kalender sekolah, partisipasi olahraga dilaporkan sendiri oleh anak, dan kehadiran tiap anak dalam program tidak dicatat. Data akselerometer yang sah pada kedua pengukuran hanya tersedia untuk 153 dari 285 anak, atau 53,7 persen.
Baca juga Anak Lahir Kecil yang Tak Main di Luar Lebih Sulit Kejar Tinggi
Chile kini memiliki undang-undang baru yang menetapkan minimal 60 menit aktivitas fisik harian di lingkungan pendidikan, sesuai anjuran WHO. Dalam simpulan abstraknya, Podmelle dan rekan menulis, “Intervensi ini memperbaiki kebugaran otot dan aktivitas fisik berintensitas lebih rendah, tetapi dampaknya terbatas pada aktivitas berintensitas lebih tinggi, terutama di kalangan anak perempuan dan anak dengan IMT lebih tinggi, sehingga menegaskan perlunya strategi yang terarah.”
Dalam simpulannya, para penulis mencatat bahwa perbaikan kebugaran otot dan berkurangnya waktu sedentari terlihat meski perubahan MVPA terbatas. Mereka menyarankan riset berikutnya menyiapkan program terarah bagi anak perempuan dan anak dengan obesitas, serta memakai metode campuran yang menggabungkan data kuantitatif dan kualitatif.














