Anak Lahir Kecil yang Tak Main di Luar Lebih Sulit Kejar Tinggi

A A

Ilustrasi ayunan ban dan perosotan di halaman taman kanak-kanak di Jepang saat sakura mekar [Foto: puffyjet/Wikimedia Commons, CC BY 2.0]

  • Dengan ukuran sehari-hari, kira-kira satu dari enam anak itu masih tertinggal, sementara lima lainnya sudah menyusul.
  • Garis pemisahnya, dengan demikian, bukan terletak di antara banyak dan sedikit, melainkan di antara ada dan hampir tidak ada sama sekali.
  • Namun kadar vitamin D tidak diukur dalam penelitian ini, dan begitu pula penanda hormon lain yang berkaitan dengan pertumbuhan.
  • Ada pula kemungkinan arah sebab yang terbalik, yaitu anak yang pertumbuhannya kurang baik memang lebih jarang diajak atau mampu bermain di luar.
Daftar Isi
  1. Satu dari enam anak belum sampai ke garis
  2. Yang tertinggal adalah mereka yang nyaris tak keluar
  3. Angka yang berubah ketika keluarga ikut dihitung
  4. Anak laki-laki, anak perempuan, dan angka yang goyah
  5. Gerak tubuh dan sinar matahari sebagai dugaan
  6. Batas yang diakui dan yang tidak cocok di naskah

Tinggi badan anak kerap dibayangkan sebagai urusan piring makan semata, seolah-olah seluruh jawabannya tersimpan pada air susu ibu, lauk yang berimbang, dan jadwal makan yang tertib. Sebuah penelitian besar dari Jepang menggoyang bayangan itu, sebab pada anak-anak yang lahir lebih kecil daripada semestinya, halaman, taman, dan udara terbuka ikut berkaitan dengan berhasil atau tidaknya mereka mengejar tinggi badan yang wajar ketika usianya genap tiga tahun.

Penelitian itu ditulis Yoshinori Aoki, Michikazu Nakai, Hirotake Sawada, dan Hiroshi Moritake bersama Japan Environment and Children’s Study Group, dengan judul Outdoor play and catch-up growth in small-for-gestational-age children: a nationwide prospective birth cohort study from the Japan environment and children’s study. Naskahnya terbit di BMC Public Health tahun 2026 dan masih berstatus artikel dalam proses cetak, sehingga belum membawa nomor volume. Keempat penulis bekerja di Faculty of Medicine, University of Miyazaki, tiga di antaranya di bagian pediatri dan seorang di bagian statistik.

Yang mereka amati adalah anak-anak yang dalam bahasa kedokteran disebut kecil untuk masa kehamilan, yakni bayi yang panjang atau berat lahirnya berada jauh di bawah rentang normal bagi usia kandungannya. Menurut naskah itu, kira-kira enam belas dari setiap seratus kelahiran di dunia tergolong demikian, dengan rentang yang lebar, dari tujuh persen di negara berpenghasilan tinggi sampai empat puluh persen di Asia Selatan. Mereka bukan kelompok kecil, dan nasib pertumbuhannya bukan perkara pinggiran.

Satu dari enam anak belum sampai ke garis

Dari lebih dari seratus ribu kehamilan yang tercatat dalam proyek nasional Japan Environment and Children’s Study, para peneliti menemukan 2.509 bayi yang lahir kecil, lalu menelaah 1.796 anak yang data tinggi badan dan kebiasaan bermainnya lengkap. Pada usia tiga tahun, 296 anak di antaranya, atau 16,5 persen, belum mencapai tinggi badan yang masuk rentang normal. Dengan ukuran sehari-hari, kira-kira satu dari enam anak itu masih tertinggal, sementara lima lainnya sudah menyusul.

Anak-anak itu sebagian besar lahir cukup bulan, dengan nilai tengah usia kehamilan 39 minggu, dan hanya 220 anak atau 12,2 persen yang lahir prematur. Anak perempuan lebih banyak, yakni 1.041 anak atau 58,0 persen, berbanding 755 anak laki-laki atau 42,0 persen. Usia tiga tahun dipilih sebagai titik ukur karena, menurut para penulis, penelitian terdahulu menunjukkan laju kejar tumbuh tidak lagi bertambah banyak sesudah usia itu.

Anak lahir kecil yang belum mengejar tinggi296 dari 1.796 anak, atau 16,5%.Anak lahir kecil yang belum mengejar tinggiDari 1.796 anak lahir kecil di Jepang, diukur pada usia 3 tahun296 anak belum mengejar (16,5%)1.500 anak sudah mengejarTotal 1.796 anakMengejar berarti tinggi badan sudah masuk rentang normal untukusianya.
Sumber: Yoshinori Aoki, Michikazu Nakai, Hirotake Sawada, Hiroshi Moritake, dan Japan Environment and Children’s Study Group, Outdoor play and catch-up growth in small-for-gestational-age children: a nationwide prospective birth cohort study from the Japan environment and children’s study, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Di titik inilah pertanyaan para dokter anak dari Miyazaki itu berbelok dari kebiasaan. Selama ini, tulis mereka, penanganan anak yang lahir kecil lazimnya menekankan gizi, yaitu menyusui pada masa bayi dan makanan berimbang pada tahap berikutnya, dan hampir tidak ada anjuran perilaku lain yang berlaku umum. Yang mereka tanyakan justru hal yang tampak remeh, yakni apakah anak itu bermain di luar rumah, pada musim panas maupun pada musim dingin.

Baca juga Stunting Mengelompok di Timur, Berat Lahir Jejak yang Tersisa

Yang tertinggal adalah mereka yang nyaris tak keluar

Para pengasuh diminta menyebut berapa lama anaknya bermain di luar pada musim panas, dari Mei sampai September, dan pada musim dingin, dari November sampai Februari. Pilihannya bertingkat, dari hampir tidak pernah bermain di luar sampai tiga jam atau lebih sehari. Para peneliti kemudian memisahkan anak yang hampir tidak pernah keluar dari semua anak lain, lalu menyusun tiga kelompok, yaitu bermain di luar pada kedua musim, pada satu musim saja, dan tidak pada musim mana pun.

Hasilnya memisahkan kelompok terakhir dari dua kelompok lainnya. Anak yang pada usia satu sampai dua tahun hampir tidak bermain di luar pada kedua musim memiliki peluang gagal mengejar tinggi badan sekitar dua setengah kali lebih besar daripada anak yang bermain di luar pada kedua musim, dengan rasio odds tersesuaikan 2,51. Rentang kepercayaannya terbentang dari 1,22 sampai 5,18, cukup lebar tetapi seluruhnya berada di atas angka satu.

Pola serupa muncul pada kebiasaan setahun kemudian, dan angkanya bahkan lebih besar. Anak yang pada usia dua sampai tiga tahun hampir tidak bermain di luar pada kedua musim memiliki rasio odds tersesuaikan 4,36 untuk gagal mengejar tinggi badan, dengan rentang kepercayaan 1,42 sampai 13,38. Rentang selebar itu mengingatkan bahwa anak yang benar-benar tidak pernah keluar jumlahnya sedikit, sehingga besaran pastinya tidak bisa dipegang erat.

Peluang gagal mengejar tinggi badanKebiasaan pada usia 1-2 tahun: Main di luar satu musim saja +0,95, Hampir tidak main di luar +2,51; Kebiasaan pada usia 2-3 tahun: Main di luar satu musim saja +0,96, Hampir tidak main di luar +4,36.Peluang gagal mengejar tinggi badanRasio odds tersesuaikan; 1,00 = main di luar dua musimMain di luar satu musim sajaHampir tidak main di luar123450Kebiasaan pada usia 1-2 tahun0,952,51Kebiasaan pada usia 2-3 tahun0,964,36Batang satu musim tidak berbeda bermakna dari pembanding. Angkamenurut Tabel 2 naskah.
Sumber: Yoshinori Aoki, Michikazu Nakai, Hirotake Sawada, Hiroshi Moritake, dan Japan Environment and Children’s Study Group, Outdoor play and catch-up growth in small-for-gestational-age children: a nationwide prospective birth cohort study from the Japan environment and children’s study, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Namun ada satu kelompok yang tidak ikut tertinggal. Anak yang bermain di luar hanya pada musim panas atau hanya pada musim dingin tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna dari anak yang bermain di luar sepanjang tahun, baik pada usia satu sampai dua tahun maupun pada usia dua sampai tiga tahun. Garis pemisahnya, dengan demikian, bukan terletak di antara banyak dan sedikit, melainkan di antara ada dan hampir tidak ada sama sekali.

Angka yang berubah ketika keluarga ikut dihitung

Justru sebaliknya dari yang biasa terjadi, kaitan itu menguat ketika keadaan keluarga ikut diperhitungkan. Untuk kebiasaan pada usia dua sampai tiga tahun, hitungan kasar hanya menghasilkan rasio odds 2,20 yang belum bermakna secara statistik, dan baru setelah usia serta tinggi ibu, pendidikan kedua orang tua, pendapatan rumah tangga, cara pemberian makan, paparan rokok di rumah, dan penyakit anak dimasukkan, angkanya menjadi 4,36 dan bermakna. Para penulis membaca selisih itu sebagai tanda bahwa banyak faktor bekerja bersamaan.

Kebiasaan bermain di luar ternyata juga tidak mudah berganti. Anak yang jarang keluar pada tahun kedua hidupnya cenderung tetap jarang keluar pada tahun ketiga, dan para penulis menyebut kesesuaian antara dua masa itu besar. Karena itu, menurut mereka, kaitan yang terlihat mungkin tidak hanya mencerminkan pengaruh bermain pada usia tertentu, tetapi juga pengaruh pola hidup yang bertahan dari waktu ke waktu.

Di tengah naskah, para penulis merumuskan sendiri apa yang mereka anggap berarti dari hitungan itu. “Hasil kami menunjukkan bahwa mendorong bermain di luar sejak usia dini mungkin merupakan faktor perilaku yang berpotensi relevan dan berkaitan dengan pertumbuhan linear pada populasi berisiko tinggi ini,” tulis Aoki, Nakai, Sawada, dan Moritake dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Kalimat itu sarat kata mungkin dan berpotensi, dan kehati-hatian itu bukan basa-basi.

Baca juga Empat Dekade Karies Gigi Anak Jepang Turun Tanpa Fluoridasi Air

Anak laki-laki, anak perempuan, dan angka yang goyah

Ketika anak laki-laki dan perempuan dihitung terpisah, gambarnya tampak timpang. Pada anak laki-laki, tidak bermain di luar pada kedua musim berkaitan dengan rasio odds 3,87 pada usia satu sampai dua tahun dan 11,64 pada usia dua sampai tiga tahun, sedangkan pada anak perempuan tidak satu pun kaitan itu bermakna secara statistik. Angka sebelas terdengar dramatis, tetapi rentang kepercayaannya membentang dari 2,03 sampai 66,62.

Di situlah persoalannya, sebab uji yang secara resmi memeriksa apakah kedua jenis kelamin memang berbeda tidak menemukan perbedaan yang bermakna. Hal serupa terjadi pada usia kandungan, karena kaitan itu terlihat pada anak yang lahir cukup bulan tetapi tidak pada anak prematur, yang menurut para penulis mungkin sekadar akibat sedikitnya jumlah anak prematur. “Temuan subkelompok ini karena itu harus ditafsirkan dengan hati-hati,” tulis mereka.

Gerak tubuh dan sinar matahari sebagai dugaan

Mengapa halaman bisa berkaitan dengan tinggi badan, para penulis menawarkan dua dugaan yang bersandar pada penelitian terdahulu. Bermain di luar adalah sumber utama gerak badan bagi anak, dan gerak badan disebut meningkatkan kadar faktor pertumbuhan mirip insulin dalam darah, zat yang berperan pada pemanjangan tulang. Selain itu, sinar matahari selama bermain merangsang pembentukan vitamin D di kulit, vitamin yang penting bagi pertumbuhan rangka.

Jalur vitamin D itu terasa pas bagi kelompok ini, karena anak yang lahir kecil dilaporkan lebih berisiko kekurangan vitamin D daripada teman sebayanya yang lahir dengan ukuran wajar. Namun kadar vitamin D tidak diukur dalam penelitian ini, dan begitu pula penanda hormon lain yang berkaitan dengan pertumbuhan. Para penulis sendiri menyebut tafsir mereka atas perbedaan anak laki-laki dan perempuan masih bersifat spekulatif dan perlu diselidiki lebih jauh.

Baca juga Obesitas Anak Thailand Melonjak Dua Kali Lipat Saat Pandemi

Batas yang diakui dan yang tidak cocok di naskah

Keterbatasan penelitian ini disebut terang oleh penulisnya. Lama bermain dilaporkan pengasuh lewat kuesioner sehingga rawan salah ingat, tidak menangkap seberapa giat anak bergerak, dan disederhanakan menjadi dua golongan sehingga tidak bisa menunjukkan apakah makin lama bermain makin baik hasilnya. Banyak anak tersisih karena datanya tidak lengkap, dan faktor yang tidak terukur, seperti kebiasaan sehat orang tua atau keadaan rumah, mungkin masih ikut bermain.

Ada pula kemungkinan arah sebab yang terbalik, yaitu anak yang pertumbuhannya kurang baik memang lebih jarang diajak atau mampu bermain di luar. Kebiasaan bermain dicatat sebelum tinggi badan diukur, dan ukuran lahir ikut diperhitungkan, tetapi itu hanya mengurangi kekhawatiran. “Meski demikian, kemungkinan kausalitas terbalik tidak dapat sepenuhnya disingkirkan,” tulis para penulis, yang juga menegaskan bahwa penelitian pengamatan seperti ini tidak dapat membuktikan sebab dan akibat.

Beberapa angka di naskah juga tidak saling cocok dan bisa diperiksa pembaca. Untuk anak yang bermain di luar satu musim pada usia satu sampai dua tahun, teks menyebut rasio odds 0,93 sedangkan tabel kedua menulis 0,95. Untuk anak perempuan, teks menyebut 1,90 dan 1,53, sementara tabel ketiga mencantumkan 1,81 dan 2,04. Selisih itu tidak mengubah kesimpulan, sebab semuanya tetap tidak bermakna, dan naskah ini memang belum melewati penyuntingan akhir.

Para penulis menutup dengan permintaan yang wajar, yakni penelitian lanjutan yang mengukur gerak anak secara objektif dan memeriksa penanda dalam darah, agar jelas apakah mendorong anak bermain di luar benar-benar menopang pertumbuhan tinggi badan. Mereka juga mencatat bahwa bermain di luar pada anak-anak telah menurun dalam beberapa dasawarsa terakhir, dan bahwa panduan bermain sesuai usia mungkin dapat melengkapi strategi gizi dan medis yang sudah ada.

Yang tersisa adalah gambaran yang belum selesai tentang seorang anak yang lahir kecil dan sebuah halaman yang jarang ia injak. Data dari Jepang itu menunjukkan keduanya berjalan beriringan dengan tinggi badan yang tertinggal pada usia tiga tahun, tetapi tidak memberi tahu mana yang lebih dulu. Apakah anak itu tertinggal karena tidak keluar, ataukah ia tidak keluar karena sudah tertinggal?

Bagikan

Baca Juga

Saat Orang Tua Kena Kanker, Remaja Memilih Diam dan Makin Sepi
Tidur Tujuh Jam Seiring Daya Pikir Terbaik di Usia 50 ke Atas
Remaja Miskin Taiwan Lebih Puas Berkat Keluarga, Tetap Tertekan
Penyakit Hati akibat Alkohol Naik pada Perempuan Lansia Korea
Lapar di Masa Kecil Membuntuti Warga Desa Tiongkok hingga Tua
Ozon Udara Terkait Rabun Usia Tua di Kota Korea, Bukan di Desa