Genggaman Tangan Mahasiswi Emirat Lebih Lemah dari Sebaya Dunia

A A

Ilustrasi tangan menggenggam dinamometer digital saat uji kekuatan genggaman di Fort Bliss, Texas, AS [Foto: Marcy Sanchez (William Beaumont Army Medical Center)/Wikimedia Commons, Public domain]

  • Kekuatan genggaman mahasiswi Emirat dalam penelitian ini berada kira-kira pada persentil ke-5 hingga ke-10 untuk perempuan berusia 20-24 tahun.
  • Waktu sedenter yang lebih lama berkaitan dengan genggaman lebih lemah, sedangkan aktivitas ringan berkaitan dengan genggaman lebih kuat.
  • Menurut data alat, 87,7 persen mahasiswi mengumpulkan kurang dari 150 menit aktivitas sedang per pekan.
  • Tidak seorang pun mahasiswi mencapai anjuran aktivitas berat minimal 75 menit menurut data akselerometer.
Daftar Isi
  1. Tiga Detik Meremas Dinamometer di Al Ain
  2. Alat di Pinggang dan Busana Tradisional Emirat
  3. Waktu Duduk dan Gerak Ringan Berkaitan dengan Genggaman
  4. Sekitar 80 Persen Belum Memenuhi Pedoman
  5. Saran dari Al Ain: Tangga, Tas, dan Latihan Genggam
  6. Batas yang Diakui Tim Gråstén

Arto Gråstén merancang sebuah penelitian yang melibatkan 291 mahasiswi Emirat, dan salah satu ujinya adalah uji kekuatan genggaman. Peserta duduk di kursi dengan kedua kaki menapak lantai, siku ditekuk 90 derajat, lalu meremas sebuah dinamometer tangan sekuat mungkin selama tiga detik tanpa menggerakkan lengan. Tangan kanan lebih dulu, menyusul tangan kiri, dan lima menit kemudian seluruh urutan itu diulang sekali lagi.

Laporan Arto Gråstén dan rekan dari Departemen Pendidikan Jasmani, Fakultas Pendidikan, United Arab Emirates University di Al Ain itu berjudul Handgrip strength and physical activity intensity levels in Emirati female college students. Naskahnya terbit di jurnal BMC Public Health pada 2026. Menurut pembagian kerja yang dicantumkan, Gråstén merancang studi, mengawasi pengumpulan data, dan mengerjakan analisis statistiknya.

Pertanyaan Gråstén dan rekan ada dua. Pertama, apakah kekuatan genggaman mahasiswi Emirat berkaitan dengan lamanya mereka duduk dan bergerak pada tiap tingkat intensitas, dari ringan sampai berat. Kedua, seberapa jauh kekuatan genggaman dan kebiasaan bergerak mereka bila dibandingkan dengan standar internasional. Tim menyebut kekuatan genggaman sebagai penanda yang andal bagi kesehatan umum dan kemampuan fungsional tubuh.

Tiga Detik Meremas Dinamometer di Al Ain

Pengukuran berlangsung di laboratorium fisiologi latihan pada Februari–Maret 2023 dan 2024. Para mahasiswi berusia 18 sampai 26 tahun, rata-rata 20,49 tahun, dan seluruhnya berkewarganegaraan Emirat. Mereka dibagi acak menjadi enam kelompok, lalu tiap kelompok diukur oleh satu peneliti bersama satu atau dua asisten perempuan. Gråstén mencatat tidak ada mahasiswi penyandang disabilitas yang ikut serta.

Nilai genggaman yang dipakai Gråstén adalah rata-rata empat remasan, yakni tangan kanan dan kiri pada uji pertama dan uji ulang. Pada uji pertama, rata-rata kekuatan genggaman 269 mahasiswi tercatat 20,61 kilogram, dengan nilai terendah 8 dan tertinggi 34 kilogram, sedangkan pada uji ulang rata-ratanya 20,36 kilogram dari 268 mahasiswi.

Sebagian pekerjaan di laboratorium itu dibantu lima mahasiswi tingkat sarjana, yakni Wadha Alderei, Alia Alhassani, Nawal Almeheiri, Wadima Alketbi, dan Yazia Alketbi. Gråstén dan rekan berterima kasih atas peran mereka dalam pengumpulan dan pengodean data. Selain genggaman, tim juga mengukur komposisi tubuh, tinggi badan, serta panjang dan lebar telapak tangan kanan setiap peserta.

Baca juga Kekuatan Genggaman yang Menurun dan Risiko Jantung

Rata-rata massa otot para mahasiswi itu 40,86 kilogram dan indeks massa tubuh mereka 24,52. Gråstén memasukkan massa otot dan ukuran tangan ke dalam model sebagai pengendali, dan keduanya berkaitan bermakna dengan kekuatan genggaman. Pada model data alat untuk waktu sedenter, misalnya, koefisien terstandar massa otot 0,31 dan ukuran tangan 0,29.

Alat di Pinggang dan Busana Tradisional Emirat

Untuk mengukur gerak, setiap mahasiswi diminta memakai akselerometer yang diikat sabuk di pinggang selama empat hari berturut-turut, termasuk hari Jumat. Para peserta sebenarnya diberi tahu bahwa alat itu boleh dipakai di balik abaya. Namun, menurut catatan Gråstén dan rekan, banyak mahasiswi merasa pemakaian terus-menerus tidak cocok dengan busana tradisional dan norma kesopanan, karena sabuk tidak dikenakan bersama pakaian tradisional Emirat.

Setelah mendengar masukan itu, tim Gråstén tidak memaksakan pemakaian sepanjang hari. Para mahasiswi lebih banyak mengenakan alat saat beraktivitas, biasanya ketika berbaju olahraga. Rata-rata alat terpasang 37 persen dari jam bangun, dengan rentang 3 sampai 82 persen. Dalam laporan berbahasa Inggris itu, mereka menulis, dalam terjemahan Cekricek.id, bahwa “waktu pemakaian yang lebih rendah mencerminkan keterbatasan konteks, bukan ketidakpatuhan peserta.”

Pilihan itu, menurut Gråstén dan rekan, punya konsekuensi. Karena alat lebih sering dipakai saat aktif, perkiraan aktivitas sedang hingga berat dinilai cukup akurat, sedangkan perkiraan waktu duduk dan aktivitas ringan kurang presisi. Waktu tanpa alat digolongkan sebagai waktu sedenter atau duduk, sehingga angkanya berpotensi menggelembung. Karena cara ini sama bagi semua peserta, tim menilai kaitan yang ditemukan tetap sah untuk sampel ini.

Sumber data kedua adalah kuesioner aktivitas fisik versi singkat, IPAQ-SF, yang diisi dua kali dengan jarak delapan minggu. Dalam pembagian kerja tim, Balazs Gabor, Gehan Handouk, dan Jamal Alnuaimi berperan dalam pengumpulan serta kurasi data. Menurut isian kuesioner, rata-rata waktu duduk turun bermakna dari 940,21 menjadi 776,97 menit per pekan, sementara intensitas lain stabil.

Catatan aktivitas berat dari kuesioner dan dari alat berselisihAktivitas ringan: Akselerometer 983,90, Kuesioner IPAQ-SF 367,32; Aktivitas sedang: Akselerometer 87,59, Kuesioner IPAQ-SF 86,05; Aktivitas berat: Akselerometer 1,59, Kuesioner IPAQ-SF 65,44.Catatan aktivitas berat dari kuesioner dandari alat berselisihRata-rata menit per pekan pada pengukuran awal;akselerometer n 260, kuesioner n 283 sampai 288AkselerometerKuesioner IPAQ-SF02505007501.000983,90367,32Aktivitas ringan87,5986,05Aktivitas sedang1,5965,44Aktivitas beratWaktu tanpa alat digolongkan sebagai waktu sedenter
Sumber: Arto Gråstén dan rekan, Handgrip strength and physical activity intensity levels in Emirati female college students, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Waktu Duduk dan Gerak Ringan Berkaitan dengan Genggaman

Temuan pokok Gråstén datang dari data alat. Waktu sedenter yang lebih lama berkaitan dengan genggaman yang lebih lemah, dengan koefisien terstandar −0,15. Sebaliknya, menit aktivitas ringan yang lebih banyak berkaitan dengan genggaman yang lebih kuat, dengan koefisien 0,15. Keduanya bermakna secara statistik, tetapi tim menegaskan ukuran efeknya kecil sehingga kaitannya hanya sederhana di luar faktor-faktor lain.

Aktivitas sedang dan berat menurut alat tidak berkaitan bermakna dengan genggaman, dengan koefisien 0,05 dan 0,09. Begitu pula seluruh isian kuesioner, pada intensitas apa pun dan pada kedua waktu pengisian. Gråstén dan rekan mencatat, model berbasis alat menjelaskan 21 sampai 24 persen variasi kekuatan genggaman, sedangkan model berbasis kuesioner menjelaskan 17 sampai 19 persen.

Untuk aktivitas yang lebih berat, Gråstén dan rekan menduga akselerometer di pinggang tidak sepenuhnya menangkap kegiatan yang menguatkan otot, terutama beban pada tubuh bagian atas yang hanya memberi sedikit sinyal gerak. Aktivitas selama pengukuran kemungkinan besar didominasi gerak berjalan. Selain itu, waktu yang dihabiskan para mahasiswi pada intensitas tinggi memang sangat sedikit.

Dalam kesimpulannya, Gråstén dan rekan menulis bahwa pada sampel mahasiswi ini “kekuatan otot lebih erat terkait dengan pola gerak sehari-hari daripada dengan olahraga berintensitas lebih tinggi.” Mereka menyebut contoh kegiatan ringan seperti membawa tas sekolah atau laptop, berjalan melintasi kampus, dan naik tangga di gedung kampus. Kegiatan membawa atau menggenggam benda dinilai relevan karena melibatkan otot tangan dan lengan bawah.

Hanya waktu duduk dan gerak ringan yang terkait kekuatan genggamanWaktu sedenter (duduk): Koefisien terstandar (beta) -0,15; Aktivitas ringan: Koefisien terstandar (beta) 0,15; Aktivitas sedang: Koefisien terstandar (beta) 0,05; Aktivitas berat: Koefisien terstandar (beta) 0,09.Hanya waktu duduk dan gerak ringan yangterkait kekuatan genggamanKoefisien terstandar (beta) tiap intensitas gerak terhadapkekuatan genggaman, data akselerometer-0,2-0,10,10,20Waktu sedenter (duduk)-0,15Aktivitas ringan0,15Aktivitas sedang0,05Aktivitas berat0,09Bermakna: waktu sedenter (p 0,014) dan ringan (p 0,012); sedang p0,440, berat p 0,128
Sumber: Arto Gråstén dan rekan, Handgrip strength and physical activity intensity levels in Emirati female college students, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Baca juga Jam Pintar dan Pengingat Rehat Kurangi Duduk Pegawai di Bangkok

Sekitar 80 Persen Belum Memenuhi Pedoman

Bagian kedua penelitian Gråstén membandingkan para mahasiswi dengan pedoman aktivitas fisik global. Menurut data alat, 87,7 persen mengumpulkan kurang dari 150 menit aktivitas sedang per pekan, dan tidak seorang pun mencapai anjuran aktivitas berat minimal 75 menit. Rata-rata aktivitas berat yang terekam alat hanya 1,59 menit per pekan, sedangkan aktivitas ringan 983,90 menit per pekan.

Isian kuesioner bercerita sedikit lain. Sebanyak 81,1 persen mahasiswi melaporkan kurang dari 150 menit aktivitas sedang per pekan pada pengisian pertama dan 80,0 persen pada pengisian kedua, selaras dengan data alat. Namun, 70,4 persen dan 66,7 persen melaporkan sudah memenuhi anjuran aktivitas berat. Gråstén dan rekan menulis bahwa “banyak mahasiswi mungkin melebih-lebihkan tingkat aktivitas berat mereka.”

Pada pengisian pertama, rata-rata aktivitas berat menurut kuesioner tercatat 65,44 menit per pekan. Untuk kekuatan genggaman, Gråstén dan rekan memakai norma internasional sebagai pembanding. Hasilnya, genggaman para mahasiswi berada kira-kira pada persentil ke-5 hingga ke-10 untuk perempuan berusia 20–24 tahun, atau jauh lebih rendah daripada kebanyakan perempuan seusia mereka di seluruh dunia.

Saran dari Al Ain: Tangga, Tas, dan Latihan Genggam

Dari temuan itu, Gråstén dan rekan menyimpulkan bahwa mengurangi waktu duduk dan memperbanyak gerak ringan harian berpotensi menopang kekuatan otot. Mereka juga menganjurkan latihan kekuatan yang mudah dijangkau, seperti latihan genggam atau angkat beban dua sampai tiga kali seminggu, latihan dengan berat badan di rumah, serta tugas fungsional sehari-hari seperti membawa belanjaan.

Baca juga Perempuan Britania yang Rajin Latihan Otot Masih Canggung di Gym

Untuk menaikkan aktivitas sedang hingga berat, tim Gråstén menyebut empat jalan. Pertama, kesempatan berolahraga khusus perempuan yang murah dan sesuai budaya, lalu sesi aktivitas terstruktur di kampus yang terpadu dengan jadwal kuliah. Berikutnya, program jalan kaki atau kebugaran berkelompok dengan dukungan teman dan keluarga, serta latihan di rumah atau yang dipandu media sosial.

Menurut Gråstén dan rekan, langkah-langkah itu juga bisa menjawab hambatan yang kerap dilaporkan, yakni kurang waktu, kurang dukungan sosial, dan batasan budaya. Penelitian berikutnya, tulis mereka, sebaiknya menguji intervensi yang disesuaikan dengan budaya, seperti target jumlah langkah, jeda jalan kaki singkat, rutinitas gerak di rumah, latihan pita resistansi, atau latihan genggam.

Gråstén dan rekan juga menyarankan cara ukur yang lebih luwes bagi lingkungan yang peka budaya. Contohnya buku harian aktivitas, pelacakan lewat ponsel pintar, atau pemakaian akselerometer dalam periode yang lebih pendek. Tujuannya agar peserta lebih nyaman dan mutu data membaik.

Batas yang Diakui Tim Gråstén

Gråstén dan rekan mengakui sejumlah keterbatasan. Rancangan penelitian membatasi kesimpulan sebab-akibat, karena data alat diambil pada satu titik waktu dan isian kuesioner dikumpulkan dalam kehidupan sehari-hari, bukan dalam kondisi eksperimen. Akselerometer juga bisa meremehkan latihan beban atau beban pada lengan, celah yang coba ditutup tim dengan kuesioner.

Penyesuaian budaya lain ikut tercatat, seperti abaya yang tetap dipakai saat pengukuran komposisi tubuh dan ukuran tangan kanan yang dipakai untuk genggaman dua tangan. Sampelnya pun terbatas pada mahasiswi Emirat, sehingga menurut Gråstén temuan ini terbatas untuk diberlakukan pada kelompok yang bukan mahasiswa atau pada laki-laki.

Dalam simpulannya, Gråstén dan rekan menegaskan pentingnya mengurangi perilaku sedenter dan mendorong aktivitas fisik lewat cara yang sesuai budaya, demi aktivitas dan kesehatan otot perempuan muda Emirat di masyarakat yang konservatif dan berkembang pesat. Karena waktu pemakaian alat disesuaikan dengan pertimbangan budaya, mereka meminta temuan ini diberlakukan secara hati-hati di luar sampel tersebut.

Bagikan

Baca Juga

Lebih dari Separuh Pendonor Darah di Damaskus Mengaku Merokok
Pekerja Rentan Swedia Lebih Berisiko Gangguan Jiwa, Terutama Ibu
Obesitas Pekerja Perempuan Bangladesh Terkait Lama Duduk Kerja
Kecanduan Ponsel Terkait Gangguan Leher pada Mahasiswa Nigeria
Kematian Ibu di Pakistan Tinggi Seiring Persalinan oleh Kerabat
Hampir Sepertiga Mahasiswa Bangladesh Tak Habiskan Antibiotik