Kecanduan Ponsel Terkait Gangguan Leher pada Mahasiswa Nigeria

A A

Ilustrasi tangan seorang pria menggulir layar ponsel di luar ruangan pada malam hari [Foto: Pexels]

  • Mahasiswa Universitas Nigeria Kampus Enugu memakai ponsel rata-rata 6,18 jam per hari.
  • Sebanyak 49,6 persen mahasiswa mengalami disabilitas leher ringan dan 17,3 persen masuk kelompok sedang sampai berat.
  • Kenaikan sepuluh poin skor kecanduan berkaitan dengan skor gangguan leher sekitar 25 persen lebih tinggi.
  • Nomofobia tidak lagi berkaitan secara mandiri dengan skor leher setelah kecanduan diperhitungkan.
Daftar Isi
  1. Empat Bulan Mencatat Jam di Layar
  2. Tahun Pertama sampai Tahun Ketiga
  3. Tahun Keempat, Titik Tertinggi
  4. Sudut 30 Derajat di Atas Layar
  5. Ketika Semua Ukuran Ditimbang Bersama
  6. Satu Kampus, Satu Kali Pengukuran

Pada 2023, Divisi Kemahasiswaan Universitas Nigeria Kampus Enugu mencatat 11.606 mahasiswa sarjana. Dari jumlah itu, 426 mahasiswa didatangi asisten peneliti selama empat bulan masa kuliah. Semuanya memenuhi syarat dan setuju ikut. Sebanyak 399 orang menuntaskan kuesioner kertas di ruang kuliah, perpustakaan, dan asrama mahasiswa.

Catatan itu disusun Jeneviv Nene John dan rekan dari Departemen Rehabilitasi Medis, Fakultas Ilmu Kesehatan dan Teknologi, Universitas Nigeria Kampus Enugu. Laporan mereka berjudul Smartphone addiction, nomophobia, and neck-related functional disability among undergraduate students in a Nigerian University: a cross-sectional study. Naskahnya terbit di jurnal BMC Public Health volume 26 tahun 2026.

Tim mengukur tiga hal pada tiap mahasiswa. Pertama, skala kecanduan ponsel pintar berisi sepuluh pernyataan dengan skor 10 sampai 60. Kedua, kuesioner nomofobia, yakni rasa takut atau cemas saat tidak bisa memakai ponsel, berisi 20 pernyataan. Ketiga, Indeks Disabilitas Leher untuk mengukur gangguan fungsi leher sehari-hari.

Indeks leher itu menanyakan sepuluh kegiatan harian. Isinya rasa nyeri, merawat diri, mengangkat barang, membaca, menyetir, tidur, bekerja, berkonsentrasi, rekreasi, dan sakit kepala. Skor totalnya 0 sampai 50. Skor 0 sampai 4 berarti tanpa disabilitas, 5 sampai 14 ringan, 15 sampai 24 sedang, 25 sampai 34 berat, dan 35 ke atas disabilitas total.

Empat Bulan Mencatat Jam di Layar

Catatan pertama menyangkut lamanya ponsel dipakai. Rata-rata mahasiswa memakai ponsel 6,18 jam per hari, dengan simpangan baku 2,39 jam. Pemakaian paling singkat satu jam, paling lama 12 jam. Peserta berusia rata-rata 24 tahun dengan rentang 19 sampai 29 tahun, dan 53,8 persen di antaranya laki-laki.

Tim lalu membagi lama pemakaian ke dalam empat kelompok. Pemakai sedang, empat sampai enam jam sehari, paling banyak dengan 176 orang atau 44,1 persen. Pemakai tinggi, tujuh sampai sembilan jam, berjumlah 134 orang atau 33,6 persen. Pemakai sangat tinggi, sepuluh jam atau lebih, ada 47 orang. Pemakai rendah hanya 42 orang.

Skor kecanduan ponsel rata-rata 35,60 pada skala 10 sampai 60. Skor terendah yang tercatat 10 dan tertinggi 58. Skor nomofobia rata-rata 95,58, terendah 17 dan tertinggi 139. Para penulis membaca kedua angka itu sebagai tanda ketergantungan digital tingkat sedang sampai tinggi.

Skor gangguan fungsi leher rata-rata 8,76 dengan simpangan baku 6,38. Nilainya berkisar dari 1 sampai 34 pada skala 0 sampai 50. Menurut para penulis, rata-rata itu menunjukkan gangguan leher yang umumnya ringan di antara peserta. Gambaran lengkapnya baru terlihat saat skor dipilah menurut kategori.

Hampir separuh mahasiswa alami disabilitas leher ringanTanpa disabilitas (skor 0-4) 33,1%; Disabilitas ringan (5-14) 49,6%; Disabilitas sedang (15-24) 13,5%; Disabilitas berat (25-34) 3,8%; Disabilitas total (35 ke atas) 0,0%.Hampir separuh mahasiswa alami disabilitasleher ringanPersen mahasiswa menurut kategori Indeks DisabilitasLeher, Universitas Nigeria Kampus Enugu (n = 399)0%20%40%60%Tanpa disabilitas (skor 0-4)33,1%Disabilitas ringan (5-14)49,6%Disabilitas sedang (15-24)13,5%Disabilitas berat (25-34)3,8%Disabilitas total (35 ke atas)0,0%Jumlah orang: 132, 198, 54, 15, dan 0
Sumber: Jeneviv Nene John dan rekan, Smartphone addiction, nomophobia, and neck-related functional disability among undergraduate students in a Nigerian University: a cross-sectional study, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Sebanyak 132 mahasiswa atau 33,1 persen tidak mengalami disabilitas leher. Kelompok terbesar, 198 orang atau 49,6 persen, mengalami disabilitas ringan. Disabilitas sedang tercatat pada 54 orang atau 13,5 persen. Disabilitas berat ada pada 15 orang atau 3,8 persen, sedangkan disabilitas total tidak ditemukan.

Jika digabung, kelompok tanpa disabilitas dan ringan mencakup 82,7 persen peserta. Sisanya, 17,3 persen, masuk kelompok sedang sampai berat. Para penulis menyebut sebagian peserta itu mengalami keterbatasan fungsi yang relevan secara klinis.

Tahun Pertama sampai Tahun Ketiga

Tim juga memilah 399 peserta menurut tingkat tahun kuliah. Mahasiswa tahun pertama hanya 30 orang, sedangkan tahun kelima paling banyak dengan 149 orang. Semua angka antartingkat ini berasal dari satu kali pengambilan data. Mahasiswa yang sama tidak diikuti dari tahun ke tahun.

Di tahun pertama, rata-rata pemakaian ponsel 6,07 jam sehari. Skor kecanduan rata-rata 33,97 dan skor gangguan leher 8,40. Skor nomofobia tahun pertama 85,83, terendah di antara lima tingkat. Angka itu tercatat pada 30 mahasiswa. Di tahun kedua, pemakaian rata-rata 6,28 jam sehari. Skor nomofobia lebih tinggi, 95,74, sementara skor kecanduan 33,67 dan skor gangguan leher 8,28. Mahasiswa tahun kedua yang ikut berjumlah 57 orang.

Baca juga Kecanduan Ponsel Mahasiswa Bangladesh, 54 Persen Berisiko Tinggi

Di tahun ketiga, skor nomofobia lebih tinggi lagi, yakni 97,84. Skor kecanduan tercatat 34,84 dan pemakaian ponsel 6,15 jam sehari. Skor gangguan leher tahun ketiga 8,07, terendah di antara lima tingkat. Tahun ini diikuti 73 mahasiswa.

Tahun Keempat, Titik Tertinggi

Tahun keempat mencatat angka tertinggi pada keempat ukuran. Rata-rata pemakaian ponsel 6,41 jam sehari, skor kecanduan 37,11, dan skor nomofobia 101,61. Skor gangguan leher juga paling tinggi, yakni 9,36. Tahun ini diikuti 90 mahasiswa.

Di tahun kelima, skor nomofobia tercatat 92,74 dan pemakaian 6,13 jam sehari. Skor kecanduan 36,13 dan skor gangguan leher 9,15. Keduanya tertinggi kedua setelah tahun keempat. Para penulis membaca pola antartingkat ini sebagai lintasan paparan yang menumpuk. Menurut mereka, tingkat kuliah yang lebih tinggi disertai ketergantungan ponsel yang lebih besar dan kebiasaan ergonomis yang lebih buruk. Pola itu juga disertai skor gangguan leher yang lebih tinggi.

Pemilahan menurut fakultas memberi gambaran lain. Mahasiswa Kedokteran Gigi memakai ponsel paling lama, rata-rata 7,87 jam sehari, meski jumlah mereka hanya 15 orang. Mahasiswa Ilmu Kedokteran Dasar mencatat 5,95 jam, terendah di antara tujuh fakultas.

Skor kecanduan tertinggi ada di Administrasi Bisnis, 36,14, yang juga mencatat skor nomofobia tertinggi, 102,29. Skor gangguan leher tertinggi ada di Studi Lingkungan, 9,48. Ilmu Kedokteran Dasar mencatat skor kecanduan terendah, 31,30. Fakultas Ilmu Kesehatan dan Teknologi menyumbang peserta terbanyak, 175 orang atau 43,9 persen. Di fakultas ini, skor nomofobia rata-rata 96,74 dan skor gangguan leher 9,08.

Sudut 30 Derajat di Atas Layar

Kuesioner juga meminta mahasiswa memilih gambar posisi leher saat memakai ponsel. Ada lima pilihan. Pilihan itu 0 derajat atau netral, 15 derajat agak miring, 30 derajat tekukan ringan, 45 derajat tekukan sedang, dan 60 derajat tekukan nyata.

Pilihan 30 derajat paling sering dipilih, disusul 45 derajat dan 60 derajat. Posisi netral 0 derajat jarang dilaporkan. Menurut para penulis, tekukan leher ini makin berat pada tingkat kuliah yang lebih tinggi, terutama tahun keempat dan kelima.

Soal jeda istirahat, jawaban yang paling sering muncul adalah kadang-kadang. Para penulis membacanya sebagai kebiasaan rehat yang tidak konsisten. Kebiasaan rehat itu ikut diuji dalam model statistik, tetapi tidak berkaitan bermakna dengan skor gangguan leher.

Bagian pembahasan paper mengutip pemodelan biomekanika tentang beban kepala. Pada tekukan 30 derajat, berat efektif kepala naik menjadi sekitar 18 kilogram. Pada 60 derajat, beratnya mendekati 27 kilogram. Beban itu, menurut paper, menekan otot leher, ligamen, dan bantalan antarruas tulang leher.

Baca juga Remaja Keluarga Bercerai di Cina Lebih Rentan Kecanduan Internet

Ketika Semua Ukuran Ditimbang Bersama

Tahap berikutnya adalah menguji hubungan antarukuran. Skor kecanduan ponsel berkorelasi kuat dengan nomofobia, dengan koefisien r 0,556. Dengan skor gangguan leher, korelasinya lebih kecil tetapi bermakna, yakni 0,249.

Sudut tekukan leher juga berkorelasi bermakna dengan skor gangguan leher, sebesar 0,155. Nomofobia hanya 0,087 dan jam pemakaian per hari 0,066, keduanya tidak bermakna secara statistik. Para penulis menyimpulkan kecanduan dan postur menunduk lebih konsisten berkaitan dengan keluhan leher ketimbang nomofobia atau lama pemakaian saja.

Kecanduan paling erat dengan skor leherKecanduan ponsel: Koefisien r 0,249; Sudut leher: Koefisien r 0,155; Nomofobia: Koefisien r 0,087; Jam pemakaian per hari: Koefisien r 0,066; Usia: Koefisien r 0,007; Tahun akademik: Koefisien r -0,069.Kecanduan paling erat dengan skor leherKoefisien korelasi Pearson (r) tiap ukuran dengan skordisabilitas fungsional terkait leher (n = 399)-0,2-0,10,10,20,30Kecanduan ponsel0,249Sudut leher0,155Nomofobia0,087Jam pemakaian per hari0,066Usia0,007Tahun akademik-0,069Bermakna (p<0,05): kecanduan ponsel dan sudut leher
Sumber: Jeneviv Nene John dan rekan, Smartphone addiction, nomophobia, and neck-related functional disability among undergraduate students in a Nigerian University: a cross-sectional study, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Model statistik lalu memasukkan delapan faktor sekaligus, termasuk usia, jenis kelamin, jam pemakaian, dan kebiasaan rehat. Kecanduan ponsel tetap menjadi faktor yang paling kuat dan konsisten berkaitan dengan skor gangguan leher. Nomofobia tidak lagi berkaitan secara mandiri setelah kecanduan diperhitungkan.

Dalam model yang hanya memuat kecanduan, kenaikan sepuluh poin skor kecanduan berkaitan dengan skor gangguan leher yang diperkirakan sekitar 25 persen lebih tinggi. Dalam model yang juga memuat sudut leher, sudut itu memberi sumbangan lebih kecil tetapi tetap bermakna. Tingkat tahun kuliah menunjukkan kaitan terbalik yang kecil setelah faktor lain disesuaikan.

Analisis kedua memisahkan mahasiswa dengan disabilitas leher sedang sampai berat, yaitu skor 15 ke atas. Skor kecanduan mencatat rasio odds 1,04, dengan selang kepercayaan 95 persen 1,02 sampai 1,07. Sudut tekukan leher mencatat rasio odds 1,03. Nomofobia, jam pemakaian, usia, dan jenis kelamin tidak berkaitan secara mandiri.

Pemakai sangat tinggi, sepuluh jam atau lebih sehari, mencatat rasio odds 1,68 dibanding pemakai sedang. Angka itu tidak bermakna secara statistik, dengan nilai p 0,096. Para penulis menyebutnya kecenderungan risiko yang lebih besar pada paparan tertinggi.

Simpulan mereka ditulis dalam bahasa Inggris. Terjemahannya: “Kecanduan ponsel pintar muncul sebagai korelat perilaku terkuat bagi disabilitas fungsional terkait leher, sedangkan nomofobia menunjukkan hubungan sekunder yang tidak secara mandiri memprediksi disabilitas itu dalam model multivariabel.” Menurut mereka, nomofobia lebih mencerminkan ketergantungan psikologis pada koneksi ponsel.

Baca juga Kurang Kemauan Jadi Hambatan Gerak Mahasiswa Farmasi Malaya

Satu Kampus, Satu Kali Pengukuran

Para penulis mengakui sejumlah batas. Rancangan potong lintang tidak bisa menetapkan urutan waktu ataupun sebab-akibat. Semua ukuran utama, termasuk lama pemakaian, postur, dan keluhan leher, dilaporkan sendiri oleh mahasiswa. Laporan semacam itu rentan bias ingatan.

Sampel diambil dengan cara kemudahan, sehingga keberlakuan hasilnya di luar populasi yang diteliti terbatas. Posisi leher pun diperkirakan lewat pilihan gambar, bukan diukur dengan alat biomekanika. Model statistik mereka hanya menjelaskan sebagian kecil keragaman skor leher, dengan nilai R kuadrat sekitar 0,09 sampai 0,13.

Para penulis meminta temuan ini dibaca sebagai hubungan, bukan sebab. Dalam terjemahan, mereka menulis bahwa temuan itu “mencerminkan korelat perilaku dan ergonomis yang teramati dalam satu populasi universitas”.

Mereka menyarankan pendidikan kesehatan digital, upaya mengurangi kecanduan, dan latihan postur bagi mahasiswa. Penelitian lanjutan diminta memakai rancangan longitudinal. Alat ukur sudut leher seperti inklinometer juga disarankan agar postur tercatat lebih tepat.

Kelompok peserta terbesar dalam laporan itu adalah mahasiswa tahun kelima, sebanyak 149 orang. Mereka memakai ponsel rata-rata 6,13 jam sehari, dengan skor kecanduan 36,13. Skor gangguan leher mereka rata-rata 9,15.

Bagikan

Baca Juga

Kecelakaan Lalu Lintas di Rwanda Lebih Sering Menimpa Pria
Hampir Sepertiga Mahasiswa Bangladesh Tak Habiskan Antibiotik
Separuh Lebih Tukang Bengkel di Sunyani, Ghana, Didera Nyeri Otot
Banyak Petugas Kebersihan Rumah Sakit Etiopia Tertusuk Jarum
Lebih Banyak Balita Afrika Kurus di Perang Antarkelompok
Tensi Pasien Etiopia yang Sering Makan di Luar Sulit Terkendali