- Uji acak terkendali di Provinsi Fars melibatkan 178 pensiunan, 90 di kelompok program dan 88 di kelompok pembanding.
- Skor kesejahteraan psikologis total kelompok program naik dari 83,65 menjadi 93,30 pada bulan keenam.
- Skor penyesuaian pensiun kelompok program naik dari 42,37 menjadi 45,87, sedangkan kelompok pembanding tidak berubah bermakna.
- Gaya menghadapi tekanan yang berfokus pada emosi tidak berubah bermakna pada kedua kelompok.
Daftar Isi
Pensiun menandai akhir karier, tetapi juga membuka kesempatan untuk tumbuh, menikmati waktu luang, dan menjalin pergaulan baru. Bagi banyak pensiunan, masa itu justru datang bersama hilangnya identitas, menyusutnya keterlibatan sosial, dan rasa tidak pasti tentang hari depan. Struktur dan tujuan yang dulu diberikan pekerjaan bisa sulit dicari gantinya, sehingga muncul beban emosi, keterasingan sosial, dan rasa hidup yang kurang bertujuan. Sebagian pensiunan beradaptasi lewat kegiatan bermakna dan pergaulan yang tetap erat, sementara yang lain justru mengalami stres, kesepian, dan tekanan emosi yang meningkat.
Persoalannya, cara orang menyesuaikan diri dengan masa pensiun banyak ditentukan oleh cara ia menghadapi tekanan. Sekelompok peneliti di Iran lalu menguji program promosi kesehatan yang dirancang untuk memperkuat cara pensiunan menghadapi tekanan dan menyesuaikan diri. Elaheh Shoushtari-Moghaddam dan rekan dari Shiraz University of Medical Sciences melaporkannya dalam Effectiveness of an ecological theory-driven health promotion program on improvement of retirement adjustment, psychological well-being, and coping strategies in Iranian retirees: A Randomized Controlled Trial, yang terbit di BMC Public Health pada 2026.
Uji acak terkendali ini melibatkan 178 pensiunan yang terdaftar di pusat pensiunan Departemen Pendidikan dan Industri Minyak di Provinsi Fars, Iran selatan. Sebanyak 90 orang diundi ke kelompok program dan 88 orang ke kelompok pembanding. Semuanya diukur sebelum program, tiga bulan, dan enam bulan sesudahnya. Rata-rata usia kelompok program 61,4 tahun dan kelompok pembanding 61,3 tahun. Seluruh peserta sudah pensiun resmi minimal setahun, tidak bekerja penuh waktu, memiliki ponsel pintar, dan aktif memakai jejaring sosial seperti WhatsApp atau Telegram.
Cara Program Menjangkau Pensiunan, Keluarga, dan Lembaga
Program ini tidak berhenti pada diri pensiunan. Ia disusun berlapis, menyasar tingkat perorangan, keluarga, dan organisasi sekaligus. Di tingkat perorangan, peserta mengikuti sembilan sesi tatap muka mingguan masing-masing 90 menit. Sesi itu ditopang grup WhatsApp yang mengirim teks, audio dan video pendek, serta pesan motivasi, dan peserta bisa bertanya atau berbagi gagasan di sana.
Materinya mencakup perubahan biologis, psikologis, dan sosial saat pensiun beserta dampaknya pada kesehatan. Ada pula pokok perawatan diri, yakni gizi, aktivitas fisik, pengelolaan stres, keterampilan menghadapi tekanan, kesejahteraan spiritual, perencanaan, dan dukungan sosial. Kelas dibawakan lewat diskusi, berbagi pengalaman, dan belajar berkelompok, sementara dua pensiunan berkeahlian memandu sesi aktivitas fisik dan cara melawan pikiran yang menyimpang.
Lapisan kedua adalah rumah. Satu anggota keluarga utama tiap pensiunan, biasanya pasangannya, mengikuti satu sesi pelatihan tatap muka selama 100 menit. Sesi itu memperkenalkan tujuan dan dasar teori program, serta pentingnya kesehatan bagi kualitas hidup di masa pensiun dan usia tua. Sesi itu menekankan peran keluarga dalam mendorong perilaku adaptif dan komunikasi yang efektif. Anggota keluarga juga didorong membaca materi yang diterima pensiunan, supaya isi kelas ikut hidup di rumah.
Lapisan ketiga adalah lembaga pensiun. Sebelum program berjalan, peneliti bertemu perwakilan lembaga untuk memastikan kerja sama. Dari diskusi antara manajer dan pensiunan selama program lahir beberapa langkah: sebagian manajer hadir di sesi tertentu, kegiatan dipandu sesama pensiunan, dan materi seputar pensiun dipasang di situs lembaga. Lembaga juga membuka saluran saran untuk menampung umpan balik pensiunan serta menggelar acara rekreasi dan aktivitas fisik.
Baca juga Lansia China yang Tetap Bekerja Lebih Jarang Merasa Tak Berguna
Kelompok pembanding tidak dibiarkan kosong. Mereka mengikuti empat sesi tentang keamanan rumah, keamanan obat, keamanan pangan, dan pengenalan penyakit Alzheimer, yang tidak berkaitan dengan materi program. Mereka juga ikut kemah rekreasi yang bentuknya serupa, tanpa kurikulum menghadapi tekanan, dan setelah pengukuran selesai menerima ringkasan materi program beserta bahan cetak.
Kesejahteraan Psikologis Naik, Pembanding Tetap di Tempat
Hasil pertama menyangkut kesejahteraan psikologis, yang diukur dengan skala Ryff 18 butir. Rata-rata skor total kelompok program naik dari 83,65 sebelum program menjadi 90,20 pada bulan ketiga dan 93,30 pada bulan keenam. Kelompok pembanding justru bergerak dari 83,37 ke 80,00, lalu 81,17, dan perubahannya tidak bermakna secara statistik. Di titik awal, kedua kelompok tidak berbeda bermakna.
Interaksi antara waktu dan kelompok untuk skor ini bermakna. Para peneliti memecah skala itu menjadi dua dimensi. Dimensi kesejahteraan psikologis, yang memuat otonomi, tujuan hidup, pertumbuhan pribadi, dan hubungan positif, naik dari 54,75 ke 62,41 pada kelompok program. Dimensi kesejahteraan subjektif, yang memuat penguasaan lingkungan dan penerimaan diri, naik dari 28,86 ke 30,88, sedangkan pada kelompok pembanding dimensi itu bergerak dari 27,97 ke 27,73.
Paper memakai patokan 0,01, 0,06, dan 0,14 untuk ukuran efek kecil, sedang, dan besar. Interaksi antara waktu dan kelompok mencapai 0,31 untuk kesejahteraan psikologis total serta 0,37 untuk dimensi kesejahteraan psikologis. Setelah koreksi Bonferroni untuk perbandingan berganda, seluruh perbedaan yang bermakna itu tetap bermakna. Pada bulan ketiga, ukuran efek perbedaan antarkelompok untuk dimensi kesejahteraan psikologis bahkan mencapai 0,49.
Penyesuaian Pensiun Naik lalu Bertahan
Penyesuaian diri terhadap pensiun diukur dengan skala 13 butir yang skornya berkisar 13 sampai 65, dan makin tinggi skornya makin positif penyesuaiannya. Pada kelompok program, rata-ratanya naik dari 42,37 menjadi 45,20 pada bulan ketiga dan 45,87 pada bulan keenam. Skor kelompok pembanding bergerak dari 42,04 ke 42,37 lalu 42,11, tanpa perubahan waktu yang bermakna. Perbedaan antarkelompok pada bulan keenam tetap bermakna setelah skor awal diperhitungkan.
Pada kelompok program, skor bulan ketiga dan keenam sama-sama berbeda bermakna dari skor awal, sedangkan perbedaan antara bulan ketiga dan keenam tidak bermakna. Pola serupa terlihat pada skor total cara menghadapi tekanan, yang naik dari 97,01 ke 105,17 lalu berada di 103,91, sementara kelompok pembanding bergerak dari 99,71 ke 97,70 tanpa perubahan waktu yang bermakna.
Baca juga Pensiunan Eropa Tidur Lebih Lama dan Bergerak Lebih Sedikit
Menghadapi Masalah dengan Rencana yang Dijalankan
Alat ukur cara menghadapi tekanan yang dipakai memuat 66 butir dalam delapan subskala, lalu dikelompokkan menjadi dua gaya. Gaya pertama berfokus pada masalah, dengan contoh butir pernyataan bahwa seseorang membuat rencana tindakan lalu menjalankannya. Pada gaya ini, skor kelompok program naik dari 52,64 ke 59,82, lalu 58,54 pada bulan keenam.
Kelompok pembanding juga mencatat perubahan waktu yang bermakna pada gaya ini, dengan skor 54,51, lalu 54,70, dan 52,38. Interaksi waktu dan kelompok untuk gaya berfokus pada masalah bernilai 0,10. Pada bulan keenam, ukuran efek perbedaan antarkelompok setelah memperhitungkan skor awal mencapai 0,14, angka yang oleh paper dijadikan patokan efek besar.
Para penulis menjelaskan mekanismenya dengan kerangka model perencanaan PRECEDE-PROCEED. Latihan keterampilan menghadapi tekanan langsung menyentuh cara seseorang menilai persoalan dan keyakinannya pada kemampuan diri, sekaligus menambah bekal lewat latihan yang terstruktur. Menurut mereka, sesi tentang keterampilan menghadapi tekanan, kesadaran penuh, dan pengelolaan stres tampaknya memperkuat kemampuan peserta mengurus tantangan masa pensiun secara aktif.
Mengapa Gaya Berfokus pada Emosi Tidak Ikut Bergerak
Gaya kedua berfokus pada emosi, dengan contoh butir berupa harapan agar keadaan sulit itu pergi atau entah bagaimana berakhir. Di sinilah program tidak meninggalkan jejak. Skor kelompok program bergerak dari 44,63 ke 45,35 lalu kembali ke 44,84, dan kelompok pembanding dari 45,21 ke 44,80. Tidak ada perubahan waktu yang bermakna pada kedua kelompok, dan tidak ada perbedaan bermakna antarkelompok di titik pengukuran mana pun.
Temuan ini, tulis para penulis, sebagian berseberangan dengan pandangan Lazarus bahwa cara berfokus pada emosi dapat diubah lewat latihan psikologis. Dari sudut teori, gaya ini mungkin sudah menjadi pola yang stabil dan menyerupai watak, tertanam dalam skema berpikir dan berperasaan yang terbentuk lama, terutama pada usia dewasa akhir. Menurut mereka, skor yang stabil pada kedua kelompok menunjukkan program ini lebih tertuju pada cara menghadapi tekanan yang berbasis keterampilan daripada pada pengaturan emosi yang lebih menyerupai watak.
“Perubahan yang lebih dalam pada proses pengaturan emosi mungkin membutuhkan intervensi psikologis yang lebih intensif, lebih personal, atau berdurasi lebih panjang daripada yang dapat dilakukan dalam program promosi kesehatan yang terstruktur,” tulis Shoushtari-Moghaddam dan rekan, diterjemahkan dari bahasa Inggris. Program itu sendiri, catat mereka, berhasil menyasar faktor pendukung dan penguat dalam kerangka PRECEDE-PROCEED.
Baca juga Hari Tua Sering Dipikirkan Warga Oosterpark, Jarang Disiapkan
Batas Temuan dari Dua Sektor Kerja di Fars
Para penulis mengakui sejumlah keterbatasan. Sampelnya hanya berasal dari dua sektor kerja di Provinsi Fars, sehingga hasilnya belum tentu berlaku untuk pekerjaan, lapisan sosial-ekonomi, atau budaya lain. Masa tindak lanjut enam bulan juga belum cukup untuk menyimpulkan apakah hasil itu bertahan dalam jangka panjang, dan semua ukuran berasal dari laporan peserta sendiri.
Analisis dilakukan hanya pada peserta yang menuntaskan program, sehingga bias akibat peserta yang keluar tidak bisa sepenuhnya disingkirkan, meski perbandingan awal tidak menunjukkan perbedaan sistematis antara peserta yang bertahan dan yang keluar. Ciri kepribadian, gaya menghadapi tekanan sebelumnya, dan kesehatan mental awal peserta juga tidak dikendalikan. Mereka menyarankan kajian lanjutan di lingkungan kerja dan budaya yang lebih beragam, dengan masa tindak lanjut lebih panjang.
Mereka juga meminta pembuat kebijakan dan pendidik kesehatan menimbang program semacam ini dalam strategi penuaan nasional, dengan memperkuat kemampuan digital untuk belajar campuran serta dukungan antargenerasi di keluarga dan komunitas. “Metode ini tidak hanya menopang kesehatan mental, tetapi juga membantu pensiunan menghadapi usia tua dengan percaya diri dan tujuan,” tulis mereka. Temuan itu, menurut para penulis, memberi bekal praktis bagi tenaga kesehatan jiwa, pembuat kebijakan, dan penyusun program pensiun.















