- Orang yang tetap bekerja lebih kecil kemungkinannya merasa tak berguna.
- Artinya hampir separuh catatan memuat orang tua yang setidaknya kadang-kadang merasa dirinya tak berguna.
- Pada perempuan, koefisiennya negatif 0,220 dan nyata secara statistik.
- Orang tua yang tetap bekerja lebih mungkin masih memberi.
- Penelitian ini bersifat pengamatan, sehingga perlu kehati-hatian sebelum menyebut bekerja sebagai penyebab.
Daftar Isi
- Tahun 2000, China melewati ambang masyarakat menua
- Sejak 2013, gagasan menunda pensiun masuk dokumen resmi
- Survei 2018 dan 2020 mencatat hampir separuh merasa tak berguna
- Sesudah dipilah, perempuan dan pekerja informal paling menonjol
- September 2024, jadwal baru diumumkan dan hasilnya perlu dibaca hati-hati
- Dalam naskah terbitan 2026, beberapa angka tidak saling cocok
Pada 1978 Dewan Negara China menerbitkan aturan pensiun bagi pekerja. Batasnya tiga: laki-laki berhenti pada usia 60 tahun, pekerja perempuan pada usia 50 tahun, dan kader perempuan pada usia 55 tahun. Hampir setengah abad kemudian, empat peneliti memeriksa orang-orang yang melewati batas itu dan tetap bekerja. Mereka lebih jarang merasa dirinya tak berguna.
Temuan itu ditulis Guofeng Guan, Hangyu Zhang, Lu Wang, dan Qing Wang dalam artikel Delayed retirement and low self-worth among older adults: evidence from CLASS. Artikel tersebut terbit di BMC Public Health volume 26 nomor artikel 2409 tahun 2026. Guan dan Zhang bekerja di Xinjiang College of Science and Technology, Lu Wang di Tianjin University of Finance and Economics, dan Qing Wang di Bayingolin Vocational and Technical College.
Aturan 1978 itu, menurut naskah mereka, makin tidak sepadan dengan perubahan sosial dan ekonomi yang dialami China selama beberapa dasawarsa. Usia harapan hidup naik dan susunan umur penduduk bergeser. Usia pensiun resmi di negeri itu terkait erat dengan hak atas uang pensiun dan keluarnya seseorang dari dunia kerja.
Tahun 2000, China melewati ambang masyarakat menua
Titik berikutnya dalam catatan para penulis jatuh pada tahun 2000. Menurut ukuran Perserikatan Bangsa-Bangsa yang mereka rujuk, sebuah negara disebut menua ketika penduduk berusia 65 tahun ke atas melampaui 7 persen. China melewati ambang itu pada tahun tersebut. Sejak itu porsi penduduk tuanya terus bertambah.
Empat tahun kemudian lajunya bertambah. Naskah mencatat proses penuaan itu makin cepat sejak 2004, dan China diperkirakan masuk tahap penuaan lanjut sekitar 2035. Pergeseran ini, tulis para peneliti, menekan sistem kesejahteraan sosial, memunculkan kekhawatiran atas ketahanan dana pensiun, dan bisa menahan pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
Dari tekanan itulah gagasan memperpanjang masa kerja mulai dibicarakan luas. Penulis menyebutnya salah satu alat kebijakan untuk menjawab penuaan penduduk, beban dana pensiun, dan berubahnya umur angkatan kerja. Perubahan batas usia, menurut mereka, juga menyentuh waktu datangnya penghasilan dan pengaturan keluarga pada hari tua.
Sejak 2013, gagasan menunda pensiun masuk dokumen resmi
Pada 2013 gagasan menunda pensiun untuk pertama kali diangkat secara resmi, yaitu dalam Sidang Pleno Ketiga Komite Sentral ke-18. Dokumen sesudahnya memperjelas arahnya. Sidang Pleno Kelima Komite Sentral ke-19 mengusulkan kenaikan usia pensiun resmi secara bertahap, dan Rencana Lima Tahun ke-14 mengulang asasnya: bertahap, luwes, dibedakan per golongan, dan terkoordinasi.
Pada waktu yang sama, pembicaraan di China bergeser. Seiring taraf hidup membaik, tulis para penulis, perhatian publik dan kalangan akademik meluas dari kecukupan materi ke kesejahteraan batin, martabat, dan mutu hidup. Menunda pensiun karena itu tidak cukup dinilai dari kas dana pensiun atau pasokan tenaga kerja saja.
Di sinilah harga diri masuk ke dalam hitungan. Bagi banyak orang tua di China, menurut naskah, puluhan tahun bekerja bukan sekadar sumber nafkah. Pekerjaan terjalin dengan jati diri sosial, kebiasaan harian, dan pengakuan dari orang lain. Begitu keluar dari dunia kerja, seseorang bisa kehilangan penghasilan sekaligus peran dan tujuan.
Baca juga Separuh Lansia Pusat Warga Emas Klang Valley Menua Sehat
Para penulis memilih satu ukuran yang sempit dan mudah dipahami, yaitu perasaan tak berguna. Mereka membedakannya dari bahagia. “Rasa tak berharga bukan sekadar kebalikan dari kebahagiaan, melainkan keadaan batin yang lebih terkait peran, yang menangkap apakah orang lanjut usia masih memandang dirinya berguna, mampu, dan dihargai secara sosial,” tulis Guan dan rekan-rekannya dalam naskah berbahasa Inggris itu.
Survei 2018 dan 2020 mencatat hampir separuh merasa tak berguna
Bahan mereka berasal dari China Longitudinal Aging Social Survey, survei nasional terhadap penduduk berusia 60 tahun ke atas di 28 provinsi, daerah otonom, dan kota setingkat provinsi. Yang dipakai adalah gelombang 2018 dan 2020. Responden berusia 70 tahun ke atas dan penyandang disabilitas berat tidak diikutkan, sehingga tersisa 4.849 catatan.
Kepada mereka diajukan satu pertanyaan: dalam sepekan terakhir, apakah Anda merasa tak berguna? Jawaban “kadang-kadang” dan “sering” dihitung sebagai rasa tak berharga. Angka rata-ratanya 0,462. Artinya hampir separuh catatan memuat orang tua yang setidaknya kadang-kadang merasa dirinya tak berguna.
Yang masih bekerja jauh lebih sedikit. Sekitar 11,1 persen, kira-kira satu dari sembilan, sudah melewati usia pensiun resmi dan tetap bekerja. Kelompok inilah yang oleh para penulis disebut menunda pensiun. Pembandingnya adalah mereka yang sudah menyelesaikan urusan pensiun dan tidak lagi bekerja.
Potret selebihnya juga tercatat. Usia rata-rata hampir 66 tahun, dan laki-laki 51,2 persen. Sebanyak 89,9 persen menilai kesehatannya cukup baik, 84,7 persen menikah, dan 96,3 persen ikut jaminan pensiun. Hanya 23,4 persen tamat sekolah menengah atas atau lebih tinggi. Yang tinggal bersama anak 26,8 persen, dan 77,5 persen bermukim di kota.
Uangnya tidak besar. Pendapatan pribadi setahun kira-kira RMB 7.398, sedangkan belanja rumah tangga sebulan kira-kira RMB 2.844, keduanya dalam harga tetap 2014. Para penulis mengingatkan bahwa dua angka itu hasil hitung balik dari nilai logaritma. Keduanya dicantumkan hanya untuk memudahkan pembacaan.
Lalu hasil utamanya. Orang yang tetap bekerja lebih kecil kemungkinannya merasa tak berguna. Koefisiennya negatif 0,114 ketika dihitung tanpa pembanding lain. Setelah keadaan pribadi dan rumah tangga ikut diperhitungkan, dan setiap orang dibandingkan dengan dirinya sendiri pada dua tahun survei, koefisien itu menjadi negatif 0,153.
Arah itu bertahan ketika pertanyaannya diganti. Para penulis memakai pertanyaan lain dari survei yang sama: dalam sepekan terakhir, apakah Anda merasa tidak punya apa-apa untuk dikerjakan? Koefisiennya negatif 0,249. Ketika batas umur dilonggarkan sampai 75 tahun dan catatan bertambah menjadi 6.544, koefisien tetap negatif, yaitu 0,113.
Baca juga Kunjungan ke Ruang Biru dan Kesehatan Mental Lansia Jepang
Beberapa hal lain ikut terbaca dari hitungan yang sama. Kesehatan yang baik dan pendapatan pribadi yang lebih tinggi berjalan bersama peluang lebih kecil untuk merasa tak berguna. Belanja rumah tangga justru sebaliknya. Penulis menduga belanja itu sebagian mencerminkan ongkos berobat, tanggungan, dan biaya merawat anggota keluarga. Bertambahnya umur juga berjalan bersama rasa tak berguna.
Sesudah dipilah, perempuan dan pekerja informal paling menonjol
Sesudah itu catatan dipilah menurut jenis kelamin. Pada perempuan, koefisiennya negatif 0,220 dan nyata secara statistik. Pada laki-laki angkanya juga negatif, 0,119, tetapi tidak cukup kuat untuk disebut nyata. Para penulis menawarkan satu kemungkinan: perempuan barangkali mengalami guncangan jati diri dan pengakuan peran yang lebih besar sesudah pensiun.
Pemilahan berikutnya menurut tempat bekerja. Mereka yang bekerja di perusahaan swasta, usaha perorangan kecil, dan sejenisnya digolongkan informal. Pada kelompok ini koefisiennya negatif 0,291, yang terbesar di antara empat kelompok. Pada pekerja formal di instansi pemerintah, lembaga negara, dan badan usaha milik negara, angkanya hanya negatif 0,052 dan tidak nyata.
Kemudian para penulis memeriksa tiga jalur yang mungkin menghubungkan kerja dengan harga diri. Jalur pertama adalah pergaulan, diukur dari bertemu atau menghubungi teman sedikitnya sebulan sekali. Orang yang tetap bekerja lebih sering melakukannya, dengan koefisien 0,100. Bekerja, menurut mereka, menjaga hubungan dengan rekan, teman, dan lingkungan yang lebih luas.
Jalur kedua adalah keikutsertaan dalam kegiatan yang menghasilkan uang, dengan koefisien 0,807. Jalur ketiga menyangkut anak. Ukurannya sederhana: apakah responden atau pasangannya memberi uang, makanan, atau hadiah kepada anak dalam dua belas bulan terakhir. Koefisiennya 0,186. Orang tua yang tetap bekerja lebih mungkin masih memberi.
Bagi keluarga di China, tulis para penulis, mampu menyokong anak yang sudah dewasa bukan hanya soal ekonomi. Pemberian itu mengandung makna simbolik karena meneguhkan rasa bertujuan, tanggung jawab, dan nilai seorang tua di dalam keluarganya. Dari situ mereka menjelaskan mengapa kerja pada hari tua bisa berarti lebih dari sekadar upah.
Baca juga Harapan Hidup Subjektif Lansia Thailand Naik Seiring Usia
September 2024, jadwal baru diumumkan dan hasilnya perlu dibaca hati-hati
Pada 13 September 2024 Komite Tetap Kongres Rakyat Nasional ke-14 mengumumkan bahwa kebijakan menunda pensiun berlaku pada 2025. Sejak 1 Januari 2025 batas usia dinaikkan sedikit demi sedikit. Tujuannya 63 tahun untuk laki-laki, 55 tahun untuk pekerja perempuan, dan 58 tahun untuk kader perempuan.
Para penulis menegaskan bahwa hasil mereka tidak mengukur aturan baru itu. Semua catatan berasal dari 2018 dan 2020, ketika penundaan belum diwajibkan. Yang mereka amati adalah perilaku orang yang memilih terus bekerja di bawah aturan lama, bukan akibat dari perubahan undang-undang 2025.
Mereka juga menulis keterbatasannya dengan terang. Penelitian ini bersifat pengamatan, sehingga perlu kehati-hatian sebelum menyebut bekerja sebagai penyebab. Satu hitungan tambahan yang dirancang untuk menjawab keraguan soal arah hubungan hanya menghasilkan angka yang nyata secara marginal. Para penulis memperlakukannya sebagai bukti pelengkap, bukan penentu.
Batas kedua menyangkut tempat. Makna rasa tak berharga, menurut naskah, dibentuk oleh keadaan kelembagaan dan budaya China. Di tempat yang memandang pensiun sebagai masa bebas dan waktu luang, hubungannya bisa sangat berbeda. “Karena itu, temuan ini tidak boleh dianggap berlaku begitu saja di semua konteks budaya dan kelembagaan,” tulis mereka.
Untuk pembuat kebijakan, mereka mencatat tiga hal. Menunda pensiun tidak cukup dinilai dari dana pensiun dan pasokan tenaga kerja. Rancangannya perlu luwes terhadap keadaan sosial dan keluarga yang berlainan. Bila diperluas, kebijakan itu perlu ditemani tempat kerja yang ramah usia, ruang bergaul, dan keseimbangan antara keluarga dan pekerjaan.
Dalam naskah terbitan 2026, beberapa angka tidak saling cocok
Naskah yang terbit pada 2026 itu menyisakan beberapa hal yang bisa diperiksa pembaca. Sampel akhir disebut 4.849 catatan, tetapi hitungan utama yang memakai keadaan pribadi dan rumah tangga hanya memuat 4.246 catatan. Tabel tentang tiga jalur memakai 4.366 catatan. Selisih di antara angka-angka itu tidak dijelaskan.
Hal serupa tampak pada pemilahan kelompok. Perempuan dan laki-laki berjumlah 2.143 dan 2.111, atau 4.254 catatan. Pekerja informal dan formal berjumlah 2.437 dan 1.734, atau 4.171 catatan. Selain itu, bagian tentang kelompok memakai ungkapan bahwa menunda pensiun mengurangi rasa tak berharga, padahal bagian keterbatasan meminta pembaca tidak menarik kesimpulan sebab-akibat yang kuat.
Aturan lama bertahan sejak 1978 sampai akhir 2024. Catatan survei yang dipakai berhenti pada 2020, dan aturan baru baru berjalan sejak 1 Januari 2025. Apa yang terjadi pada rasa berguna orang tua sesudah tanggal itu belum tercatat dalam naskah ini.















