Hari Tua Sering Dipikirkan Warga Oosterpark, Jarang Disiapkan

A A

Ilustrasi ruang hijau dan deret rumah bata di lingkungan Oosterparkwijk, Groningen, Belanda [Foto: Ahospers/Wikimedia Commons, CC0]

  • Orang-orang paruh baya dan lanjut usia di sana sering memikirkan masa tuanya, bahkan mencemaskannya, tetapi hanya sedikit yang benar-benar berbuat sesuatu.
  • Mencari informasi atau membicarakan sebuah tema dengan orang lain selalu mendapat nilai paling rendah dibanding dua jenis persiapan lainnya.
  • Rumah mendapat nilai rendah dalam kuesioner, tetapi muncul sebagai kekhawatiran yang paling mendesak begitu warga duduk berdiskusi.
  • Tema kesepuluh itu, lingkungan tempat tinggal, tidak ada dalam kuesioner dan datang dari warga sendiri.
Daftar Isi
  1. Lingkungan buruh yang menua lebih cepat dari tetangganya
  2. Yang rajin dikerjakan dan yang hanya dipikirkan
  3. Rumah, kecemasan yang tidak berani disentuh
  4. Tema kesepuluh yang datang dari trotoar
  5. Tidak tahu harus bertanya ke mana
  6. Lima persen yang bersedia menjawab

Menyiapkan hari tua lazim dibayangkan sebagai soal niat belaka: siapa yang cukup sering memikirkan masa tuanya, begitu anggapan umumnya, pada waktunya tentu akan bergerak juga menyiapkannya. Namun, di Oosterpark, sebuah lingkungan lama di kota Groningen, Belanda utara, yang tampak justru sebaliknya. Orang-orang paruh baya dan lanjut usia di sana sering memikirkan masa tuanya, bahkan mencemaskannya, tetapi hanya sedikit yang benar-benar berbuat sesuatu.

Jarak antara pikiran dan perbuatan itulah yang dicatat Nanda Kleinenberg-Talsma, Fons van der Lucht, Herbert Rolden, Harriët Jager-Wittenaar, dan Evelyn Finnema dalam artikel Preparing for later life in the Oosterpark neighborhood: a mixed-methods study among middle-aged and older adults di jurnal BMC Public Health tahun 2026, yang terbit sebagai artikel dalam proses cetak. Kelimanya, sebagian besar dari Hanze University of Applied Sciences Groningen dan University Medical Center Groningen, bertanya kepada warga berusia 45 tahun ke atas tentang apa yang mereka perhatikan, butuhkan, dan harapkan menjelang usia lanjut.

Lingkungan buruh yang menua lebih cepat dari tetangganya

Oosterpark bukan tempat yang dipilih sembarangan, sebab lingkungan berpenduduk sedikit di atas 12.000 jiwa itu termasuk yang tertua di Groningen, secara turun-temurun dihuni kelas pekerja, dan menurut para penulis keadaannya secara umum kurang menguntungkan. Di sana pula hari tua datang lebih deras: sampai 2042, warga berusia 65 sampai 74 tahun diperkirakan bertambah dari 750 menjadi 1.300 orang, sedangkan mereka yang berumur 75 tahun ke atas, kini 393 orang, diperkirakan menjadi kira-kira 1.600 orang.

Oosterpark menua: 2023 dan 2042Oosterpark menua: 2023 dan 2042Oosterpark menua: 2023 dan 2042Perkiraan jumlah warga lanjut usia di lingkungan ituTahun 2023Tahun 2042750 orang1.300 orangUsia 65-74 tahun393 orangsekitar 1.600Usia 75 ke atasOosterpark berpenduduk sedikit di atas 12.000 jiwa.
Sumber: Nanda Kleinenberg-Talsma, Fons van der Lucht, Herbert Rolden, Harriët Jager-Wittenaar, Evelyn Finnema, Preparing for later life in the Oosterpark neighborhood: a mixed-methods study among middle-aged and older adults, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Dari delapan lingkungan lama di kota itu, tulis para peneliti, hanya Oosterpark yang menanti lonjakan sedrastis itu pada kelompok usia 65 sampai 74 tahun, dan hanya satu lingkungan lain yang menghadapi kenaikan serupa pada kelompok 75 tahun ke atas. Lonjakan itu berlangsung ketika Belanda, yang mereka sebut sebagai contoh negara kesejahteraan dengan jaminan sosial yang menyusut, makin mengandalkan warga dan jaringan terdekatnya untuk urusan dukungan dan perawatan.

Di situlah persoalannya. Persiapan menghadapi usia lanjut, yang oleh para penulis diartikan sebagai segala pikiran dan kegiatan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan karena umur, mereka pandang dapat membantu mencegah atau menunda kerapuhan, yakni menurunnya fungsi tubuh pada satu atau beberapa sisi kesehatan sehingga seseorang makin mudah goyah oleh tekanan. Kalau persiapan itu memang berguna, yang perlu diketahui lebih dulu ialah apakah warga sungguh melakukannya, dan pada urusan apa saja mereka berhenti di tengah jalan.

Baca juga Separuh Lansia Pusat Warga Emas Klang Valley Menua Sehat

Yang rajin dikerjakan dan yang hanya dipikirkan

Sebanyak 134 kuesioner yang terisi lengkap menjadi bahan hitungannya, dengan rata-rata usia pengisi 59 tahun, 91 di antaranya perempuan, dan 89 orang berpendidikan tinggi. Mereka ditanya tentang sembilan tema, yaitu keuangan, keadaan darurat, kebugaran mental dan fisik, rumah, penampilan, hubungan pribadi, kesehatan, kegiatan waktu luang, dan pekerjaan, lalu untuk tiap tema diminta menakar tiga hal: seberapa banyak mereka memikirkannya, mencari keterangan atau membicarakannya dengan orang lain, dan sungguh-sungguh menyiapkannya.

Siapa yang ditanya soal hari tuaSiapa yang ditanya soal hari tuaSiapa yang ditanya soal hari tuaWarga Oosterpark, Groningen, berusia 45 tahun ke atas134kuesionerterisi lengkap59tahunrata-rata usia23pesertadiskusi kelompok10temasembilan plussatuJalan risetnyaSembilan temaditanyakanWarga berdiskusiTema baru munculTema kesepuluh, lingkungan tempat tinggal, datang dari warga sendiri.
Sumber: Nanda Kleinenberg-Talsma, Fons van der Lucht, Herbert Rolden, Harriët Jager-Wittenaar, Evelyn Finnema, Preparing for later life in the Oosterpark neighborhood: a mixed-methods study among middle-aged and older adults, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Hasilnya tidak rata. Kebugaran mental dan fisik mendapat perhatian paling besar, disusul kesehatan, dan sebagian besar responden dari semua kelompok umur mengaku aktif menjaganya, entah dengan berolahraga di pusat kebugaran dan di rumah, entah dengan berjalan kaki, naik tangga, atau bersepeda. Justru sebaliknya yang terjadi pada keadaan darurat, rumah, kegiatan waktu luang, dan pekerjaan, yang nilainya jauh lebih rendah, padahal di situlah keputusan yang lebih besar menunggu.

Ada pola lain yang lebih halus tetapi sama tetapnya. Mencari informasi atau membicarakan sebuah tema dengan orang lain selalu mendapat nilai paling rendah dibanding dua jenis persiapan lainnya. Persiapan aktif unggul pada kebanyakan tema, kecuali keadaan darurat dan rumah, dua urusan yang lebih banyak dipikirkan daripada dikerjakan. Usia juga berbicara: kelompok 65 tahun ke atas umumnya mencatat nilai tertinggi, sementara mereka yang berumur 55 sampai 64 tahun paling rendah pada semua jenis persiapan keuangan.

Rumah, kecemasan yang tidak berani disentuh

Contoh paling terang dari jarak itu ada pada tempat tinggal. Rumah mendapat nilai rendah dalam kuesioner, tetapi muncul sebagai kekhawatiran yang paling mendesak begitu warga duduk berdiskusi. Dalam enam diskusi kelompok dan dua wawancara perorangan yang diikuti 23 orang di pusat komunitas setempat, para peserta membayangkan hunian bersama untuk lansia yang memadukan ruang pribadi dan ruang bersama, rumah mandiri yang sudah disesuaikan untuk usia lanjut, dan terutama sebuah rumah perawatan di dalam lingkungan itu sendiri yang mendahulukan warga Oosterpark.

Namun, mereka pesimistis hunian bersama semacam itu dapat terwujud di Oosterpark, dan hampir semua harapan lain digantungkan kepada pihak luar: pemerintah yang diminta membangun lebih banyak rumah ramah lansia, serta korporasi perumahan yang dianggap pemain utama, misalnya untuk memasang lift tangga atau toilet tambahan di lantai satu. Para peneliti membaca ketergantungan itu sebagai sebab yang mungkin, karena warga merasa tidak memegang kendali atas keadaannya sendiri, dan perasaan itulah yang bisa menahan mereka dari bertindak.

Kalimat poros naskah itu ditulis dalam bahasa Inggris dan diterjemahkan di sini. “Meskipun orang banyak memikirkan tema-tema tertentu, pada saat yang sama mereka melaporkan hanya sedikit atau sama sekali tidak mengambil tindakan untuk menyiapkan masa depan,” tulis Nanda Kleinenberg-Talsma, peneliti Hanze University of Applied Sciences Groningen, bersama empat rekannya. Keuangan mengikuti pola yang sama: banyak tanda tanya tentang penghasilan setelah pensiun atau setelah pasangan meninggal, tetapi para peserta mengaku tidak menyiapkannya dan tidak pula mencari keterangan.

Baca juga Kunjungan ke Ruang Biru dan Kesehatan Mental Lansia Jepang

Tema kesepuluh yang datang dari trotoar

Arah penelitian itu berbelok ketika para peserta sendiri menambahkan sesuatu yang tidak ditanyakan. Tema kesepuluh itu, lingkungan tempat tinggal, tidak ada dalam kuesioner dan datang dari warga sendiri. Mereka menekankan bahwa menua terasa lebih ringan di tempat yang sudah dikenal. Kesiapan mereka di sini berwujud perbuatan sehari-hari, seperti menjaga jalan tetap rapi dan bersih atau melaporkan kerusakan kepada pemerintah kota, sedangkan kecemasannya menyangkut pindah rumah, yang berarti kehilangan tetangga dan kawan sekaligus.

Keluhan mereka sangat konkret: trotoar yang dipenuhi sepeda dan skuter, penyeberangan yang dirasa tidak aman, lampu jalan yang kurang atau tidak menyala, dan supermarket yang bagi orang lanjut usia terasa di luar jarak jalan kaki. Seorang peserta laki-laki dari kelompok usia 65 tahun ke atas berkata bahwa ubin trotoar yang lepas sudah ada sejak ia muda, hanya saja dulu tubuhnya menyesuaikan diri begitu saja, sedangkan kini ia harus berhati-hati dengan segala hal.

Dari percakapan yang sama muncul dua anak tema di bawah hubungan pribadi, yaitu kesepian dan semangat kebersamaan. Para peserta mencemaskan lansia Oosterpark yang hidup sendiri tanpa jaringan sosial, merasa tempat untuk bertemu orang lain di lingkungan itu belum cukup, dan mengenang saling menjaga antartetangga sebagai sesuatu dari masa lalu yang kini digantikan sikap serba sendiri. Beberapa diskusi juga mengakui bahwa pensiun dapat memutus pertemanan, sehingga jaringan seseorang menyusut tepat ketika ia lebih banyak berada di rumah.

Tidak tahu harus bertanya ke mana

Kesehatan, yang dalam kuesioner tampak paling terurus, ternyata menyimpan kegelisahan yang lain. Para peserta memecahnya menjadi perawatan oleh tenaga profesional, perawatan oleh keluarga dan kerabat, serta kematian dan akhir hayat, lalu mengajukan pertanyaan yang nyaris seragam: bagaimana cara mengurus perawatan di rumah, apakah dokter umum dan fisioterapis masih akan tersedia di lingkungan itu, dan bagaimana menyusun surat wasiat. Sebagian besar dari mereka, menurut naskah, mengaku memerlukan bantuan untuk urusan yang terakhir itu.

Sebagian warga bahkan tidak bersiap sama sekali, dan alasan mereka beragam: merasa masih terlalu muda, tidak melihat perlunya, atau tidak tahu apa yang dapat dan seharusnya disiapkan. Karena itu para penulis mengusulkan sebuah titik informasi yang mudah didatangi, tempat warga dapat membawa pertanyaan apa pun tentang hari tua, sebagai langkah pertama bagi pemerintah kota, organisasi kesejahteraan sosial, dan layanan kesehatan masyarakat. Mereka juga mengusulkan agar lingkungan tempat tinggal ditambahkan sebagai tema baru dalam kuesioner.

Baca juga Harapan Hidup Subjektif Lansia Thailand Naik Seiring Usia

Tidak semua tema ikut ramai dibicarakan. Penampilan, satu dari sembilan tema kuesioner, sama sekali tidak disinggung dalam diskusi dan wawancara, dan para peneliti menawarkan dua penjelasan yang sama-sama belum dapat dipastikan: mungkin orang memang tidak mengaitkan penampilan dengan persiapan hari tua, atau mungkin mereka sungkan membahasnya di depan kelompok. Keadaan darurat pun hanya ditekuni segelintir orang, salah satunya seorang peserta yang sedang menyusun map berisi segala hal yang perlu diurus bila sesuatu menimpanya.

Lima persen yang bersedia menjawab

Batas penelitian ini disebut para penulisnya sendiri. Mereka hanya menjangkau sekitar lima persen dari 3.600 warga Oosterpark yang berusia 45 tahun ke atas, menduga kuesioner yang panjang membuat banyak orang berhenti sebelum selesai, dan mengakui kemungkinan bahwa yang ikut serta adalah mereka yang sejak awal sudah menaruh minat pada soal menua dengan baik. Satu diskusi kelompok pun hanya dihadiri dua orang, sehingga dinamika percakapannya bisa berbeda dari kelompok lain.

Angka keterjangkauan itu sendiri tidak seragam di dalam naskah, dan pembaca dapat memeriksanya. Bagian hasil menyebut 205 orang mengisi kuesioner seluruhnya atau sebagian dan menghitungnya sebagai 5,7 persen, lalu menyebut 134 kuesioner lengkap sebagai 3,75 persen, padahal bagian keterbatasan hanya menulis sekitar lima persen. Kelompok usia termuda juga dibatasi sampai 54 tahun dalam hitungan, tetapi satu kutipan peserta diberi keterangan kelompok usia 55 tahun ke bawah.

Yang tersisa dari Oosterpark adalah gambaran orang-orang yang rajin berjalan kaki dan bersepeda demi tubuh yang tetap bugar, tetapi menunda urusan rumah, uang, dan surat wasiat sambil menunggu pemerintah kota atau korporasi perumahan bergerak lebih dulu. Mereka memikirkannya, dan pikiran itu jarang menjadi perbuatan. Kalau sebuah titik informasi kelak benar-benar dibuka di lingkungan itu, apakah warga yang selama ini tidak tahu harus bertanya ke mana akan datang, atau tetap menunggu sampai ubin trotoar yang lepas itu memaksa mereka?

Bagikan

Baca Juga

Atlet Muda Estonia Tetap Bisa Kegemukan meski Rajin Berlatih
Promo Takeaway Memikat Keluarga Inggris Berpenghasilan Rendah
Warga Ceko Memilih Makanan dari Rasa dan Harga, Bukan Lingkungan
Motor ATV Gurun di Emirat Paling Berbahaya Justru di Jalan Aspal
Pemakai Ponsel Lama di Iran Lebih Rentan Kena Darah Tinggi
Keluarga Yi Hidup dengan HIV: Klan Menopang, Diam Ada Harganya