- Anak di kelompok terpapar asap rokok punya peluang asma lebih tinggi dengan rasio odds 1,27 setelah penyesuaian.
- Pada anak di bawah sembilan tahun rasio odds-nya 1,59, sedangkan pada anak sembilan tahun ke atas hanya 1,02.
- Pada anak perempuan rasio odds-nya 1,54, sementara pada anak laki-laki 1,09 dan tidak bermakna secara statistik.
- Di kelompok terpapar, 42,5 persen anak tinggal dengan kebiasaan merokok di rumah, berbanding 6,7 persen di kelompok tidak terpapar.
Daftar Isi
Sejak akhir 1980-an, asap rokok yang ikut terhirup orang bukan perokok di Amerika Serikat terus menyusut. Pada 1988 paparan itu masih mengenai 87,5 persen bukan perokok, dan pada 2014 tinggal 25,2 persen, lalu penurunannya tertahan. Pada 2013–2014 masih ada 58 juta orang, kira-kira satu dari empat, yang tetap terpapar. Menurut para penulis makalah yang dibahas di sini, angka itu menegaskan bahwa asap rokok orang lain bukan hanya persoalan medis, tetapi juga persoalan yang terkait erat dengan pemerataan kesehatan.
Shanshan Xiao dan rekan dari Departemen Pediatri, Rumah Sakit Tangdu, Universitas Kedokteran Militer Keempat di Xi’an, Tiongkok, menelusuri apakah asap rokok orang lain berkaitan sama kuat dengan asma pada semua anak usia sekolah. Laporan mereka berjudul Age and sex modify the association between secondhand smoke exposure and self-reported asthma in school-aged children (6–11 years): a cross-sectional study from NHANES 2005–2020, terbit di jurnal BMC Public Health tahun 2026.
Bahannya data Survei Pemeriksaan Kesehatan dan Gizi Nasional Amerika Serikat (NHANES) 2005–2020. Dari 76.496 peserta, tersisa 5.662 anak berusia 6–11 tahun yang datanya lengkap. Paparan diukur secara objektif dari kotinin, zat hasil olahan nikotin di dalam darah. Anak dengan kadar 0,05 nanogram per mililiter atau lebih digolongkan terpapar.
Anak dengan kadar di atas 15 nanogram per mililiter dikeluarkan dari analisis karena angka setinggi itu menandakan merokok aktif. Asma dicatat dari jawaban atas pertanyaan apakah dokter atau tenaga kesehatan pernah menyatakan sang anak mengidap asma. Dari 5.662 anak itu, 3.224 masuk kelompok tidak terpapar dan 2.438 masuk kelompok terpapar.
Dari Meta-Analisis He hingga Data NHANES
Kaitan asap rokok dengan asma anak sebenarnya bukan kabar baru. Makalah ini mengutip meta-analisis He dan rekan yang menghimpun 93 studi, 41 di antaranya studi kohort, dari rentang 1975 hingga 2020. Hasil gabungannya menunjukkan hubungan positif antara paparan asap rokok orang lain dan asma anak yang didiagnosis dokter, dengan rasio odds 1,24.
Ringkasan pengetahuan tembakau Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yang juga dikutip para penulis, menyatakan paparan asap rokok pada masa kanak-kanak menaikkan risiko asma. Di tingkat dunia, makalah ini mencatat sekitar 37 persen penduduk terpapar asap rokok orang lain, dengan angka yang lebih tinggi pada perempuan dan anak-anak.
Data NHANES ternyata sejalan dengan rantai bukti itu. Setelah memperhitungkan usia, jenis kelamin, ras, indeks massa tubuh, tingkat pendapatan keluarga, kebiasaan merokok di rumah, ibu yang merokok saat hamil, dan riwayat asma dalam keluarga, anak di kelompok terpapar punya peluang asma lebih tinggi dengan rasio odds 1,27. Sebelum penyesuaian itu, angkanya 1,49.
Ketika kotinin dihitung sebagai angka bersambung, hasilnya searah. Rasio odds-nya 1,31 tanpa penyesuaian dan 1,22 setelah seluruh faktor tadi diperhitungkan, keduanya bermakna secara statistik. Menurut para penulis, hubungan yang bertahan setelah penyesuaian menyeluruh itu tidak mudah dijelaskan oleh faktor pengganggu.
Baca juga Anak Ronneby yang Ibunya Minum Air Tercemar Lebih Sering Asma
Garis Usia Sembilan Tahun dalam Data 2005–2020
Pertanyaan yang belum banyak dijawab riset sebelumnya adalah apakah semua anak usia sekolah sama rentannya. Menurut makalah ini, kelompok usia 6–11 tahun selama ini kurang diteliti dibanding bayi dan remaja. Karena itu Xiao dan rekan membelah anak-anak menjadi dua kelompok usia, di bawah sembilan tahun dan sembilan tahun ke atas. Batas sembilan tahun dipilih karena pematangan alveolus paru sebagian besar selesai sekitar usia itu, dan agar jumlah anak di kedua kelompok seimbang. Kelompok di bawah sembilan tahun berisi 2.728 anak, sedangkan kelompok sembilan tahun ke atas 2.917 anak.
Hasilnya berbeda tajam. Pada anak di bawah sembilan tahun, kelompok terpapar punya peluang asma lebih tinggi dengan rasio odds 1,59 dan nilai p di bawah 0,001. Pada anak sembilan tahun ke atas, hubungan itu melemah menjadi 1,02 dengan p=0,752, tidak lagi bermakna secara statistik. Uji interaksi menguatkan pembelahan itu. Usia mengubah kekuatan hubungan antara asap rokok dan asma dengan nilai p=0,03 pada skala perkalian. Para penulis juga menguji batas usia delapan dan sepuluh tahun, dan pola yang sama tetap muncul dengan nilai p interaksi 0,005 dan 0,044.
Pembahasan makalah ini memberi dugaan penjelasannya. Anak usia sekolah yang lebih muda menghirup udara lebih banyak per kilogram berat badan, sehingga dosis zat asap rokok yang masuk lebih besar dibanding anak yang lebih tua. Sistem kekebalan dan pernapasan mereka juga masih dalam tahap pematangan aktif.
Anak Perempuan dan Studi Seven Northeastern Cities
Pembelahan menurut jenis kelamin memberi hasil yang tak kalah jelas. Pada anak perempuan, paparan asap rokok berkaitan dengan peluang asma lebih tinggi dengan rasio odds 1,54 dan p di bawah 0,001. Pada anak laki-laki, angkanya 1,09 dengan p=0,46, sehingga tidak bermakna secara statistik. Jenis kelamin juga mengubah kekuatan hubungan itu, dengan nilai p interaksi 0,02. Kurva yang dipasang para penulis memperlihatkan risiko asma pada anak perempuan menanjak lebih curam seiring naiknya kadar kotinin dibanding anak laki-laki.
Temuan ini berbeda dengan studi Seven Northeastern Cities di Tiongkok, yang melaporkan gangguan fungsi paru lebih besar pada anak laki-laki. Xiao dan rekan menduga bedanya bisa datang dari ukuran hasil, yakni diagnosis asma lawan uji fungsi paru, dari populasi Amerika Serikat lawan Tiongkok, atau dari cara mengukur paparan, kotinin darah lawan kuesioner.
Di sisi lain, sebuah studi kohort kelahiran yang memakai kotinin rambut menemukan anak perempuan dengan sensitisasi alergi sejak dini mengalami penurunan fungsi paru terkait asap rokok yang lebih besar daripada anak laki-laki. Menurut para penulis, hasil yang saling bertentangan ini menandakan kerentanan menurut jenis kelamin bisa bergantung pada konteks.
Baca juga Bangku Kosong di SD Belanda Jadi Penanda Musim Infeksi Napas
Hormon dalam Dugaan Xiao dan Rekan
Untuk menjelaskan kerentanan anak perempuan, makalah ini menyebut peran hormon seks dalam respons kekebalan. Estrogen disebut memperkuat peradangan tipe 2 dan membuat saluran napas lebih reaktif, sedangkan testosteron dan androgen lain meredam peradangan alergi saluran napas sehingga memberi perlindungan relatif pada anak laki-laki.
Namun para penulis sendiri memberi batas tegas pada dugaan itu. “Kami menekankan bahwa penjelasan mekanisme ini bersifat spekulatif dalam konteks studi kami, karena kami tidak mengukur langsung parameter hormon maupun kekebalan,” tulis Xiao dan rekan, diterjemahkan dari bahasa Inggris. Mereka menyarankan riset lanjutan yang memadukan data penanda biologis dengan hasil klinis.
Ada pula catatan tentang ukuran yang dipakai. Interaksi pada skala perkalian bermakna untuk usia dan jenis kelamin, tetapi ukuran interaksi pada skala penjumlahan sebagian besar tidak bermakna. Menurut para penulis, perbedaan risiko mutlak yang terkait asap rokok tidak berbeda nyata antarkelompok usia atau jenis kelamin, walau peluang relatifnya berbeda. Mereka mengingatkan agar hasil itu dibaca hati-hati karena kekuatan statistik untuk menguji interaksi penjumlahan terbatas. Studi yang lebih besar, kata mereka, diperlukan untuk memastikannya. Nuansa ini dinilai penting karena ukuran mutlak sering lebih relevan untuk menyampaikan risiko dan membagi sumber daya.
Rumah Anak-anak Terpapar pada 2005–2020
Tabel karakteristik dasar memperlihatkan seperti apa lingkungan anak-anak yang terpapar. Di kelompok terpapar, 42,5 persen anak tinggal dengan kebiasaan merokok di rumah, berbanding 6,7 persen di kelompok tidak terpapar. Ibu yang merokok saat hamil tercatat 24,1 persen berbanding 3,2 persen. Riwayat asma dalam keluarga juga lebih sering ditemukan, 38,5 persen berbanding 28,4 persen. Asma yang dilaporkan tercatat pada 523 anak atau 21,5 persen di kelompok terpapar, sedangkan di kelompok tidak terpapar 499 anak atau 15,5 persen. Seluruhnya ada 1.022 anak dengan asma.
Kelompok terpapar juga lebih banyak berasal dari keluarga berpendapatan rendah. Anak dengan rasio pendapatan terhadap garis kemiskinan di bawah 1,30 mencapai 47,4 persen di kelompok terpapar, berbanding 26,0 persen di kelompok lainnya. Indeks massa tubuh rata-rata mereka sedikit lebih tinggi, 19,2 berbanding 18,9.
Baca juga Rokok Elektrik dan Snus Minim Data, Bahaya Rokok Biasa Terbukti
Empat Uji Ulang Tim Xiao
Hasil utama itu diuji ulang dengan empat cara. Ketika lima penanda darah, termasuk jumlah sel darah putih dan persentase eosinofil, ikut diperhitungkan, perkiraan hubungannya nyaris tidak berubah. Ketika data yang hilang diisi lewat imputasi sehingga jumlah anak menjadi 7.177, rasio odds-nya 1,28 dan tetap bermakna. Pada data imputasi itu, interaksi jenis kelamin tetap bermakna dengan p=0,01, sedangkan interaksi usia berada di garis batas dengan p=0,068. Arah dan besaran hubungannya, menurut para penulis, tetap sejalan dengan analisis utama.
Ketika bobot survei NHANES diterapkan, hubungan utamanya tetap positif dengan rasio odds 1,22. Sementara itu, pengujian dengan batas usia delapan dan sepuluh tahun menegaskan kembali peran usia. Para penulis menyimpulkan keempat uji ulang itu mendukung kekokohan temuan utama mereka.
Batas Data Sekali Ukur dan Babak Riset Berikutnya
Makalah ini mengakui sejumlah keterbatasan. Rancangan potong lintang tidak bisa membuktikan sebab-akibat, sehingga temuannya adalah hubungan antara paparan saat ini dan asma yang pernah didiagnosis. Status asma bersandar pada laporan diagnosis dokter, bukan uji fungsi paru, dan kotinin darah hanya mencerminkan paparan sekitar dua sampai tiga hari terakhir.
Faktor yang tak terukur juga tidak bisa disingkirkan sepenuhnya, misalnya pola makan, pencemaran udara dalam ruang selain asap rokok, atau variasi genetik yang memengaruhi pengolahan zat asap. Para penulis menyarankan studi lanjutan yang mengikuti anak sepanjang usia sekolah dengan pengukuran paparan berulang.
Dari sisi praktik, mereka menyarankan dokter anak dan petugas kesehatan sekolah menyadari bahwa tidak semua anak usia sekolah sama rentannya terhadap asap rokok. Pertanyaan rutin tentang kebiasaan merokok di rumah saat pemeriksaan kesehatan sekolah, dan bila mungkin pengukuran kotinin dari air liur atau urine, disebut bisa membantu mengenali anak yang berisiko tinggi.
“Anak usia sekolah yang lebih muda dan anak perempuan sangat rentan, yang menegaskan pentingnya strategi pencegahan khusus kelompok dalam praktik klinis dan kesehatan masyarakat,” tulis Xiao dan rekan dalam simpulan, diterjemahkan dari bahasa Inggris. Mereka menempatkan temuan ini sebagai pelengkap studi Racine dan rekan, yang menemukan kebiasaan merokok saat ini dan fungsi paru yang buruk meramalkan asma yang tak terkendali.
Dari sisi riset, para penulis menilai studi sebaiknya berfokus khusus pada masa usia sekolah alih-alih menggabungkan rentang usia anak yang lebar. Studi interaksi gen dan lingkungan pada anak usia sekolah, menurut mereka, dapat menjelaskan lebih jauh dasar biologis perbedaan kerentanan yang teramati.














