Anak Ronneby yang Ibunya Minum Air Tercemar Lebih Sering Asma

A A

Ilustrasi: seseorang mengisi gelas dengan air keran di bak cuci dapur [Foto: Shixart1985/Wikimedia Commons, CC BY 2.0]

  • Kira-kira sepertiga rumah tangga Ronneby sudah meminum air itu selama puluhan tahun tanpa tahu apa-apa.
  • Air yang keluar dari instalasi tercemar mengandung PFAS total 10.380 nanogram per liter.
  • Laju munculnya asma di kelompok pertama tetap 1,44 kali kelompok pembanding.
  • Mengi tidak ikut naik: pada kelompok sangat tinggi 19 persen, pada kelompok latar 18 persen, dan lajunya 0,97 kali.
  • Pada usia tiga tahun, 57 persen anak kelompok sangat tinggi masih beralamat di tempat yang dialiri air tercemar.
Daftar Isi
  1. Air keran yang membawa 10.380 nanogram bahan kimia di setiap liternya
  2. Sebelas ribu anak Blekinge, dan 194 di antaranya lahir dari rumah yang paling lama terpapar
  3. Asma naik hanya di kelompok teratas, sementara mengi pada balita tidak bergerak
  4. Paru-paru janin, tempat bahan kimia itu paling banyak berkumpul, dan dugaan adanya ambang
  5. Yang belum bisa dipisahkan: paparan selama dalam kandungan atau sesudah anak lahir

Desember 2013, Ronneby, sebuah kota di selatan Swedia, mendapati satu dari dua instalasi air minumnya tercemar berat. Sumbernya busa pemadam kebakaran yang mengalir dari lapangan udara militer setempat. Instalasi itu langsung ditutup, dan seluruh kota dialihkan ke instalasi kedua. Terlambat. Kira-kira sepertiga rumah tangga Ronneby sudah meminum air itu selama puluhan tahun tanpa tahu apa-apa.

Nasib anak-anak yang dikandung pada tahun-tahun itu ditelusuri Annelise J. Blomberg, Christel Nielsen, Beata Borgström Bolmsjö, Marie-Abèle Bind, Linda Hartman, dan Anna Saxne Jöud dalam artikel Prenatal exposure to per- and polyfluoroalkyl substances (PFAS) and incidence of asthma and wheeze in childhood: A register-based cohort study in Ronneby, Sweden. Artikel itu terbit di PLOS Medicine volume 23 nomor 4 tahun 2026. Blomberg, penulis korespondensinya, bekerja di Division of Occupational and Environmental Medicine, Lund University.

Jawabannya berupa dua angka. Di antara anak yang ibunya lima tahun penuh tinggal di alamat berair tercemar sebelum melahirkan, 26 persen tercatat mengidap asma. Di kelompok pembanding, anak yang ibunya tidak tinggal di Ronneby, angkanya 17 persen. Usia ibu, rokok, pendidikan, pendapatan keluarga, dan asma orang tua sudah diperhitungkan. Laju munculnya asma di kelompok pertama tetap 1,44 kali kelompok pembanding.

Air keran yang membawa 10.380 nanogram bahan kimia di setiap liternya

Bahan kimia itu bernama PFAS, singkatan dari per- and polyfluoroalkyl substances. Air yang keluar dari instalasi tercemar mengandung PFAS total 10.380 nanogram per liter. Instalasi kedua di Ronneby hanya 48 nanogram per liter. Air di kotamadya tetangga kurang dari 5. Para penulis menyebut warga di sebagian kota itu terpapar lebih dari 30 tahun.

PFAS bukan satu zat. Ia golongan berisi beberapa ribu senyawa berfluor yang dipakai luas di industri dan barang konsumsi sejak awal 1950-an. Alasannya sifat fisiknya: stabil terhadap bahan kimia dan panas, menolak air dan minyak. Sifat yang sama membuatnya sangat awet di lingkungan dan lama bertahan di tubuh. Zat ini, tulis para peneliti, menembus plasenta dan ikut berpindah ke air susu ibu.

Jejaknya tampak di darah. Pemeriksaan terhadap 3.293 warga Ronneby pada 2014 dan 2015 menemukan kadar PFAS yang luar biasa tinggi, bahkan dibandingkan komunitas lain yang tercemar busa pemadam. Pada perempuan berusia 21 sampai 40 tahun yang lima tahun penuh tinggal di alamat tercemar, kadar tengah satu jenis PFAS bernama PFHxS mencapai 164,8 nanogram per mililiter. Pada perempuan yang tak pernah tinggal di Ronneby, 0,8.

Dua kelompok yang paling berjauhanKelompok sangat tinggi 194 anak, latar 9.224 anak; PFHxS darah 164,8 banding 0,8 ng/mL; asma 26 banding 17 persen; mengi 19 banding 18 persen.Dua kelompok yang paling berjauhanPaparan PFAS ibu sebelum melahirkan dan catatan kesehatan anakSangat tinggiLatar1949.224Jumlah anak218,7 ng/mL3,6 ng/mLPFOS darah164,8 ng/mL0,8 ng/mLPFHxS darah26%17%Tercatat asma19%18%Tercatat mengiKadar darah: median pada perempuan 21-40 tahun yang diperiksaterpisah.
Sumber: Annelise J. Blomberg, Christel Nielsen, Beata Borgström Bolmsjö, Marie-Abèle Bind, Linda Hartman, dan Anna Saxne Jöud, Prenatal exposure to per- and polyfluoroalkyl substances (PFAS) and incidence of asthma and wheeze in childhood: A register-based cohort study in Ronneby, Sweden, PLOS Medicine, 23(4), 2026. Grafik: Cekricek.id

Angka itu jauh dari yang biasa ditemui peneliti lain. Kadar tengah PFHxS dalam Japan Environment and Children’s Study tercatat 0,34 nanogram per mililiter, dalam Danish Odense Child cohort 0,36, dan dalam American Healthy Heart Study 0,7. Darah warga Ronneby pun diambil setelah air tercemar diganti. Menurut para penulis, kadar yang sebenarnya dialami para ibu kemungkinan lebih tinggi lagi.

Baca juga Empat Dekade Karies Gigi Anak Jepang Turun Tanpa Fluoridasi Air

Sebelas ribu anak Blekinge, dan 194 di antaranya lahir dari rumah yang paling lama terpapar

Yang diikuti adalah 11.488 anak yang lahir di Blekinge County, wilayah tempat Ronneby berada, antara 2006 dan 2013. Catatan diagnosis dan obat mereka di register nasional Swedia ditelusuri sejak lahir sampai usia 12 tahun atau akhir 2022. Tak satu pun diperiksa darahnya. Paparan anak ditaksir dari riwayat alamat ibunya selama lima tahun sebelum tahun kelahiran.

Dari alamat itu lahir empat kelompok. Sebanyak 194 anak, 2 persen, masuk kelompok sangat tinggi karena ibunya lima tahun penuh menerima air tercemar. Kelompok tinggi berisi 479 anak yang ibunya menerima air itu sedikitnya satu tahun. Kelompok menengah, 1.591 anak, beribu warga Ronneby yang alamatnya tak pernah dialiri air tercemar. Sisanya 9.224 anak, 80 persen, menjadi kelompok latar.

Keluarga di kelompok sangat tinggi tidak persis sama dengan yang lain. Hanya 9 persen anaknya punya orang tua kelahiran luar negeri, sedangkan di seluruh peserta 19 persen. Ibu yang berhenti di pendidikan dasar atau menengah pertama mencapai 32 persen, berbanding 20 persen. Tiga dari empat ibu sudah pernah melahirkan sebelumnya. Perbedaan semacam itu yang membuat faktor keluarga ikut dihitung.

Secara keseluruhan, 2.653 anak atau 23 persen punya sedikitnya satu dari tiga catatan yang dicari. Mengi pada tiga tahun pertama hidup tercatat pada 18 persen anak. Asma pada 17 persen. Asma versi ketat, yang masih muncul di catatan sesudah anak berusia tiga tahun, pada 13 persen. Sebanyak 891 anak memiliki ketiganya, dan 657 anak hanya tercatat mengi.

Asma naik hanya di kelompok teratas, sementara mengi pada balita tidak bergerak

Di sinilah ceritanya berbelok. Asma tercatat pada 17 persen anak kelompok latar, 16 persen kelompok menengah, dan 19 persen kelompok tinggi. Lalu melompat ke 26 persen di kelompok sangat tinggi, 50 dari 194 anak. Sesudah faktor keluarga diperhitungkan, hanya kelompok terakhir yang berbeda dari latar. Kelompok tinggi dan menengah berada di angka 0,96 dan 0,95 kali, praktis sama.

Asma hanya naik di kelompok paling terpaparLatar (9.224 anak): Anak yang tercatat asma +17%; Menengah (1.591 anak): Anak yang tercatat asma +16%; Tinggi (479 anak): Anak yang tercatat asma +19%; Sangat tinggi (194 anak): Anak yang tercatat asma +26%.Asma hanya naik di kelompok paling terpaparPersen anak yang tercatat asma, menurut paparan PFAS ibunya10%20%30%0Latar (9.224 anak)17%Menengah (1.591 anak)16%Tinggi (479 anak)19%Sangat tinggi (194 anak)26%Anak lahir 2006-2013 di Blekinge County, Swedia, diikuti sampai usia12 tahun.
Sumber: Annelise J. Blomberg, Christel Nielsen, Beata Borgström Bolmsjö, Marie-Abèle Bind, Linda Hartman, dan Anna Saxne Jöud, Prenatal exposure to per- and polyfluoroalkyl substances (PFAS) and incidence of asthma and wheeze in childhood: A register-based cohort study in Ronneby, Sweden, PLOS Medicine, 23(4), 2026. Grafik: Cekricek.id

Asma versi ketat menunjukkan pola serupa, bahkan lebih tegas. Para peneliti memakainya karena asma pada anak kecil sulit dibedakan dari mengi sementara akibat infeksi virus, dan ketepatan diagnosis membaik sesudah usia tiga tahun. Dengan ukuran itu, 21 persen anak kelompok sangat tinggi tercatat asma, berbanding 13 persen di kelompok latar. Lajunya 1,59 kali.

Mengi tidak ikut naik. Pada kelompok sangat tinggi 19 persen, pada kelompok latar 18 persen, dan lajunya 0,97 kali. Para penulis menawarkan satu kemungkinan penjelasan. Catatan mengi mereka mencakup pula infeksi akut saluran napas bawah, sehingga kurang spesifik daripada dua ukuran asma. Itu, tulis mereka, bisa menyulitkan terlihatnya kaitan yang sesungguhnya ada.

Ada satu belokan kecil lagi. Ketika mengi dipisah menurut jenis kelamin, arahnya berlawanan. Pada anak perempuan kelompok sangat tinggi lajunya 0,50 kali kelompok latar, pada anak laki-laki 1,23 kali. Kedua angka itu membawa rentang ketidakpastian yang lebar, masing-masing 0,24 sampai 1,04 dan 0,84 sampai 1,79. Untuk asma, perbedaan antara anak perempuan dan laki-laki tidak tampak.

Baca juga BMI Anak Gothenburg Terbelah Dua Arah Sejak Tahun 2008

Para peneliti lalu menguji dengan cara kedua. Setiap anak kelompok sangat tinggi dipasangkan dengan tiga anak kelompok latar yang keluarganya serupa, 582 anak seluruhnya. Hasilnya nyaris sama. Sampai usia 12 tahun, asma diperkirakan muncul pada 26,7 persen anak kelompok sangat tinggi dan 16,1 persen anak pasangannya. Kira-kira satu dari empat, berbanding satu dari enam. Mengi kembali sebanding.

Paru-paru janin, tempat bahan kimia itu paling banyak berkumpul, dan dugaan adanya ambang

Mengapa paru-paru? Naskah itu menyebut perkembangan paru dimulai sejak awal masa embrio dan berlanjut sampai remaja, sehingga peka terhadap gangguan racun lingkungan. Pada janin tikus maupun manusia, kadar PFAS tertinggi ditemukan di jaringan paru. Percobaan pada sel menunjukkan PFAS memperberat peradangan alergi. Pada tikus, paparan sebelum lahir menghambat perkembangan paru dan mengurangi jumlah alveolus.

Bukti pada manusia selama ini tidak sejelas itu. European Food Safety Agency, dalam penilaian risiko PFAS terbarunya, menyimpulkan bahwa studi yang ada belum cukup untuk memastikan kaitan PFAS dengan asma. Hampir semua studi jangka panjang terdahulu bersandar pada laporan orang tua. Semuanya, kecuali satu, melibatkan kurang dari 3.000 peserta. Tak satu pun dikerjakan pada penduduk yang terpapar setinggi warga Ronneby.

Dari situ para penulis membaca hasil mereka. “Fakta bahwa kaitan dengan asma hanya terdeteksi pada anak dengan paparan PFAS prenatal yang sangat tinggi mungkin menunjukkan adanya efek ambang yang tidak teramati pada populasi berpaparan latar,” tulis Annelise J. Blomberg dari Lund University bersama lima rekannya. Kalimat aslinya berbahasa Inggris.

Akibatnya, temuan ini tidak serta-merta berlaku di tempat lain. Para penulis sendiri menilai hasilnya kemungkinan sulit diterapkan pada penduduk yang hanya terpapar kadar latar atau campuran PFAS yang berbeda. Namun pencemaran dari busa pemadam, menurut mereka, adalah sumber utama paparan tinggi di banyak tempat di dunia. Bagi komunitas semacam itulah Ronneby memberi gambaran.

Baca juga Polusi Udara Berkaitan dengan Rendahnya Skor Penuaan Sukses

Yang belum bisa dipisahkan: paparan selama dalam kandungan atau sesudah anak lahir

Alamat bukan darah. Ukuran paparan yang dipakai tidak tahu berapa banyak air keran yang diminum tiap ibu, juga tidak menangkap naik turunnya kadar PFAS dari tahun ke tahun. Para penulis mengakui itu sebagai keterbatasan, dan menduga kesalahan semacam ini cenderung mengecilkan kaitan yang terukur. Mereka juga tidak dapat menyingkirkan pengaruh yang tak tercatat, misalnya orang tua yang merokok sesudah anak lahir.

Persoalan terbesar ada pada kata prenatal. Banyak anak tetap tinggal di rumah yang sama sampai 2013. Pada usia tiga tahun, 57 persen anak kelompok sangat tinggi masih beralamat di tempat yang dialiri air tercemar. “Mengingat besarnya kemungkinan paparan berlanjut sesudah lahir, kami tidak dapat mengaitkan hubungan yang teramati semata-mata dengan paparan prenatal,” tulis Blomberg dan rekan-rekannya, diterjemahkan dari bahasa Inggris.

Naskah itu juga memuat beberapa hal kecil yang bisa diperiksa pembaca. Bagian hasil menyebut 194 anak dipilih dari 202 anak “high-exposed”, padahal kelompok tinggi di tabel berisi 479 anak. Tampaknya yang dimaksud kelompok sangat tinggi. Catatan kaki tabel utama menyebut penyesuaian untuk asma ibu, sedangkan uraiannya menyebut asma ibu atau ayah.

Instalasi air itu ditutup begitu pencemarannya ketahuan. Anak-anak yang lahir sampai 2013 sudah melewati masa dalam kandungan, dan sebagian masa kecilnya, bersama air tersebut. Dari 194 anak yang ibunya paling lama meminumnya, 50 tercatat mengidap asma sebelum berusia 12 tahun. Para penulis meminta hasil ini diuji ulang di komunitas lain yang sama tingginya terpapar.

Bagikan

Baca Juga

Secangkir Kopi Membuat Usus Ibu Lebih Cepat Pulih Usai Caesar
Warga China yang Beli Obat Sendiri Lebih Sering Sakit Lambung
Makanan Bawa Pulang Terkait Tubuh yang Tiga Bulan Lebih Tua
Pinggang Relawan Kesehatan Desa Thailand Susut dalam Tiga Bulan
Dendang Serawai Diwariskan Lewat Menonton, Bukan Lewat Sekolah
Merawat Lansia di Rumah Menguras Dompet Keluarga di Finlandia