- Remaja putri kota rata-rata makan 55,2 gram daging sehari, sedangkan remaja putri desa 25,9 gram.
- Remaja putri desa makan sayur rata-rata 47,4 gram sehari, sedangkan remaja putri kota 36,8 gram.
- Ikan dan hasil laut lain lebih banyak dimakan remaja putri desa, rata-rata 86,8 gram sehari.
- Nilai tengah asupan buah 0 gram di desa maupun di kota.
Daftar Isi
Remaja putri di kota makan lebih banyak lauk hewani. Rata-rata asupan pangan hewani mereka 211,7 gram sehari, sedangkan remaja putri di desa 163,7 gram. Sebaliknya, anak perempuan di desa makan lebih banyak sayur dan umbi.
Angka itu berasal dari 4.577 remaja putri berusia 10 sampai 12 tahun di Indonesia. Datanya diambil dari Survei Konsumsi Makanan Individu 2014, bagian dari Studi Diet Total yang dijalankan Kementerian Kesehatan, dengan setiap anak ditanya semua makanan yang ia santap dalam 24 jam sebelumnya.
Sampel survei itu mewakili wilayah perkotaan dan perdesaan di berbagai provinsi Indonesia, bukan satu kota tertentu. Tempat tinggal responden digolongkan perkotaan atau perdesaan menurut definisi Badan Pusat Statistik.
Analisis ini ditulis Febiani Riskika dan rekan dari Departemen Gizi, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Tadulako, Palu, bersama peneliti Departemen Gizi, Fakultas Ekologi Manusia, IPB University. Judulnya Urban-rural differences in plant and animal-based food intake among Indonesian adolescent girls: evidence from the 2014 Individual Food Consumption Survey. Laporannya terbit di Jurnal Gizi Klinik Indonesia volume 22 nomor 4 tahun 2026.
Usia 10 sampai 12 tahun dipilih karena berada tepat sebelum menstruasi pertama. Menurut para penulis, masa ini menjadi kesempatan untuk memperbaiki status gizi sebelum anak matang secara reproduksi, sekaligus menumpuk cadangan zat gizi untuk masa berikutnya.
Makanan dibagi ke dalam dua kelompok besar. Pangan nabati mencakup serealia, umbi, kacang-kacangan, sayur, dan buah, sedangkan pangan hewani mencakup daging, ikan dan hasil laut lain, telur, serta jeroan.
Lauk Hewani Kota
Selisih paling jelas ada pada pangan hewani. Remaja putri kota rata-rata makan 55,2 gram daging sehari, sedangkan remaja putri desa 25,9 gram. Untuk telur, angkanya 25,3 gram berbanding 15,7 gram.
Jeroan juga lebih banyak dimakan di kota, rata-rata 1,7 gram berbanding 0,53 gram sehari. Selisih pada daging, telur, dan jeroan itu bermakna secara statistik. Ikan bergerak ke arah lain.
Total pangan hewani remaja putri kota rata-rata 211,7 gram sehari, dengan nilai tengah 181,2 gram. Di desa, rata-ratanya 163,7 gram dengan nilai tengah 114,7 gram. Untuk seluruh 4.577 remaja, rata-ratanya 177,3 gram.
Ikan di Desa
Ikan dan hasil laut lain lebih banyak dimakan remaja putri desa. Rata-ratanya 86,8 gram sehari, sedangkan di kota 80,4 gram. Nilai tengahnya juga berbeda, 37,5 gram di desa dan 14,4 gram di kota.
Untuk seluruh responden, rata-rata asupan ikan dan hasil laut lain 84,0 gram sehari. Pada kelompok yang sama, rata-rata asupan daging 38,5 gram, telur 19,8 gram, dan jeroan 1,0 gram sehari.
Baca juga Gizi Murid SD Musi Rawas Terkait Ragam Piring, Bukan Uang Jajan
Latar Orang Tua
Latar keluarga remaja kota dan desa juga berbeda. Dari remaja putri yang ayahnya berpendidikan rendah, yakni SMP ke bawah, 65,8 persen tinggal di desa. Dari yang ayahnya berpendidikan SMA ke atas, 62,6 persen tinggal di kota.
Pola serupa terlihat pada ibu. Dari remaja putri yang ibunya berpendidikan rendah, 65,7 persen tinggal di desa, sedangkan dari yang ibunya berpendidikan tinggi, 64,7 persen tinggal di kota.
Menurut para penulis, perbedaan pola makan kota dan desa mencerminkan ketimpangan sosial ekonomi yang membentuk akses pangan dan pilihan makanan. Mereka menyebutnya bagian dari transisi gizi yang sedang berlangsung di Indonesia.
Asupan hewani yang lebih tinggi di kota, tulis mereka, kemungkinan didorong akses lebih baik ke makanan beragam, pendapatan rumah tangga yang lebih tinggi, serta paparan pada toko ritel modern dan layanan makanan. Lingkungan seperti itu juga membuka akses ke produk padat energi dan ultra-olahan.
Remaja putri desa, sebaliknya, mungkin lebih jarang bersentuhan dengan lingkungan pangan komersial. Menurut para penulis, mereka lebih mengandalkan pangan pokok setempat dan makanan hasil sendiri, sejalan dengan bukti global bahwa masyarakat desa di negara berpenghasilan rendah dan menengah mempertahankan pola makan tradisional yang tinggi karbohidrat dan rendah protein.
Angka Nol
Temuan penting lain justru ada pada angka nol. Nilai tengah asupan umbi, kacang-kacangan, buah, daging, telur, dan jeroan tercatat 0 gram sehari, di desa, di kota, atau di keduanya.
Nilai tengah 0 gram berarti lebih dari separuh responden tidak memakan kelompok pangan itu pada hari yang ditanyakan. Untuk daging dan telur, nilai tengahnya tetap nol di kota maupun desa, walau rata-ratanya lebih tinggi di kota.
Buah paling mencolok, dengan nilai tengah 0 gram di desa maupun di kota. Rata-ratanya hampir sama, 27,4 gram di desa dan 27,6 gram di kota. Selisih ini tidak bermakna secara statistik.
Menurut para penulis, rendahnya konsumsi sejumlah pangan padat gizi ini tidak terbatas pada satu wilayah. Ia mencerminkan pola makan yang lebih luas di kalangan remaja putri Indonesia.
Sayur memang lebih banyak dimakan remaja putri desa, tetapi konsumsi buah dan sayur secara keseluruhan tetap rendah di kedua wilayah. Para penulis menyebut hal ini sejalan dengan studi lain yang melaporkan lebih dari 90 persen remaja tidak memenuhi anjuran WHO, yakni sedikitnya 400 gram buah dan sayur sehari.
Mereka mengingatkan, kurangnya pangan hewani kaya zat besi dapat menaikkan risiko anemia defisiensi besi. Kondisi itu, tulis mereka, sudah banyak dialami remaja putri Indonesia.
Buah dan sayur yang sedikit juga dapat mengurangi asupan vitamin C, folat, dan zat pelindung lain. Menurut para penulis, pola makan ini bisa ikut menyumbang pada kurang gizi sekaligus pada penyakit tidak menular yang terkait pola makan.
Sayur dan Umbi
Di sisi nabati, arahnya berbalik untuk dua kelompok. Remaja putri desa makan sayur rata-rata 47,4 gram sehari, sedangkan remaja putri kota 36,8 gram. Umbi juga lebih banyak di desa, 26,4 gram berbanding 15,8 gram.
Para penulis membaca konsumsi umbi yang lebih tinggi di desa sebagai tanda pola makan tradisional yang bertahan, dengan singkong, ubi jalar, dan umbi lain sebagai sumber energi tambahan. Temuan ini, tulis mereka, sejalan dengan studi yang melaporkan rumah tangga desa masih bergantung pada pangan pokok setempat karena terjangkau dan sesuai kebiasaan budaya.
Kacang-kacangan justru lebih banyak di kota, rata-rata 35,9 gram berbanding 29,0 gram sehari. Menurut para penulis, hal ini menandakan pola makan yang lebih beragam dan pergeseran ke pangan nabati kaya protein. Bisa jadi pula karena kesadaran gizi yang lebih tinggi atau tersedianya produk olahan kacang.
Baca juga Obesitas Remaja Rarotonga: 37,6 Persen Siswa Year 9 Obesitas
Serealia Setara
Serealia nyaris tak berbeda antara kota dan desa. Rata-rata asupannya 217,9 gram di desa dan 222,1 gram di kota, dengan nilai tengah sama-sama 200 gram. Selisih ini tidak bermakna secara statistik.
Menurut para penulis, kesamaan itu mencerminkan peran dominan makanan pokok dalam menu harian. Dalam pendahuluan, mereka mencatat pola makan kebanyakan remaja Indonesia memang didominasi nasi dan serealia lain, dengan sedikit buah, sayur, dan pangan hewani.
Total pangan nabati sedikit lebih tinggi di kota, rata-rata 474,6 gram berbanding 458,4 gram sehari. Namun, menurut para penulis, selisih ini kecil dibanding jurang pada pangan hewani. Untuk seluruh responden, rata-rata pangan nabati 465,4 gram sehari.
Akses Bukan Jaminan
Angka nol untuk daging, telur, buah, dan jeroan muncul di desa maupun kota. “Akses saja tidak menjamin konsumsi yang teratur,” tulis Febiani Riskika dan rekan dalam bagian diskusi, sebagaimana diterjemahkan Cekricek.id.
Mereka melihat celah antara ketersediaan pangan dan kebiasaan makan sehari-hari. Celah itu, menurut mereka, mungkin dipengaruhi norma budaya, cara rumah tangga membagi makanan, dan kebebasan remaja memilih makanannya sendiri.
Para penulis juga menautkan temuan ini dengan data Riset Kesehatan Dasar 2018. Di sana, wilayah kota kerap menunjukkan kegemukan dan obesitas yang lebih tinggi, sedangkan desa masih menghadapi kekurangan zat gizi mikro seperti anemia.
Baca juga Piring Gizi Ibu Berubah, Timbangan Anak Belum Dicek
Batas Data
Studi ini punya tiga keterbatasan yang diakui penulisnya. Rancangannya potong lintang, sehingga tidak bisa menyimpulkan sebab-akibat antara tempat tinggal dan pola makan. Ingatan makan satu hari juga belum tentu mencerminkan kebiasaan seseorang dan bisa berubah dari hari ke hari.
Datanya pun tidak memuat rincian makanan olahan dan ultra-olahan. Menurut para penulis, informasi itu justru penting untuk memahami perubahan pola makan yang sedang berlangsung di wilayah perkotaan.
Meski begitu, mereka menilai data yang mewakili tingkat nasional membuat temuannya lebih bisa diberlakukan pada populasi. Untuk penelitian berikutnya, mereka mengusulkan studi jangka panjang tentang dampak perbedaan ini pada status gizi dan kesehatan remaja, serta studi kualitatif tentang faktor budaya dan perilaku dalam memilih makanan.
Sebagai jalan keluar, para penulis mendorong penguatan program gizi berbasis sekolah, perbaikan mutu makanan di kantin sekolah, dan pendidikan gizi yang menyasar remaja. Untuk desa, mereka menyarankan akses pangan hewani yang terjangkau dan keragaman makanan lewat pangan lokal.
Lauk hewani membedakan piring remaja putri kota dan desa. Buah, pada hari yang ditanyakan, sama-sama absen dari piring lebih dari separuh mereka.















