Bank Pemerintah Lebih Untung, Bank Asing Lebih Tebal Modalnya

A A

Gedung perkantoran kawasan bisnis Jalan Sudirman, Jakarta, dengan lampu menyala saat senja [Foto: Robin Widjaja/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

  • Rata-rata ROA bank pemerintah tercatat 2,18 persen, sedangkan bank asing 1,11 persen.
  • Rata-rata CAR bank asing tercatat 30,45 persen, sedangkan bank pemerintah 20,62 persen.
  • Bank pemerintah mencatat rata-rata BOPO 75,70 persen, lebih rendah daripada bank asing yang mencapai 86,27 persen.
  • Perbedaan NPL dan LDR kedua kelompok bank tidak signifikan menurut uji Mann-Whitney.
Daftar Isi
  1. Laba Bank Pemerintah Lebih Tinggi
  2. Bank Pemerintah Lebih Efisien
  3. Modal Bank Asing Lebih Tebal
  4. Rentang Modal Bank Asing Lebih Lebar
  5. Kredit Macet dan Likuiditas Tak Berbeda Nyata
  6. Tata Kelola dan Batas Cakupan Penelitian

Tabungan warga di loket bank milik negara dan modal besar dari investor luar negeri tampak seperti dua urusan yang tak saling menyapa. Keduanya disebut sebagai pembeda dalam sebuah penelitian yang memeriksa kesehatan keuangan bank pemerintah dan bank asing di Indonesia selama lima tahun. Menurut uraian penelitian itu, bank pemerintah boleh menerima simpanan berbentuk tabungan dari masyarakat, sedangkan bank asing tidak, dan pada bank asing modal investor yang besar menjadi sumber utama pembagian keuntungan.

Perbandingan itu dikerjakan Reyhan Maulana Adrian Ziqra dan Sri Dewi Edmawati dari Departemen Akuntansi, Universitas Andalas. Hasilnya terbit dengan judul Analisis Perbandingan Tingkat Kesehatan Keuangan Bank Pemerintah dan Bank Asing Menggunakan Metode RGEC Periode 2019-2023 di Jurnal Akuntansi dan Governance Andalas volume 2 nomor 1 tahun 2025. Keduanya menimbang empat aspek sekaligus, yakni profil risiko, tata kelola perusahaan, kemampuan menghasilkan laba, dan permodalan, yang disingkat RGEC.

Bahan yang ditimbang berupa laporan keuangan tahunan teraudit dari 14 bank yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada 2019 sampai 2023. Di satu sisi berdiri empat bank pemerintah, yakni BNI, BRI, Mandiri, dan BTN. Di sisi lain berdiri sepuluh bank yang dalam penelitian ini digolongkan sebagai bank asing, antara lain Bank Danamon, Bank CIMB Niaga, Maybank, Bank Permata, OCBC NISP, dan Bank Woori Saudara Indonesia.

Kesimpulan besarnya terbagi dua dengan rapi. Bank pemerintah unggul pada profitabilitas, yang diukur lewat ROA dan ROE, sedangkan bank asing menunjukkan kekuatan lebih besar pada permodalan, yang diukur lewat CAR. Menurut abstrak paper, perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok ditemukan pada aspek laba dan aspek modal.

Baca juga Penjaminan Simpanan Lebih Terasa di Bank Swasta Saat Pandemi

Laba Bank Pemerintah Lebih Tinggi

Rata-rata ROA bank pemerintah tercatat 2,18 persen, sedangkan bank asing 1,11 persen. Pada ROE, angkanya 14,86 persen pada bank pemerintah berbanding 4,52 persen pada bank asing. Para penulis membaca kedua pasangan angka itu sebagai cermin profitabilitas yang lebih tinggi pada bank pemerintah, dan uji Mann-Whitney menunjukkan perbedaannya signifikan, dengan nilai 0,004 untuk ROA dan 0,000 untuk ROE.

Bank pemerintah unggul laba, bank asing unggul modalROA: Bank pemerintah (n=20) 2,18%, Bank asing (n=50) 1,11%; ROE: Bank pemerintah (n=20) 14,86%, Bank asing (n=50) 4,52%; NIM: Bank pemerintah (n=20) 5,03%, Bank asing (n=50) 4,45%; CAR: Bank pemerintah (n=20) 20,62%, Bank asing (n=50) 30,45%.Bank pemerintah unggul laba, bank asingunggul modalNilai rata-rata (mean) tabel statistik deskriptif 2019-2023,persenBank pemerintah (n=20)Bank asing (n=50)0%10%20%30%2,18%1,11%ROA14,86%4,52%ROE5,03%4,45%NIM20,62%30,45%CARUji Mann-Whitney: beda signifikan pada ROA, ROE, dan CAR; NIM tidaksignifikan (0,075)
Sumber: Reyhan Maulana Adrian Ziqra dan Sri Dewi Edmawati, Analisis Perbandingan Tingkat Kesehatan Keuangan Bank Pemerintah dan Bank Asing Menggunakan Metode RGEC Periode 2019-2023, Jurnal Akuntansi dan Governance Andalas, 2025. Grafik: Cekricek.id

Rentang angka di balik rata-rata itu juga berbeda. Pada bank pemerintah, nilai ROA terendah 0,13 persen dan tertinggi 4,03 persen. Pada bank asing, nilai ROA terendah justru minus 3,36 persen dan tertinggi 2,59 persen. Pola serupa terlihat pada ROE, yang pada bank asing turun sampai minus 36,27 persen, sementara pada bank pemerintah angka terendahnya 1 persen.

Bank Pemerintah Lebih Efisien

Ukuran berikutnya adalah BOPO, yang dalam paper dipakai untuk menilai segi efisiensi. Bank pemerintah mencatat rata-rata 75,70 persen, lebih rendah daripada bank asing yang mencapai 86,27 persen. Angka yang lebih rendah itu, tulis para penulis, “menandakan pengelolaan biaya operasional yang lebih baik”. Uji Mann-Whitney untuk BOPO menghasilkan nilai 0,006, sehingga perbedaannya tergolong signifikan.

Di ujung tabel, jarak kedua kelompok tampak jelas. Nilai BOPO terendah bank pemerintah 51,88 persen dan tertingginya 98,12 persen. Pada bank asing, nilai terendahnya 66,85 persen, sedangkan nilai tertingginya menembus 146,66 persen. Simpangan baku BOPO tercatat 0,142 pada bank asing dan 0,125 pada bank pemerintah.

Tidak semua ukuran laba memisahkan kedua kelompok. Rata-rata NIM, yang menggambarkan margin bunga bersih, tercatat 5,03 persen pada bank pemerintah dan 4,45 persen pada bank asing. Paper menyebut keduanya relatif seimbang, dan uji Mann-Whitney menghasilkan nilai 0,075 sehingga perbedaannya tidak signifikan. Dalam penutup, para penulis menyimpulkan bahwa “kedua bank mampu menghasilkan pendapatan bunga bersih yang seimbang”.

Modal Bank Asing Lebih Tebal

Pada aspek permodalan, posisi kedua kelompok berbalik. Rata-rata CAR bank asing tercatat 30,45 persen, sedangkan bank pemerintah 20,62 persen. Uji Mann-Whitney menghasilkan nilai 0,000, artinya perbedaan CAR kedua kelompok signifikan. Dari perbandingan rata-rata kedua kelompok, para penulis menulis bahwa “pada aspek CAR Bank Asing memiliki kemampuan lebih baik dalam mengantisipasi risiko dibandingkan dengan Bank pemerintah”.

Para penulis juga memberi penjelasan atas perbedaan itu. Menurut mereka, perbedaan tersebut terjadi karena permodalan bank asing lebih besar dipegang oleh investor asing. Di bagian penutup, penjelasan itu dirumuskan lebih tegas: “Hal ini terjadi karena strategi permodalan bank asing lebih aman dan terjamin daripada bank pemerintah.”

Baca juga Fungsi Intermediasi Bank KBMI 4 Turun 10,43 Persen saat Pandemi

Rentang Modal Bank Asing Lebih Lebar

Rata-rata bukan satu-satunya pembeda pada modal. CAR bank pemerintah bergerak dalam rentang sempit, dari 16,80 persen sampai 25,28 persen. Pada bank asing, nilai terendahnya 11,59 persen, tetapi nilai tertingginya mencapai 127,42 persen. Paper mencatat bahwa CAR bank asing lebih bervariasi dibandingkan bank pemerintah.

Meski berbeda, kedua kelompok sama-sama dinilai kokoh. Para penulis menyimpulkan bahwa kedua kelompok bank memiliki tingkat permodalan yang kuat untuk memenuhi kewajiban jangka panjang serta menanggung risiko kredit. Dalam penutup, aspek modal kedua kelompok sama-sama ditempatkan pada predikat Sangat Sehat, sementara perbedaan yang signifikan menunjukkan rasio CAR bank asing lebih tinggi.

Ada pula catatan tentang jumlah data. Tabel statistik memuat 20 data untuk bank pemerintah dan 50 data untuk bank asing. Paper menyebut jumlah sampel bank asing yang lebih banyak itu bisa menunjukkan variasi data yang lebih luas. Simpangan baku CAR bank asing tercatat 0,210, sedangkan pada bank pemerintah 0,022.

Kredit Macet dan Likuiditas Tak Berbeda Nyata

Di sisi profil risiko, jarak kedua kelompok jauh lebih tipis. Rata-rata NPL bank pemerintah 3,02 persen dan bank asing 2,91 persen, sehingga menurut paper risiko kredit macet lebih besar pada bank pemerintah. Namun uji Mann-Whitney menghasilkan nilai 0,242, artinya perbedaan NPL itu tidak signifikan. Nilai NPL tertinggi bank asing 9,08 persen, sedangkan pada bank pemerintah 4,78 persen.

Pada LDR, yang menurut paper menggambarkan pemberian pinjaman dibandingkan dana simpanan, rata-rata bank pemerintah 87,98 persen dan bank asing 104,34 persen. Paper menyimpulkan bank pemerintah tidak jauh lebih agresif dibandingkan bank asing dalam memberi pinjaman. Uji Mann-Whitney menghasilkan nilai 0,069, sehingga perbedaan LDR kedua kelompok juga tidak signifikan.

Angka per bank memberi wajah pada rata-rata itu. Di antara bank pemerintah, Bank Mandiri mencatat NPL terendah, yaitu 2,28 persen. Di antara bank asing, Bank Woori Saudara mencatat NPL paling rendah, 1,20 persen, dan masuk kategori Sangat Sehat. Pada LDR, Bank Mandiri dengan 84,74 persen dan Bank BRI dengan 83,97 persen dinilai lebih stabil dibandingkan BTN dengan 97,51 persen, yang lebih agresif menyalurkan kredit.

Pada kelompok asing, sebarannya lebih lebar. Bank Permata mencatat LDR paling rendah, 75,54 persen, yang menurut paper menunjukkan pengelolaan likuiditas yang konservatif. Di ujung lain, Bank Jtrust dengan 144,57 persen dan Bank Woori Saudara dengan 144,84 persen memiliki LDR sangat tinggi dan masuk kategori Tidak Sehat. Bank Woori Saudara dengan demikian muncul di dua sisi, dengan NPL paling rendah di kelompok asing dan LDR yang masuk kategori Tidak Sehat.

LDR bank yang disebut dalam pembahasanBank Woori Saudara 144,84%; Bank Jtrust 144,57%; BTN 97,51%; Bank Mandiri 84,74%; Bank BRI 83,97%; Bank Permata 75,54%.LDR bank yang disebut dalam pembahasanLoan to Deposit Ratio, persen0%40%80%120%160%Bank Woori Saudara144,84%Bank Jtrust144,57%BTN97,51%Bank Mandiri84,74%Bank BRI83,97%Bank Permata75,54%Jingga: masuk kategori Tidak Sehat menurut paper
Sumber: Reyhan Maulana Adrian Ziqra dan Sri Dewi Edmawati, Analisis Perbandingan Tingkat Kesehatan Keuangan Bank Pemerintah dan Bank Asing Menggunakan Metode RGEC Periode 2019-2023, Jurnal Akuntansi dan Governance Andalas, 2025. Grafik: Cekricek.id

Dalam simpulan aspek risiko, para penulis mencatat bank asing menunjukkan NPL yang lebih rendah. Bank pemerintah, di sisi lain, menunjukkan hasil yang lebih stabil terutama pada LDR, yang menurut para penulis berarti “bank pemerintah mampu mengelola likuiditas dengan baik”. Kedua catatan itu berdiri berdampingan tanpa perbedaan yang signifikan secara statistik.

Baca juga Indeks Kesehatan Bank Syariah Lebih Stabil daripada Konvensional

Tata Kelola dan Batas Cakupan Penelitian

Aspek tata kelola perusahaan atau GCG dinilai lewat peringkat komposit. Rata-rata bank pemerintah 1,85, lebih rendah daripada bank asing yang 1,99, dan menurut paper angka yang lebih rendah itu menunjukkan bank pemerintah lebih unggul dalam tata kelola. Bank Mandiri dan Bank OCBC NISP memperoleh peringkat Sangat Sehat, sedangkan Bank of India Indonesia dan Bank Jtrust Indonesia berada dalam kategori Cukup Sehat.

Untuk dua bank terakhir, paper menyebut peringkat itu mengindikasikan perlunya perbaikan dalam penerapan prinsip tata kelola. Dalam penutupnya, para penulis menulis bahwa “beberapa bank asing belum sepenuhnya optimal dalam menerapkan GCG”, sedangkan bank pemerintah memperoleh predikat Sangat Sehat. Menurut paper, variasi penerapan tata kelola di kedua jenis bank dapat dipengaruhi oleh regulasi internal dan pengawasan otoritas.

Cakupan temuan ini perlu dibaca sesuai batasnya. Penelitian hanya memeriksa 14 bank yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, dengan laporan keuangan tahunan teraudit selama 2019 sampai 2023, periode yang menurut paper mencakup krisis akibat fenomena global. Para penulis berharap hasilnya menjadi referensi bagi pihak perbankan, regulator, dan investor dalam menilai serta meningkatkan stabilitas dan daya saing perbankan nasional.

Dalam simpulan para penulis, bank pemerintah lebih unggul secara signifikan pada ROA, ROE, dan BOPO, sedangkan bank asing memiliki rasio CAR yang lebih tinggi secara signifikan. Pada tata kelola, bank pemerintah memperoleh predikat Sangat Sehat. Pada kredit macet, likuiditas, dan margin bunga bersih, uji para penulis tidak menemukan perbedaan yang signifikan di antara keduanya.

Bagikan

Baca Juga

Anak Kecil Australia yang Lama Pegang Gawai Tidur Lebih Larut
Pajak Ekonomi Digital Tembus Rp58,75 Triliun hingga September
Remaja Swedia yang Terus Mengobrol Daring Lebih Kerap Sulit Tidur
Asap Rokok Orang Lain Terkait Gemuk, Sakit Jantung, dan Stroke
Biaya Gigi Berlubang Warga Termiskin Lebih Mahal di 40 Negara
Ramai Downgrade Lifestyle, Pakar IPB: Kelas Menengah Tertekan