Ramai Downgrade Lifestyle, Pakar IPB: Kelas Menengah Tertekan

A A

Ilustrasi suasana pusat perbelanjaan di Jakarta. [Foto: RasyaAbhirama13 / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

  • Tren downgrade lifestyle kini banyak dilakoni kelas menengah.
  • Pemicunya pendapatan stagnan, harga naik, cicilan, dan kabar PHK.
  • Pakar IPB: kunci pemulihan konsumsi ada pada daya beli dan rasa aman.

Cekricek.id — Fenomena downgrade lifestyle atau penurunan gaya hidup tengah ramai dibicarakan di media sosial. Pakar perilaku konsumen IPB University, Prof Megawati Simanjuntak, menilai tren yang kini banyak dilakoni kelas menengah itu umumnya lahir dari keterpaksaan dan menjadi sinyal tekanan ekonomi.

Menurut Megawati, berhemat dan beralih ke produk yang lebih murah merupakan strategi koping, yakni cara keluarga menyesuaikan diri agar tetap bertahan.

“Dalam kajian ilmu keluarga dan konsumen, ini disebut strategi koping, yaitu cara keluarga menyesuaikan diri agar tetap bertahan. Berhemat dan mengganti produk dengan yang lebih murah merupakan bagian dari upaya tersebut, selain mencari tambahan penghasilan,” kata Megawati, sebagaimana disampaikan dalam keterangan tertulis IPB University, Jumat (30/10/2026).

Ia mencatat dua hal yang menonjol. Perilaku itu kini banyak dilakukan kelas menengah yang selama ini dianggap relatif aman secara ekonomi, dan penyesuaian gaya hidup makin terbuka dibagikan di media sosial, bahkan menjadi konten.

“Dulu, mengganti kopi kafe dengan kopi saset mungkin cukup disimpan sendiri. Sekarang, justru diceritakan,” ujarnya.

Baca juga: Kemnaker Buka Pelatihan Vokasi bagi 50 Ribu Pekerja Korban PHK

Berisiko Jadi Lingkaran yang Memperlemah

Megawati menyebut pemicunya adalah pendapatan yang tak banyak bertambah, harga kebutuhan yang naik, dan cicilan yang mempersempit ruang keuangan keluarga. Kelas menengah juga jarang tersentuh bantuan sosial, sementara kabar pemutusan hubungan kerja membuat banyak orang menahan belanja demi cadangan.

“Dari luar, penghematannya tampak sama, padahal latarnya bisa berbeda. Jika dilakukan atas kesadaran mengelola keuangan, perilaku ini menjadi positif karena mengurangi tekanan gengsi berbelanja. Namun, jika karena daya tahan keuangan keluarga menipis, kondisi itu menjadi sinyal yang perlu diwaspadai,” tuturnya.

Jika berlangsung lama, rem belanja kelas menengah bisa memukul restoran, kafe, mal, fesyen, pariwisata, otomotif, hingga properti, termasuk usaha kecil dan menengah yang menyerap banyak tenaga kerja.

“Kondisi ini berisiko membentuk lingkaran yang saling memperlemah. Penurunan belanja dapat menekan pendapatan pekerja di sektor terkait. Ketika pendapatan mereka ikut menurun, pengeluaran rumah tangga kembali dikurangi sehingga konsumsi semakin melemah,” kata dia.

Baca juga: Cukai Minuman Manis Ditunda Lagi, Ekonom UGM Soroti Lobi Industri

Meski demikian, Megawati melihat sisi positif dalam jangka pendek, seperti beralihnya konsumen ke produk lokal yang lebih terjangkau dan membaiknya tabungan rumah tangga. Kuncinya, menurut dia, ada pada pemulihan daya beli.

“Jadi, ini bukan soal kelas menengah tidak mau belanja, tetapi soal kemampuan dan rasa aman. Kalau kita ingin konsumsi mereka pulih, kuncinya ada pada pemulihan daya beli dan kepercayaan terhadap kondisi ke depan, bukan sekadar mengajak mereka belanja lagi,” ujarnya.

Baca juga: IHSG Anjlok 11,57 Persen, Ekonom UGM: Belum Tanda Krisis

Bagikan

Baca Juga

Bulan Inklusi Keuangan 2026 Buka 27,23 Juta Rekening Baru
Harapan Hidup Lebih Mendorong Ekonomi Provinsi daripada Sekolah
Cukai Minuman Manis Ditunda Lagi, Ekonom UGM Soroti Lobi Industri
Kadin: Uji Tuntas HAM Jadi Syarat Akses Pasar dan Investasi
Christine Lagarde Mundur Lebih Awal dari Kursi Presiden ECB
Binance Bekukan Dana Kripto 2,54 Miliar Dolar AS, Diduga Diretas