IHSG Anjlok 11,57 Persen, Ekonom UGM: Belum Tanda Krisis

A A

Ilustrasi grafik batang lilin pergerakan harga saham pada layar monitor. [Foto: Pexels]

  • IHSG turun sekitar 11,57 persen ke 5.185,11 pada Jumat (16/10/2026)
  • Keputusan final MSCI soal reklasifikasi dijadwalkan paling lambat 30 Juni 2027
  • Jual bersih asing gabungan sekitar Rp3,34 triliun, bukan total dana yang keluar

Cekricek.id — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup turun sekitar 11,57 persen ke level 5.185,11 pada Jumat (16/10/2026), setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengumumkan konsultasi atas usulan perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market pada 15 Oktober 2026. Ekonom Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), Rijadh Djatu Winardi SE MSc PhD, menilai gejolak itu perlu ditangani serius, tetapi belum cukup untuk disebut krisis.

“Gejolak ini perlu ditangani serius. Namun, penurunan saham sehari belum cukup untuk menyimpulkan bahwa ekonomi sedang mengalami krisis seperti masa lalu. Kondisi perbankan, kredit, dan kegiatan usaha tetap harus diperiksa,” kata Rijadh, sebagaimana disampaikan dalam keterangan tertulis UGM, Rabu (21/10/2026).

Baca juga: Kadin Minta MSCI Objektif Menilai Pasar Modal Indonesia

Rijadh menjelaskan, hingga 16 Oktober 2026 Indonesia masih berstatus Emerging Market karena MSCI masih menjalani konsultasi dengan keputusan final dijadwalkan paling lambat 30 Juni 2027. Dalam status Standalone Market, saham suatu negara tetap bisa diperdagangkan, tetapi aksesnya lewat dana yang mengikuti indeks gabungan menjadi lebih terbatas. “Perubahan status belum terjadi, tetapi risikonya sudah perlu ditanggapi serius. Keputusan MSCI juga tidak otomatis menjadi keputusan penyedia indeks lainnya,” ujarnya.

Sorotan pada Kepemilikan dan Perdagangan Terkoordinasi

Usulan reklasifikasi itu berkaitan dengan persoalan transparansi kepemilikan saham dan kewajaran perdagangan. MSCI menyoroti dugaan perdagangan terkoordinasi (coordinated trading) yang bisa menciptakan kesan suatu saham ramai diperdagangkan, serta kepemilikan yang tampak tersebar padahal berada dalam satu kendali. “Investor ingin mengetahui siapa pemilik saham sebenarnya, berapa banyak saham yang tersedia bagi publik, dan apakah harga terbentuk melalui transaksi yang wajar,” papar Rijadh.

Per akhir September 2026, sembilan saham anggota MSCI Indonesia adalah BBCA, BBRI, BMRI, BBNI, TLKM, ASII, UNTR, BRPT, dan BRMS, dengan empat saham bank berbobot gabungan sekitar 71,7 persen. “Jika Indonesia dikeluarkan dari indeks terkait, dana pasif perlu menyesuaikan portofolionya. Namun, dana aktif dengan aturan investasi yang lebih fleksibel tetap dapat membeli saham Indonesia apabila harga dan kualitas perusahaannya dianggap menarik,” jelasnya.

Baca juga: Posisi Investasi Internasional Indonesia, Kewajiban Neto Turun

Pada hari anjloknya IHSG, nilai transaksi pasar reguler sekitar Rp26,53 triliun. Investor asing mencatat jual bersih Rp3,40 triliun di pasar reguler dan beli bersih Rp53,7 miliar di pasar negosiasi, sehingga secara gabungan jual bersih sekitar Rp3,34 triliun. “Angka tersebut merupakan selisih penjualan dan pembelian asing, bukan total penjualan. Adapun nilai transaksi mencatat saham yang berpindah tangan, sehingga tidak bisa dianggap sebagai dana asing yang keluar,” ungkapnya.

Rijadh mengingatkan, tekanan bisa merambat ke rupiah bila hasil penjualan saham dikonversi ke valuta asing dan dibawa ke luar negeri, sedangkan melemahnya kepercayaan investor berpotensi menaikkan biaya pendanaan perusahaan. “Pekerjaan terpenting selama konsultasi adalah membuktikan bahwa reformasi tersebut memperbaiki perilaku pasar,” tuturnya.

Baca juga: Sebelum Defisit Dilonggarkan, Ekonom ITB Minta Belanja Dibenahi

Bagikan

Baca Juga

Harga Minyak Lebih Peka saat Bunga The Fed Turun di Luar Dugaan
Makin Lama Program Kesehatan Karyawan, Makin Besar Imbal Hasilnya
Belanja Kesehatan 3 Persen PDB, Pakar UGM Dorong Revisi UU SJSN
HP Gratis Bisa Telan Rp74 Triliun, Ekonom UGM: Urgensinya Kurang
Bahan Baku Kakao Diserap dari Petani di Enam Daerah
Lidah Buaya Gunungkidul Diminati Calon Pembeli dari Swedia