Bahan Baku Kakao Diserap dari Petani di Enam Daerah

A A

Tiga buah kakao jingga dan kuning menggantung pada batang pohon berlumut. [Foto: Pexels]

  • Coko Cacao Company menyerap kakao dari petani di enam daerah sejak awal 2026.
  • Daerah pemasoknya Pangandaran, Jember, Tabanan, Berau, Polewali Mandar, dan Merauke.
  • Produknya berupa biji, bubuk, massa, lemak, kulit biji, dan pecahan biji kakao.
  • Permintaan di atas 10 sampai 20 ton butuh waktu produksi dua sampai tiga bulan.

Cekricek.id — Coko Cacao Company mulai menyerap bahan baku kakao dari petani di enam daerah sejak awal 2026, lalu memasarkannya kepada pelaku usaha dalam beberapa bentuk olahan.

Langkah usaha itu dipaparkan menurut keterangan tertulis Kementerian Perdagangan, Senin (19/10/2026), dari Trade Expo Indonesia ke-41 di ICE BSD City, Kabupaten Tangerang, Banten.

Purchasing Manager Coko Cacao Company Andri Epriasman menyebut bisnis bahan baku itu berangkat dari rendahnya harga yang diterima petani setelah panen.

“Perusahaan mulai mengembangkan bisnis bahan baku kakao pada awal 2026. Langkah ini berangkat dari keinginan untuk membantu petani memperoleh nilai jual yang lebih baik atas hasil panen mereka. Selama ini, petani mendapatkan harga yang sangat minim setelah panen,” ujar Andri, Minggu (18/10/2026).

Baca juga Ekspor Kopi Olahan RI USD 692,1 Juta, Premix Terbesar Dunia

Petani mitranya berasal dari Pangandaran di Jawa Barat, Jember di Jawa Timur, Tabanan di Bali, Berau di Kalimantan Timur, Polewali Mandar di Sulawesi Barat, dan Merauke di Papua Selatan.

Produk yang ditawarkan meliputi biji kakao, bubuk kakao, massa kakao, lemak kakao, kulit biji kakao, dan pecahan biji kakao. Sebelumnya perusahaan itu menjalankan usaha minuman cokelat siap minum melalui Artisan Coko.

“Salah satu kekayaan kakao Indonesia terletak pada karakteristik rasa yang beragam. Keunikan tersebut merupakan peluang untuk memperkenalkan kakao dari berbagai daerah kepada pasar yang lebih luas,” ungkap Andri.

Baca juga UMKM Kopi Jabar Ekspor Rp2,64 Miliar ke Inggris

Andri menyebut keterbatasan saluran pemasaran dan kapasitas produksi sebagai dua tantangan yang masih dihadapi. Kapasitas produksinya berada pada skala menengah, sehingga permintaan di atas 10 sampai 20 ton berpotensi membutuhkan waktu produksi sekitar dua sampai tiga bulan.

Untuk pemasaran, perusahaan itu mengembangkan situs web dan mengikuti pameran dagang guna memperkenalkan produknya kepada calon pembeli.

Baca juga Hilirisasi Kemenyan, Guru Besar UGM: Nilai Minyak 20 Kali Lipat

Bagikan

Baca Juga

Lidah Buaya Gunungkidul Diminati Calon Pembeli dari Swedia
Peluang Pasar Jasa Tenaga Profesional RI ke Lima Negara
Pangan Nusa Expo Catat Potensi Transaksi Rp5,9 Triliun
Aset Keuangan Syariah Rp3.264 Triliun, Pangsa Bank 7 Persen
Kadin Minta MSCI Objektif Menilai Pasar Modal Indonesia
Makin Besar Ekspor Daun Tembakau, Makin Sedikit Larangan Iklannya