Enam Negara Cepat Menurunkan Stunting, Anak Miskin Tertinggal

A A

Ilustrasi petugas bersarung tangan menggeser papan ukur panjang badan bayi di meja periksa [Foto: Wellington Tavares/Pexels]

  • Albania memimpin dengan laju penurunan stunting 6,3 persen per tahun, disusul Turki 5,54 persen dan Peru 5,46 persen.
  • Puncak kurva stunting anak Peru hampir 50 persen pada 1992 dan tinggal sekitar 20 persen pada 2012.
  • Pada usia 24 bulan, selisih stunting antara anak termiskin dan terkaya mencapai titik paling lebar.
  • Indeks konsentrasi Peru bergeser dari minus 0,312 pada 2004 menjadi minus 0,214 pada 2012.
Daftar Isi
  1. Rani mengukur laju enam negara yang melesat
  2. Lhungdim dan Rani membaca kurva dari bulan ke bulan
  3. Tiga fase jarak anak miskin dan anak kaya menurut Rani
  4. Rani mendapati Peru dan Turki mengejar yang termiskin
  5. Kebijakan tiap negara yang dicatat Lhungdim dan Rani
  6. Batas temuan yang diakui Rani dan Lhungdim

Diksha Rani menyaring daftar 162 negara dengan satu ukuran: seberapa cepat tiap negara menurunkan stunting pada anak balita antara tahun 2000 dan 2024. Sebanyak 132 negara tersisih karena lajunya di bawah empat persen setahun. Sesudah saringan ketersediaan data survei, tinggal enam nama yang ia telaah lebih dalam: Albania, Armenia, Bolivia, Peru, Tajikistan, dan Turki.

Rani mengerjakannya bersama Hemkhothang Lhungdim. Keduanya peneliti di Department of Public Health and Mortality Studies, International Institute for Population Sciences, Mumbai, India. Artikel mereka berjudul The dynamics of rapid stunting reduction among children under 5: a comparative study of age-specific trajectories and wealth disparities across six high-performing countries using JME and DHS data, dimuat BMC Public Health Vol. 26 tahun 2026. Rani merancang dan menulis naskah, sedangkan Lhungdim mengawasi dan menafsirkan hasil dari data 142.028 anak balita.

Stunting, dalam batasan yang dipakai Rani dan Lhungdim, adalah tinggi badan menurut umur yang jatuh lebih dari dua simpangan baku di bawah median standar pertumbuhan WHO. Keduanya mencatat sekitar 150,2 juta anak balita di dunia masih stunting. Angkanya turun dari 40 persen pada 1990 menjadi 23,2 persen pada 2024, tetapi laju penurunan itu belakangan mendatar.

Rani mengukur laju enam negara yang melesat

Ukuran yang dipegang Rani adalah rata-rata penurunan stunting per tahun. Albania memimpin dengan 6,3 persen, disusul Turki 5,54 persen dan Peru 5,46 persen. Tajikistan mencatat 5,3 persen, Armenia 5,25 persen, dan Bolivia 5,12 persen. Median 162 negara hanya 2,24 persen, sehingga keenamnya, tulis Rani dan Lhungdim, melampaui rata-rata dunia hampir tiga kali lipat.

Laju turun stunting enam negaraAlbania: Rata-rata penurunan per tahun (persen) +6,30; Turki: Rata-rata penurunan per tahun (persen) +5,54; Peru: Rata-rata penurunan per tahun (persen) +5,46; Tajikistan: Rata-rata penurunan per tahun (persen) +5,30; Armenia: Rata-rata penurunan per tahun (persen) +5,25; Bolivia: Rata-rata penurunan per tahun (persen) +5,12; Median 162 negara: Rata-rata penurunan per tahun (persen) +2,24.Laju turun stunting enam negaraRata-rata laju penurunan per tahun, 2000-20242460Albania6,30Turki5,54Peru5,46Tajikistan5,30Armenia5,25Bolivia5,12Median 162 negara2,24Batas yang dipakai peneliti untuk negara berkinerja tinggi: 4 persen pertahun.
Sumber: Diksha Rani dan Hemkhothang Lhungdim, The dynamics of rapid stunting reduction among children under 5: a comparative study of age-specific trajectories and wealth disparities across six high-performing countries using JME and DHS data, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Rani dan Lhungdim juga mencatat posisi keenam negara itu pada 2024. Stunting tinggal 6 persen di Turki dan Armenia, 7 persen di Albania, serta 11 persen di Peru dan Bolivia. Tajikistan berada di 13 persen, satu-satunya yang masih di atas median dunia 12 persen. Meski begitu, lajunya mereka sebut hampir 2,4 kali rata-rata seluruh negara dalam data.

Apakah negara dengan beban berat pasti lambat? Rani dan Lhungdim menemukan hubungan itu ada, tetapi lemah. Negara dengan stunting lebih tinggi memang cenderung lebih lambat turun, dengan angka hubungan minus 0,283. Sebaran titik negara di sekitar garis kecenderungan begitu lebar, sehingga keduanya menulis bahwa beban tinggi tidak dengan sendirinya menghalangi penurunan cepat.

Peta yang disusun Rani memperlihatkan pula sisi sebaliknya. Uzbekistan menyamai Albania dengan laju 6,30 persen. Australia justru mencatat minus 4,44 persen dan Argentina minus 0,57 persen, artinya stunting di sana bertambah. Madagaskar dan Republik Demokratik Kongo, tulis Rani dan Lhungdim, masuk kelompok berbeban tinggi yang lajunya masih di bawah median dunia.

Baca juga Stunting Melonjak Setelah Setahun, Tuasnya Ada di Gizi Akut

Lhungdim dan Rani membaca kurva dari bulan ke bulan

Lhungdim dan Rani lalu menelusuri stunting menurut umur anak, bulan demi bulan sampai usia 59 bulan. Polanya hampir sama di semua negara. Stunting relatif rendah saat lahir, lalu naik tajam selama 24 bulan pertama. Sesudah itu angkanya biasanya turun sedikit. Pada tahun-tahun berbeban tinggi, kenaikan paling curam terjadi antara usia 6 dan 24 bulan.

Peru memberi Rani contoh paling mencolok. Pada 1992, puncak kurva stunting anak Peru hampir menyentuh 50 persen. Pada 2012, puncak itu tinggal sekitar 20 persen. Secara nasional, angka survei turun dari 37,13 persen menjadi 17,81 persen. Rani dan Lhungdim mencatat jarak antarkurva 2007 sampai 2012 lebih sempit daripada era 1990-an, tanda penurunan mulai memasuki tahap stabil.

Turki, menurut Rani dan Lhungdim, paling berhasil melandaikan kurvanya. Pada 1990-an, stunting anak Turki yang lebih besar memuncak mendekati 30 persen. Pada 2018, angkanya berada di bawah 10 persen pada semua umur. Survei nasionalnya bergerak dari 23,39 persen pada 1993 menjadi 5,97 persen pada 2018. Stunting, tulis keduanya, tidak lagi menjadi krisis kesehatan besar di sana.

Stunting balita, survei pertama dan terakhirPeru 37,13 ke 17,81; Bolivia 32,75 ke 27,08; Tajikistan 26,09 ke 13,59; Turki 23,39 ke 5,97; Albania 19,25 ke 11,58; Armenia 16,73 ke 9,39.Stunting balita, survei pertama dan terakhirPersen anak balita yang stunting di enam negaraSurvei pertamaSurvei terakhir010203040Peru17,8137,13Bolivia27,0832,75Tajikistan13,5926,09Turki5,9723,39Albania11,5819,25Armenia9,3916,73Tahun survei: Peru 1992 dan 2012, Bolivia 1998 dan 2008, Tajikistan2012 dan 2023, Turki 1993 dan 2018, Albania 2008 dan 2017,Armenia 2000 dan 2015.
Sumber: Diksha Rani dan Hemkhothang Lhungdim, The dynamics of rapid stunting reduction among children under 5: a comparative study of age-specific trajectories and wealth disparities across six high-performing countries using JME and DHS data, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Di Albania, Rani menemukan puncak ganjil sekitar 30 persen pada bayi 6 sampai 12 bulan dalam survei 2008. Pada 2017 puncak itu rata, dan stunting bertahan di bawah 20 persen di semua kelompok umur. Tajikistan menempuh jalan serupa. Tonjolan pada anak 24 sampai 48 bulan dalam survei 2012, tulis Rani dan Lhungdim, sudah jauh tertekan pada 2023.

Armenia dan Bolivia memberi Lhungdim dan Rani dua gambar lain. Stunting anak Armenia rendah dan stabil, tetapi angka saat lahir bertahan sekitar 10 sampai 15 persen di semua survei. Bolivia bergerak lebih lambat, dari 32,75 persen pada 1998 menjadi 27,08 persen pada 2008. Puncaknya masih hampir 40 persen pada anak 24 sampai 36 bulan.

Satu hal membuat Rani dan Lhungdim berhenti pada angka saat lahir. Sebagian besar negara memulai dengan stunting lahir 5 sampai 15 persen, apa pun letak geografisnya. Menurut keduanya, hal itu mengisyaratkan gizi ibu dan hambatan pertumbuhan janin sebagai faktor yang tetap. Yang berubah pada negara berlaju cepat adalah seluruh kurva, yang bergeser dari survei ke survei.

Tiga fase jarak anak miskin dan anak kaya menurut Rani

Rani kemudian memisahkan anak dari seperlima rumah tangga termiskin dan seperlima terkaya, memakai data 105.830 anak. Ia dan Lhungdim menemukan jarak di antara kedua kelompok tidak tetap sepanjang umur. Fase pertama berlangsung dari lahir sampai enam bulan. Pada fase ini selisih anak termiskin dan terkaya relatif sempit di keenam negara.

Fase kedua, yang oleh Rani dan Lhungdim disebut eskalasi, membentang dari usia 6 sampai 24 bulan. Inilah masa ketika jarak melebar. Saat anak beralih ke makanan pendamping, kurva anak miskin dan anak kaya berpisah tajam. Pada usia 24 bulan, selisih mutlak antara keduanya mencapai titik paling lebar.

Fase ketiga dinamai Rani dan Lhungdim fase bertahan, dari 24 sampai 59 bulan. Sesudah usia dua tahun, kedua kurva berjalan nyaris sejajar. Jaraknya tidak melebar lagi. Namun keduanya tidak menemukan bukti anak termiskin mengejar ketertinggalan, sehingga kekurangan tinggi badan yang terbentuk pada dua tahun pertama praktis terkunci sampai usia lima tahun.

Baca juga Balochistan dan Gilgit-Baltistan, Dua Wajah Gizi Pakistan

Rani mendapati Peru dan Turki mengejar yang termiskin

Untuk menakar ketimpangan itu dari waktu ke waktu, Rani memakai indeks konsentrasi. Angka nol berarti stunting terbagi rata di semua lapisan kekayaan. Angka negatif berarti beban menumpuk pada rumah tangga termiskin. Di keenam negara, catat Rani dan Lhungdim, indeks itu selalu berada di bawah nol pada setiap survei.

Peru mencatat kemajuan paling kokoh dalam hitungan Rani dan Lhungdim. Indeksnya bergeser dari minus 0,312 pada 2004 menjadi minus 0,214 pada 2012. Turki bergerak dari minus 0,285 pada 2003 ke minus 0,182 pada 2018. Armenia ikut membaik, dari minus 0,195 pada 2005 menjadi minus 0,124 pada 2015. Keduanya menyebut pola ini penurunan yang berpihak pada kaum miskin.

Albania dan Bolivia berbeda. Indeks Bolivia, tulis Rani dan Lhungdim, hanya beringsut dari minus 0,245 ke minus 0,238 antara 2003 dan 2008. Albania nyaris tidak berubah, minus 0,198 pada 2017 dibanding minus 0,201 pada 2008. Stunting turun di semua lapisan, tetapi ketertinggalan relatif anak termiskin tetap. Keduanya menamainya kemajuan sejajar.

Kurva anak termiskin dan terkaya di Tajikistan dan Albania juga tetap berjauhan seperti pada survei awal. “Dalam konteks seperti ini, kekayaan tetap menjadi satu-satunya perisai paling ampuh terhadap gagal tumbuh,” tulis Rani dan Lhungdim dalam naskah berbahasa Inggris itu, pada bagian yang membahas kurva kedua negara tersebut.

Tajikistan sekaligus memberi Rani dan Lhungdim profil yang lain dari yang lain. Indeks konsentrasinya stabil di sekitar minus 0,11, paling dekat ke garis nol di antara keenam negara. Bagi keduanya, itu berarti stunting di sana merupakan risiko nasional yang umum. Mereka menduga penyebabnya tekanan lingkungan bersama, seperti ketinggian wilayah dan prasarana air.

Kebijakan tiap negara yang dicatat Lhungdim dan Rani

Lhungdim dan Rani menautkan kurva itu dengan kebijakan yang tercatat dalam pustaka. Peru memakai penganggaran berbasis hasil yang memusatkan perhatian pada seribu hari pertama kehidupan. Studi kasus yang mereka kutip menyebut stunting Peru turun separuh, dari 28 persen menjadi 13 persen, antara 2005 dan 2016.

Untuk Turki, Rani dan Lhungdim menunjuk Health Transformation Program yang diluncurkan pada 2003. Program itu mencapai cakupan imunisasi dan pemeriksaan kehamilan yang nyaris menyeluruh. Bolivia punya program Desnutrición Cero yang menyasar gizi buruk berat. Pustaka yang mereka rujuk menyebut luasnya wilayah perdesaan dan kemiskinan masyarakat adat sebagai penghambat utama di negara itu.

Tiga negara lain dicatat Rani dengan penjelasan masing-masing. Di Tajikistan, studi Bank Dunia menemukan anak dari rumah yang punya akses air sekaligus ragam pangan jauh lebih kecil risikonya. Di Armenia, tinggi badan ibu dan panjang lahir anak menjadi penduga terkuat. Di Albania, tulis Rani dan Lhungdim, komunitas Roma dan Egyptian masih tertinggal dari laju nasional.

Baca juga Stunting Mengelompok di Timur, Berat Lahir Jejak yang Tersisa

Batas temuan yang diakui Rani dan Lhungdim

Rani dan Lhungdim mengakui sejumlah batas. Survei yang mereka pakai mengukur anak yang berbeda pada tiap putaran, bukan mengikuti anak yang sama. Karena itu hasilnya menggambarkan pergeseran di tingkat penduduk dan tidak boleh dibaca sebagai kecepatan tumbuh tiap anak. Indeks kekayaan rumah tangga pun hanya pendekatan bagi kemampuan belanja pangan.

Batas lain menyangkut negara yang terpilih. Menurut Rani dan Lhungdim, 30 negara semula lolos sebagai berkinerja tinggi. Sebagian besar lalu gugur karena tidak punya data survei perorangan atau putaran surveinya kurang. Keduanya juga tidak memakai kelompok negara berlaju lambat sebagai pembanding, dan menyarankan penelitian berikutnya memasukkannya.

Dari tiga fase tadi, Rani dan Lhungdim menarik satu pesan tentang waktu. “Meski ‘1.000 hari pertama’ (pembuahan sampai 24 bulan) tetap jendela intervensi yang vital, hasil ini menunjukkan bahwa mempertahankan laju penurunan yang tinggi menuntut dukungan gizi dan lingkungan yang berlanjut jauh ke tahun ketiga kehidupan agar kekurangan dini tidak menjadi ‘terkunci’,” tulis keduanya dalam bahasa Inggris.

Daftar 162 negara yang disaring Rani akhirnya menyisakan enam kurva yang bergeser dari survei ke survei, dengan anak termiskin tetap menanggung beban lebih besar di semuanya. Ia dan Lhungdim menutup naskah dengan saran bahwa strategi nasional perlu melangkah dari cakupan layanan kesehatan yang menyeluruh menuju pemerataan yang terarah dan penyehatan lingkungan.

Bagikan

Baca Juga

Survei: Sepertiga Pekerja Tiongkok di Afrika Kena Penyakit Tropis
Perawat Paling Sering Tertusuk Jarum di Sebuah Rumah Sakit India
Cegah Demensia, Kota di Jepang Ramai Latih Otak, Sepi Urus Rokok
Penyintas Kanker Lebanon Kurang Vitamin meski Minim Ultra-Olahan
Merasa Sehat, Sebagian Pasien Darah Tinggi Sri Lanka Stop Obat
Makin Banyak Titik Nyeri, Makin Rendah Mutu Hidup Dosen Taiwan