- Bahu menjadi bagian tubuh yang paling sering dikeluhkan, yakni oleh 85,5 persen dosen.
- Setiap tambahan satu bagian tubuh yang dikeluhkan berkaitan dengan turunnya skor mutu hidup total sebesar 0,722 poin.
- Rata-rata hari libur per pekan menjadi faktor yang paling kuat kaitannya dengan mutu hidup total.
- Survei dilakukan pada satu waktu sehingga tidak dapat menetapkan sebab dan akibat.
Daftar Isi
- Sebelum Liu dan Wang: riset berhenti di guru sekolah
- Tahun akademik sebelum survei: bahu, leher, dan pinggang
- Temuan Liu dan rekan: ranah batin paling rendah
- Satu bagian tubuh bertambah, skor ikut turun
- Berbeda dari studi terdahulu: hari libur paling menonjol
- Tahap sebelum guru besar: profesor madya dan kerja tak terlihat
- Sesudah 2026: yang belum terjawab oleh satu survei
Keluhan otot, urat, dan sendi akibat pekerjaan dicatat sebagai salah satu penyakit kerja paling umum di dunia oleh International Labour Organization. Gerakan yang diulang-ulang, posisi tubuh yang lama tak berubah, dan istirahat yang kurang disebut sebagai pemicunya. Dosen termasuk yang mengalaminya: berdiri lama di depan kelas, lalu duduk berjam-jam di ruang kerja yang dikelilingi komputer. Sejumlah studi terdahulu mencatat 55 sampai 88 persen dosen melaporkan keluhan semacam itu, sering kali di beberapa bagian tubuh sekaligus.
Dari latar itulah lima peneliti di Taiwan berangkat. Chih-Ching Liu, Yu-Hsuan Hung, Chien-Hui Liu, Kai-Ren Chen, dan Jiun-Yi Wang menulis naskah berjudul Association of work-related musculoskeletal disorders and work-related factors with quality of life among university teachers in Taiwan: a cross-sectional study. Jurnal BMC Public Health menerbitkannya pada 2026 sebagai naskah yang sudah diterima dan belum diberi nomor volume. Liu bekerja di National Taipei University of Nursing and Health Sciences, sedangkan Wang di Asia University, Taichung.
Jawaban mereka datang dari 262 dosen tetap di 24 universitas yang semuanya punya keluhan otot dan sendi terkait kerja, dengan keadaan kerja yang ditanyakan untuk satu tahun akademik sebelum survei April dan Mei 2022. Makin banyak bagian tubuh yang nyeri, makin rendah skor mutu hidup yang mereka laporkan. Dosen yang libur tiga hari atau lebih dalam sepekan melaporkan mutu hidup yang lebih baik, sementara profesor madya mencatat skor hubungan sosial yang lebih rendah.
Sebelum Liu dan Wang: riset berhenti di guru sekolah
Perhatian pada hubungan antara keluhan otot dan mutu hidup guru sudah tumbuh selama beberapa dasawarsa terakhir. Bukti yang terkumpul menunjukkan bahwa keluhan itu, terutama bila mengenai banyak bagian tubuh, berkaitan dengan mutu hidup fisik dan mental yang lebih buruk. Namun, sepengetahuan para penulis, hanya satu studi yang khusus menelaah keluhan yang terkait pekerjaan. Studi itu pun terbatas pada guru taman kanak-kanak sampai sekolah menengah dan tidak menimbang kondisi kerja.
Dosen, menurut naskah itu, menghadapi tekanan yang khas bagi karier akademik. Mereka bergantung pada publikasi riset, bukan hanya demi nama dan keamanan penghasilan sendiri, melainkan juga demi peringkat, pendanaan, dan gengsi kampus tempat mereka bekerja. Di luar itu ada beban mengajar yang besar, mahasiswa yang beragam, serta bermacam tanggung jawab kelembagaan. Beban kerja setinggi itu dapat menghalangi dosen mendapat jeda yang cukup untuk memulihkan diri.
Riset tentang dosen sendiri belum memberi gambaran yang utuh. Hanya dua studi yang menimbang faktor pekerjaan dan ranah mutu hidup tertentu secara bersamaan, dan hasilnya tidak seragam. Satu studi menemukan jam kerja harian dan jenjang jabatan berkaitan dengan mutu hidup fisik, sedangkan studi lain tidak menemukan kaitan apa pun. Para penulis menduga perbedaan itu muncul karena jumlah hari libur, kesempatan beristirahat di tempat kerja, dan tugas administrasi belum ikut dihitung.
Baca juga Kembali ke Kantor di Taipei, Nyeri Otot dan Cemas Pekerja Naik
Tahun akademik sebelum survei: bahu, leher, dan pinggang
Gambaran para dosen itu lebih dulu disajikan naskah. Usia rata-rata mereka 50,6 tahun dengan masa mengajar rata-rata 16,87 tahun, dan 60,3 persen di antaranya laki-laki. Bidang ilmunya beragam, mulai humaniora, teknik, manajemen, sampai kedokteran. Hampir separuh, yakni 48,1 persen, melaporkan punya penyakit kronis. Hanya 22,9 persen yang pernah mengikuti kursus promosi kesehatan, meski 69,9 persen mengaku rutin berolahraga.
Bahu menjadi bagian tubuh yang paling sering dikeluhkan, yakni oleh 85,5 persen dosen. Leher menyusul dengan 82,4 persen, lalu pinggang atau punggung bawah dengan 76,0 persen. Nilai tengahnya empat bagian tubuh. Yang ditanyakan kepada para dosen adalah nyeri atau gangguan fungsi pada otot, urat, atau sendi di sembilan bagian tubuh, mulai leher, bahu, dan siku sampai lutut dan pergelangan kaki.
Catatan tentang cara mereka bekerja tidak kalah terang. Sebanyak 59,54 persen dosen rata-rata hanya libur satu hari dalam sepekan, 33,21 persen libur dua hari, dan cuma 7,25 persen yang libur tiga hari atau lebih. Sebanyak 41,98 persen bekerja 11 jam atau lebih dalam sehari. Hanya 40,8 persen yang mengambil jeda istirahat saat bekerja, dan 69,9 persen tidak memegang jabatan administrasi.
Temuan Liu dan rekan: ranah batin paling rendah
Skor mutu hidup total para dosen itu rata-rata 57,17. Dari empat ranah yang diukur, masing-masing berskala 4 sampai 20, ranah psikologis mencatat angka terendah, yaitu 14,01. Ranah hubungan sosial berada di 14,11 dan ranah fisik di 14,46, sedangkan ranah lingkungan tertinggi dengan 14,59. Di tingkat butir pertanyaan, perasaan positif dan kesehatan umum mendapat nilai paling rendah.
Angka itu lalu disandingkan para penulis dengan riset lain. Skor dosen dalam survei ini lebih rendah daripada rata-rata mutu hidup angkatan kerja umum di Taiwan. Skor itu juga sedikit di bawah temuan pada dosen perempuan di Arab Saudi, yang rata-ratanya 58,32. Studi pada dosen keperawatan di Brasil bahkan mencatat skor yang lebih tinggi lagi di keempat ranah, misalnya 16,52 untuk ranah psikologis.
Ada dua penjelasan yang ditawarkan naskah itu. Pertama, survei ini hanya memuat dosen yang punya keluhan otot dan sendi, sehingga keluhan mereka mungkin lebih berat daripada peserta riset terdahulu. Kedua, perbandingan lintas negara yang dikutip para penulis menunjukkan dosen Taiwan cenderung tetap menjalankan kegiatan terkait pengajaran saat libur akademik. Di Jepang dan Amerika Serikat, tanggung jawab mengajar pada masa itu jauh berkurang.
Satu bagian tubuh bertambah, skor ikut turun
Kaitan antara jumlah titik nyeri dan mutu hidup tampak bertingkat. Setiap tambahan satu bagian tubuh yang dikeluhkan berkaitan dengan turunnya skor mutu hidup total sebesar 0,722 poin. Penurunan juga muncul di keempat ranah: 0,262 poin di ranah fisik, 0,153 di ranah psikologis, 0,148 di ranah hubungan sosial, dan 0,159 di ranah lingkungan. Riset terdahulu pada umumnya hanya membelah peserta menjadi dua kelompok.
Ketika cara lama itu dipakai, gambarnya sedikit bergeser. Dosen dengan keluhan di kurang dari empat bagian tubuh mencatat skor total rata-rata 59,64, sedangkan yang mengeluh di empat bagian atau lebih mencatat 55,82. Setelah faktor pribadi dan pekerjaan ikut diperhitungkan, selisih yang nyata tinggal di ranah fisik dan ranah lingkungan. Di ranah psikologis dan hubungan sosial, kedua kelompok tidak berbeda secara berarti.
Untuk selisih itu para penulis mengajukan dugaan, bukan kepastian. Mereka berspekulasi bahwa dosen di Taiwan mungkin memiliki cara memandang penyakit yang lebih adaptif, keyakinan sosial budaya yang mendukung, dan cara menghadapi nyeri yang efektif. Semua itu dapat meredam tekanan batin dan gangguan pada hubungan sosial. Mekanisme di balik kaitan bertingkat tersebut, tulis mereka, belum sepenuhnya dikenali.
Baca juga Penyakit Kerja Terduga Menumpuk di Tujuh Sektor Malaysia
Berbeda dari studi terdahulu: hari libur paling menonjol
Studi-studi sebelumnya menunjuk jam kerja harian, beban administrasi, dan beban mengajar sebagai faktor pekerjaan yang berkaitan dengan mutu hidup dosen. Survei di Taiwan ini menemukan hal lain. Rata-rata hari libur per pekan menjadi faktor yang paling kuat kaitannya dengan mutu hidup total. Jam kerja harian, jam mengajar, jeda istirahat saat bekerja, dan jabatan administrasi tidak menunjukkan kaitan yang berarti dengan ranah mana pun.
Dosen yang libur satu hari sepekan mencatat skor rata-rata 55,95, yang libur dua hari 58,10, dan yang libur tiga hari atau lebih 62,86. Setelah faktor lain diperhitungkan, kelompok dengan libur tiga hari atau lebih masih unggul 5,64 poin atas kelompok libur satu hari. Kaitan itu nyata di ranah fisik, psikologis, dan lingkungan, tetapi tidak di ranah hubungan sosial.
Para penulis menimbang beberapa penjelasan. Hari libur bisa menjadi sumber pemulihan yang penting, sehingga dosen lebih mampu mengelola rasa tidak nyaman akibat keluhan ototnya. Aturan ketenagakerjaan Taiwan menetapkan delapan jam kerja sehari atau 40 jam sepekan, tetapi banyak dosen bekerja melampaui batas itu untuk meneliti, menyiapkan kuliah, dan menulis makalah. Kelelahan fisik, menurut dugaan mereka, dapat menjadi perantara antara waktu istirahat dan mutu hidup.
Ranah hubungan sosial tidak ikut naik bersama hari libur, dan naskah itu menjelaskannya lewat teori dukungan sosial. Inti ranah ini adalah mutu hubungan antarpribadi. Tambahan waktu istirahat atau berkurangnya tugas mengajar tidak banyak menolong bila jejaring sosial seorang dosen terbatas atau mutu pergaulannya rendah. Hari libur lebih bekerja sebagai sumber daya untuk memulihkan tubuh dan mengurangi kelelahan akibat kerja.
Tahap sebelum guru besar: profesor madya dan kerja tak terlihat
Jenjang jabatan hanya berkaitan dengan satu ranah. Profesor madya, atau associate professor, mencatat skor hubungan sosial 0,93 poin lebih rendah daripada asisten profesor. Antara guru besar dan asisten profesor tidak ditemukan perbedaan yang berarti. Temuan ini tidak sejalan dengan riset terdahulu yang menyebut, dalam konteks Konfusianisme Tiongkok, jabatan akademik yang lebih tinggi berkaitan dengan hubungan antarpribadi yang lebih baik.
Alasan di balik pola itu, menurut para penulis, belum jelas. Mereka mengajukan gagasan tentang kerja tak terlihat. Profesor madya berada pada tahap karier menjelang guru besar dan kerap menanggung tuntutan layanan kelembagaan: membimbing, menjaga hubungan dengan kolega dan mahasiswa, duduk di komite, dan menghadiri rapat. Pekerjaan itu tidak dihargai secara resmi dalam sistem kenaikan jabatan, padahal menyita waktu dan tenaga dari kegiatan ilmiah.
Demi menjaga produktivitas riset, profesor madya mungkin membatasi kesempatan bergaul agar punya lebih banyak waktu untuk meneliti. Mereka juga sering menerima pendampingan yang lebih sedikit dibanding semasa menjadi asisten profesor. Guru besar memang menghadapi tuntutan yang lebih tinggi, tetapi memiliki jejaring dukungan sosial yang luas, otonomi, dan pengakuan. Sumber daya itu, tulis para penulis, dapat meredam tekanan kerja mereka.
Baca juga Nyeri Otot dan Sendi Terkait Kambuhnya Penyakit Kardiovaskular
Sesudah 2026: yang belum terjawab oleh satu survei
Batas temuan ini dinyatakan sendiri dalam naskah. Survei dilakukan pada satu waktu sehingga tidak dapat menetapkan sebab dan akibat. Pesertanya sukarelawan, maka hasilnya terutama berlaku bagi dosen dengan ciri serupa, bukan seluruh dosen Taiwan. Kelelahan dan faktor perilaku organisasi tidak ikut dianalisis. Keluhan otot serta mutu hidup pun dilaporkan sendiri oleh peserta, sehingga ingatan mereka bisa meleset.
Saran para penulis tertuju kepada kampus. “Universitas perlu mempertimbangkan untuk menerapkan intervensi kesehatan kerja, mendorong istirahat yang cukup, dan memperkuat dukungan psikososial, terutama bagi dosen yang menanggung beban keluhan otot dan rangka yang tinggi dan bagi profesor madya,” tulis Dr. Chih-Ching Liu dan Dr. Jiun-Yi Wang bersama tiga rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Mereka menambahkan bahwa studi yang mengikuti dosen dari waktu ke waktu masih diperlukan untuk memastikan kaitan tersebut.
Dalam rantai riset tentang tubuh para pengajar, naskah ini menambahkan faktor kerja yang menurut para penulisnya kerap terlewat, seperti jumlah hari libur dan kesempatan beristirahat. Riset lama berhenti pada guru sekolah, atau pada jam kerja dan jam mengajar. Liu dan rekan-rekannya menyimpulkan bahwa memperbaiki kesehatan otot dan rangka serta memastikan kesempatan pemulihan yang memadai dapat menyumbang pada mutu hidup dosen yang lebih baik.















