Merasa Sehat, Sebagian Pasien Darah Tinggi Sri Lanka Stop Obat

A A

Ilustrasi petugas memasang manset tensimeter di lengan pasien dengan stetoskop di meja [Foto: rawpixel.com/Wikimedia Commons, CC0]

  • Sebagian peserta hanya mengenali tablet darah tinggi dari warna atau bentuknya.
  • Beberapa peserta menghentikan obat selama tidak merasakan apa-apa lalu memulainya lagi ketika badan tidak enak.
  • Hanya sedikit peserta yang memiliki pengukur tekanan darah sendiri di rumah.
  • Sebagian besar peserta tahu garam perlu dikurangi tetapi tidak bisa menyebut batas hariannya.
Daftar Isi
  1. Tablet tanpa nama
  2. Tubuh yang terasa sehat
  3. Ruang periksa dan antrean
  4. Dapur dan tempat kerja
  5. Keluarga di rumah
  6. Batas satu rumah sakit

Seorang laki-laki 62 tahun di Colombo membedakan tablet darah tingginya dari rupa. Satu kecil dan putih, satu lagi jingga. Ia sudah 10 sampai 15 tahun hidup dengan darah tinggi, tetapi tidak tahu nama obat yang ditelannya. “Saya tidak tahu nama tablet saya. Yang satu kecil dan putih, yang lain jingga, begitulah cara saya membedakannya,” katanya.

Pengakuan itu dicatat Priyanga Ranasinghe, Charindie Peiris, Pumudu Weerasekara, Pulasthi B. Gunarathna, Hajanthy Jeyapragasam, Minura Manchanayake, dan David J. Webb. Artikel mereka, Barriers to hypertension management in a developing country: a qualitative study among patients with hypertension at the National Hospital of Sri Lanka, terbit di BMC Public Health volume 26 nomor artikel 1402 tahun 2026. Para penulis berasal dari Department of Pharmacology, Faculty of Medicine, University of Colombo, dan dari The University of Edinburgh.

Tempatnya National Hospital of Sri Lanka, rumah sakit rujukan terbesar di negeri itu, yang melayani pasien dari beragam lapisan tanpa memungut biaya. Di sebuah ruang tenang di dalamnya, 35 pasien darah tinggi dari klinik rawat jalan duduk dalam tujuh kelompok kecil dan bercerita, antara Oktober 2024 dan Juni 2025. Umur mereka 32 sampai 92 tahun, dan 20 di antaranya laki-laki.

Cerita mereka penting karena angka negerinya. Hampir satu dari tiga orang dewasa Sri Lanka diperkirakan mengidap darah tinggi, tulis para penulis. Yang lebih merisaukan mereka, hanya satu dari lima pengidap yang tekanan darahnya terkendali dengan baik. Dari ruang diskusi itu, mereka ingin mendengar langsung apa yang menghalangi pasien.

Tablet tanpa nama

Laki-laki dengan tablet putih dan jingga itu tidak sendirian. Sebagian peserta memang bisa menyebut nama dan kegunaan obatnya. Yang lain hanya mengenali tablet dari warna atau bentuknya. Banyak pula yang keliru mengira obat tertentu ditujukan untuk penyakit lain yang tidak berhubungan, tanda bahwa pemahaman mereka atas pengobatannya sendiri terpotong-potong.

Catatan klinis peserta memperlihatkan hal serupa. Sebelas orang meminum satu golongan obat darah tinggi, tujuh orang dua golongan, dan delapan orang tiga golongan. Sembilan orang sisanya, kira-kira satu dari empat peserta, tercatat tidak tahu berapa golongan obat yang mereka minum. Semua peserta sudah didiagnosis paling sedikit enam bulan dan berobat teratur.

Sembilan pasien tak tahu golongan obatnyaSatu golongan: Jumlah peserta +11; Dua golongan: Jumlah peserta +7; Tiga golongan: Jumlah peserta +8; Tidak tahu: Jumlah peserta +9.Sembilan pasien tak tahu golongan obatnyaJumlah golongan obat darah tinggi yang diminum 35 peserta, orang369120Satu golongan11Dua golongan7Tiga golongan8Tidak tahu9Pasien klinik rawat jalan National Hospital of Sri Lanka, Colombo.
Sumber: Priyanga Ranasinghe, Charindie Peiris, Pumudu Weerasekara, Pulasthi B. Gunarathna, Hajanthy Jeyapragasam, Minura Manchanayake, dan David J. Webb, Barriers to hypertension management in a developing country: a qualitative study among patients with hypertension at the National Hospital of Sri Lanka, BMC Public Health, 26(1402), 2026. Grafik: Cekricek.id

Menurut para penulis, mengenali obat hanya dari rupa membuka risiko salah minum atau salah pakai. Mereka menyebut pola yang sama pernah dicatat di pedesaan Bangladesh, tempat pasien bersandar pada warna atau rasa tablet, bukan namanya. Di Sri Lanka sendiri, ringkasan pulang rawat yang ditulis dalam bahasa ibu pasien terbukti memperbaiki pengetahuan tentang penyakit dan obat.

Angka di alat ukur pun sama asingnya. Hanya sebagian kecil peserta yang mengenal batas tekanan darah normal. Kebanyakan tidak tahu bahwa tekanan darah terdiri atas dua nilai, apalagi rentang yang menjadi sasaran pengobatan. Para penulis mengutip sebuah studi Sri Lanka lain: 75 persen pasien yang tahu angka tekanan darahnya pada kunjungan terakhir keliru mengira angka itu sudah memuaskan.

Tubuh yang terasa sehat

Dari lemari obat, cerita bergeser ke tubuh pasien sendiri. Seorang ibu rumah tangga 52 tahun, tujuh tahun mengidap darah tinggi, menjelaskan kebiasaannya dengan lugas. “Kadang tekanan darah saya menjadi normal. Kalau itu terjadi, saya menghentikan obat saya,” ujarnya. Kalimat itu, seperti semua ucapan peserta, disampaikan dalam bahasa Sinhala atau Tamil dan dimuat di naskah dalam bahasa Inggris.

Peserta lain, seorang laki-laki 60 tahun yang sudah 26 tahun mengidap darah tinggi berpegang pada keterangan dokternya. Penyakit ini tidak bisa disembuhkan, hanya bisa dikendalikan, sehingga ia meminum pilnya dalam keadaan apa pun. Beberapa peserta mengira tekanan darah hanya naik ketika ada gejala.

Akibatnya terlihat pada cara mereka berobat. Beberapa peserta menghentikan obat selama tidak merasakan apa-apa, lalu memulainya lagi ketika badan tidak enak atau ketika diingatkan di klinik. Para penulis membaca pola itu sebagai jarak antara pengertian medis tentang penyakit menahun dan keyakinan awam, tempat pasien bersandar pada rasa di badan untuk menentukan dirinya sakit atau tidak.

Kabar dari mulut ke mulut ikut menentukan. “Saya dengar obat-obat ini bisa merusak ginjal, jadi saya berhenti meminumnya. Lagi pula, tekanan saya sekarang normal,” kata seorang perempuan 51 tahun. Para penulis juga mencatat ketidakpercayaan pada mutu obat, terutama obat generik. Seorang laki-laki 60 tahun pernah mendengar bahwa olahraga berat tidak baik bagi orang yang punya tekanan darah tinggi.

Baca juga Dukungan Keluarga Gandakan Kepatuhan Obat Hipertensi di Kamboja

Alat pengukur tekanan darah mengikuti logika yang sama. Seorang perempuan 63 tahun biasanya memeriksakan tekanan darahnya ketika sakit kepala atau nyeri di sekitar mata. “Praktik pemantauan tekanan darah di antara peserta sebagian besar bersifat reaktif, bukan preventif, dengan pengukuran biasanya dilakukan hanya ketika muncul gejala seperti sakit kepala atau pusing,” tulis Priyanga Ranasinghe dan rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.

Di rumah, alat itu jarang ada. Hanya sedikit peserta yang memiliki pengukur tekanan darah sendiri, dan di antara mereka muncul keluhan alat rusak, baterai yang tidak terbeli secara rutin, serta kurangnya pengetahuan teknis. Peserta juga kurang paham cara mengukur yang benar, seperti posisi tubuh, waktu istirahat, dan jarak dari makan atau olahraga. Banyak yang tidak mampu mengukur sendiri.

Ruang periksa dan antrean

Di ruang periksa, waktu terasa sempit. Banyak peserta kecewa pada singkatnya konsultasi dan pada dokter yang mereka rasa kurang memperhatikan. “Beberapa dokter bahkan tidak menjawab ketika kami bertanya. Kami tidak bisa tahu apakah tekanan kami tinggi atau rendah,” kata seorang pensiunan manajer lapangan berusia 78 tahun. Rasa segan dan takut diabaikan membuat pasien urung bertanya.

Laki-laki yang sama menggambarkan kebingungan lain. Dokter yang berbeda mengatakan hal yang berbeda; yang satu menyebut suatu obat tidak mempan lalu menggantinya. “Seperti lima biksu mengkhotbahkan Dhamma dengan lima cara berbeda,” katanya. Lama-kelamaan ia merasa mungkin tidak perlu terlalu bergantung pada obat. Anjuran yang bertentangan, terutama antara pengobatan Barat dan tradisional, kadang berujung pada obat yang dihentikan atau diubah tanpa pengawasan.

Jalur layanan yang terpecah antara fasilitas pemerintah dan swasta menambah kusut. Seorang pensiunan polisi 60 tahun mula-mula diberi dosis 80 miligram. Apoteker kemudian menyuruhnya meminum 40 miligram saja, dengan alasan dosis lebih tinggi bisa merusak ginjal. Banyaknya pihak yang terlibat, termasuk praktisi bukan dokter dan saluran informal, membuat pengobatan dan tindak lanjut tidak seragam.

Rumah sakit itu sebenarnya punya ruang khusus edukasi kesehatan. Hampir tidak ada peserta yang mengetahuinya. Satu orang yang tahu menceritakan mengapa ruang itu tidak pernah ia datangi: dokter klinik memang pernah memberi tahu, tetapi saat itu jam makan siang sudah lewat, mereka lelah berdiri di antrean, lalu lupa dan tidak punya waktu lagi.

Baca juga Literasi Kesehatan Desa Thailand Naik, Gula Darah Ikut Turun

Bahasa juga menjadi sekat. Seorang laki-laki 59 tahun mengatakan tidak semua hal dijelaskan dengan cara yang mereka mengerti. Ia mengusulkan sesuatu yang sederhana. “Kalau mereka bisa membagikan selebaran kecil, walau hanya memuat beberapa penyakit umum, orang setidaknya akan membacanya begitu sampai di rumah,” katanya. Jam siaran yang tidak cocok dan rendahnya kecakapan digital turut disebut sebagai penghalang.

Jadwal minum obat pun kerap berbenturan dengan hari-hari pasien, terutama bila obat harus diminum beberapa kali sehari bersama obat penyakit lain. Seorang ibu rumah tangga 67 tahun mengakui waktu minum obatnya tidak cocok dengan rutinitasnya, tetapi ia belum pernah membicarakannya dengan dokter. Banyak peserta tidak tahu bahwa penyederhanaan dosis bisa dibicarakan.

Dapur dan tempat kerja

Keluar dari rumah sakit, hambatan itu berpindah ke tempat kerja. Seorang pensiunan sopir 63 tahun dinasihati agar tidak memaksakan diri, beristirahat, dan membatasi minyak. “Tetapi kadang kami hanya punya dua macam kari, sambal kelapa dan ikan, dan sesudah makan kami kembali bekerja berat. Bagi kami, keadaan ekonomilah yang paling penting,” ujarnya tentang pekerjaan yang membuatnya banyak berkeringat.

Di dapur, garam menjadi soal yang setengah dipahami. Sebagian besar peserta tahu garam perlu dikurangi, tetapi tidak bisa menyebut batas hariannya atau menerjemahkannya ke kebiasaan makan. “Tidak, kami tidak tahu bahwa makanan seperti roti, bun, atau mentega mengandung garam. Tidak ada yang pernah menyuruh kami menghindarinya,” kata seorang peserta. Hanya sedikit yang mengenali sumbangan makanan olahan.

Olahraga dan stres lebih kabur lagi. Segelintir peserta ingat pernah dinasihati berolahraga, tetapi sebagian mengira nasihat itu untuk penyakit lain, terutama diabetes, dan sebagian lain percaya gerak badan bisa berbahaya. Kecuali dua orang, peserta tidak tahu peran tekanan batin dalam pengendalian tekanan darah. Mereka juga mengaku tidak pernah diberi tahu soal itu.

Baca juga Kurangi Garam, Tekanan Darah Tetap Naik, Ini Sebabnya

Yang justru dikenal luas adalah ramuan dari kebun. Peserta menyebut daun markisa, nelli, daun kelor, ambarella, dan kowakka. Seorang ibu rumah tangga 53 tahun menumbuk dua buah nelli, merendamnya semalam, lalu meminum perasannya saat perut kosong. “Sejak saya mulai melakukan itu, diabetes, kolesterol, dan tekanan saya semuanya turun banyak,” katanya. Menurut para penulis, bersandar pada ramuan tanpa pengawasan dapat menunda pengobatan yang tepat.

Hambatan berobat darah tinggi di ColomboHambatan berobat darah tinggi di ColomboHambatan berobat darah tinggi di ColomboCakupan cerita pasien National Hospital of Sri Lanka35Pasienumur 32-92tahun7Kelompokdiskusidi rumah sakit4Temahambatan berobat22Subtemadi bawah empattemaJalan risetnya7 diskusi kelompok35 cerita pasien4 tema hambatanEmpat tema: literasi kesehatan, kepatuhan obat, pemantauan tekanandarah, gaya hidup.
Sumber: Priyanga Ranasinghe, Charindie Peiris, Pumudu Weerasekara, Pulasthi B. Gunarathna, Hajanthy Jeyapragasam, Minura Manchanayake, dan David J. Webb, Barriers to hypertension management in a developing country: a qualitative study among patients with hypertension at the National Hospital of Sri Lanka, BMC Public Health, 26(1402), 2026. Grafik: Cekricek.id

Keluarga di rumah

Di rumah, pasangan dan anak sering menjadi pengingat. Mereka mengingatkan jadwal obat, menyesuaikan masakan, dan menemani ke klinik. Tetapi tidak semua keluarga membantu, dan beberapa peserta melaporkan pendamping yang lama-lama lelah. Karena itu para penulis menilai keterlibatan keluarga perlu ditanamkan dalam perawatan darah tinggi, bukan dianggap akan terjadi dengan sendirinya.

Pengalaman pahit bekerja sebagai pengingat yang lain. Seorang ibu rumah tangga 53 tahun bercerita tentang kakak laki-laki ibunya yang tidak meminum obat dengan benar, terkena serangan jantung, lalu meninggal. “Itu selalu ada di pikiran saya,” katanya. Para penulis mencatat bahwa dorongan yang lahir dari rasa takut semacam itu cenderung memudar bila tidak terus diperkuat dengan penyuluhan.

Sebagian peserta menemukan caranya sendiri. Seorang perempuan 53 tahun menaruh semua obat di dekat tempat ia minum air agar ingat meminumnya sesudah makan. Seorang pensiunan teknisi kereta api 59 tahun selalu menyimpan obat di tas kantornya, sehingga dosis yang terlupa di rumah masih bisa diminum di tempat kerja. Ada pula yang menyimpan daftar obat di telepon genggam.

Batas satu rumah sakit

Para penulis menyebut sendiri batas temuan mereka. Semua cerita dikumpulkan di satu provinsi perkotaan, sehingga keberlakuannya di wilayah lain masih bisa dipertanyakan. Mereka juga tidak mencatat apakah tekanan darah tiap peserta sudah mencapai sasaran saat diskusi berlangsung. Lama mengidap penyakit yang sangat beragam membuka kemungkinan ingatan peserta tidak sepenuhnya tepat.

Karena berupa cerita pasien, temuan ini mereka minta dibaca sebagai gambaran awal, bukan bukti pasti tentang penyebab. Seberapa besar bobot tiap hambatan masih harus diukur lewat studi berangka. Simpulan mereka: tekanan darah yang kurang terkendali pada orang dewasa Sri Lanka berasal dari hambatan di sisi pasien, tenaga kesehatan, dan sistem layanan sekaligus.

Saran mereka mengikuti peta itu. Penyuluhan dalam bahasa ibu pasien, melibatkan media dan rumah sakit setempat. Pemeriksaan tekanan darah di rumah, atau setidaknya pemeriksaan rutin, didorong dengan bantuan biaya. Dokter dan tenaga kesehatan lain diajak lebih aktif menjelaskan dan mendampingi, sementara keluarga dan komunitas dilibatkan agar pasien tetap meminum obatnya.

Untuk pasien yang mengenali obat hanya dari rupanya, para penulis menyebut kebutuhan yang lebih dekat lagi: label yang disederhanakan, petunjuk bergambar, dan konseling apoteker setiap kali pasien mengambil obat ulang. Bagan obat bergambar dan kemasan yang diseragamkan, tulis mereka, terbukti membantu pasien mengingat.

Bagikan

Baca Juga

Negara Makin Inovatif Belum Tentu Makin Dekat ke Target SDGs
Makin Banyak Titik Nyeri, Makin Rendah Mutu Hidup Dosen Taiwan
Gizi Buruk Akut Balita di Sana'a Berkaitan dengan Tangan Pengasuh
Kena Kudis, Mahasiswa Belanda Tetap Mau Mengabari Teman Serumah
Anak Tunawisma Paris Penerima Paket Makanan Kurang Makan Sayur
Daun Gatal Jadi Andalan Suku Nuaulu Meredakan Nyeri Sendi