- Seluruh informan tinggal di Rohua, Sepa, Kabupaten Maluku Tengah.
- Daunnya dioleskan langsung ke kulit, dua sampai tiga kali sehari, tepat di bagian yang nyeri.
- Tanaman di urutan kedua, daun pandan, hanya 8,00, atau sepersepuluhnya.
- Batang sereh ditumbuk, kemudian direbus dalam air mendidih selama dua sampai tiga menit.
- Pada 1880-an mereka bergabung dengan komunitas Muslim Sepa.
Daftar Isi
Tiga helai, lima helai, atau tujuh helai. Di Rohua, Sepa, daun gatal dipetik dalam jumlah ganjil, lalu dioleskan ke bagian tubuh yang terasa nyeri atau pegal. Begitulah seorang warga suku Nuaulu menuturkan cara keluarganya menghadapi sendi yang sakit. Daunnya diambil dari sekitar pekarangan rumah.
Penuturan itu dicatat Arum Widiyaningsih, Wiwied Ekasari, Irawati Sholikhah, dan Retno Widyowati dalam artikel Family Important Value Tanaman Obat sebagai Terapi Nyeri Sendi oleh Suku Nuaulu di Pulau Seram, Maluku Tengah. Tulisan mereka terbit di Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes volume 15 nomor 2 tahun 2024. Keempatnya berasal dari Fakultas Farmasi Universitas Airlangga, Surabaya.
Yang mereka bawa pulang dari Pulau Seram adalah sebuah daftar pendek. Isinya lima tanaman yang dipakai orang Nuaulu secara turun-temurun untuk nyeri sendi. Satu dioles ke kulit. Empat lainnya direbus lalu diminum. Dari kelimanya, satu nama disebut jauh lebih sering daripada yang lain, yaitu daun gatal.
Rohua, Sepa
Seluruh informan tinggal di Rohua, Sepa, Kabupaten Maluku Tengah. Jumlahnya 20 orang. Pintu masuknya kepala suku Nuaulu, yang kemudian menunjuk orang-orang lain yang berpengalaman memakai tanaman sebagai obat. Percakapan berlangsung dalam bahasa Maluku dan Ambon.
Sebelas dari mereka laki-laki dan semuanya petani. Sembilan lainnya perempuan, ibu rumah tangga. Sebagian besar sudah berumur: 14 orang berusia 50 sampai 69 tahun, dua orang di atas 70 tahun, dan hanya empat orang di bawah 49 tahun. Pengetahuan ini, dengan kata lain, dituturkan terutama oleh orang-orang tua.
Sekolah mereka tidak tinggi, tetapi tak seorang pun tanpa sekolah. Tujuh orang tamat SD, tujuh orang tamat SMP, dan enam orang tamat SMA. Tidak ada yang bergelar diploma atau sarjana. Ilmu tentang daun dan rimpang itu tidak datang dari bangku sekolah. Dari mana datangnya, para informan menjawab sendiri. Beberapa mengaku memperoleh pengetahuan dan keterampilan mengobati lewat tradisi keluarga dan lewat mengamati. Ada pula yang belajar dari tubuhnya sendiri, yakni pernah sakit pada masa lalu lalu sembuh dengan obat tradisional.
Baca juga RFC 0,96, Tali Kuning Jawaban Utama Obat Malaria Suku Moi
Daun gatal
Nama ilmiahnya Laportea decumana, dari famili Urticaceae. Orang setempat menyebutnya daun sina atau daun gatal. Inilah satu-satunya dari lima tanaman itu yang tidak direbus dan tidak diminum. Daunnya dioleskan langsung ke kulit, dua sampai tiga kali sehari, tepat di bagian yang nyeri.
Para penulis mengukur seberapa penting tiap tanaman dengan angka yang mereka sebut Family Important Value, disingkat FIV. Angka itu dihitung dari seberapa sering sebuah tanaman disebut informan, dengan rentang 0 sampai 100. Makin dekat ke 100, makin penting famili tanaman itu bagi warga setempat.
Daun gatal mendapat nilai 80,00. Tanaman di urutan kedua, daun pandan, hanya 8,00, atau sepersepuluhnya. Tiga tanaman lain masing-masing 4,00. Jaraknya terlalu lebar untuk disebut persaingan. Menurut para penulis, hampir semua orang Nuaulu terbiasa menggosokkan daun ini pada bagian tubuh yang nyeri.
Kesimpulan mereka pun lurus. “Dari kelima jenis tanaman obat ini Laportea decumana merupakan tanaman utama untuk mengobati nyeri sendi,” tulis Arum Widiyaningsih bersama Wiwied Ekasari, Irawati Sholikhah, dan Retno Widyowati, peneliti Fakultas Farmasi Universitas Airlangga, dalam naskah mereka.
Kebiasaan itu tidak hanya milik Rohua. Naskah mencatat bahwa penduduk di Kepulauan Maluku memakai daun yang sama untuk mengobati rasa lelah serta nyeri pada persendian dan otot, juga dengan cara dioles. Seorang informan lain menyebut daun gatal sebagai yang paling sering dipakai, ditempel atau dioles di bagian yang sakit.
Para penulis lalu menyandingkan kebiasaan itu dengan riset laboratorium yang mereka rujuk. Ekstrak daun gatal dilaporkan menghambat Cox-2 dan menekan peradangan pada hewan uji, dua hal yang menopang dugaan daya pereda nyerinya. Di dalam tanaman itu ditemukan alkaloid, glikosida, steroid, flavonoid, tanin, dan saponin.
Hutan dan panci rebusan
Daun gatal tidak selalu ada di tangan. Seorang informan yang dicatat penulis sebagai P9 menjelaskan pilihannya: “Tanaman obat yang biasanya saya pakai dan keluarga untuk rasa pegal atau nyeri sendi itu kalau ke hutan saya ambil daun gatal, tapi kalau belum ke hutan saya rebus daun pandan saja.” Pandan menjadi pengganti selama hutan belum didatangi.
Takarannya tercatat rapi. Tiga sampai empat lembar daun pandan direbus dengan dua gelas air sampai tersisa satu gelas. Air itu diminum tiga kali sehari. Kumis kucing diperlakukan sama: daunnya direbus dengan dua gelas air hingga tinggal segelas, lalu diminum tiga kali sehari.
Sereh dan kencur ditumbuk lebih dulu. Batang sereh ditumbuk, kemudian direbus dalam air mendidih selama dua sampai tiga menit. Rimpang kencur diolah dengan cara yang persis sama. Air rebusan keduanya diminum dua kali sehari. Informan yang bercerita tentang daun ganjil tadi juga menyebut kencur dan batang serai sebagai pilihan.
Untuk keempat tanaman rebusan itu, para penulis kembali menengok uji pada hewan yang mereka rujuk. Ekstrak etanol daun serai wangi dilaporkan mengurangi rasa sakit pada mencit. Kencur, yang lama dipakai sebagai obat di Indonesia, disimpulkan memiliki sifat pereda nyeri. Ekstrak daun pandan menunjukkan efek antiradang pada mencit putih jantan.
Kumis kucing punya riwayat paling dekat dengan keluhan sendi. Naskah menyebut tanaman ini sudah lama dipakai untuk asam urat, radang sendi, dan sakit perut. Ekstrak etanol 50 persen darinya disebut memiliki sifat antirematik. Semua itu dikutip penulis dari riset lain, bukan diuji sendiri di Rohua.
Baca juga Etnobotani Dayak Meratus Catat 30 Tumbuhan, Daun Terbanyak
Dari puncak gunung ke pesisir
Orang Nuaulu tidak sejak awal tinggal di tepi laut. Menurut naskah, suku ini mula-mula hidup di puncak gunung dan berpindah-pindah. Seiring penduduk bertambah dan sarana di Pulau Seram berkembang, mereka turun ke pesisir selatan. Pada 1880-an mereka bergabung dengan komunitas Muslim Sepa.
Perpindahan itu tidak menghapus adat. Para penulis menyebut suku ini dikenal sebagai komunitas tradisional yang mempertahankan praktik adatnya di tengah perubahan sosial dan budaya yang cepat di sekelilingnya. Kebiasaan mengobati sendi dengan daun dari hutan dan pekarangan adalah salah satu yang ikut bertahan.
Maluku sendiri, tulis mereka, sejak dahulu dikenal sebagai penghasil rempah-rempah dengan sumber daya alam yang melimpah. Sebagian tanaman itu juga bisa menjadi bahan obat. Di Kecamatan Amahai, tanaman yang dipakai orang Nuaulu disebut mudah didapatkan. Obat mereka tumbuh di dekat rumah.
Sendi yang nyeri
Keluhan yang hendak diredakan daun-daun itu bukan perkara kecil. Naskah mengutip laporan WHO bahwa 365 juta orang di seluruh dunia menderita osteoartritis. Lutut menjadi sendi yang paling sering terkena, disusul pinggul dan tangan. Pada penduduk berusia di atas 15 tahun, osteoartritis lutut diderita 16,0 persen, kira-kira satu dari enam orang.
Angka Indonesia yang dikutip penulis berasal dari Riskesdas 2018. Osteoartritis tercatat pada 5 persen orang berusia di bawah 40 tahun, 30 persen pada usia 40 sampai 60 tahun, dan 65 persen pada usia di atas 61 tahun. Makin tua, makin besar kemungkinannya. Empat belas dari 20 informan di Rohua berusia 50 sampai 69 tahun.
Obat pereda nyeri yang lazim dianjurkan punya sisi lain. Para penulis mencatat obat antiinflamasi nonsteroid dikaitkan dengan efek samping pada saluran cerna, jantung dan pembuluh darah, serta ginjal. Kekhawatiran itulah, menurut mereka, yang membuat tanaman obat makin ramai diteliti.
Mereka juga menyebut sekitar 40 persen produk farmasi saat ini berbasis produk alami, banyak di antaranya berakar pada pengetahuan obat tradisional. Padahal jenis dan kegunaan tanaman obat orang Nuaulu, kata naskah, belum terdokumentasi dengan baik. Pengetahuan itu dinilai berharga dan penting diwariskan kepada generasi berikutnya.
Baca juga Nyeri Otot dan Sendi Terkait Kambuhnya Penyakit Kardiovaskular
Tabel yang perlu dibaca ulang
Ada batas yang diakui para penulis sendiri. Seluruh data berasal dari wawancara, sehingga subjektivitas peneliti ikut masuk ke dalam hasil. Mereka menyatakan sudah menekan bias itu dengan mencocokkan cerita informan dengan dokumen dan pengamatan langsung. Daftar ini juga hanya mewakili 20 orang di satu tempat.
Beberapa hal dalam naskah patut diperiksa pembaca. Pada tabel profil informan, 11 orang ditulis 55 persen, tetapi 4, 14, dan 2 orang pada baris umur ditulis 2, 7, dan 1 persen. Kumis kucing disebut Orthosiphon aristatus di tabel dan Orthosiphon stamineus di abstrak.
Angka FIV pun menyisakan tanya. Dengan rumus yang dicantumkan dan 20 informan, satu sebutan akan menghasilkan 5,00, sedangkan tiga tanaman tercatat 4,00. Naskah tidak memuat jumlah sebutan tiap tanaman, sehingga selisih itu tidak bisa ditelusuri. Urutan kelima tanaman tidak berubah karenanya.
Yang tetap tinggal adalah gambar dari pekarangan di Rohua itu. Tiga, lima, atau tujuh helai daun gatal, dipetik ganjil dan dioles ke sendi yang sakit. Kini hitungan itu punya angka pendamping: 80,00 dari skala seratus. Di belakangnya ada pandan, sereh, kencur, dan kumis kucing yang menunggu di panci rebusan.















