- Sepanjang masa itu muncul 10.511 kasus asma baru.
- Setiap tambahan satu gram natrium sehari berkaitan dengan risiko asma 15 persen lebih tinggi pada pria.
- Pada wanita berkalium rendah angkanya 74 persen, sedangkan pada wanita berkalium tinggi menyusut menjadi 27 persen.
- Sebagian besar peserta UK Biobank juga berlatar Kaukasia.
Daftar Isi
- Satu Pertanyaan Sederhana Membelah Peserta Menjadi Empat
- Penabur Garam Juga Lebih Sering Merokok dan Jarang Makan Buah
- Urin Menceritakan Hal yang Sama, Lebih Tajam pada Wanita
- Kalium Bekerja sebagai Penawar bagi Natrium
- Bagaimana Garam Bisa Sampai ke Saluran Napas
- Kaitan Ini Belum Menjadi Sebab dan Akibat
- Selisih Satu Kasus dan Rentang Angka yang Tidak Mungkin
Botol garam di meja makan biasanya dicurigai karena satu hal saja, yaitu jantung dan pembuluh darah. Jarang ada yang mengaitkan taburan terakhir di atas piring itu dengan dada yang sesak, napas yang berbunyi, dan penyakit yang letaknya di saluran udara. Padahal sebuah catatan panjang tentang ratusan ribu orang dewasa di Inggris Raya memperlihatkan bahwa keduanya berjalan beriringan. Makin sering garam ditambahkan ke makanan, makin banyak orang yang kemudian tercatat mengidap asma.
Catatan itu disusun Wufeng Huang, Daniel Nyarko Hukportie, Jing Kang, Wen Li, Laiyu Liu, Fu-Rong Li, dan Wei Chi dalam Association of sodium intake with incident asthma and the modifying role of potassium: insights from a prospective study, terbit di BMC Public Health tahun 2026 sebagai naskah yang sudah diterima dan belum bernomor volume. Sebagian besar penulisnya bekerja di Southern Medical University, China, dan satu orang di College of Community Health Nursing, Winneba, Ghana.
Yang mereka ikuti adalah 373.647 peserta UK Biobank, orang dewasa di England, Scotland, dan Wales yang semuanya belum mengidap asma ketika pertama kali didata. Separuh dari mereka diikuti lebih dari 15,4 tahun. Sepanjang masa itu muncul 10.511 kasus asma baru. Para peneliti lalu memeriksa di kelompok mana kasus itu lebih sering muncul, dan jawabannya mengarah ke kebiasaan kecil di meja makan.
Satu Pertanyaan Sederhana Membelah Peserta Menjadi Empat
Kepada setiap peserta diajukan satu pertanyaan: apakah Anda menambahkan garam ke makanan, di luar garam yang dipakai saat memasak? Pilihan jawabannya empat. Sebanyak 209.577 orang menjawab tidak pernah atau jarang, 104.148 orang kadang-kadang, 43.041 orang biasanya, dan 16.881 orang selalu. Jadi yang selalu menabur garam hanya kira-kira satu dari dua puluh dua peserta, sementara lebih dari separuh nyaris tidak pernah menyentuh botolnya.
Dibandingkan dengan mereka yang tidak pernah atau jarang, kelompok kadang-kadang hampir tidak berbeda. Rasio risikonya 1,02, dan rentang ketidakpastiannya masih melewati angka satu. Pada kelompok biasanya, rasio itu naik menjadi 1,09. Pada kelompok selalu, angkanya 1,27. Artinya, orang yang selalu menambah garam tercatat memiliki risiko asma 27 persen lebih tinggi, sesudah usia, rokok, pola makan, dan penyakit lain ikut diperhitungkan.
Kenaikan yang bertingkat itulah yang penting. Risiko tidak melompat di satu kelompok lalu hilang di kelompok lain, melainkan menanjak seiring makin seringnya garam ditabur. Sebelum gaya hidup dan penyakit penyerta dimasukkan ke hitungan, angka kelompok selalu bahkan mencapai 1,41. Penyesuaian memang mengikis kaitan itu, tetapi menurut para peneliti kaitan tersebut tetap bermakna pada dua kelompok teratas.
Baca juga Kurangi Garam, Tekanan Darah Tetap Naik, Ini Sebabnya
Penabur Garam Juga Lebih Sering Merokok dan Jarang Makan Buah
Persoalannya, orang yang rajin menabur garam berbeda dalam banyak hal lain. Di kelompok selalu, 23,3 persen masih merokok, hampir tiga kali kelompok tidak pernah atau jarang yang hanya 7,9 persen. Yang makan buah empat porsi atau lebih sehari cuma 15,4 persen, berbanding 24,6 persen. Mereka juga lebih jarang berolahraga teratur, 72,0 persen berbanding 77,5 persen, dan lebih sering menyantap daging olahan.
Karena itu kebiasaan menabur garam bisa saja hanya penanda pola hidup yang kurang sehat secara keseluruhan. Para peneliti mengakui kemungkinan tersebut. Mereka menulis bahwa jawaban peserta mungkin lebih mencerminkan kebiasaan makan yang buruk ketimbang asupan natrium yang sebenarnya. Itu sebabnya rokok, alkohol, olahraga, lama tidur, buah, sayur, ikan, dan daging ikut dimasukkan ke hitungan, dan kaitan garam dengan asma tetap bertahan sesudahnya.
Ada satu hal yang menguatkan jawaban peserta. Kadar natrium dalam urin mereka ikut naik dari satu kelompok ke kelompok berikutnya. Pada kelompok tidak pernah atau jarang, nilai tengahnya 63,5 milimol per liter. Pada kelompok selalu, 83,4 milimol per liter. Dengan kata lain, pengakuan di lembar pertanyaan itu sejalan dengan apa yang benar-benar dibuang tubuh mereka.
Urin Menceritakan Hal yang Sama, Lebih Tajam pada Wanita
Yang membuat temuan ini lebih kokoh adalah ukuran kedua, yang tidak bergantung pada ingatan peserta. Dari contoh urin sewaktu, para peneliti menaksir berapa gram natrium yang dikeluarkan tubuh dalam sehari. Peserta pria dan wanita masing-masing dibagi menjadi tiga kelompok sama besar, dari yang paling sedikit sampai yang paling banyak membuang natrium. Arahnya searah dengan jawaban di meja makan.
Pada pria, kelompok tengah nyaris tidak berbeda dari kelompok terendah, dengan rasio 1,03. Kelompok tertinggi mencatat 1,23. Pada wanita, kelompok tengah sudah menunjukkan rasio 1,10, dan kelompok tertinggi 1,32. Kurva yang digambar para peneliti memperlihatkan risiko yang terus menanjak bersama natrium, pada kedua jenis kelamin, tanpa titik tempat garis itu berbalik turun.
Selisih paling lebar tampak ketika natrium dihitung per gram. Setiap tambahan satu gram natrium sehari berkaitan dengan risiko asma 15 persen lebih tinggi pada pria. Pada wanita, angkanya 39 persen. Para peneliti tidak menjelaskan mengapa kaitan pada wanita lebih curam. Mereka hanya menyebut sebuah studi terdahulu juga menemukan kaitan yang lebih kuat pada wanita, dan meminta riset jangka panjang lain untuk memperjelasnya.
Baca juga PM2.5 Chiang Mai Telan Biaya Pernapasan Sampai 460 Ribu Dolar
Kalium Bekerja sebagai Penawar bagi Natrium
Di sinilah mineral kedua masuk. Kalium, tulis para peneliti, bekerja berlawanan dengan natrium: ia mendorong tubuh membuang natrium lewat urin dan sudah terbukti meredam beberapa akibat buruk natrium pada kesehatan. Belum pernah ada yang memeriksa apakah hal serupa berlaku untuk asma.
Peserta lalu dibelah menurut kadar kalium dalam urin, di bawah atau di atas nilai tengah. Hasilnya berbeda tajam. Pada pria berkalium rendah, tiap tambahan satu gram natrium berkaitan dengan risiko asma 26 persen lebih tinggi. Pada pria berkalium tinggi, hanya 9 persen. Pada wanita berkalium rendah angkanya 74 persen, sedangkan pada wanita berkalium tinggi menyusut menjadi 27 persen.
Bentuk peredamannya tidak sama pada kedua jenis kelamin. Pada pria, risiko yang menyertai natrium bertahan datar selama kadar kalium masih rendah, lalu baru menurun ketika kalium makin tinggi. Pada wanita, penurunan itu lebih lurus: makin tinggi kalium, makin lemah kaitan natrium dengan asma. Pada jawaban soal menabur garam, pola serupa hanya tampak samar dan tidak sampai bermakna secara statistik.
“Sepanjang pengetahuan kami, inilah studi pertama yang menunjukkan bahwa efek imunogenik kadar garam tinggi dalam terjadinya asma dapat diredam oleh kadar kalium urin sewaktu yang tinggi,” tulis Wufeng Huang dari Department of Respiratory and Critical Care Medicine Nanfang Hospital bersama enam rekannya, dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Mereka menyandingkannya dengan studi di 18 negara yang menemukan kalium tinggi meredam risiko kematian dan penyakit jantung pada orang bernatrium tinggi.
Bagaimana Garam Bisa Sampai ke Saluran Napas
Lalu lewat jalan mana garam sampai ke paru? Para peneliti tidak mengukurnya sendiri. Mereka merujuk percobaan pada sel manusia dan tikus yang memperlihatkan bahwa kadar natrium tinggi menekan kerja sel T regulator dan mengubah arah perkembangan sel kekebalan. Kedua proses itu ikut menjaga keseimbangan kekebalan di saluran napas. Natrium berlebih juga disebut dapat menggeser susunan mikroba di usus dan paru.
Kerangkanya begini. Makanan tertentu dapat memicu peradangan ringan di seluruh tubuh, yang menyiapkan saluran napas menjadi terlalu peka jauh sebelum asma didiagnosis. Kebiasaan makan garam, menurut mereka, mungkin berperan di tahap itu. Kalium diduga membantu dengan mengurangi radikal bebas dan gangguan pada dinding pembuluh darah yang dipicu garam. Namun mereka menegaskan jalur-jalur tersebut belum sepenuhnya terurai.
Gen ikut diperiksa, dan hasilnya tidak mengubah cerita. Kerentanan bawaan terhadap asma tidak memperkuat ataupun melemahkan kaitan garam dengan penyakit itu. Keduanya hanya bertumpuk. Peserta dengan kerentanan genetik tinggi yang selalu menabur garam mencatat rasio risiko 2,00 dibanding peserta berkerentanan rendah yang tidak pernah atau jarang menaburnya. Kira-kira dua kali lipat.
Baca juga Pasien Stroke yang Makan Sehat Malah Rentan Multimorbiditas
Kaitan Ini Belum Menjadi Sebab dan Akibat
Di titik ini penjelasan berhenti. “Sebagai studi observasional, temuan kami menetapkan adanya kaitan tetapi tidak dapat memastikan hubungan sebab-akibat, dan faktor perancu yang tersisa tidak dapat sepenuhnya disingkirkan meski penyesuaian sudah dilakukan secara luas,” tulis Huang dan kawan-kawan, diterjemahkan dari bahasa Inggris. Tidak seorang pun peserta diminta mengurangi garam atau menambah kalium untuk dilihat akibatnya.
Keterbatasan lain mereka sebut sendiri. Natrium dan kalium diukur dari satu contoh urin sewaktu, tanpa pengukuran ulang, sehingga belum tentu mewakili asupan bertahun-tahun dan naik-turunnya dari hari ke hari. Sebagian besar peserta UK Biobank juga berlatar Kaukasia. Karena itu, menurut para peneliti, hasil ini belum tentu berlaku bagi penduduk yang susunan etnisnya lebih beragam.
Dengan catatan itu, saran mereka tetap berhati-hati. Strategi kesehatan masyarakat yang mendorong asupan natrium lebih rendah dan barangkali kalium lebih tinggi, tulis mereka, bisa bermanfaat bagi pencegahan asma, terutama pada penduduk yang asupan garamnya tinggi. Mereka juga menyarankan orang didorong menyantap lebih beragam makanan kaya kalium. Kelompok dengan kerentanan genetik tinggi dan asupan garam tinggi disebut paling mungkin memetik manfaatnya.
Selisih Satu Kasus dan Rentang Angka yang Tidak Mungkin
Beberapa hal dalam naskah ini patut diperiksa pembaca. Teks menyebut 10.511 kasus asma baru, tetapi empat baris kebiasaan menabur garam di tabel hasil bila dijumlahkan menghasilkan 10.510. Di tabel subkelompok, baris lama tidur pria mencantumkan rasio 1,14 dengan rentang 1,06 sampai 1,13, batas atas yang lebih rendah daripada nilai tengahnya sendiri. Nomor proyek UK Biobank pun ditulis berbeda di dua tempat.
Pembahasannya juga menyebut kaitan garam dengan asma tidak bergantung pada jenis kelamin, padahal angka per gram natrium berbeda jauh, 15 persen pada pria dan 39 persen pada wanita. Satu kalimat kunci tentang kalium bahkan kehilangan kata kerjanya. Naskah ini memang versi yang sudah diterima tetapi belum disunting akhir, sehingga kekeliruan semacam itu masih mungkin diperbaiki.
Botol garam di meja makan itu, pada akhirnya, ternyata punya urusan dengan napas juga. Pada ratusan ribu orang dewasa Inggris Raya, mereka yang selalu menaburnya lebih sering tercatat mengidap asma belasan tahun kemudian, dan kaitan itu melemah pada tubuh yang kaliumnya tinggi. Apakah garam sendiri yang membuka jalan bagi penyakit itu, catatan ini belum bisa menjawabnya.













