- Selama masa itu tercatat 4.380 kasus migrain baru.
- Peserta yang tidur 7 sampai 8 jam mempunyai risiko 24 persen lebih rendah daripada mereka yang tidur kurang dari tujuh atau lebih dari delapan jam.
- Kelompok yang duduk lebih dari empat jam sehari mencatat risiko 23 persen lebih tinggi daripada kelompok yang duduk paling lama dua jam.
- Penelitian ini bersifat pengamatan sehingga tidak dapat menetapkan sebab dan akibat.
Daftar Isi
Tahun 2006 UK Biobank mulai merekrut pesertanya. Sampai 2010, lebih dari 500.000 orang berusia 37 sampai 73 tahun di seluruh Inggris Raya ikut serta. Mereka menjawab pertanyaan di layar sentuh tentang hal-hal yang tampak sepele: berapa jam tidur, berapa jam menonton televisi, berapa lama menyetir.
Enam belas tahun kemudian, jawaban itu dibaca ulang untuk satu penyakit, yaitu migrain. Pembacanya Lily Zhang, Yanhao Xu, Yuexiu Lei, Zhengming Shan, Ying Huang, Wen Yan, Shikuan Ding, Jun Yang, dan Zheman Xiao. Artikel mereka, Associations of sleep, sedentary behavior, and physical activity with incident migraine: a prospective cohort study, terbit di BMC Public Health volume 26 nomor 1365 tahun 2026.
Hampir semua penulis bekerja di Departemen Neurologi Renmin Hospital of Wuhan University, Tiongkok. Jun Yang berasal dari Wuhan University of Technology. Mereka memakai catatan 484.588 peserta yang belum mengidap migrain ketika pertama kali didata.
2006–2010: Jawaban di Layar Sentuh
Pada masa perekrutan itu, tiap peserta melaporkan sendiri kebiasaan hariannya. Soal tidur ditanyakan lewat lima hal: lama tidur dalam 24 jam termasuk tidur siang, kecenderungan sebagai orang pagi atau orang malam, sulit tidur, mendengkur, dan terkantuk tanpa sengaja pada siang hari.
Dari lima hal itu para penulis menyusun skor tidur. Satu poin diberikan untuk tiap kebiasaan yang dinilai sehat, yakni tidur 7 sampai 8 jam sehari, cenderung orang pagi, tidak atau jarang sulit tidur, tidak mendengkur, dan jarang terkantuk di siang hari. Skor 4 atau 5 digolongkan sehat, 2 atau 3 sedang, 0 atau 1 buruk.
Catatan awal menunjukkan 36,8 persen peserta berskor sehat dan 58,6 persen berskor sedang. Hanya 4,6 persen yang berskor buruk. Dua dari tiga peserta, tepatnya 67,6 persen, tidur 7 sampai 8 jam sehari.
Duduk yang dicatat adalah duduk di waktu senggang. Jumlahnya dihitung dari jam menonton televisi, memakai komputer, dan menyetir dalam sehari. Nilai tengahnya 4,5 jam sehari. Lebih dari separuh peserta, 53,2 persen, masuk kelompok duduk tinggi, yaitu di atas empat jam.
Peserta yang didata itu umumnya berkulit putih, dengan nilai tengah usia 58 tahun. Laki-laki 46,3 persen. Gerak badan mereka, dari yang ringan sampai yang berat, juga dilaporkan sendiri. Nilai tengahnya 0,9 jam sehari.
Sampai 2022: 4.380 Kasus Baru
Sesudah pendataan awal, para peserta diikuti lewat catatan rawat inap dan laporan mereka sendiri. Pengamatan ditutup pada 31 Mei 2022 di Wales, 31 Agustus 2022 di Skotlandia, dan 31 Oktober 2022 di Inggris. Nilai tengah masa pengamatannya 13,63 tahun.
Selama masa itu tercatat 4.380 kasus migrain baru. Sebanyak 3.173 di antaranya perempuan, atau 72,4 persen, sedangkan laki-laki 1.207 orang. Para penulis menyebut jumlah perempuan kira-kira 2,6 kali jumlah laki-laki.
Kelompok yang kemudian terkena migrain sedikit lebih muda. Tingkat pendidikan mereka lebih rendah dan lebih banyak yang hidup dalam kemiskinan. Sejak awal skor tidur mereka lebih rendah, pola tidurnya kurang sehat, dan waktu gerak badannya lebih pendek.
Besarnya catatan itu ditegaskan penulisnya sesudah angka-angka tadi berdiri. “Studi kohort prospektif terhadap sekitar 0,48 juta orang dewasa ini, sepanjang pengetahuan kami, adalah yang terbesar sampai saat ini yang menelaah kaitan tidur, aktivitas fisik, dan perilaku sedenter dengan migrain baru,” tulis Zhang dan rekan-rekannya dalam naskah berbahasa Inggris itu.
Baca juga Sindrom Sirkadian Prediktor Kuat Gangguan Kognitif Lansia
Jam Ketujuh, Titik Terendah Risiko
Temuan pertama menyangkut lama tidur. Hubungannya dengan migrain berbentuk huruf U, dengan titik terendah pada tujuh jam sehari. Peserta yang tidur 7 sampai 8 jam mempunyai risiko 24 persen lebih rendah daripada mereka yang tidur kurang dari tujuh atau lebih dari delapan jam.
Arah hubungan itu berbalik di jam ketujuh. Pada peserta yang tidur kurang dari tujuh jam, tiap tambahan satu jam tidur terkait dengan risiko 20 persen lebih rendah. Sesudah tujuh jam, tiap tambahan satu jam justru terkait dengan risiko 12 persen lebih tinggi.
Skor tidur bergerak lurus. Tiap kenaikan satu poin terkait dengan risiko migrain 16 persen lebih rendah. Dibandingkan dengan kelompok berskor buruk, kelompok berskor sedang mencatat risiko 21 persen lebih rendah. Kelompok berskor sehat mencatat 40 persen lebih rendah.
Ada satu catatan pada garis lurus itu. Para penulis menulis bahwa risiko yang lebih rendah baru terlihat ketika skor tidur melampaui tiga. Kaitan lama tidur dengan migrain juga lebih menonjol pada peserta perempuan daripada peserta laki-laki.
Sesudah Dua Setengah Jam Duduk
Temuan kedua menyangkut duduk di waktu senggang. Risiko migrain relatif datar sampai kira-kira 2,5 jam sehari. Sesudah itu risikonya mulai naik dengan cepat. Di atas batas tersebut, tiap tambahan satu jam duduk terkait dengan risiko 3 persen lebih tinggi.
Kelompok yang duduk lebih dari empat jam sehari mencatat risiko 23 persen lebih tinggi daripada kelompok yang duduk paling lama dua jam. Angka itu diperoleh sesudah usia, jenis kelamin, pendapatan, penyakit penyerta, dan sejumlah hal lain ikut diperhitungkan.
Tiga jenis duduk itu tidak sama bobotnya. Peserta yang memakai komputer lebih dari dua jam sehari mencatat risiko 16 persen lebih tinggi daripada yang memakainya paling lama satu jam. Untuk menonton televisi dan menyetir, perbedaannya tidak bermakna secara statistik pada perhitungan yang paling lengkap.
Gerak badan memberi hasil yang lebih rumit. Tidak satu pun golongannya, ringan, sedang, berat, atau jumlah seluruhnya, terkait bermakna dengan migrain sesudah semua faktor diperhitungkan. Kurvanya tetap berbentuk U. Gerak dalam takaran sedang tampak terkait dengan risiko lebih rendah, sedangkan takaran sangat rendah dan sangat tinggi menunjukkan taksiran risiko yang naik.
Ketika tidur dan duduk digabungkan, tidur lebih menentukan. Peserta berskor tidur buruk yang banyak duduk mencatat risiko 1,76 kali kelompok pembanding. Peserta berskor tidur buruk yang sedikit duduk mencatat 1,98 kali, angka tertinggi dari sembilan gabungan. Pembandingnya adalah peserta yang sedikit duduk dan berskor tidur sehat.
Baca juga Kembali ke Kantor di Taipei, Nyeri Otot dan Cemas Pekerja Naik
Satu Jam yang Dipindahkan ke Tidur
Langkah berikutnya berupa hitungan pengandaian. Para penulis menaksir apa yang terjadi bila satu jam duduk diganti dengan satu jam tidur. Selama hasilnya tidak melewati tujuh jam tidur, pertukaran itu terkait dengan risiko migrain 14 persen lebih rendah pada seluruh peserta.
Pada peserta yang kurang tidur, angkanya lebih besar, yakni 20 persen lebih rendah. Sebaliknya, pada peserta yang sudah tidur lebih dari tujuh jam, mengganti duduk dengan tidur terkait dengan risiko 13 persen lebih tinggi. Pola ini sejalan dengan kurva U pada lama tidur.
Hasil serupa muncul ketika yang diganti adalah waktu gerak badan. Menukar satu jam gerak dengan tidur, selama tidur tidak melewati tujuh jam, terkait dengan risiko 14 persen lebih rendah. Pada yang kurang tidur angkanya 20 persen. Pada yang sudah tidur lebih dari tujuh jam, risikonya 12 persen lebih tinggi.
Dari sana para penulis menduga bahwa bagi sebagian orang, terutama yang kurang tidur, manfaat tambahan tidur bisa melebihi manfaat bergerak. Mereka sendiri memberi pagar pada hitungan itu. “Taksiran kami dengan demikian mewakili efek penggantian hipotetis, bukan perubahan perilaku yang benar-benar diamati,” tulis mereka, juga dalam bahasa Inggris.
Sebagian peserta kemudian menjalani pemindaian otak. Lama tidur terkait dengan ukuran banyak wilayah korteks serta beberapa wilayah di bawahnya, antara lain amigdala, hipokampus, dan talamus. Duduk di waktu senggang terutama terkait dengan girus insula dan ventrikel lateral. Gerak badan tidak menunjukkan kaitan bermakna dengan ukuran wilayah otak mana pun.
Baca juga Layar Sebelum Usia Dua Tahun Terkait Skor Kembang Rendah
2026: Yang Belum Terjawab
Ketika naskah terbit pada 2026, para penulis mencantumkan batas-batasnya. Penelitian ini bersifat pengamatan sehingga tidak dapat menetapkan sebab dan akibat. Arah hubungannya pun bisa terbalik: migrain sendiri mungkin mengubah pola tidur dan lama duduk seseorang.
Batas lain menyangkut cara mencatat. Tidur, duduk, dan gerak badan seluruhnya dilaporkan peserta sendiri, satu kali, di awal. Duduk yang dihitung hanya duduk di waktu senggang, tidak termasuk duduk saat bekerja. Diagnosis migrain diambil dari kode rawat inap dan laporan peserta, bukan dari klasifikasi sakit kepala yang menjadi standar klinis.
Akibatnya, banyak kasus ringan kemungkinan tidak tercatat. Para penulis menyebut pengidap migrain pada pendataan awal hanya sekitar 3,1 persen, jauh di bawah kira-kira 12 persen pada penduduk umum. Mereka menduga kaitan yang sebenarnya bisa lebih kuat daripada yang teramati.
Beberapa bagian naskah juga patut dicek pembaca. Tiga kelompok duduk disebut dibagi menurut tertil, tetapi isinya 11,0 persen, 35,8 persen, dan 53,2 persen. Insula digolongkan korteks di bagian hasil, lalu disebut bersama wilayah subkorteks di bagian pembahasan.
Catatan ini berhenti pada 2022, saat pengamatan ditutup, dan pada 2026, saat naskahnya terbit. Para penulis menyebut temuan mereka sebagai hipotesis untuk uji pencegahan sesudahnya. Uji itu belum ada dalam naskah ini.














