Pelari Rekreasi Turki yang Merasa Didukung Lebih Puas Hidupnya

A A

Ilustrasi peserta Maraton Istanbul di atas jembatan gantung saat cuaca mendung, 7 November 2021 [Foto: Aboodii007/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

  • Pelari yang merasa lebih didukung cenderung lebih puas dengan hidupnya.
  • Rasa didukung juga berjalan seiring dengan kemampuan mengelola stres lewat kegiatan waktu luang.
  • Sebagian kaitan antara dukungan dan kepuasan hidup berjalan lewat cara pelari mengelola stres.
  • Lebih dari separuh peserta, 54,4 persen, berlari dalam kelompok.
Daftar Isi
  1. Tiga Ratus Enam Puluh Satu Pelari yang Datang ke Mersin
  2. Dukungan yang Dirasakan dari Keluarga, Teman, dan Seseorang yang Istimewa
  3. Stres yang Dikelola Lewat Waktu Luang, Mata Rantai di Tengah
  4. Lari Dibaca sebagai Ruang Sosial, Tidak Hanya Olah Tubuh
  5. Batas yang Ditulis Sendiri dan Angka yang Tak Saling Cocok

Saling bersorak, saling menyemangati menuju tujuan lari yang sama. Begitulah empat peneliti menggambarkan ajang lari rekreasi. Di Mersin, Turki, mereka bertanya kepada 361 pelari: apakah rasa ditopang orang lain berjalan seiring dengan hidup yang terasa lebih memuaskan? Jawabannya ya. Sebagian jalannya melewati satu hal, yaitu cara para pelari itu mengelola stres.

Jawaban itu dimuat dalam Modeling social support and life satisfaction in running groups through stress management, terbit di BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Penulisnya Ezgi Kurşun dan Hüseyin Gümüş dari Department of Sport Sciences, Mersin University, Junhyoung Kim dari School of Public Health, Texas A&M University, serta Nezaket Bilge Uzun dari Department of Education, Mersin University.

Mundur sejenak ke alasan mereka memilih lari. Hidup modern, tulis keempatnya, membawa sumber stres baru: urbanisasi yang meningkat, jadwal kerja yang menuntut, tekanan untuk mengikuti laju yang serba cepat. Waktu luang, yakni waktu bebas di luar pekerjaan dan kewajiban hidup, mereka sebut sebagai salah satu sumber daya penting untuk menghadapinya.

Lari rekreasi masuk ke situ dengan mudah. Kegiatan ini gampang dijangkau, hampir tidak butuh peralatan, dan dinikmati orang dari semua lapisan tanpa memandang kelas. Orang berlari di waktu luang untuk bersenang-senang dan melepas stres. Dalam satu kajian yang dirujuk naskah, banyak pelari rekreasi bahkan menyebut kegiatan itu semacam terapi.

Tiga Ratus Enam Puluh Satu Pelari yang Datang ke Mersin

Mersin dipilih karena ajang larinya rutin, pesertanya ramai, dan komunitas pelarinya mudah ditemui. Para pelari itu mengikuti ajang yang digelar di Mersin dan sekitarnya sepanjang 2024 sampai 2025. Yang datang tidak hanya orang setempat. Pelari dan kelompok lari dari wilayah lain di Turki ikut ambil bagian.

Dari 361 orang itu, 147 perempuan dan 214 laki-laki. Kira-kira dua dari lima peserta adalah perempuan, tepatnya 40,7 persen. Semuanya berusia 18 tahun ke atas. Mereka bukan atlet yang mengejar podium. Naskah menyebut mereka atlet rekreasi, orang yang berlari di waktu luangnya.

Seberapa sering mereka berolahraga? Hampir separuh, 47,1 persen, melakukannya dua sampai empat kali seminggu. Sebanyak 36,6 persen hanya sekali seminggu atau kurang. Sisanya kelompok paling tekun. Mereka berolahraga lima kali seminggu atau lebih, dan jumlahnya 59 orang atau 16,3 persen.

Seberapa sering mereka berolahragaSekali seminggu atau kurang: Persen dari 361 pelari +36,6%; 2-4 kali seminggu: Persen dari 361 pelari +47,1%; 5 kali seminggu atau lebih: Persen dari 361 pelari +16,3%.Seberapa sering mereka berolahraga361 pelari rekreasi di ajang lari Mersin, Turki10%20%30%40%50%0Sekali seminggu atau kurang36,6%2-4 kali seminggu47,1%5 kali seminggu atau lebih16,3%Jumlah orang: 132, 170, dan 59.
Sumber: Ezgi Kurşun, Junhyoung Kim, Hüseyin Gümüş, Nezaket Bilge Uzun, Modeling social support and life satisfaction in running groups through stress management, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Satu angka lain memberi warna pada judul naskah yang menyebut kelompok lari. Lebih dari separuh peserta, 54,4 persen, berlari dalam kelompok. Sisanya, 45,6 persen, berlari sendiri. Jadi hampir separuh dari mereka yang ditanya soal dukungan itu justru terbiasa berlari tanpa kawan di sampingnya.

Baca juga Warga Prek Pnov Kamboja Rela Bayar Klub Kesehatan Kampung

Dukungan yang Dirasakan dari Keluarga, Teman, dan Seseorang yang Istimewa

Dukungan yang diukur di sini adalah dukungan yang dirasakan. Sumbernya tiga: keluarga, teman, dan satu orang yang istimewa bagi si pelari. Ketiganya nyaris sama tinggi. Skor rata-rata untuk keluarga 21,94, untuk teman 22,05, dan untuk orang yang istimewa 22,26, masing-masing pada rentang 4 sampai 28.

Kalau dijumlahkan, rata-rata dukungan yang dirasakan para pelari itu 66,25 pada rentang 12 sampai 84. Angka itu condong ke ujung atas. Para pelari Mersin, dengan kata lain, umumnya merasa ada orang yang menopang mereka. Kepuasan hidup bercerita lain. Rata-ratanya 15,36 pada rentang 5 sampai 25. Di antara tiga hal yang diukur, hanya yang satu ini sebaran jawabannya nyaris seimbang ke atas dan ke bawah. Dua lainnya menumpuk di skor tinggi.

Lalu keduanya dipertemukan. Pelari yang merasa lebih didukung cenderung lebih puas dengan hidupnya. Kekuatan hubungan itu 0,35, yang digolongkan naskah sebagai sedang. Dari tiga hubungan yang diperiksa, inilah yang paling erat. Para penulis membacanya dengan gambaran penyangga. Dukungan yang dirasakan, tulis mereka, dapat dianggap bekerja sebagai peredam ketika situasi menekan datang, dan itu menaikkan kepuasan hidup. Mereka juga merujuk kajian lain: jejaring sosial yang terbentuk di ajang lari dan keikutsertaan bersama-sama membuat orang makin terlibat dan makin menikmati acaranya.

Stres yang Dikelola Lewat Waktu Luang, Mata Rantai di Tengah

Di sinilah ceritanya berbelok. Mengelola stres, dalam naskah ini, berarti mengatasi stres lewat kegiatan waktu luang. Ada tiga sisinya: punya teman di waktu luang, jeda sementara dari tekanan, dan suasana hati yang membaik. Rata-rata skornya 80,85 pada rentang 15 sampai 105. Rasa didukung juga berjalan seiring dengan kemampuan mengelola stres lewat kegiatan waktu luang. Hubungannya lebih tipis, 0,23, dan naskah menyebutnya lemah. Begitu pula kaitan antara kemampuan mengelola stres dan kepuasan hidup, yang hanya 0,20. Lemah, tetapi ketiganya searah dan bermakna secara statistik.

Tiga hubungan, semuanya searahTiga hubungan, semuanya searahTiga hubungan, semuanya searahMakin tinggi yang satu, makin tinggi yang lainKorelasiKoefisien jalur0,350,37Dukungan dan puashidup0,230,26Dukungan dankelola stres0,200,23Kelola stres danpuas hidupDengan kelola stres ikut dihitung, 0,37 turun menjadi 0,33.
Sumber: Ezgi Kurşun, Junhyoung Kim, Hüseyin Gümüş, Nezaket Bilge Uzun, Modeling social support and life satisfaction in running groups through stress management, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Titik baliknya ada pada satu penurunan kecil. Ketika dihitung berdua saja, kaitan dukungan dengan kepuasan hidup berkekuatan 0,37. Begitu kemampuan mengelola stres ikut dimasukkan, angka itu turun menjadi 0,33. Turun, tetapi tidak hilang. Artinya begini. Sebagian kaitan antara dukungan dan kepuasan hidup berjalan lewat cara pelari mengelola stres. Sebagian besar lainnya tetap berjalan langsung, tanpa perantara itu. Naskah menamainya perantaraan sebagian. Seandainya angka tadi turun sampai habis, barulah seluruh kaitan bisa dikatakan lewat pengelolaan stres. Itu tidak terjadi.

Keempat dugaan awal para peneliti pun diterima. Dukungan berkaitan dengan kepuasan hidup. Dukungan berkaitan dengan pengelolaan stres. Pengelolaan stres berkaitan dengan kepuasan hidup. Dan pengelolaan stres menjadi perantara di antara dua yang lain.

Baca juga Kunjungan ke Ruang Biru dan Kesehatan Mental Lansia Jepang

Lari Dibaca sebagai Ruang Sosial, Tidak Hanya Olah Tubuh

Dari angka-angka itu para penulis melangkah ke pembacaan yang lebih luas. Ikut lari rekreasi sebagai kegiatan waktu luang, menurut mereka, tampak menopang tumbuhnya cara mengatasi stres yang lebih efektif. Dari situ kepuasan hidup para pesertanya ikut terangkat. “Hasil ini menunjukkan bahwa kegiatan waktu luang semestinya dipandang tidak hanya sebagai wadah aktivitas fisik, tetapi juga sebagai lingkungan sosial yang bermakna, tempat sumber daya psikologis untuk mengatasi tekanan dikembangkan,” tulis Ezgi Kurşun dari Department of Sport Sciences, Mersin University, bersama tiga rekannya. Naskah mereka berbahasa Inggris.

Ada usul praktis yang menyertainya. Program kegiatan waktu luang, tulis mereka, sebaiknya dirancang tidak hanya untuk menggerakkan badan. Program itu juga perlu memberi tempat bagi pengelolaan stres yang disadari dan bagi interaksi sosial. Program lari rekreasi yang disusun demikian mereka nilai bisa menjadi alat yang berkelanjutan untuk menaikkan kesejahteraan psikologis dan kepuasan hidup pesertanya.

Sumbangan yang mereka klaim terletak pada penggabungan. Dukungan sosial, cara mengatasi stres lewat waktu luang, dan kepuasan hidup selama ini kerap diteliti sendiri-sendiri. Naskah ini menaruh ketiganya dalam satu rangkaian penjelasan, dengan pengelolaan stres sebagai mata rantai di tengah.

Perlu dicatat apa yang tidak dikatakan data. Yang ditemukan adalah hubungan yang berjalan bersama, bukan bukti bahwa yang satu menimbulkan yang lain. Para penulis sendiri menyebut hubungan sebab-akibat dalam rancangan mereka dibangun secara teoretis. Urutan dukungan, lalu stres, lalu kepuasan hidup adalah kerangka yang mereka ajukan sejak awal.

Baca juga Satu Modul Kesehatan Jiwa, Dua Hasil di Riyadh dan Kuala Lumpur

Batas yang Ditulis Sendiri dan Angka yang Tak Saling Cocok

Batas penelitian ini ditulis singkat oleh para penulisnya. Pesertanya terbatas pada pelari rekreasi yang mengikuti ajang lari di Mersin dan provinsi sekitarnya selama 2024 sampai 2025. Untuk riset berikutnya mereka menyarankan jenis kegiatan rekreasi lain ikut diperiksa, agar terlihat seberapa penting jenis kegiatannya.

Beberapa hal di dalam naskah bisa diperiksa pembaca. Pada tabel uji perantaraan, efek langsung ditulis 0,0532, padahal rentang kepercayaannya 0,058 sampai 0,271. Efek total ditulis 0,0503 dengan rentang 0,105 sampai 0,307. Kedua angka itu berada di luar rentangnya sendiri, dan efek total tercatat lebih kecil daripada efek langsung.

Tabel dugaan menamai angka 0,33 sebagai efek tidak langsung, sedangkan teks menyebutnya kaitan langsung yang tersisa. Jumlah pelari berkelompok dan pelari sendiri, 196 dan 164 orang, hanya 360, kurang satu dari 361. Di bagian pembahasan masih tertinggal penanda rujukan yang belum diisi.

Kembali ke lintasan di Mersin. Sorak antarpelari yang digambarkan para penulis itu tidak pernah diukur satu per satu; yang diukur adalah rasa ditopang keluarga, teman, dan seseorang yang istimewa. Pada 361 pelari, rasa itu berjalan bersama hidup yang dinilai lebih memuaskan, dan sebagian kecil jalannya melewati stres yang berhasil dikelola di waktu luang.

Bagikan

Baca Juga

Kanker Asbes Masih Datang di Italia, 30 Tahun Setelah Dilarang
Ibu Hamil di Sokoto Memilih Lapar daripada Menantang Bandit
Keinginan Punya Anak Tak Selalu Lahir dari Pernikahan Bahagia
Sulit Makan, Pengungsi Suriah di Turki Memikul Cemas Lebih Berat
Tenaga Kesehatan Palestina Masih Memandang Miring Pasien Gemuk
Batu Ginjal Lebih Sering Datang pada Tubuh Gemuk Berotot Lemah