- Sebanyak 70,0 persen ibu di dua wilayah itu makan kurang dari lima kelompok pangan dalam sehari.
- Namun, makanan itu sendiri tidak lenyap dari Sokoto.
- Separuh responden mengaku kadang-kadang mengurangi jatah makannya sendiri demi anak, 29,3 persen sering melakukannya, dan 2,1 persen selalu.
- Sebanyak 63,5 persen ibu tidak pernah menerimanya dan hanya 1,7 persen yang menerima secara rutin, sementara hampir dua pertiga responden menilainya tidak atau kurang efektif.
Daftar Isi
Orang kelaparan karena makanan tidak ada, begitulah anggapan yang paling mudah dipercaya tentang daerah konflik. Di Illela dan Sabon-Birni, dua wilayah di Negara Bagian Sokoto, Nigeria barat laut, anggapan itu patah di hadapan para ibu hamil dan menyusui yang tahu persis di mana makanan berada, tetapi menimbang bahwa jalan menuju ke sana, melewati ladang dan pasar yang dibayangi bandit, bisa lebih mahal daripada rasa lapar itu sendiri.
Gambaran itu disusun Lauriya Yusuf dan Jimoh Amzat, keduanya dari Departemen Sosiologi Usmanu Danfodio University di Sokoto, dalam When safety competes with nutrition: maternal dietary diversity and coping strategies in conflict-affected Sokoto State, Nigeria, yang terbit di BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Mereka menanyai 768 perempuan hamil dan menyusui berusia 18 sampai 49 tahun, separuh di Illela dan separuh di Sabon-Birni, lalu mendengarkan sebagian dari mereka bercerita dalam wawancara dan diskusi kelompok.
Piring yang Menyempit Menjadi Biji-bijian
Ukurannya sederhana, yakni berapa dari sepuluh kelompok pangan, mulai dari biji-bijian dan umbi, kacang-kacangan, susu, daging dan ikan, telur, sampai sayur dan buah, yang masuk ke piring seorang ibu dalam sehari semalam, dengan lima kelompok sebagai batas cukup. Sebanyak 70,0 persen ibu di dua wilayah itu makan kurang dari lima kelompok pangan dalam sehari. Itu kira-kira tujuh dari setiap sepuluh ibu, sedangkan yang piringnya tergolong beragam tinggi, enam kelompok atau lebih, hanya 0,8 persen.
Angka itu punya rupa di dapur, dan seorang ibu menyusui di Illela melukiskannya kepada pewawancara. “Kami makan makanan yang sama hampir setiap hari, kebanyakan biji-bijian. Buah, sayur, atau daging kini seperti barang mewah. Saya tidak ingat kapan terakhir kali kami makan ikan atau telur,” katanya, dalam kutipan yang dimuat naskah dalam bahasa Inggris. Hampir tiga perempat responden, tepatnya 74,6 persen, menyebut ragam pangan di sekitar mereka berkurang sejak konflik.
Kemerosotan itu tidak berhenti pada jumlah, sebab yang paling terpukul justru mutu. Sebanyak 82,2 persen ibu menyatakan akses mereka kepada pangan bergizi sangat memburuk sejak konflik bermula, dan lebih dari sembilan dari sepuluh menilai mutu makanannya menurun, entah sedikit entah banyak. Sepertiga responden, 32,6 persen, bahkan melaporkan gangguan kesehatan yang datang teratur karena perubahan pola makan, sementara hampir semua yang lain mengalaminya sesekali.
Baca juga Balochistan dan Gilgit-Baltistan, Dua Wajah Gizi Pakistan
Pasar Masih Buka, Jalannya yang Menakutkan
Namun, makanan itu sendiri tidak lenyap dari Sokoto. Pasar masih berjalan, walau 68,8 persen ibu menyebutnya berfungsi dengan susah payah dan hampir seperempat menyebutnya nyaris atau sama sekali tidak berfungsi, dan justru ke pasar itulah 90,8 persen dari mereka bergantung untuk memperoleh makanan. Ladang, yang dulu menjadi sandaran keluarga petani dan peternak di kedua wilayah, kini hanya menjadi sumber pangan utama bagi 3,9 persen responden.
Penyebabnya diucapkan terang oleh seorang perempuan di Illela, bahwa mereka dilarang pergi ke ladang karena keadaan tidak aman dan apa pun bisa terjadi di perjalanan ke sana. Tiga dari empat responden menyebut produksi pangan setempat terganggu dari tingkat sedang sampai parah, termasuk 39,5 persen yang menyebutnya parah dan 3,4 persen yang menyebutnya berhenti sama sekali. Keluarga yang dulu menanam makanannya sendiri kini harus membelinya, dengan penghasilan yang ikut hilang bersama ladang.
Rasa takut itu punya alasan yang tercatat di kuesioner. Sebanyak 58,6 persen ibu mengaku terdampak perbanditan sebatas rasa takut, tetapi 8,1 persen kehilangan suami yang terbunuh, 6,1 persen suaminya hilang atau diculik, 5,5 persen terluka, dan 8,9 persen hartanya dirusak, sehingga yang sama sekali tidak terdampak tinggal 9,2 persen. Tidak mengherankan bila sembilan dari sepuluh responden mengatakan keadaan keamanan mengurangi akses mereka kepada pangan.
Di situlah persoalannya berbelok, dari soal ada atau tidaknya makanan menjadi soal berani atau tidaknya seorang ibu menjemputnya. “Makanannya mungkin ada, tetapi mendatanginya seperti berjalan memasuki bahaya… Kadang lebih baik lapar daripada mengambil risiko itu,” ujar seorang peserta diskusi kelompok perempuan hamil di Illela. Seorang perempuan hamil lain di wilayah yang sama berkata bahwa yang pertama dipikirkan adalah lari melindungi diri dan anak, sedangkan makanan baru terpikir setelah tiba di kampung yang lebih aman.
Bagi yang sampai ke pasar, rintangan berikutnya adalah harga. Sebanyak 78,5 persen ibu menyatakan kenaikan harga mengurangi ragam makanan mereka, dan seorang perempuan kepala rumah tangga di Sabon-Birni menceritakan bentuknya sehari-hari. Sebelum krisis ia masih bisa membeli sayur dan daging, sedangkan sekarang harganya begitu tinggi sehingga ia hanya berjalan melewati lapak-lapak itu, karena memasak tanpa keduanya lebih murah.
Ibu yang Makan Paling Akhir
Ketika makanan yang berhasil dibawa pulang sedikit, pembagiannya di dalam rumah mengikuti urutan yang nyaris tidak pernah dipersoalkan. Separuh responden mengaku kadang-kadang mengurangi jatah makannya sendiri demi anak, 29,3 persen sering melakukannya, dan 2,1 persen selalu. Yang tidak pernah berbuat begitu hanya 1,4 persen. Semua itu terjadi pada perempuan yang sedang mengandung atau menyusui, yakni masa ketika tubuh mereka, menurut kedua penulis, justru menuntut asupan lebih banyak.
Seorang ibu menyusui yang mengungsi di Sabon-Birni mengatakan ada hari-hari ketika ia tidak makan seharian supaya anak-anaknya dapat berbagi sedikit bubur yang mereka masak. Peserta lain di Illela, seorang perempuan hamil, berkata bahwa ketika sakit atau lemah pun ia memastikan anak-anaknya makan lebih dulu. Yusuf dan Amzat membaca pengakuan semacam itu sebagai cara bertahan yang dibebankan kepada perempuan, dijalani sebagai keharusan sekaligus kewajiban moral.
Urutan yang sama berlaku pada jenis makanan. Ketika sumber daya terbatas, 65,5 persen ibu mendahulukan pangan pokok seperti beras dan gandum, jauh di atas sumber protein yang dipilih 15,5 persen, buah dan sayur 9,6 persen, serta produk susu 9,4 persen. Kedua penulis menyebutnya logika bertahan yang mengejar rasa kenyang dengan mengorbankan ragam, dan mereka mengingatkan bahwa kebiasaan itu membuka risiko kurang gizi, anemia, dan gangguan pada kelahiran.
Baca juga Banjir Tallo Makassar: Ibu Hamil Jatuh, Tirah Baring Dua Bulan
Yang Lama Mengungsi Justru Makan Lebih Beragam
Orang akan menduga pengungsi adalah kelompok yang piringnya paling miskin, dan hitungan kedua penulis justru menunjukkan sebaliknya. Dibandingkan mereka yang mengungsi kurang dari lima bulan, peluang ibu untuk makan cukup beragam tercatat 1,82 kali pada yang mengungsi enam bulan sampai setahun, 2,35 kali pada satu sampai dua tahun, dan 3,10 kali pada dua tahun atau lebih. Pengungsi dalam negeri dan pengungsi lintas batas pun berpeluang lebih besar daripada ibu di komunitas tuan rumah, masing-masing 1,92 dan 3,10 kali.
Yusuf dan Amzat menafsirkannya dengan hati-hati sebagai tanda penyesuaian seiring waktu, sebab pengungsian yang lama mungkin membuat orang lebih menyatu dengan warga setempat, lebih terjangkau bantuan, dan perlahan memulihkan nafkahnya. Itu tidak berarti mengungsi menyehatkan. Kelompok yang sama juga tercatat lebih sering menempuh berbagai siasat bertahan, dan kedua penulis menegaskan bahwa pengungsian memutus orang dari ladang, menggerus harta, serta melemahkan jejaring yang dulu menjadi jaring pengaman.
Tempat tinggal dan uang ikut menentukan. Ibu di Sabon-Birni berpeluang 1,85 kali lebih besar daripada ibu di Illela untuk makan cukup beragam, yang menurut kedua penulis menandakan besarnya peran keadaan konflik dan pasar di tiap wilayah. Sebaliknya, pada rumah tangga yang pendapatannya berubah, peluang itu tinggal sepersepuluh dibandingkan rumah tangga yang pendapatannya tetap, sedangkan tingkat pendidikan tidak menunjukkan kaitan yang berarti dalam hitungan tersebut.
Penyuluhan dan Bantuan yang Tidak Sampai ke Piring
Pengetahuan ternyata bukan barang langka di sana, sebab dua dari tiga ibu pernah menerima penyuluhan gizi, rutin atau sesekali. Hasilnya terbelah: 58,3 persen merasa pilihan makannya membaik, 18,8 persen tidak merasakan pengaruh apa pun, dan 23,0 persen malah menyebut ragam makannya berkurang. Bagi kedua penulis, temuan itu menggugat anggapan bahwa pengetahuan saja cukup, karena kemiskinan, rasa tidak aman, dan sedikitnya pangan yang tersedia menetralkan manfaat penyuluhan.
Bantuan pangan bernasib serupa. Sebanyak 63,5 persen ibu tidak pernah menerimanya dan hanya 1,7 persen yang menerima secara rutin, sementara hampir dua pertiga responden menilainya tidak atau kurang efektif. Hampir separuh, tulis kedua penulis, malah menganggap bantuan itu mengurangi ragam makan karena isinya pangan pokok yang itu-itu saja. Dukungan sesama warga pun tipis, sebab 61,2 persen tidak pernah menerimanya dan seorang ibu menyusui di Illela berkata mereka saling menolong sebisanya, tetapi semua orang sama-sama kesusahan.
Dari sana kedua penulis menarik kesimpulan yang menjadi poros naskah. “Temuan ini menunjukkan bahwa kerawanan pangan ibu terutama bukan akibat kelangkaan pangan, melainkan hasil dari kendala struktural dan kendala berbasis gender yang membatasi kemampuan perempuan untuk mengakses, memanfaatkan, dan memetik manfaat dari gizi yang memadai,” tulis Lauriya Yusuf dan Jimoh Amzat dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Mereka mengusulkan bantuan yang memuat pangan berprotein, koridor aman menuju pasar, penstabilan harga, serta dukungan bagi usaha pangan di pekarangan dan dagang kecil-kecilan perempuan.
Baca juga Ibu Anak Tidak Stunting di Bandung Justru Lebih Lelah Mengasuh
Yang Belum Terjawab dari Naskah Ini
Batas penelitian ini diakui penulisnya sendiri. Data diambil pada satu waktu sehingga tidak dapat membuktikan sebab dan akibat, isi piring diukur dari ingatan sehari semalam yang bisa meleset, dan sebagian kawasan tidak dapat didatangi karena alasan keamanan, sehingga keterwakilan sampelnya mungkin terpengaruh. Dengan kata lain, ibu yang tinggal di tempat paling berbahaya, yang barangkali piringnya paling sempit, justru tidak ikut terhitung dalam angka-angka di atas.
Ada pula beberapa kejanggalan yang dapat diperiksa pembaca di dalam naskah. Satu kalimat menyebut hanya 0,8 persen ibu memenuhi ragam makan minimum, padahal batasnya lima kelompok dan yang berada di bawah batas itu 70,0 persen, sementara golongan sedang dipatok pada empat sampai lima kelompok sehingga melintasi batas tersebut. Naskah juga menyebut 41,3 persen responden bekerja, tetapi mencatat 58,7 persen sebagai ibu rumah tangga penuh dan 32,6 persen sebagai pelajar.
Dua hal lain lebih kecil. Pendidikan dasar, yang dimiliki 77,2 persen responden, tidak muncul sebagai golongan dalam tabel peluang, yang hanya memuat pendidikan Quran, menengah, pascamenengah, dan tanpa pendidikan formal. Naskah juga mengutip seorang petugas penjaga kampung di Sabon-Birni, padahal uraian tentang narasumber hanya menyebut wawancara dan diskusi dengan perempuan hamil dan menyusui.
Makanan di Illela dan Sabon-Birni, bila mengikuti temuan ini, tidak pernah benar-benar hilang, sebab ia ada di lapak pasar dan di ladang yang ditinggalkan, dipisahkan dari piring para ibu oleh jalan yang tidak berani mereka tempuh dan harga yang tidak sanggup mereka bayar. Bila demikian, apakah yang selama ini disebut kelaparan di wilayah konflik sebenarnya adalah kekurangan pangan, ataukah harga yang dibayar seorang ibu, dengan tubuhnya sendiri, untuk rasa aman?















