- Skor paling tinggi ada pada perempuan yang belum punya anak, yakni 59,66.
- Makin rendah kepuasan seorang istri terhadap pernikahannya, makin tinggi skor keinginannya punya anak.
- Sikap peran gender menjelaskan 18,7 persen perbedaan skor keinginan punya anak di antara para peserta.
- Dukungan sosial tidak punya hubungan yang bermakna dengan keinginan punya anak.
Daftar Isi
Keinginan punya anak, yang dalam naskah aslinya disebut desire to have children, adalah seberapa kuat seorang perempuan mendambakan anak, lengkap dengan harapan dan rasa khawatirnya. Di Turki, dambaan itu diukur pada 1.582 perempuan menikah dari tujuh wilayah. Hasilnya tidak mengikuti dugaan umum bahwa anak paling diinginkan di rumah yang paling bahagia.
Pengukuran itu dikerjakan Aylin Arıcı dan dimuat dalam Fears and desires: a quantitative analysis of psychological, relational, and sociocultural factors in women’s desire to have children, terbit di BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Arıcı adalah pengajar di Social Work Department, Istanbul University-Cerrahpasa. Ia juga tercatat di UNEC Social Work and Social Innovations Research Center, Azerbaijan State University of Economics, Baku.
Latar yang ia pakai adalah angka kelahiran total, yaitu rata-rata jumlah anak yang dilahirkan seorang perempuan. Di negara-negara anggota OECD angka itu turun menjadi 1,43 pada 2023. Turki ikut dalam arus yang sama: dari 2,38 pada 2001 menjadi 1,48 pada 2024, menurut lembaga statistik negara itu yang dikutip naskah.
Usia perempuan Turki saat melahirkan anak pertama juga naik, dan kelahiran makin sering ditunda. Padahal, tulis Arıcı, keluarga dan peran ibu sejak dulu dijunjung tinggi di negeri itu. Dari situ ia bertanya apa saja yang berjalan seiring dengan keinginan para istri untuk punya anak.
Keinginan Punya Anak, Dambaan yang Diberi Angka
Maksudnya begini. Setiap peserta menjawab 19 pernyataan, lalu jawabannya dijumlahkan menjadi satu skor. Makin tinggi skornya, makin kuat keinginan itu. Skor terendah yang tercatat adalah 23 dan yang tertinggi 87, sedangkan rata-rata seluruh peserta 55,74.
Skor itu memuat empat hal sekaligus: dorongan positif untuk punya anak, pilihan untuk punya anak, kekhawatiran tentang punya anak, dan keyakinan sosial. Jadi istilah ini lebih lebar daripada sekadar jawaban mau atau tidak mau. Rasa takut ikut dihitung di dalamnya, sesuai judul naskah yang menyandingkan takut dan ingin.
Para pesertanya rata-rata berusia 35,43 tahun. Kelompok terbesar, 41,5 persen, bergelar sarjana, dan 59,4 persen tidak bekerja. Hampir empat dari lima sudah punya anak, tepatnya 79,5 persen, sedangkan 20,5 persen belum.
Skor paling tinggi ada pada perempuan yang belum punya anak, yakni 59,66. Angkanya turun setahap demi setahap: 57,20 pada ibu satu anak, 54,16 pada ibu dua anak, dan 52,52 pada ibu tiga anak atau lebih. Arıcı menyebut perbedaan ini berukuran sedang ke besar.
Lama menikah bergerak ke arah yang sama. Istri yang menikah kurang dari setahun mencatat skor 58,62, sedangkan yang sudah menikah 16 tahun atau lebih hanya 53,12. Kelompok terakhir itu lebih rendah daripada semua kelompok lain yang usia pernikahannya lebih pendek.
Baca juga Ibu Anak Tidak Stunting di Bandung Justru Lebih Lelah Mengasuh
Kepuasan Pernikahan, Rasa Cukup Bersama Pasangan
Kepuasan pernikahan, atau marital satisfaction, adalah penilaian seorang istri tentang seberapa memuaskan kehidupan rumah tangganya. Dugaan yang lazim: istri yang puas lebih ingin menambah anggota keluarga. Data Arıcı menunjuk ke arah sebaliknya, walau dengan kekuatan yang kecil. Makin rendah kepuasan seorang istri terhadap pernikahannya, makin tinggi skor keinginannya punya anak. Hubungan itu tergolong lemah menurut patokan yang dipakai naskah. Kepuasan pernikahan hanya menjelaskan 1,3 persen dari perbedaan skor di antara para peserta.
Arıcı menafsirkan temuan itu lewat istilah compensatory connection, ikatan pengganti. Bedanya begini: anak tidak dipandang sebagai buah dari hubungan yang hangat, tetapi sebagai sumber makna, rasa memiliki, atau kesinambungan ketika hubungan dengan suami kurang memuaskan. Tafsir ini ia sandarkan pada kajian terdahulu, bukan pada pengakuan para peserta.
“Keinginan untuk punya anak tidak dapat dijelaskan semata-mata oleh kepuasan pernikahan atau kesejahteraan psikologis,” tulis Aylin Arıcı, pengajar pekerjaan sosial itu, dalam naskahnya yang berbahasa Inggris. Kalimat itu sekaligus mengoreksi anggapan bahwa anak hanya didambakan orang yang sedang bahagia.
Ia juga mencatat sisi lain. Kajian-kajian yang dirujuknya menunjukkan bahwa menjadi orang tua kerap menurunkan kepuasan pernikahan dan menambah tekanan batin, terutama pada ibu. Karena itu, harapan untuk menambal pernikahan lewat anak bisa tidak terpenuhi dan malah melahirkan ketegangan baru.
Emosi Negatif, Stres dan Cemas yang Ikut Mendorong
Emosi negatif, negative affect dalam naskah, adalah seberapa sering seseorang merasakan hal seperti stres, rasa bersalah, dan cemas. Pasangannya, emosi positif atau positive affect, menakar antusiasme, tenaga, dan minat. Keduanya dihitung terpisah, sehingga seseorang bisa tinggi pada dua-duanya.
Rata-rata peserta lebih banyak merasakan yang positif, dengan skor 32,02, daripada yang negatif, 20,60. Namun arah hubungannya dengan keinginan punya anak justru terbalik dari perkiraan. Makin tinggi emosi negatif, makin tinggi keinginan itu; makin tinggi emosi positif, makin rendah. Kedua hubungan itu kecil. Emosi negatif menjelaskan 2 persen perbedaan skor, sedangkan emosi positif hanya 0,4 persen. Arıcı menyebutnya temuan yang khas, sebab kepustakaan selama ini lebih sering menerangkan keinginan menjadi orang tua lewat kepuasan hidup dan perasaan senang.
Untuk sisi yang negatif, ia meminjam istilah baby fever, yakni dambaan kuat akan bayi yang digerakkan dorongan emosi yang intens. Perempuan yang menghadapi ketidakpastian dalam pekerjaan, hubungan, atau pergaulan, tulisnya, bisa berpaling kepada ikatan ibu dan anak sebagai sumber makna.
Sisi yang positif ia terangkan dengan kehati-hatian. Orang yang hidupnya terasa baik, menurut kajian yang ia kutip, dapat menghindari peran orang tua karena khawatir kestabilan yang sudah ada terganggu. Kebebasan, waktu istirahat, dan keseimbangan pribadi termasuk yang dipertaruhkan.
Baca juga Perkawinan Anak Penentu Utama Kelahiran Remaja di 34 Provinsi
Sikap Peran Gender, Pandangan soal Tugas Suami Istri
Sikap peran gender, gender role attitudes, adalah pandangan seseorang tentang apa yang pantas dikerjakan perempuan dan laki-laki, termasuk di dalam pernikahan. Ujung yang satu disebut tradisional, ujung lainnya egaliter, yaitu pandangan bahwa keduanya setara. Dari semua yang diukur, inilah yang paling kuat kaitannya.
Makin egaliter sikap seorang istri, makin tinggi keinginannya punya anak. Kekuatan hubungannya tergolong sedang, jauh di atas tiga faktor lain. Sikap peran gender menjelaskan 18,7 persen perbedaan skor keinginan punya anak di antara para peserta. Itu hampir seperlima.
Arıcı menaruh angka itu di antara dua pola yang ia baca dari kajian negara lain. Di Eropa, pandangan setara cenderung berjalan bersama keinginan punya anak. Di Tiongkok dan Iran, peran tradisional yang lebih kuat mendorong kelahiran. Ada pula kajian yang menemukan pola berbentuk huruf U: kelahiran lebih tinggi di lingkungan paling tradisional dan paling egaliter, lebih rendah di tengahnya.
Turki, menurut dia, berada di posisi peralihan. Urbanisasi, pendidikan, dan makin banyaknya perempuan bekerja menguatkan nilai keluarga yang setara. Pada saat yang sama, norma lama yang memuliakan peran ibu dan pengasuhan masih punya bobot simbolik yang besar. Karena itu ia membaca sikap egaliter di Turki bekerja dua kali. Pandangan itu menopang kemandirian perempuan dan pencarian maknanya, sambil tetap sejalan sebagian dengan budaya yang mengagungkan keibuan. Penjelasan ini adalah tafsir penulis atas angka, belum sesuatu yang diuji tersendiri.
Dukungan Sosial, Sandaran yang Tak Mengubah Angka
Dukungan sosial yang dirasakan, perceived social support, adalah seberapa besar seseorang merasa ditopang oleh keluarga, teman, dan satu orang yang istimewa baginya. Kepustakaan sering menggambarkannya sebagai pendorong kelahiran, sebab beban mengasuh bisa dibagi dan rasa aman bertambah. Pada 1.582 perempuan ini, dugaan itu tidak terbukti. Dukungan sosial tidak punya hubungan yang bermakna dengan keinginan punya anak. Dari lima dugaan awal yang diajukan Arıcı, hanya yang satu ini tidak didukung data.
Ia tidak menyimpulkan dukungan itu sia-sia. Menurut kajian yang ia rujuk, dukungan lebih berperan saat niat dijalankan, misalnya pada keputusan anak kedua atau ketiga, dan paling terlihat ketika bantuan dari lembaga lemah. Dukungan, tulisnya, bekerja tidak langsung dan bergantung pada konteks.
Beberapa pembanding lain melengkapi gambaran. Lulusan sarjana mencatat skor 58,13 dan lulusan sekolah dasar 52,11. Perempuan bekerja mencatat 57,70, yang tidak bekerja 54,38. Untuk yang bekerja, Arıcı menduga rasa memegang kendali atas pekerjaan dan keseimbangan kerja dengan keluarga ikut berperan, bukan hanya rasa aman secara ekonomi.
Pemakai alat kontrasepsi juga lebih tinggi skornya, 57,36 berbanding 54,17. Arıcı membacanya sebagai tanda bahwa keinginan itu terencana dan diatur waktunya. Perempuan tanpa penyakit menahun sedikit lebih tinggi pula, 55,99 berbanding 54,18, dengan selisih yang ia golongkan kecil.
Baca juga Remaja Keluarga Bercerai di Cina Lebih Rentan Kecanduan Internet
Batas Istilah dan Catatan Naskah
Arıcı menulis sendiri batas penelitiannya. Peserta dijaring lewat rantai kenalan, bukan dipilih acak, sehingga tidak mewakili seluruh perempuan Turki. Data diambil pada satu waktu saja dan karena itu tidak bisa dipakai untuk menyatakan sebab dan akibat. Jawaban berasal dari pengakuan peserta, yang bisa condong ke arah yang dianggap pantas. Sebagian besar tinggal di wilayah Marmara dan hampir sembilan dari sepuluh di kota. Semua pesertanya perempuan menikah, sehingga hasilnya tidak berlaku bagi mereka yang berstatus lain.
Ada beberapa hal yang bisa diperiksa pembaca di dalam naskah. Angka keandalan alat ukur keinginan punya anak ditulis 0,82 pada uraian alat ukur, tetapi 0,700 pada tabel. Porsi peserta dari Marmara ditulis 70,2 persen di dalam teks, sedangkan tabel mencantumkan 70,7 persen.
Catatan di bawah tabel emosi positif menyebut nilai p di bawah 0,001, padahal nilai yang tertera 0,010. Naskah juga beberapa kali memakai kata memengaruhi dan memicu untuk hubungan yang, menurut bagian keterbatasannya sendiri, tidak bisa dibaca sebagai sebab-akibat.
Di situlah batas istilah ini. Keinginan punya anak dalam naskah Arıcı adalah skor dari 19 pernyataan yang dijawab pada satu waktu, memuat dambaan dan rasa takut sekaligus. Pada 1.582 istri di Turki, skor itu paling erat berjalan bersama pandangan tentang kesetaraan, dan hanya tipis bersama rasa puas atau rasa murung.















