- Perang yang pecah pada 4 November 2020 memutus jalan itu.
- Sebanyak 81 persen kehilangan tanaman, 75 persen kehilangan ternak, dan 48 persen kehilangan alat tani.
- Penyandang disabilitas fisik dan rumah tangga miskin yang dikepalai perempuan paling terhalang untuk kembali mencari nafkah.
- Orang lanjut usia makin bergantung pada keluarga dan tetangga persis ketika keduanya ikut melemah.
Daftar Isi
Sehelai syal dan sepasang lembu jantan tidak punya urusan satu sama lain, kecuali di Tigray, Ethiopia utara, tempat keduanya menjadi penanda dari apa yang direnggut perang. Syal itu satu-satunya petunjuk bagi seorang remaja 17 tahun di Abiyi-Addi untuk mengenali jenazah ayahnya sesudah kotanya dihujani tembakan artileri pada 4 Desember 2020. Lembu itu milik seorang petani 70 tahun di Qolla Temben, dan tanpa keduanya ia tidak bisa lagi membajak ladangnya sendiri.
Kedua kesaksian itu dicatat Tesfay Gebreigziabher Emnetu, Alemseged Gerezgiher Hailu, dan Kinfe Abraha Gebre-Egziabher dalam artikel Lived experiences of conflict-induced socioeconomic vulnerability in Tigray, Ethiopia: a qualitative capability approach study. Artikel tersebut terbit di BMC Public Health tahun 2026 dan masih berstatus naskah siap terbit, sehingga belum membawa nomor volume. Afiliasi yang tercantum dalam naskah adalah Mekelle University di Mekelle, Ethiopia.
Yang mereka dengarkan adalah 144 orang di enam wereda yang dilanda perang 2020–2022, yakni Endabatsahma, Qolla Temben, dan Abiy Addi di Zona Tengah serta Ayder, Kuha, dan Adi Haki di Zona Mekelle. Sebanyak 120 di antaranya warga dari empat kelompok yang paling rapuh: penyandang disabilitas fisik, rumah tangga miskin yang dikepalai perempuan, anak yatim piatu, dan orang lanjut usia. Sisanya, 24 orang, adalah pejabat, tokoh setempat, dan petugas yang memberi pandangan dari sisi lembaga.
Di kota, toko dan pasar yang tidak kembali
Sebelum 2020, menurut naskah, investasi lokal dan usaha mikro-kecil ikut menekan kemiskinan dan membuka lapangan kerja di Tigray. Perang yang pecah pada 4 November 2020 memutus jalan itu. Seorang pedagang kecil berusia 47 tahun di Endabatsahma menuturkan peralatannya dijarah lalu dibakar tentara, dan ia bertanya bagaimana mungkin memulai lagi dagangan sekecil apa pun.
Cerita serupa datang dari kota lain. Perempuan 59 tahun di Abiyi-Addi dulu menjual sepatu, benang, dan rempah, dan kini tidak punya apa-apa untuk dijual. Di Quiha, seorang ibu kepala keluarga berusia 47 tahun yang dulu berjualan buah dan sayur berkata pasarnya sudah lenyap. Laki-laki penyandang disabilitas berumur 52 tahun di Addi-Haki kehilangan toko kecilnya, dan ia mengaku tidak punya barang maupun tempat untuk berdagang.
Dua kesaksian membawa angka. Seorang perempuan 49 tahun di Endabatsahma kehilangan usaha dagang sekaligus kredit 80.000 birr pada hari pertama perang. Di Ayder, perempuan penyandang disabilitas berusia 38 tahun kehilangan toko dan modal 60.000 birr ketika kawasan itu ditembaki pada 27–28 November 2020. Keduanya mengajukan pertanyaan yang hampir sama: bagaimana melunasi utang, dan bagaimana memberi makan serta menyekolahkan anak.
Harga ikut menekan mereka yang masih punya sedikit pemasukan. Laki-laki 58 tahun di Ayder mengatakan harga berubah setiap hari sehingga ia tidak bisa merencanakan apa pun. Perempuan 63 tahun di Endabatsahma dulu sanggup membeli garam dan minyak sebulan sekali dengan uang bantuan, dan sekarang harganya melampaui kemampuannya. Seorang lansia 74 tahun di Quiha menyebut keluarganya makan sekali sehari, kadang tidak sama sekali.
Baca juga Inklusi Keuangan Disabilitas, Belanja Lebih Tinggi 23 Persen
Di desa, lembu dan perkakas yang dirampas
Di sisi lain, kehilangan di desa berbentuk hewan dan alat. Petani 70 tahun di Qolla Temben itu menceritakan dua lembunya diambil, sehingga ia terpaksa menyewakan tanahnya kepada orang lain dan hanya menerima sedikit hasil panen. Seorang yatim piatu berumur 16 tahun di Endabatsahma mengatakan tidak punya cara memperoleh satu birr pun karena perkakas pamannya dijarah dan dibakar.
Kesaksian itu sejalan dengan angka yang dikutip para penulis dari riset lain tentang rumah tangga petani kecil di Tigray. Sebanyak 81 persen kehilangan tanaman, 75 persen kehilangan ternak, dan 48 persen kehilangan alat tani. Dengan kata lain, kira-kira tiga dari empat keluarga petani kehilangan hewan yang menjadi tenaga sekaligus tabungan mereka.
Petani yang sama kehilangan lebih dari lembu. Dua putranya, keduanya berusia awal dua puluhan dan biasa membantunya menggembala serta membajak, termasuk di antara lebih dari 100 warga sipil yang menurut penuturannya dibunuh pada Februari 2021. Ia menyaksikan penembakan itu. “Saya merasa terjebak di antara hidup dan mati,” katanya kepada para peneliti dalam diskusi kelompok pada Desember 2024.
Jaring pengaman lama juga putus, baik di kota maupun di desa. Perempuan penyandang disabilitas berusia 55 tahun di Abiyi-Addi dulu bisa meminjam uang kecil dari perkumpulan, dan kini tidak ada lagi pinjaman maupun bantuan keuangan. Seorang lansia 68 tahun di Quiha menghabiskan seluruh tabungannya untuk makanan dan obat. Pejabat di Abiyi-Addi merangkumnya: rumah tangga yang dulu mandiri kini sepenuhnya bergantung pada bantuan yang datang tidak teratur.
Klinik yang berdiri tanpa obat
Kehilangan nafkah bertemu dengan layanan yang ikut runtuh. Lansia 76 tahun di Qolla Temben mengatakan tidak ada klinik yang berfungsi, tidak ada perawat terampil, dan tidak ada obat pokok. Rumah sakit menyarankan pasien membeli obat di apotek swasta, padahal harganya di luar jangkauan. Petugas kesehatan setempat membenarkan bahwa sebagian besar fasilitas masih tidak berfungsi atau hanya berfungsi seadanya.
Laki-laki 75 tahun berpenyakit kronis di Adi-Haki menuturkan bahwa bahkan sesudah damai pada November 2022 ia tidak dapat menjangkau laboratorium, obat, maupun tenaga kesehatan. Pensiunnya memang kembali dibayarkan, tetapi inflasi dan ketiadaan perawatan memperberat traumanya. Penyandang disabilitas berusia 57 tahun di Qolla Temben menambahkan bahwa resep di tangan tidak berarti obat terbeli.
Luka yang tidak terlihat lebih sulit diobati. Dua perempuan, berusia 42 dan 37 tahun, menceritakan kekerasan seksual yang mereka alami dari tentara pada akhir 2020, dan keduanya kemudian didiagnosis HIV. Salah satunya menyebut kemiskinan, pembagian pangan yang timpang, dan ketiadaan dukungan memperdalam penderitaannya, sehingga ia hidup dengan kecemasan dan mimpi buruk yang terus-menerus.
Sekolah yang dibuka tanpa bangku
Pada kasus kedua, yaitu pendidikan, gedungnya sudah dibuka tetapi isinya belum kembali. Orang tua penyandang disabilitas berusia 59 tahun di Endabatsahma mengatakan sekolah yang dibuka lagi belum punya bangku, laboratorium, dan perpustakaan, sehingga anaknya belajar sambil duduk di lantai. Petugas pendidikan tingkat tabia membenarkan bahwa sekolah berjalan tanpa perabot, buku, dan guru yang memadai.
Remaja pemilik kenangan tentang syal itu tidak melanjutkan sekolah. Ayahnya, kakaknya, dan lima orang lain tewas dalam penembakan tersebut, dan sekolahnya baru dibuka hampir setahun sesudah Perjanjian Damai Pretoria. “Setiap kali saya mencoba duduk di kelas, saya teringat bagaimana ayah saya terbunuh,” ujarnya dalam wawancara pada Januari 2025.
Yang kembali ke kelas pun membawa tahun-tahun yang hilang. Seorang yatim piatu perempuan berusia 16 tahun di Endabatsahma mestinya duduk di kelas sepuluh, tetapi ia masih di kelas tujuh. Sebayanya di Qolla Temben mengaku paham nilai pendidikan tetapi kehilangan semangat, masih memimpikan tentara, dan sulit tidur.
Bagi keluarga yang dikepalai perempuan, sekolah berhadapan langsung dengan perut. Seorang ibu 40 tahun di Qolla Temben menceritakan putranya meninggalkan sekolah dan kini bekerja di tambang emas setempat karena keluarga bergantung pada upahnya. Ibu lain, 52 tahun, di Adi-Haki menyebut putrinya dulu termasuk murid terbaik dan sekarang menjual barang kecil di pasar. Pendidikan, katanya, menjadi kemewahan ketika bertahan hidup saja belum pasti.
Baca juga Sekolah Filipina Tutup 29 Bulan, Murid Lupa Wajah Teman Sekelas
Mereka yang sulit bangkit: disabilitas dan ibu kepala keluarga
Dari empat kelompok itu, para penulis melihat dua pola. Penyandang disabilitas fisik dan rumah tangga miskin yang dikepalai perempuan paling terhalang untuk kembali mencari nafkah. Keduanya memasuki masa damai dengan harta lebih sedikit, pilihan kerja lebih sempit, dan ketergantungan lebih besar pada usaha informal yang justru hancur.
Bagi penyandang disabilitas, hambatannya bertumpuk. Pasar sulit dijangkau, layanan keuangan sangat terbatas, dan menurut seorang informan di Abiyi-Addi pengguna kursi roda bahkan tidak mendapat layanan rehabilitasi dasar. Laki-laki 36 tahun di Ayder mengatakan kelompoknya sudah dibangun kembali dan meminta dukungan, tetapi tidak seorang pun melihat atau mendengar mereka.
Ibu kepala keluarga menanggung dua beban sekaligus, yaitu memulihkan usaha dan mengasuh. Janda 55 tahun di Abiyi-Addi mengantre seharian untuk bantuan bagi lima anggota keluarganya dan pulang dengan jatah untuk dua orang. Para informan menyebut pendataan yang usang, hambatan birokrasi, dan ketiadaan kenalan sebagai sebab warga seperti dia tersisih dari daftar penerima.
Mereka yang makin bergantung: yatim piatu dan lansia
Pada dua kelompok lain, polanya berbeda. Anak yatim piatu dan orang lanjut usia tidak terutama kehilangan usaha, tetapi kehilangan orang yang menopang mereka. Anak-anak itu kehilangan sekaligus nafkah keluarga, rasa aman, biaya sekolah, dan orang dewasa yang memperjuangkan hak mereka, sementara dokumen yang hilang membuat sebagian tidak terdaftar sebagai penerima bantuan.
Orang lanjut usia makin bergantung pada keluarga dan tetangga persis ketika keduanya ikut melemah. Perempuan 76 tahun di Quiha dulu mengandalkan kerabat, dan sesudah perang setiap orang berjuang untuk dirinya sendiri. Naskah juga mencatat bahwa kelompok ini relatif tidak terlihat dalam program pemulihan, padahal kebutuhan kesehatan dan pangan mereka besar.
Para penulis tidak menyebut satu kelompok lebih menderita daripada yang lain. Mereka membedakan dua jalur: kerugian langsung selama perang, lalu keadaan sesudahnya, yakni inflasi, lembaga yang lemah, dan bantuan yang tidak teratur, yang membuat kerugian tadi menetap. “Pengalaman yang berbeda-beda ini menunjukkan bahwa konflik memperbesar ketimpangan yang sudah ada, bukan menimpa semua penduduk secara seragam,” tulis Emnetu, Hailu, dan Gebre-Egziabher dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.
Baca juga Depresi Remaja Thailand Selatan: Keluarga Retak dan Trauma
Batas temuannya diakui sendiri oleh para penulis. Kesaksian sebanyak itu memberi kedalaman tetapi tidak dapat dipakai untuk menaksir seluruh penduduk Tigray, dan lokasinya terpilih. Gambaran tentang kehidupan sebelum perang juga bersandar pada ingatan peserta, yang bisa meleset.
Beberapa hal kecil dalam naskah patut diperiksa pembaca. Daftar singkatan menerangkan TRG sebagai dolar Amerika Serikat, padahal di badan naskah singkatan itu berarti Pemerintah Regional Tigray. Tabel peserta mencatat 22 yatim piatu berusia di bawah 18 tahun dan 37 orang berusia 60 tahun ke atas, sementara tiap kelompok disebut beranggota 30 orang, tanpa penjelasan atas selisihnya. Nama Endabatsahma dan Kuha pun dieja dengan beberapa cara.
Syal dan lembu itu akhirnya menunjuk ke dua arah yang sama beratnya. Lembu mewakili apa yang bisa dihitung dan, setidaknya di atas kertas, bisa diganti: ternak, toko, modal, bangku sekolah. Syal mewakili apa yang tidak bisa diganti oleh program mana pun, yaitu orang yang dulu menopang sebuah keluarga. Naskah ini menimbang keduanya berdampingan, dan menyebut damai lebih dari sekadar berhentinya tembak-menembak.















