- Di antara 137 anak dengan dismenore primer, 119 bermutu hidup buruk, setara 86,9 persen.
- Kelompok tanpa nyeri bernilai tengah 78, sedangkan kelompok dengan nyeri bernilai nol.
- Fungsi sosial, yakni keleluasaan bergaul, jatuh dari 70 ke 15.
- Para peneliti menyimpulkan bahwa pendidikan saja mungkin tidak cukup.
- Lebih dari separuh, 53,3 persen, mengaku bahan untuk haid itu tidak terjangkau.
Daftar Isi
- Dismenore primer, nyeri haid tanpa penyakit penyerta
- Mutu hidup, delapan sisi keseharian yang diberi angka
- Fungsi fisik dan peran fisik, tubuh yang sanggup dan tubuh yang dipakai
- Peran emosional, tugas yang terbengkalai karena beban perasaan
- Normalisasi nyeri, anggapan bahwa sakit haid memang sewajarnya
- Hubungan dan sebab, dua kata yang tidak boleh ditukar
Dismenore primer adalah nama kedokteran untuk sesuatu yang dikenal hampir setiap anak perempuan: kram di perut bawah yang datang bersama haid, padahal tidak ada penyakit lain di baliknya. Di delapan sekolah menengah Distrik Lusaka, Zambia, 137 dari 400 remaja putri mengalaminya pada tingkat sedang sampai berat. Hampir sembilan dari sepuluh di antara mereka hidup dengan mutu hidup yang tergolong buruk.
Angka itu dilaporkan Nachizya Edith Namukanga, Joseph Mumba Zulu, Margarate N. Munakampe, Dennis M. Ngosa, dan Choolwe Jacobs dalam artikel Silent struggles: association between primary dysmenorrhea and health-related quality of life among adolescent girls in Lusaka District, Zambia. Artikel tersebut terbit di BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Kelimanya bekerja di Lusaka, sebagian besar di School of Public Health, University of Zambia.
Judulnya memakai kata silent struggles, pergulatan yang sunyi. Maksudnya, rasa sakit itu ditanggung tanpa banyak dibicarakan, di rumah maupun di kelas. Para peneliti ingin tahu seberapa jauh nyeri bulanan itu berjalan bersama keseharian yang merosot, dari kemampuan menaiki tangga sampai keinginan bertemu teman.
Dismenore primer, nyeri haid tanpa penyakit penyerta
Istilah ini punya batas yang jelas di dalam naskah. Dismenore primer adalah haid yang nyeri pada perempuan dengan anatomi panggul normal, biasanya mulai sejak menarke, yaitu haid pertama. Nyerinya berupa kram yang terpusat di perut bawah, punggung bawah, atau paha bagian dalam. Sebagian orang juga melaporkan mual, muntah, sakit kepala, dan pusing.
Bedanya begini. Nyeri haid yang disebabkan penyakit lain, misalnya endometriosis atau radang panggul, tidak masuk hitungan, dan anak yang melaporkan diagnosis semacam itu tidak diikutkan. Yang dihitung hanya nyeri bernilai empat ke atas pada skala nol sampai sepuluh, dengan nol berarti tidak nyeri dan sepuluh berarti nyeri terburuk yang bisa dibayangkan.
Naskah menyebut keluhan ini lazim di seluruh dunia. Antara 45 dan 95 persen perempuan usia subur mengalaminya, dan 2 sampai 29 persen merasakan nyeri berat. Di Nigeria, angka yang pernah dilaporkan mencapai 92,96 persen. Meski begitu, tulis para peneliti, kondisi ini kurang dikenali di ruang periksa maupun di sekolah.
Siapa saja 400 anak itu digambarkan cukup rinci. Usia mereka 10 sampai 19 tahun, dan sekitar dua pertiganya berumur 15 tahun ke atas. Sebanyak 87,8 persen memakai pembalut, sedangkan 11 persen memakai kain chitenge, kain tradisional setempat. Lebih dari separuh, 53,3 persen, mengaku bahan untuk haid itu tidak terjangkau.
Baca juga Pengetahuan dan Praktik Higiene Menstruasi Siswi Sri Lanka
Mutu hidup, delapan sisi keseharian yang diberi angka
Mutu hidup terkait kesehatan terdengar abstrak. Maksudnya sederhana: seberapa leluasa seseorang menjalani hari, diukur lewat 36 pertanyaan yang dikelompokkan menjadi delapan sisi. Tiap sisi diberi nilai nol sampai seratus. Makin tinggi nilainya, makin baik keadaan orang itu.
Delapan sisi tersebut lalu diringkas menjadi dua rangkuman, satu untuk fisik dan satu untuk mental. Seorang anak digolongkan bermutu hidup buruk bila salah satu atau kedua rangkuman itu bernilai di bawah lima puluh. Dengan ukuran tersebut, 242 dari 400 remaja putri, atau 60,5 persen, masuk golongan buruk.
Angka keseluruhan itu menyembunyikan jurang di dalamnya. Di antara 137 anak dengan dismenore primer, 119 bermutu hidup buruk, setara 86,9 persen. Di antara anak yang tidak mengalaminya, angkanya 46,8 persen. Nyeri haid tidak menjelaskan semuanya, sebab hampir separuh anak tanpa nyeri pun berada di bawah ambang.
Para peneliti juga menghitung rasio odds, yaitu ukuran seberapa besar peluang suatu keadaan pada satu kelompok dibanding kelompok lain. Setelah usia, umur saat haid pertama, lama haid, deras aliran, dan pendidikan tentang haid ikut diperhitungkan, nilainya 8,52. Artinya, peluang bermutu hidup buruk pada anak dengan dismenore primer jauh lebih besar daripada pada anak tanpa keluhan itu.
Fungsi fisik dan peran fisik, tubuh yang sanggup dan tubuh yang dipakai
Dua istilah ini mirip, tetapi isinya lain. Fungsi fisik menilai kesanggupan tubuh melakukan gerak sehari-hari. Peran fisik menilai apakah keadaan badan membuat seseorang terhalang menjalankan kegiatan hariannya. Yang pertama bicara soal mampu, yang kedua soal terlaksana atau tidak.
Pada fungsi fisik, nilai tengah anak tanpa dismenore primer adalah 80. Nilai tengah, atau median, adalah angka yang membelah kelompok tepat menjadi dua. Pada anak dengan dismenore primer, nilai tengahnya 20. Separuh dari mereka berada di angka itu atau lebih rendah lagi.
Peran fisik lebih curam. Kelompok tanpa nyeri bernilai tengah 78, sedangkan kelompok dengan nyeri bernilai nol. Bukan hanya nilai tengahnya yang nol, melainkan juga batas bawah dan batas atas separuh anak yang berada di tengah. Naskah membacanya sebagai keterbatasan kegiatan harian yang nyaris menyeluruh akibat nyeri.
Sisi nyeri tubuh mengikuti pola serupa, 70 berbanding 10. Penilaian atas kesehatan diri secara umum pun turun dari 78 menjadi 42. Menurut para peneliti, angka terakhir itu menggambarkan pandangan muram yang sama-sama dipegang anak-anak tersebut tentang kesehatan mereka, kemungkinan karena nyeri itu datang berulang.
Peran emosional, tugas yang terbengkalai karena beban perasaan
Di sinilah contoh perut kram tadi mulai meleset. Peran emosional menilai apakah beban perasaan menghalangi seseorang mengerjakan tugasnya. Naskah menyebut contohnya: pekerjaan sekolah, pekerjaan rumah, dan tanggung jawab lain. Nilai tengah kelompok tanpa dismenore primer adalah 70. Kelompok dengan dismenore primer bernilai nol.
Fungsi sosial, yakni keleluasaan bergaul, jatuh dari 70 ke 15. Separuh anak dengan nyeri haid bernilai 15 atau kurang, dan para peneliti menafsirkannya sebagai kebiasaan menghindari pergaulan. Kesehatan mental turun dari 67 ke 37, yang mereka baca sebagai tekanan batin yang meninggi.
Hanya vitalitas, yaitu rasa bertenaga, yang selisihnya tipis: 75 berbanding 63. Naskah tetap mencatatnya sebagai tanda lelah yang menetap dan dirasakan merata. Penyebab yang mereka sebut mungkin adalah nyeri, tidur yang terganggu, atau anemia akibat haid yang deras.
Anggapan bahwa nyeri haid hanya urusan badan dikoreksi langsung oleh penulisnya. “Temuan ini menunjukkan bahwa dismenore primer tidak hanya berkaitan dengan kesehatan fisik, tetapi juga dengan mutu hidup remaja putri secara keseluruhan,” tulis Nachizya Edith Namukanga dan empat rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Mereka menyebut keluhan ini sebagai gejala psikososial, bukan sekadar keluhan fisik.
Baca juga Tekanan Akademik Halangi Gaya Hidup Sehat Remaja Karnataka
Normalisasi nyeri, anggapan bahwa sakit haid memang sewajarnya
Normalisasi nyeri adalah istilah yang dipakai naskah untuk satu sikap: memandang dismenore primer sebagai bagian tak terelakkan dari tumbuh menjadi perempuan. Di banyak rumah tangga Zambia, tulis para peneliti, haid masih tabu. Ia dibicarakan diam-diam atau baru sesudah haid pertama datang, sering kali oleh kerabat perempuan yang lebih tua.
Sikap itu, menurut naskah, tidak selalu pasif. Para peneliti menyebut kemungkinan adanya guru yang menegur anak karena mengeluh, teman yang mengejek ketidakhadiran sebagai cari-cari alasan, dan pengasuh yang menasihati agar tabah karena setiap perempuan menderita. Kajian mereka sebelumnya di Lusaka mencatat anak perempuan kerap menyembunyikan nyeri supaya tidak dicap lemah atau tidak produktif.
Karena itu nilai nol pada peran emosional mereka tafsirkan lebih jauh. Angka tersebut mungkin bukan hanya tanda badan yang tidak sanggup, melainkan juga kepasrahan yang dipelajari, yakni keyakinan bahwa mengungkapkan rasa sakit itu sia-sia atau memalukan. Ini tafsir penulis, bukan sesuatu yang diukur kuesioner.
Ada satu temuan yang tampak berlawanan dengan harapan. Sebanyak 89 persen anak pernah mendapat pendidikan tentang haid, paling sering dari ibu. Namun 62,6 persen dari mereka tetap bermutu hidup buruk, lebih tinggi daripada 43,2 persen pada anak yang tidak pernah mendapatkannya. Para peneliti menyimpulkan bahwa pendidikan saja mungkin tidak cukup.
Baca juga Depresi Remaja Thailand Selatan: Keluarga Retak dan Trauma
Yang mereka tawarkan sebagai pelengkap adalah kerangka yang disebut respons bertingkat, maksudnya serangkaian langkah yang bisa dijalankan sekolah. Langkah pertama adalah lokakarya tentang haid dan nyeri yang dipimpin perawat bersama pendidik sebaya. Langkah kedua adalah ruang istirahat yang tenang dan tertutup, tempat anak yang sedang kesakitan boleh berbaring tanpa dicap dan tanpa dihukum.
Langkah ketiga menyangkut obat. Para peneliti mengusulkan akses terpandu ke pereda nyeri golongan antiinflamasi nonsteroid lewat petugas kesehatan sekolah, yakni ibuprofen 200–400 miligram dengan persetujuan orang tua. Langkah keempat adalah pelatihan guru agar ketidakhadiran karena haid tidak lagi dibaca sebagai membolos.
Semua itu, tegas mereka, harus dirancang bersama remaja putri, pengasuh, dan pimpinan sekolah. Naskah juga menyinggung beban ganda pada anak yang tidak mampu membeli bahan untuk haid. Mereka menahan nyeri sambil mencemaskan bocor, bau, atau terpaksa tidak masuk sekolah karena kehabisan persediaan.
Hubungan dan sebab, dua kata yang tidak boleh ditukar
Kata yang dipakai naskah adalah hubungan, bukan sebab. Semua anak ditanyai pada satu waktu saja, antara Juni dan Agustus 2023. Para peneliti mengakui rancangan itu tidak menangkap naik turunnya nyeri sepanjang siklus. Mutu hidup bisa merosot saat haid lalu pulih di antara dua haid, dan tanpa pengukuran berulang keduanya tidak terbedakan.
Mereka juga membatasi jangkauan temuannya sendiri. Rancangan itu tidak mengizinkan kesimpulan sebab-akibat. Pesertanya pun hanya murid sekolah menengah di kawasan kota dan pinggiran kota Lusaka, sehingga hasilnya tidak bisa diberlakukan bagi remaja di luar kelompok tersebut.
Beberapa angka dalam naskah patut dicocokkan pembaca. Tabel mencatat 137 anak dengan dismenore primer, atau 34,3 persen, tetapi teks hasil menyebut 63,5 persen atau 254 anak punya riwayat keluhan itu. Jumlah anak tanpa keluhan tertulis 253 di tabel pertama dan 263 di tabel kedua. Abstraknya sekali menyebut kuesioner 35 butir, bukan 36.
Jadi dismenore primer, dalam penelitian ini, memang bermula sebagai kram di perut bawah. Hanya saja angka yang paling dalam jatuhnya justru berada di luar perut: tugas yang tidak terkerjakan dan pergaulan yang dihindari. Sampai di situ naskah ini berani berkata, dan tidak lebih jauh dari kata hubungan.














