- Dua belas dari tiga belas pria menyebut kesehatan sebagai pendorong berhenti.
- Pria muda menghindari teman dan acara kumpul, tempat tawaran dan ejekan datang langsung.
- Tiga dari tiga belas pria menyebut dukungan istri.
- Itulah pemicu kambuh yang paling banyak muncul dalam ketiga belas cerita.
- Tak seorang pun menyebut pernah menerima bantuan dokter atau konseling untuk berhenti.
Daftar Isi
Ada sebuah kafe yang dulu biasa didatangi seorang pria di Qatar. Di kafe itu orang mengisap vape. Sejak memutuskan berhenti, ia tidak ke sana lagi. Ia juga mengganti minumannya, sebab kopi sudah telanjur berpasangan dengan isapan. Usianya di atas 30 tahun, dan dalam catatan para peneliti ia hanya punya kode: P10.
Kisah P10 adalah satu dari tiga belas cerita yang dihimpun Mohammed Al-Hamdani, Rana Abouzoor, Ahmad AlMulla, Hanan Abdul Rahim, Noor ElNakib, Silva Kouyoumjian, dan Karam Turk-Adawi dalam Quit journey lessons: qualitative insights from men in Qatar who formerly vaped, terbit di BMC Public Health volume 26, artikel nomor 1545, tahun 2026. Para penulisnya bekerja di Department of Public Health, Qatar University, dan di Tobacco Control Center, Hamad Medical Corporation, Doha.
Ketiga belas pria itu tinggal di Qatar, dulu rutin memakai rokok elektrik, dan sudah berhenti sekurangnya 30 hari ketika diwawancarai pada Mei sampai Juni 2025. Lima orang berusia 18 sampai 30 tahun. Delapan lainnya berusia 31 sampai 60 tahun. Sembilan sudah menikah, sepuluh bekerja, dan tujuh bergelar sarjana.
Hanya dua yang berasal dari Qatar. Delapan datang dari negara Arab lain, dua dari Asia Tenggara, dan satu dari Afrika. Kebiasaan lama mereka tidak ringan. Sepuluh orang dulu mengisap vape setiap hari. Empat di antaranya mengeluarkan alat itu 17 kali atau lebih dalam sehari, pola yang oleh para penulis digolongkan kompulsif.
Kafe dan meja kumpul
Menjauh adalah langkah pertama. Pada minggu-minggu awal, kendali diri terasa tipis, dan cara termudah menjaganya adalah tidak berada di dekat asap. P10 mencoret kafenya. Seorang pria muda yang dicatat sebagai P9 memilih jalan serupa dengan sasaran berbeda, yaitu orangnya, bukan tempatnya.
“Selama masa awal yang singkat, kira-kira satu atau dua minggu pertama, saya menghindari duduk bersama orang yang memakai vape,” kata seorang partisipan yang dicatat penulis sebagai P9. Wawancara berlangsung dalam bahasa Arab atau Inggris, dan naskah jurnalnya memuat ucapan itu dalam bahasa Inggris.
Dari dua cerita itu para penulis menarik garis pembeda. Pria muda menghindari teman dan acara kumpul, tempat tawaran dan ejekan datang langsung. Pria yang lebih tua menghindari tempat umum dan rutinitas yang membuat mereka terus terpapar. Tiga orang menyebut cara menjauh ini sebagai siasat berhenti.
Meja kumpul juga menjadi tempat orang jatuh lagi. P3, pria dari kelompok lebih tua, mengatakan yang membuatnya kembali adalah teman dan pertemuan dengan mereka. Melihat seseorang mengisap vape di depannya, menurut dia, pasti membuatnya merasa rapuh. Bagi kelompoknya, risiko itu mengikis tekad pelan-pelan, bukan sekali pukul.
Baca juga Keseimbangan Pikiran Ubah Niat Berhenti Rokok Mahasiswi
Rumah, ayah, dan istri
Rumah bisa menolong, bisa pula menjegal. P9 tumbuh di rumah yang tidak mengenal rokok. Ayah, ibu, dan saudara-saudara perempuannya tidak merokok, hanya dia seorang. Ayahnya, kata P9, adalah orang yang paling keras mendorongnya berhenti. Empat orang menyebut keluarga dan teman yang mendukung sebagai penolong.
Rumah P2 berjalan ke arah sebaliknya. Pria muda itu bercerita, ia pergi ke suatu tempat dan duduk bersama ayahnya. Sang ayah lalu mengeluarkan e-shisha dan memakainya di depannya. Keinginan itu pun datang lagi. Pada pria muda, tulis para peneliti, contoh dari orang tua semacam ini memicu keinginan yang seketika.
Lalu ada istri. P2 mengaku keputusan berhenti bukan keputusannya sendiri. Istrinya yang menolong, dengan kalimat yang ia ulangi kepada peneliti: ia akan mencelakai sang istri lebih dulu sebelum mencelakai dirinya sendiri. Kalimat itu, kata P2, yang mendorongnya berhenti.
Pada pria yang lebih tua, peran istri lebih menentukan lagi. P3 menyebut dorongan besar datang dari pihak istrinya, dan karena itulah ia mengambil keputusan. P10 mengaitkannya dengan pernikahan itu sendiri. Ia menikah, ingin melangkah, dan ingin mengubah diri. Tiga dari tiga belas pria menyebut dukungan istri.
Kantor dan toiletnya
Dari rumah, cerita berpindah ke kantor. Di sinilah sifat vape yang paling praktis berubah menjadi jebakan. Alat itu tidak berasap dan tidak berbau seperti rokok, sehingga bisa dipakai diam-diam di tempat yang melarang rokok. P13, seorang pria muda, menggambarkannya dengan terang.
Di kantor, kata P13, rokok tidak boleh dipakai, tetapi vape bisa diisap di toilet atau di mana saja. Karena itu, menurut dia, kecenderungan untuk kecanduan vape menjadi lebih besar. P7, dari kelompok lebih tua, bekerja di kantor yang melarang rokok. Baginya vape adalah satu-satunya pengganti.
Kantor juga menyimpan tekanan. Empat orang menyebut lingkungan kerja yang buruk sebagai pemicu kambuh, dan pria yang lebih tua menekankannya lebih keras. P3 menyebut pekerjaan dan teman sekantor sebagai faktor yang berpengaruh, sebab tempat kerjanya penuh orang negatif yang mengeluh soal pekerjaan.
Pria muda mengakui kerentanan yang sama dengan nada lebih ringan. P12 berkata, kalau suatu saat ia tergoda kembali, penyebabnya pasti pekerjaan. Emosi negatif secara umum, yakni stres, cemas, murung, dan marah, disebut tujuh orang. Itulah pemicu kambuh yang paling banyak muncul dalam ketiga belas cerita.
Baca juga Siswa Laki-laki Merokok 34 Persen, Perempuan Hanya 1,5 Persen
Dada, lambung, dan tidur malam
Satu alasan nyaris menyatukan semuanya. Dua belas dari tiga belas pria menyebut kesehatan sebagai pendorong berhenti. Pada pria yang lebih tua, alasan itu berwujud keluhan yang bisa ditunjuk. P6 menyebut dada dan batuk, lalu berhenti setelah tahu vape memengaruhi saluran napas.
P7 membawa daftar yang lebih panjang. Ia mendapati masalah lambungnya bertambah, enzim hatinya naik, begitu pula kadar kortisolnya. Ia mengaku kelelahan. Pria muda juga cemas soal kesehatan, tetapi yang mereka ceritakan adalah perubahan yang cepat terasa sesudah berhenti.
P12 merasakan napasnya membaik. Ia tidak lagi cepat terengah saat berjalan atau joging. Ia juga menyebut permen karet dan koyo nikotin ikut menolong. Tiga orang memakai olahraga untuk meredam keinginan mengisap. P10 mulai berolahraga, berlari, dan banyak berjalan kaki. P9 menyebut olahraga sebagai faktor terbesar yang meredakan murung.
Tidur ikut terseret. P3 terbangun sampai tiga kali dalam semalam, lalu mengantuk, pusing, dan lelah pada siang hari. P13 lebih parah lagi. Ia sama sekali tidak bisa tidur, dan menurut pengakuannya hanya karena itulah ia berhenti.
Ada pula rasa takut pada kecanduan itu sendiri. P3 semula ingin lepas dari rokok, lalu mendapati dirinya kecanduan vape. Sekarang, katanya, ia punya masalah lain. P13 mengisap begitu sering sampai tidak ingat lagi hitungannya. P9 mencatat hal yang sama dari sisi lain: lama-kelamaan takarannya bertambah.
Dompet dan takaran nikotin
Uang berbicara paling lantang kepada yang muda. P8 menyebut harganya sangat mahal. P12 berkata, memikirkan uang membuat berhenti jadi lebih mudah. Pria yang lebih tua melihat hal serupa dari jarak berbeda. Menurut P4, hal yang bagus dari Qatar adalah vape tidak mudah didapat, sehingga orang terpaksa membayar lebih mahal.
P14 menghitung lebih jauh ke depan. Dorongan utamanya, kata dia, adalah uang, sebab risiko kesehatan kelak akan mahal. Tekanan darah tinggi dan diabetes memakan biaya, dan pengobatan kanker sangat mahal. Lima orang menyebut penghematan sebagai alasan berhenti.
Enam orang mengandalkan tekad. P3 menyarankan alat itu ditinggal di rumah atau di tempat lain supaya tidak selalu dalam jangkauan. P13 bertindak lebih singkat: ia membuang vape-nya ke luar dan tidak memakainya lagi. Yang lebih tua bicara soal menahan diri dalam waktu panjang, yang muda soal satu tindakan tegas.
Dua orang menurunkan takaran pelan-pelan. P2 menurunkan kadar nikotinnya dari 60 persen ke 50, lalu 30, lalu 10, dan bertahan sebulan di 5 persen. P10 memanfaatkan bulan Ramadan. Sedikit demi sedikit, dengan dukungan keluarga, ia mendapati dirinya sanggup berhenti.
Yang paling sulit dilepas justru kesenangannya. Enam orang menyebut rasa, sensasi, dan kebiasaan yang melekat. P2 sudah mencoba semua produk rokok dan menurutnya tidak ada yang memberi dorongan nikotin semurni e-shisha. P4 menikmati rasa dan asapnya, juga gumpalan awan yang dulu ia buat.
Al-Hamdani dan rekan-rekannya merangkum semua itu dalam satu kalimat berbahasa Inggris. “Pria dewasa muda dan pria dewasa yang lebih tua di Qatar punya pendorong berhenti yang sama, tetapi menempuh jalur yang berbeda menurut usia,” tulis Mohammed Al-Hamdani, peneliti di Department of Public Health, Qatar University, bersama enam rekannya.
Baca juga Warga Bangkok Membeli Alkohol di Minimarket, Tembakau di Warung
Kursi kosong dan kode P14
Ada kursi yang kosong dalam daftar itu. Tidak satu pun perempuan bersedia diwawancarai meski iklan dan surel menjangkau mereka. Para penulis menduga stigma terhadap perempuan pemakai vape di Qatar menjadi sebabnya. Karena itu, temuan ini hanya berlaku untuk pria.
Keterbatasan lain mereka akui terang-terangan. Pesertanya hanya tiga belas orang, sehingga perbandingan muda dan tua perlu dibaca hati-hati. Sebagian wawancara berbahasa Arab dan maknanya bisa bergeser saat diterjemahkan. Para pria itu juga baru berhenti sebulan atau lebih, padahal kambuh kerap terjadi dalam enam bulan.
Satu hal tidak muncul dalam cerita mereka. Tak seorang pun menyebut pernah menerima bantuan dokter atau konseling untuk berhenti. Para penulis mencatat kekosongan itu dan meminta kajian lanjutan untuk mencari tahu apakah bantuan semacam itu memang jarang, atau hanya tidak diceritakan.
Naskahnya sendiri menyisakan beberapa hal kecil yang bisa diperiksa pembaca. Pesertanya tiga belas, tetapi salah satu kutipan berkode P14. Pada tabel ciri peserta, status pernikahan hanya berjumlah dua belas orang: dua lajang, sembilan menikah, satu bercerai atau berpisah. Tiga dari tiga belas orang juga ditulis 23 persen di satu baris dan 23,1 persen di baris lain.
Kafe tempat P10 dulu duduk tetap ada, dan orang tetap mengisap vape di sana. Yang berubah adalah kursinya, yang kini kosong. Dari tiga belas cerita itu, berhenti ternyata jarang berupa satu keputusan besar. Ia tersusun dari hal-hal kecil: kafe yang tidak didatangi, minuman yang diganti, alat yang ditinggal di rumah.















