- Sebanyak 26 dari 28 perempuan menggambarkan haid sebagai hal yang harus tetap tersembunyi.
- Sebanyak 25 dari 28 perempuan diajari sejak kecil bahwa haid tidak boleh dibicarakan terbuka.
- Enam belas orang mengaku menghindari kegiatan sosial, sekolah, atau pekerjaan saat haid.
- Lima belas dari 28 perempuan aktif melawan stigma dengan berbicara terbuka soal haid.
Daftar Isi
- Stigma Haid, Cap Kotor yang Menempel pada Tubuh
- Kerahasiaan, Aturan Diam yang Diajarkan di Rumah
- Tekanan Batin, Beban yang Datang dari Tatapan Orang
- Pemberdayaan, Berani Bicara dan Berhenti Bersembunyi
- Literasi Haid, Pengetahuan yang Diminta Masuk Sekolah
- Bias Seleksi, Suara yang Tidak Terjaring Wawancara
Stigma haid, kalau diterjemahkan ke bahasa rumah, adalah cap kotor dan lemah yang ditempelkan orang pada perempuan yang sedang datang bulan. Di Turki, cap itu kadang dipasang oleh orang terdekat. Seorang perempuan bercerita bahwa ia tidak bisa memberi tahu siapa pun saat haidnya datang, sebab ibunya sendiri menyuruhnya menyembunyikan hal itu, seolah sebuah rahasia besar.
Cerita itu satu dari puluhan yang dihimpun Ayşe Nur Yilmaz dan Sümeyye Altiparmak dalam artikel Women’s lived experiences of menstrual stigma in Türkiye: a descriptive phenomenological study, terbit di jurnal BMC Public Health tahun 2026. Yilmaz mengajar kebidanan di Fırat University, Elazığ, sedangkan Altiparmak di Inonu University, Malatya. Naskahnya berbahasa Inggris dan belum diberi nomor volume.
Keduanya mendengarkan 28 perempuan berusia 18 sampai 49 tahun dari ketujuh wilayah geografis Turki, lewat percakapan video pada Oktober dan November 2024. Rata-rata umur mereka 33 tahun. Separuhnya lulusan sekolah menengah atas, dan kira-kira sepertiganya bekerja. Dari cerita mereka muncul enam tema, mulai dari agama sampai tempat kerja.
Stigma Haid, Cap Kotor yang Menempel pada Tubuh
Istilah stigma dipinjam kedua peneliti dari teori lama tentang ciri tubuh yang direndahkan masyarakat, sehingga pemiliknya malu, menutup diri, lalu tersisih. Haid masuk ke dalam daftar itu. Ia bukan lagi sekadar peristiwa tubuh, melainkan urusan yang diatur oleh harapan orang tentang kesucian dan cara perempuan seharusnya bersikap.
Contohnya paling jelas di ruang ibadah. Sebanyak 24 dari 28 perempuan, enam dari setiap tujuh orang, menyebut keyakinan agama dan tradisi sebagai hal yang membentuk pengalaman haid mereka. Seorang partisipan mengaku merasa kotor karena tidak bisa salat saat haid, sehingga ia enggan memberi tahu siapa pun. Yang lain sulit mengatakan kepada orang rumah bahwa ia tidak berpuasa, seolah hal itu memalukan.
Partisipan yang dicatat bernomor 18 bercerita bahwa keluarganya melarang ia ke masjid saat haid. Larangan itu membuatnya merasa tidak lengkap dan terasing. Partisipan bernomor 22 merasa bersalah karena tidak bisa mengikuti sebagian ritual keagamaan, dan dari situ ia berpikir haid harus disembunyikan. Seorang perempuan lain, dari sebuah desa, mengingat para tetua yang selalu menjauh darinya selama datang bulan karena menganggapnya kotor.
Bedanya begini. Para perempuan itu tidak menceritakan larangan tersebut sebagai urusan ibadah semata. Mereka menceritakannya sebagai pengalaman sosial, yaitu sesuatu yang mengubah cara mereka memandang diri sendiri dan tempat mereka di tengah keluarga. Menurut kedua peneliti, yang paling diingat partisipan adalah rasa tersisih dan malu, bukan makna keagamaannya.
Baca juga Pengetahuan dan Praktik Higiene Menstruasi Siswi Sri Lanka
Kerahasiaan, Aturan Diam yang Diajarkan di Rumah
Kerahasiaan haid, maksudnya, adalah kebiasaan menutupi datang bulan dari orang lain. Hampir semua partisipan mengenalnya. Sebanyak 26 dari 28 perempuan menggambarkan haid sebagai hal yang harus tetap tersembunyi, baik dari anggota keluarga, kerabat laki-laki, teman sekelas, maupun rekan kerja. Alasannya serupa: takut dipermalukan, dinilai buruk, atau dianggap tidak bersih dan lemah.
Aturan diam itu dipelajari, bukan dipilih. Sebanyak 25 dari 28 perempuan bercerita bahwa sejak kecil mereka diajari haid tidak boleh dibicarakan terbuka, terlebih di depan laki-laki atau anggota keluarga yang lebih tua. Seorang partisipan menyebut perempuan haid dipandang lemah atau kotor, dan membicarakannya kepada laki-laki saja sudah dianggap tidak sopan.
Akibatnya terasa sejak haid pertama. Seorang perempuan mengingat rasa bersalahnya waktu itu; ia menyembunyikan haid seakan baru melakukan sesuatu yang terlarang. Yang lain menyindir bahwa haid sebenarnya ritual perempuan, tetapi masyarakat memperlakukannya seperti penyakit. Kedua peneliti membaca pola ini sebagai stigma yang diwariskan lewat kebiasaan sehari-hari dalam keluarga, dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Tekanan Batin, Beban yang Datang dari Tatapan Orang
Tekanan batin di sini berarti rasa malu, sepi, cemas, dan hilang percaya diri yang menyertai haid. Sebanyak 20 dari 28 perempuan mengatakan stigma haid mengganggu kesejahteraan jiwa dan pergaulan mereka. Enam belas orang, lebih dari separuh, mengaku menghindari kegiatan sosial, sekolah, atau pekerjaan saat haid karena takut dicap atau disalahpahami.
Seorang partisipan merasa dikucilkan dari masyarakat setiap kali haid dan tidak ingin pergi ke mana pun. Partisipan lain merasa terasing karena tidak menemukan seorang pun untuk diajak bicara soal ini. Di sekolah, seorang perempuan selalu berusaha menyembunyikan haidnya. Ia takut pembalutnya terlihat, dan ketakutan itu membuatnya makin merasa sendirian.
Orang mudah mengira yang berat adalah haidnya. Kedua peneliti mengoreksi anggapan itu dalam naskah mereka yang berbahasa Inggris. “Tekanan emosional bisa muncul bukan dari menstruasi itu sendiri, melainkan dari tuntutan terus-menerus untuk menyembunyikan sebuah proses biologis yang normal,” tulis Ayşe Nur Yilmaz dan Sümeyye Altiparmak, keduanya asisten profesor kebidanan.
Tema keenam memperlihatkan hal yang sama di ruang kelas dan kantor. Tujuh belas dari 28 perempuan mengatakan stigma haid memengaruhi pengalaman belajar dan bekerja mereka. Dua belas orang menyebut kekhawatiran akan bocor, nyeri, atau reaksi rekan, guru, dan teman sekelas membatasi keikutsertaan mereka. Seorang partisipan menganggap ujian saat haid sebagai tekanan besar, tetapi ia terlalu malu untuk menceritakannya.
Di tempat kerja, keluhannya bukan soal kemampuan. Seorang pekerja menegaskan kinerjanya tidak turun saat haid, tetapi orang membuatnya merasa tidak cakap karena menganggapnya lemah. Pekerja lain menyembunyikan haid dari rekan-rekannya karena takut diperlakukan berbeda. Sebaliknya, partisipan yang tidak bersekolah atau bekerja, terutama ibu rumah tangga, umumnya tidak mengalami kesulitan semacam itu.
Baca juga Perempuan Malaysia dan Jarak Menuju Skrining Payudara
Pemberdayaan, Berani Bicara dan Berhenti Bersembunyi
Pemberdayaan, dalam pengertian yang dipakai naskah ini, adalah bertambahnya kendali seseorang atas hidupnya lewat pengetahuan, kepercayaan diri, dan keikutsertaan mengambil keputusan. Wujudnya sederhana. Lima belas dari 28 perempuan bercerita bahwa mereka aktif melawan stigma dengan berbicara terbuka, membagikan pengalaman, dan memancing obrolan soal haid di keluarga, lingkar pertemanan, dan komunitas daring.
Seorang partisipan berkata ia tidak lagi menyembunyikan haidnya dan berusaha membuat orang menerimanya sebagai proses alami. Yang lain mulai membicarakan haid bersama teman-temannya di media sosial, lalu bergabung dengan kampanye bertagar #MenstruationIsNormal. Sebelas dari 28 perempuan menyebut media sosial sebagai tempat penting untuk menumbuhkan kesadaran dan menggugat tabu lama.
Ada pula kegembiraan kecil dari layar televisi. Seorang partisipan mengingat iklan pembalut dulu tidak sesering sekarang. Melihat iklan itu muncul di setiap saluran membuatnya senang, karena baginya urusan ini tidak lagi disembunyikan. Lima belas perempuan menilai sikap masyarakat pelan-pelan berubah, terutama pada generasi yang lebih muda.
Literasi Haid, Pengetahuan yang Diminta Masuk Sekolah
Literasi haid berarti pengetahuan yang benar tentang datang bulan, dan para perempuan itu ingin pengetahuan tersebut diajarkan sejak dini. Sebanyak 23 dari 28 partisipan menekankan perlunya pendidikan kesehatan haid, gambaran media yang lebih jujur, kampanye publik, dan akses yang lebih mudah ke produk haid. Mereka meminta pelajaran itu dimulai pada usia sekolah dan diikuti anak perempuan maupun laki-laki.
Permintaan itu punya pembanding yang bisa dibayangkan. Kedua peneliti mengutip laporan Organisasi Kesehatan Dunia dan UNICEF tahun 2024 bahwa hanya 39 persen sekolah di dunia memberikan pendidikan kesehatan haid. Artinya, kira-kira enam dari sepuluh sekolah belum mengajarkannya. Seorang partisipan ingin anak-anak diberi tahu tentang proses ini agar menganggapnya biasa.
Usul lain menyasar layar dan negara. Seorang perempuan meminta iklan menampilkan haid secara lebih nyata supaya orang lebih leluasa membicarakannya. Partisipan lain menilai negara perlu memudahkan akses ke produk haid, sebab kesulitan memperolehnya justru menambah stigma. Delapan belas dari 28 perempuan percaya media, kampanye, dan tokoh publik bisa membuat haid lebih terlihat dan lebih wajar dibicarakan.
Dari situ kedua peneliti menyimpulkan bahwa mengurangi stigma tidak cukup dengan urusan kebersihan saja. Mereka menyebut pendidikan di sekolah, pelatihan guru dan tenaga kesehatan, program untuk keluarga, serta tayangan media yang bertanggung jawab. Tujuh belas partisipan menambahkan bahwa sekolah dan kantor jarang menyediakan suasana tempat haid bisa dibicarakan tanpa rasa malu.
Baca juga Anggaran Gender Kota Padang Naik, Isinya Masih Formalitas
Bias Seleksi, Suara yang Tidak Terjaring Wawancara
Bias seleksi adalah kemungkinan bahwa orang yang terjaring tidak mewakili semua orang. Kedua peneliti mengakuinya sendiri. Para partisipan dihubungi lewat akun media sosial bertema haid yang berpengikut sedikitnya 10.000 orang, sehingga yang terkumpul cenderung perempuan yang aktif di dunia digital dan bersedia membicarakan haid. Perempuan dengan akses internet terbatas mungkin kurang terwakili.
Keterbatasan lain ikut dicatat. Percakapan lewat video bisa mengurangi pengamatan atas bahasa tubuh. Semua data berupa penuturan sendiri, sehingga sebagian pengalaman mungkin tidak diceritakan karena malu. Temuan ini pun, tulis mereka, terikat pada konteksnya dan tidak dimaksudkan untuk digeneralisasi secara statistik. Dua puluh delapan suara bukan suara seluruh perempuan Turki.
Ada satu hal yang bisa diperiksa pembaca di naskah itu. Partisipan bernomor 12 dikutip berkata kinerja kerjanya tidak turun saat haid dan pandangan masyarakat memengaruhi pekerjaannya. Di bagian lain, partisipan bernomor sama menyebut dirinya ibu rumah tangga yang tidak mengalami kesulitan terkait haid di sekolah maupun dunia kerja. Naskah yang beredar memang versi yang belum disunting.
Angka-angka seperti 26 dari 28 itu juga hanya muncul di bagian pembahasan, tidak di bagian hasil yang memuat ucapan para partisipan. Pembaca karena itu tidak bisa mencocokkan sendiri siapa saja yang dihitung. Batas istilahnya pun perlu diingat: stigma haid di sini adalah pengalaman yang dituturkan, bukan ukuran seberapa luas ia menjangkiti sebuah negeri.
Dalam batas itu, istilah yang paling tepat justru datang dari partisipan sendiri. Rahasia besar, kata perempuan yang disuruh diam oleh ibunya. Kedua peneliti menyebutnya gejala sosial berlapis yang direproduksi sekaligus dilawan dalam keseharian perempuan. Sebagian dari 28 perempuan itu kini memilih membuka rahasia tersebut, di meja keluarga dan di layar ponsel.















