- Untuk kematian akibat kanker, kaitan semacam itu tidak ditemukan pada keseluruhan peserta.
- Rata-rata asupan protein mencapai 71,6 gram sehari, dengan 34,8 gram berasal dari sumber hewani dan 36,6 gram dari sumber nabati.
- Lain halnya dengan protein nabati: menukarnya dengan protein hewani, karbohidrat, atau lemak tidak mengubah risiko kematian secara bermakna.
- Kohort di Jepang melaporkan hal sebanding untuk protein nabati, tetapi di sana protein hewani tidak berkaitan dengan kematian.
Daftar Isi
- Dugaan lama sebelum Toorang: kurva berbentuk U
- Sejak Januari 2004, puluhan ribu warga Golestan diikuti
- Temuan Toorang dan rekan: sepuluh gram yang menggeser risiko
- Tujuh puluh gram, titik imbang yang ditawarkan Hekmatdoost dan rekan
- Dari Rotterdam sampai Isfahan, hasil yang tidak seragam
- Batas yang diakui para penulis pada 2026
- Catatan kecil pada tabel naskah tahun 2026
Selama bertahun-tahun pedoman makan menekankan dua hal, yaitu menyeimbangkan kalori yang masuk dengan tenaga yang keluar, serta mengurangi lemak sambil memastikan protein tercukupi dalam jumlah tertentu. Belakangan lembaga-lembaga internasional menggeser tekanan itu dari banyaknya zat gizi ke mutunya, sehingga pertanyaan tentang protein pun berubah dari berapa gram menjadi dari mana asalnya. Di Golestan, sebuah provinsi di Iran, pertanyaan itu kini dijawab dengan catatan kematian yang dikumpulkan selama lima belas tahun.
Jawaban itu disusun Fatemeh Toorang, Bahareh Sasanfar, Maryam Sharafkhah, Paolo Boffetta, Hossein Poustchi, Arash Etemadi, Farin Kamangar, Christian C. Abnet, Sandy Dawsey, Reza Malekzadeh, dan Azita Hekmatdoost dalam artikel The association between dietary total, animal and plant protein and macronutrient substitution; and the risk of all-cause, cardiovascular or cancer mortality in the Golestan cohort study. Artikel itu terbit di BMC Public Health tahun 2026 dan masih berstatus naskah siap terbit, sehingga belum membawa nomor volume.
Ketika para penulis, yang antara lain bekerja di University of Bologna dan Tehran University of Medical Sciences, mulai menulis, perdebatan tentang protein belum reda. Sebagian laporan yang mereka rujuk mengaitkan asupan protein total atau protein hewani yang tinggi dengan risiko diabetes tipe 2 yang lebih besar, sementara laporan lain justru menunjukkan manfaatnya bagi pengelolaan berat badan. Sebuah telaah payung tentang protein total, hewani, dan nabati terhadap penyakit kardiovaskular, kanker, dan kesehatan tulang bahkan menyimpulkan bahwa bukti yang ada belum memadai untuk menarik kesimpulan.
Dugaan lama sebelum Toorang: kurva berbentuk U
Dari perdebatan itu lahir satu dugaan yang kemudian menjadi titik tolak kelompok Toorang. Pengaruh protein terhadap kesehatan, menurut usulan yang mereka kutip, barangkali mengikuti kurva berbentuk huruf U, dan sangat bergantung pada zat gizi apa yang digantikannya di piring, entah karbohidrat entah lemak. Zat pengganti itulah yang diduga menentukan arah sekaligus besarnya risiko, sehingga menghitung gram protein saja tidak lagi dianggap cukup.
Pada saat yang sama pola makan berbasis tumbuhan makin sering dianjurkan, baik demi kesehatan maupun demi lingkungan. Riset yang dirujuk naskah mengaitkan pola makan itu dengan risiko diabetes tipe 2 dan kanker yang lebih rendah, juga dengan angka sakit dan kematian akibat penyakit kardiovaskular yang lebih kecil pada populasi umum. Namun, para penulis mencatat bahwa cara kerja protein nabati dan seberapa besar manfaatnya masih perlu diselidiki lebih jauh.
Ada satu celah lain yang mereka lihat, yakni tempat. Orang Iran, tulis mereka, makan pangan hewani dalam jumlah yang relatif sedikit: rata-rata sekitar 64 gram daging dan 139 gram produk susu sehari, berbanding kira-kira 450 gram serealia. Hubungan antara zat gizi dan kematian di negeri-negeri Asia yang piringnya seperti itu bisa saja berbeda dari tempat orang makan lebih banyak pangan hewani, dan karena itulah Golestan dipilih sebagai tempat menguji.
Sejak Januari 2004, puluhan ribu warga Golestan diikuti
Golestan Cohort Study dimulai pada Januari 2004 dengan peserta dari Gonbad City dan 326 desa di provinsi itu, semuanya berusia 40 sampai 75 tahun. Untuk telaah protein ini dipakai data 43.050 orang, terdiri atas 24.799 perempuan dan 18.251 laki-laki, dan 34.059 di antaranya tinggal di desa. Usia rata-rata mereka ketika pencatatan dimulai 49,8 tahun, dan 76,3 persen beretnis Turkman.
Kebiasaan makan mereka dicatat pada awal masa pengamatan, dan hasilnya memperlihatkan piring yang hampir seimbang. Rata-rata asupan protein mencapai 71,6 gram sehari, dengan 34,8 gram berasal dari sumber hewani dan 36,6 gram dari sumber nabati. Asupan protein total dan protein hewani sedikit lebih tinggi pada perempuan daripada laki-laki, dan pada warga kota daripada warga desa.
Sesudah itu para peserta dihubungi setiap tahun, rata-rata selama 15,05 tahun. Dalam rentang tersebut tercatat 9.309 kematian, kira-kira satu dari lima peserta, dengan 3.707 di antaranya akibat penyakit kardiovaskular dan 1.917 akibat kanker. Angka-angka inilah yang kemudian disandingkan dengan isi piring mereka pada tahun-tahun awal.
Baca juga Pangan Ultra-Olahan Korea Naik, Picu Risiko pada Pria
Temuan Toorang dan rekan: sepuluh gram yang menggeser risiko
Hasil pertama menyangkut protein secara keseluruhan. Setiap tambahan 10 gram protein total sehari berkaitan dengan risiko kematian dari semua sebab yang 2 persen lebih tinggi, dan dengan risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular yang juga 2 persen lebih tinggi. Untuk kematian akibat kanker, kaitan semacam itu tidak ditemukan pada keseluruhan peserta.
Ketika protein dipilah menurut asalnya, arah risikonya berpisah. Tambahan 10 gram protein hewani sehari berkaitan dengan risiko kematian semua sebab yang 1 persen lebih tinggi dan risiko kematian kardiovaskular yang 2 persen lebih tinggi. Sebaliknya, tambahan 10 gram protein nabati berkaitan dengan risiko kematian semua sebab yang 3 persen lebih rendah, walau untuk kematian kardiovaskular dan kanker kaitan protein nabati tidak bermakna di kelompok mana pun.
Pola itu tampak lebih jelas pada dua kelompok. Pada perempuan, tambahan protein nabati berkaitan dengan risiko kematian 5 persen lebih rendah, dan pada warga desa 4 persen lebih rendah; sementara tambahan protein total menaikkan risiko 3 persen pada perempuan dan 2 persen pada warga desa. Meski begitu, para penulis menegaskan bahwa selisih risiko antara laki-laki dan perempuan, juga antara desa dan kota, tidak bermakna secara statistik.
Tujuh puluh gram, titik imbang yang ditawarkan Hekmatdoost dan rekan
Dugaan lama tentang kurva yang tidak lurus ternyata mendapat sokongan. Kaitan antara banyaknya protein total dan kematian, baik dari semua sebab maupun akibat penyakit kardiovaskular, terbukti tidak mengikuti garis lurus, sedangkan untuk kanker polanya tidak jelas dan tidak bermakna. Dari ketiga pola itu para penulis menunjuk asupan sekitar 70 gram protein sehari, kira-kira 40 gram nabati dan 30 gram hewani, sebagai takaran yang wajar dan seimbang.
Pada asupan yang rendah, kaitan dengan kematian tidak terlihat, dan para penulis menawarkan penjelasannya. Asupan protein penduduk Golestan sudah melampaui anjuran pedoman gizi, bahkan pada sepersepuluh peserta yang makan protein paling sedikit. Dengan kata lain, hampir tidak ada peserta yang benar-benar kekurangan protein, sehingga bahaya di ujung bawah kurva tidak dapat diuji di provinsi ini.
Pertanyaan tentang zat pengganti juga dijawab. Mengganti 10 gram protein total dengan karbohidrat berkaitan dengan risiko kematian semua sebab yang 1 persen lebih rendah, dan dengan lemak 3 persen lebih rendah; pola serupa muncul untuk kematian kardiovaskular dan ketika yang diganti adalah protein hewani. Lain halnya dengan protein nabati: menukarnya dengan protein hewani, karbohidrat, atau lemak tidak mengubah risiko kematian secara bermakna.
Baca juga Kekuatan Genggaman yang Menurun dan Risiko Jantung
Dari Rotterdam sampai Isfahan, hasil yang tidak seragam
Temuan Golestan tidak berdiri sendirian, dan para penulis menaruhnya di samping empat pengamatan serupa. Sebuah kohort di Amerika Serikat yang diikuti 15 tahun mendapati bahwa protein nabati yang lebih banyak, dan penggantian protein hewani dengan nabati, menurunkan kematian semua sebab dan kardiovaskular pada laki-laki maupun perempuan. Kohort di Jepang melaporkan hal sebanding untuk protein nabati, tetapi di sana protein hewani tidak berkaitan dengan kematian.
Dua kohort lain lebih dekat dengan hasil Golestan. Kajian Rotterdam menunjukkan bahwa asupan protein total dan hewani yang lebih tinggi berkaitan dengan risiko kematian semua sebab dan kardiovaskular yang lebih besar, sedangkan protein nabati menurunkannya. Kohort Isfahan, yang juga berlangsung di Iran, menemukan kaitan searah untuk protein hewani dan kaitan berlawanan untuk protein nabati, tetapi protein total tidak berkaitan dengan kematian.
Perbedaan paling tajam datang dari meta-analisis Naghshi dan rekan atas 32 kohort. Di sana protein nabati menurunkan kematian semua sebab dan kardiovaskular, tetapi protein total justru berkaitan dengan risiko kematian yang lebih rendah, berlawanan dengan Golestan. “Asupan protein yang seimbang, yang terdiri atas campuran yang tepat antara sumber hewani dan nabati, tampaknya menopang umur panjang dan menurunkan risiko kematian, terutama akibat penyakit kardiovaskular,” tulis Toorang dan rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.
Mengapa protein hewani dan nabati bergerak ke arah berbeda, naskah menjawabnya dengan hati-hati. Kenaikan risiko kematian itu terutama dijelaskan oleh penyakit kardiovaskular, yang dikaitkan dengan pengaruh protein pada berat badan, tekanan darah, dan lemak darah. Pangan nabati juga membawa lebih sedikit lemak jenuh dan lebih banyak serat, tetapi setelah daging merah, daging olahan, buah, sayur, serat, dan jenis lemak ikut diperhitungkan, kaitan tadi tetap bertahan.
Baca juga Pasien Stroke yang Makan Sehat Malah Rentan Multimorbiditas
Batas yang diakui para penulis pada 2026
Para penulis sendiri memasang beberapa pagar di sekeliling angka 70 gram itu. Kebiasaan makan peserta hanya dicatat sekali pada awal pengamatan, tanpa mengikuti perubahannya selama lima belas tahun, dan daftar isian makanan lebih cocok untuk mengelompokkan orang menurut kebiasaannya daripada mengukur jumlah pasti yang dimakan. Takaran itu, tulis mereka, “harus diterapkan dengan hati-hati dan tidak dianggap sebagai dasar pasti bagi pedoman gizi.”
Ada pula yang tidak dipilah. Lemak jenuh tidak dibedakan dari lemak tak jenuh, karbohidrat dari biji-bijian utuh tidak dibedakan dari yang dirafinasi, dan protein tidak dirinci menurut jenis pangan asalnya. Status sosial-ekonomi dan aktivitas fisik memang ikut diperhitungkan, tetapi para penulis mengakui tidak dapat memastikan bahwa pengaruh keduanya sudah hilang sepenuhnya, sehingga temuan ini adalah kaitan, bukan bukti sebab dan akibat.
Catatan kecil pada tabel naskah tahun 2026
Beberapa hal dalam naskah patut diperiksa ulang oleh pembaca. Pada tabel ciri peserta, jumlah yang buta huruf ditulis 22.912 orang atau 69,5 persen, padahal rincian perempuan 21.070 dan laki-laki 8.842 berjumlah 29.912, angka yang memang cocok dengan persentase itu. Jumlah laki-laki tertulis 18.251 di satu tabel dan 18.257 di kepala tabel lain. Naskah juga menyebut dirinya kajian pertama di Timur Tengah untuk soal ini, sementara ia sendiri mengutip kohort Isfahan.
Dengan segala batas itu, Golestan menambahkan satu mata rantai pada riset yang semula hampir seluruhnya berasal dari tempat lain. Dugaan tentang kurva berbentuk U kini punya data dari sebuah provinsi yang piringnya lebih banyak berisi serealia daripada daging, dan hasilnya sejalan dengan Rotterdam dan Isfahan tetapi tidak dengan meta-analisis Naghshi. Mata rantai berikutnya, menurut para penulis, adalah menimbang jenis-jenis protein hewani dan nabati satu per satu.














