Jurang Kaya-Miskin Turki Melebar, Kematian Bayi Tetap Turun

A A

Ilustrasi sepasang kaki bayi baru lahir dengan gelang identitas di pergelangan kaki [Foto: Hannah Barata/Pexels]

  • Rerata koefisien Gini di 26 wilayah bergerak dari 0,364 pada 2014 menjadi 0,390 pada 2024, dengan puncak 0,394 pada 2023.
  • Rerata 26 wilayah turun dari 10,81 kematian per seribu kelahiran hidup pada 2014 menjadi 8,50 pada 2020.
  • Sesudah pengaruh tahun dikeluarkan, rerata kematian bayi per wilayah terentang dari 6,82 sampai 15,03 per seribu kelahiran hidup.
  • Menurut buku tahunan 2024, 99,4 persen kelahiran hidup berlangsung di rumah sakit.
Daftar Isi
  1. Koefisien Gini, satu angka untuk seluruh pembagian pendapatan
  2. Rasio P80/P20, seperlima terkaya dibagi seperlima termiskin
  3. Angka kematian bayi, dari 10,81 turun ke 8,86
  4. Tidak bermakna secara statistik, bukan berarti tidak ada
  5. Heterogenitas wilayah, selisih yang menetap dari tahun ke tahun
  6. Peredam dan batasnya, dugaan tentang peran sistem kesehatan

Angka kematian bayi, dalam bahasa statistik kesehatan, adalah jumlah bayi yang meninggal sebelum genap berumur satu tahun dari setiap seribu yang lahir hidup. Di Turki angka itu 11,1 pada 2014 dan 9,0 pada 2024. Sepanjang sebelas tahun yang sama, jarak pendapatan antara warga terkaya dan termiskin di negeri itu justru melebar. Dua garis itu bergerak ke arah yang berlawanan.

Pasangan angka tersebut ditelaah Ömer Acat dan Fatih Kara dalam Association between regional income inequality and infant mortality rates in Türkiye: an ecological panel analysis of NUTS-2 regions, 2014–2024, yang dimuat BMC Public Health tahun 2026. Acat mengajar kesehatan masyarakat di Karamanoğlu Mehmetbey University, Karaman, sedangkan Kara di Selçuk University, Konya. Bahan mereka seluruhnya data terbuka milik Turkish Statistical Institute, lembaga statistik Turki.

Judul naskah itu memuat tiga istilah yang perlu dibuka dulu. NUTS-2 adalah singkatan dari Nomenclature of Territorial Units for Statistics tingkat dua, yakni pembagian Turki ke dalam 26 wilayah statistik. Kata ekologis di sini tidak berurusan dengan alam. Maksudnya, yang dibandingkan adalah wilayah, bukan keluarga atau bayi satu per satu. Adapun panel berarti wilayah yang sama diikuti tahun demi tahun.

Koefisien Gini, satu angka untuk seluruh pembagian pendapatan

Istilah pertama yang dipakai untuk mengukur ketimpangan ialah koefisien Gini. Naskah menerangkannya sebagai ukuran yang menangkap ketidakmerataan pada seluruh sebaran pendapatan, dari lapisan terbawah sampai teratas. Aturannya sederhana: makin besar angkanya, makin timpang pembagiannya. Pendapatan yang dihitung adalah pendapatan rumah tangga yang siap dibelanjakan, dan sumbernya survei pendapatan dan kondisi hidup lembaga statistik Turki.

Angkanya naik. Rerata koefisien Gini di 26 wilayah bergerak dari 0,364 pada 2014 menjadi 0,390 pada 2024, dengan puncak 0,394 pada 2023. Hitungan untuk Turki sebagai satu negara menunjukkan arah serupa, dari 0,379 menjadi 0,418. Kenaikannya tidak lurus, sebab pada 2019 rerata wilayah sempat turun ke 0,357 sebelum menanjak lagi.

Bedanya begini dengan gambaran yang biasa muncul di kepala orang. Koefisien Gini tidak memberi tahu di lapisan mana jarak itu terjadi. Kedua penulis sendiri mengingatkan bahwa satu angka ringkas seperti ini bisa menutupi perbedaan besar di dalam sebuah wilayah. Dua wilayah dengan nilai Gini serupa, tulis mereka, dapat memiliki sebaran kemiskinan yang berlainan.

Baca juga Stunting Mengelompok di Timur, Berat Lahir Jejak yang Tersisa

Rasio P80/P20, seperlima terkaya dibagi seperlima termiskin

Istilah kedua lebih mudah dibayangkan. Rasio P80/P20 membandingkan seluruh pendapatan yang diterima 20 persen penduduk berpenghasilan tertinggi dengan yang diterima 20 persen penduduk berpenghasilan terendah. Nilai enam berarti kelompok teratas menerima enam kali lipat kelompok terbawah. Seperti Gini, angka yang lebih besar menandakan ketimpangan yang lebih lebar.

Rasio itu pun membesar. Rerata 26 wilayah naik dari 6,42 pada 2014 menjadi 7,22 pada 2024, setelah menyentuh 7,30 pada 2023. Pada hitungan nasional lonjakannya lebih terasa, dari 6,895 menjadi 8,111. Dengan kata lain, pada akhir masa pengamatan seperlima penduduk terkaya Turki menerima kira-kira delapan kali pendapatan seperlima termiskin.

Dua arah yang berlawanan di TurkiDua arah yang berlawanan di TurkiDua arah yang berlawanan di TurkiUkuran ketimpangan naik, angka kematian bayi turun201420240,3640,390Koefisien Gini,rerata wilayah6,427,22Rasio P80/P20,rerata wilayah10,818,86Kematian bayi,rerata wilayah0,3790,418Koefisien Gininasional6,8958,111Rasio P80/P20nasional11,19,0Kematian bayinasionalKematian bayi dihitung per 1.000 kelahiran hidup.
Sumber: Ömer Acat dan Fatih Kara, Association between regional income inequality and infant mortality rates in Türkiye: an ecological panel analysis of NUTS-2 regions, 2014–2024, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Kelemahannya juga dicatat dalam naskah. Rasio ini hanya menengok dua ujung dan tidak peka terhadap perubahan pada 60 persen penduduk di tengah. Baik Gini maupun P80/P20 tidak menangkap kekayaan, kemiskinan absolut, keamanan kerja, ketertinggalan pendidikan, kondisi rumah, atau akses seseorang ke layanan kesehatan. Keduanya sangat seiring, sehingga para penulis menilainya satu per satu.

Angka kematian bayi, dari 10,81 turun ke 8,86

Kini istilah ketiga, yang membuka tulisan ini. Menurut Acat dan Kara, angka kematian bayi bukan sekadar ukuran mutu perawatan klinis. Ia juga memantulkan kesehatan ibu, pendidikan, kerentanan ekonomi, kondisi hidup, dan seberapa terjangkau sistem kesehatan. Itu sebabnya angka ini lazim dibaca sebagai petunjuk kesehatan penduduk secara keseluruhan.

Rerata 26 wilayah turun dari 10,81 kematian per seribu kelahiran hidup pada 2014 menjadi 8,50 pada 2020. Sesudah itu angkanya naik lagi sampai 9,75 pada 2023, lalu turun ke 8,86 pada 2024. Jadi penurunannya nyata, tetapi tidak mulus. Kira-kira dua bayi lebih sedikit yang meninggal dari setiap seribu kelahiran dibandingkan sebelas tahun sebelumnya.

Kematian bayi dari tahun ke tahun2014: Per 1.000 kelahiran hidup +10,81; 2015: Per 1.000 kelahiran hidup +10,00; 2016: Per 1.000 kelahiran hidup +9,67; 2017: Per 1.000 kelahiran hidup +9,23; 2018: Per 1.000 kelahiran hidup +9,27; 2019: Per 1.000 kelahiran hidup +9,02; 2020: Per 1.000 kelahiran hidup +8,50; 2021: Per 1.000 kelahiran hidup +9,12; 2022: Per 1.000 kelahiran hidup +9,03; 2023: Per 1.000 kelahiran hidup +9,75; 2024: Per 1.000 kelahiran hidup +8,86.Kematian bayi dari tahun ke tahunRerata 26 wilayah NUTS-2 Turki, per 1.000 kelahiran hidup369120201410,81201510,0020169,6720179,2320189,2720199,0220208,5020219,1220229,0320239,7520248,86Terendah pada 2020, naik lagi pada 2023, lalu turun pada 2024.
Sumber: Ömer Acat dan Fatih Kara, Association between regional income inequality and infant mortality rates in Türkiye: an ecological panel analysis of NUTS-2 regions, 2014–2024, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Lonjakan 2023 tidak mereka kaitkan dengan satu sebab. Kenaikan itu, menurut naskah, mungkin penyimpangan sementara dari arah jangka panjang. Para penulis menyebut sejumlah pengaruh bersama yang bisa menimpa wilayah dengan kadar berbeda: keadaan ekonomi, perubahan pemakaian layanan kesehatan, dampak sesudah pandemi, migrasi, bencana, dan cara pencatatan kematian.

Ada satu rincian lagi yang mereka kutip dari buku tahunan statistik kesehatan Turki 2024. Kematian bayi di negeri itu terpusat pada masa neonatal, yaitu masa paling awal sesudah lahir. Angkanya 4,9 per seribu kelahiran hidup pada bayi perempuan dan 6,2 pada bayi laki-laki. Pada masa pascaneonatal, masa sesudahnya, angkanya 3,2 dan 3,4.

Baca juga Kartu Stiker Bintang Buat Ibu di Myanmar Tuntas Periksa Nifas

Tidak bermakna secara statistik, bukan berarti tidak ada

Pertanyaan utamanya: apakah wilayah yang lebih timpang kehilangan lebih banyak bayi? Setelah pengaruh tiap tahun diperhitungkan, jawabannya tidak terbukti. Setiap kenaikan 0,01 pada koefisien Gini berpasangan dengan tambahan 0,041 kematian per seribu kelahiran hidup. Rentang kepercayaannya membentang dari minus 0,025 sampai 0,106, artinya nol masih termasuk di dalamnya.

Hal yang sama berlaku untuk rasio P80/P20, dengan tambahan 0,054 kematian untuk setiap kenaikan satu satuan dan rentang yang juga melintasi nol. Hasilnya tidak berubah ketika wilayah dengan jumlah kelahiran lebih banyak diberi bobot lebih besar. Tidak berubah pula ketika perbedaan menahun antarwilayah dipisahkan dari naik-turun tahunan di dalam satu wilayah.

Di sinilah istilah yang paling sering disalahpahami muncul. Tidak bermakna secara statistik kerap dibaca sebagai tidak ada hubungan. Acat dan Kara menolak pembacaan itu, sebab rentang perkiraan mereka masih memuat kemungkinan pengaruh positif berukuran kecil sampai sedang. Nol memang ada di dalam rentang itu, tetapi pengaruh semacam itu juga belum tersingkir.

Kalimat mereka dalam naskah berbahasa Inggris itu tegas. “Hasil ini semestinya ditafsirkan sebagai ketiadaan bukti yang bermakna secara statistik tentang adanya hubungan, bukan sebagai bukti bahwa hubungan itu tidak ada,” tulis Ömer Acat dan Fatih Kara pada bagian pembahasan. Mereka menambahkan bahwa temuan ini tidak berarti ketimpangan pendapatan tidak penting bagi kesehatan anak.

Hasil itu juga peka terhadap cara waktu diperlakukan. Ketika tahun dianggap sebagai garis lurus yang menurun, kenaikan 0,01 pada Gini berkaitan dengan tambahan 0,070 kematian per seribu kelahiran, dan kaitan itu bermakna. Karena perubahan dari tahun ke tahun ternyata tidak mengikuti garis lurus, para penulis memilih hitungan yang lebih hati-hati.

Heterogenitas wilayah, selisih yang menetap dari tahun ke tahun

Temuan yang lebih kokoh justru ada di tempat lain. Heterogenitas wilayah, artinya keragaman antarwilayah, ternyata bertahan sepanjang masa pengamatan. Sesudah pengaruh tahun dikeluarkan, rerata kematian bayi per wilayah terentang dari 6,82 sampai 15,03 per seribu kelahiran hidup. Wilayah dengan angka tertinggi mencatat lebih dari dua kali angka wilayah terendah.

Naskah meringkas keragaman itu dengan satu ukuran lagi, variance partition coefficient, yakni bagian dari seluruh variasi yang terletak di antara wilayah. Nilainya 83,1 persen. Maksudnya, lebih dari empat perlima perbedaan yang tersisa berasal dari selisih antarwilayah yang relatif tetap, bukan dari perubahan tahunan di dalam wilayah yang sama.

Apa yang membuat satu wilayah terus lebih buruk tidak diukur dalam telaah ini. Acat dan Kara hanya menyodorkan dugaan yang bersandar pada riset lain di Turki: pendidikan ibu, tingkat kelahiran, jarak antarkelahiran, kelahiran prematur, berat lahir rendah, kehidupan di perdesaan, migrasi, jumlah tenaga kesehatan, kemampuan rujukan, dan sumber daya perawatan bayi baru lahir. Semuanya mereka sebut hipotesis untuk kajian berikutnya.

Baca juga MDSR Kematian Ibu Aceh Utara Macet di Tahap Identifikasi

Peredam dan batasnya, dugaan tentang peran sistem kesehatan

Lalu mengapa ketimpangan yang melebar tidak tampak pada kematian bayi? Para penulis menawarkan satu tafsir yang mereka sebut buffering, peredaman. Layanan kesehatan ibu dan anak yang dibiayai negara barangkali mengurangi ketergantungan pemakaian layanan pada isi dompet keluarga. Tafsir itu, mereka tegaskan, bersifat kontekstual dan bukan sebab-akibat, karena mekanismenya tidak mereka ukur.

Konteks yang dimaksud tercatat dalam naskah. Health Transformation Program diluncurkan pada 2003, aneka skema asuransi disatukan dalam General Health Insurance, dan layanan dokter keluarga meluas ke seluruh negeri pada akhir 2010. Menurut buku tahunan 2024, 99,4 persen kelahiran hidup berlangsung di rumah sakit. Cakupan vaksin rutin anak berada di antara 94 dan 96 persen.

Peredam itu tidak dianggap sempurna. Kebutuhan berobat yang tak terpenuhi karena biaya masih lebih banyak dialami kelompok berpendapatan rendah. Porsi rumah tangga yang menanggung belanja kesehatan katastrofik, yakni belanja yang menguras keuangan keluarga, naik dari 0,31 persen pada 2014 menjadi 0,86 persen pada 2024. Bila perlindungan itu melemah sementara ketimpangan terus naik, tulis mereka, kaitan keduanya dengan kesehatan bayi bisa menguat.

Kembali ke kata ekologis tadi, sebab di situlah batas telaah ini. Karena yang dibandingkan adalah wilayah, hasilnya tidak bisa dipakai untuk menyimpulkan apa pun tentang satu keluarga atau satu bayi. Faktor seperti pendidikan ibu, prematuritas, dan mutu layanan tidak dimasukkan. Dengan hanya 26 wilayah, daya untuk menangkap perbedaan antarwilayah juga terbatas.

Beberapa hal dalam naskah bisa diperiksa pembaca sendiri. Hitungan sederhana tanpa memperhitungkan tahun menghasilkan kaitan negatif yang lemah antara Gini dan kematian bayi, berlawanan arah dengan hitungan utamanya, dan para penulis menganggapnya sekadar gambaran. Data ketimpangan wilayah TR63 untuk 2023 kosong karena survei lapangan tidak dapat dilakukan sesudah gempa. Nama negara pun ditulis Türkiye pada judul tetapi Turkey pada alamat kedua penulis.

Jadi dua garis yang berlawanan arah di awal tulisan ini tetap berlawanan, dan telaah Acat dan Kara tidak mengikat keduanya. Yang mereka pastikan hanyalah batas dari tiap istilah. Koefisien Gini dan rasio P80/P20 mengukur jarak pendapatan, bukan nasib bayi. Angka kematian bayi, pada gilirannya, lebih banyak bercerita tentang wilayah tempat seorang bayi dilahirkan.

Bagikan

Baca Juga

USG Keliling Desa Bhutan Temukan Kista Cacing di Hati Warga
Makin Besar Utang Afrika Selatan, Makin Lemah Mata Uang Rand
Tidur Siang Sebentar Tak Menghapus Risiko Jantung Kurang Tidur
Guru PAUD New York Terkuras, Satu dari Lima Ingin Berhenti
Asap Kayu Bakar di Dapur Dikaitkan dengan Stroke pada Perempuan
Lansia Kampala Makan Dua Kali Sehari meski Terima Bantuan Tunai