Asap Kayu Bakar di Dapur Dikaitkan dengan Stroke pada Perempuan

A A

Ilustrasi periuk tanah liat di atas tungku bata berbahan kayu bakar di Chikan, Kaiping, Tiongkok [Foto: N509FZ/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

  • Pemakaian bahan bakar padat tetap berkaitan dengan risiko stroke yang 26 persen lebih tinggi.
  • Sesudah faktor lain disetarakan, risiko stroke perempuan di rumah berbahan bakar padat tercatat 39 persen lebih tinggi.
  • Pada laki-laki risikonya hanya 12 persen lebih tinggi dan tidak dapat dipastikan.
  • Pada seluruh peserta, gejala depresi menjelaskan hingga 15,7 persen kaitan antara bahan bakar padat dan stroke.
  • Stroke dan gejala depresi dicatat dari pengakuan peserta, bukan dari pemeriksaan, sehingga bisa meleset.
Daftar Isi
  1. Siapa yang masih memasak dengan kayu dan batu bara
  2. Selisih yang bertahan sesudah kemiskinan diperhitungkan
  3. Kaitan yang menguat pada perempuan dan memudar pada laki-laki
  4. Bagaimana asap dapur bisa sampai ke pembuluh darah otak
  5. Murung sebagai jalur perantara antara asap dan stroke
  6. Di titik mana penjelasan ini berhenti
  7. Dapur yang sama, lama paparan yang tidak sama

Kayu bakar, sisa panen, dan batu bara menyala di dapur lalu menghangatkan rumah bagi semua penghuninya, laki-laki maupun perempuan. Asapnya tidak memilih siapa yang menghirup. Anehnya, ketika hampir empat belas ribu orang paruh baya dan lanjut usia di Tiongkok diikuti bertahun-tahun, kaitan antara bahan bakar itu dan stroke hanya terlihat jelas pada perempuan. Pada laki-laki yang rumahnya memakai bahan bakar serupa, kaitan tersebut terlalu lemah untuk dipastikan.

Kejanggalan itu dilaporkan Chenqin Si, Ningna Ren, Yuting Song, Yunpeng Zhang, dan Bing Li, peneliti dari Jinshan Hospital, Fudan University, dan Shuguang Hospital di Shanghai. Artikel mereka, Sex differences in the relationship between household solid fuel use and incident stroke and the mediating role of depressive symptoms in middle-aged and older Chinese adults, terbit di BMC Public Health volume 26 nomor artikel 1281 tahun 2026. Bahannya catatan 13.928 warga Tiongkok berusia 45 tahun ke atas yang belum pernah terkena stroke saat didata pada 2011, lalu diikuti hingga 2018.

Taruhannya besar. Stroke, tulis kelima peneliti, tetap menjadi salah satu penyebab utama kecacatan dan kematian orang dewasa di dunia. Di Tiongkok, jumlah penyandangnya mencapai 26 juta orang pada 2021, naik 104,26 persen dibanding 1990, atau lebih dari dua kali lipat. Perempuan disebut menanggung beban yang lebih berat. Sementara itu, bahan bakar padat masih bertahan di wilayah yang tertinggal secara ekonomi, walaupun akses terhadap energi bersih terus bertambah.

Siapa yang masih memasak dengan kayu dan batu bara

Yang disebut bahan bakar padat dalam naskah ini adalah sisa panen, kayu, dan batu bara. Lawannya bahan bakar bersih: listrik, elpiji, gas alam, gas rawa, dan tenaga surya. Sebuah rumah digolongkan terpapar bila memakai bahan bakar padat untuk memasak atau untuk pemanas ruangan. Dengan ukuran itu, 9.573 peserta tinggal di rumah berbahan bakar padat dan hanya 4.355 peserta di rumah yang sepenuhnya memakai bahan bakar bersih, lebih dari dua berbanding satu.

Dua kelompok itu hidup dalam keadaan yang berbeda. Sebanyak 74,28 persen pengguna bahan bakar padat tinggal di desa, sedangkan pada pengguna bahan bakar bersih angkanya 33 persen. Pendapatan rumah tangga mereka lebih rendah, dengan nilai tengah 8.000 yuan setahun berbanding 30.000 yuan, dan pendidikannya lebih pendek. Skor gejala depresi mereka juga lebih tinggi sejak awal: nilai tengahnya 8, sementara pada kelompok bahan bakar bersih 5.

Dua jenis dapur, dua keadaan rumahDua jenis dapur, dua keadaan rumahDua jenis dapur, dua keadaan rumahPeserta 45 tahun ke atas di Tiongkok, 2011-2018Bahan bakar bersihBahan bakar padat4.355 orang9.573 orangJumlah peserta33,00%74,28%Tinggal di desa5 (nilai tengah)8 (nilai tengah)Skor gejaladepresi5,69%6,99%Terkena strokebaruPadat: sisa panen, kayu, batu bara. Skor gejala depresi berkisar 0-30.
Sumber: Chenqin Si, Ningna Ren, Yuting Song, Yunpeng Zhang, dan Bing Li, Sex differences in the relationship between household solid fuel use and incident stroke and the mediating role of depressive symptoms in middle-aged and older Chinese adults, BMC Public Health, 26(1281), 2026. Grafik: Cekricek.id

Selisih yang bertahan sesudah kemiskinan diperhitungkan

Selama masa pengamatan, 917 peserta terkena stroke untuk pertama kali, atau 6,58 persen dari seluruhnya. Pembagiannya tidak rata. Di rumah berbahan bakar bersih tercatat 248 kasus, setara 5,69 persen. Di rumah berbahan bakar padat tercatat 669 kasus, setara 6,99 persen. Selisihnya tampak tipis, kira-kira tujuh dari seratus orang berbanding hampir enam dari seratus, tetapi ia muncul pada ribuan rumah sekaligus.

Persoalannya, pengguna kayu dan batu bara juga lebih miskin, lebih banyak tinggal di desa, dan lebih banyak merokok. Karena itu, para peneliti memperhitungkan usia, jenis kelamin, status perkawinan, tempat tinggal, pendapatan, pendidikan, rokok, alkohol, indeks massa tubuh, serta riwayat hipertensi, diabetes, dan penyakit jantung. Sesudah semua itu disetarakan, selisihnya tidak hilang. Pemakaian bahan bakar padat tetap berkaitan dengan risiko stroke yang 26 persen lebih tinggi.

Angka itu juga tidak goyah ketika diuji dari arah lain. Saat kasus stroke yang muncul dalam dua tahun pertama dikeluarkan dari hitungan, kaitannya malah sedikit menguat, menjadi 33 persen lebih tinggi. Hasil serupa didapat ketika peserta dengan data yang tidak lengkap disisihkan. Menurut naskah itu, temuan ini sejalan dengan penelitian terdahulu di Putuo District, Shanghai, dan dengan sebuah studi besar di 11 negara yang mencakup 467 komunitas kota dan desa.

Baca juga Suhu Ekstrem dan PM2.5 Naikkan Kematian di Tiongkok

Kaitan yang menguat pada perempuan dan memudar pada laki-laki

Ketika peserta dipisah menurut jenis kelamin, gambarnya berubah. Di antara perempuan yang rumahnya memakai bahan bakar bersih, 4,99 persen terkena stroke, yakni 115 orang. Di antara perempuan di rumah berbahan bakar padat, angkanya 6,96 persen, yakni 351 orang. Sesudah faktor lain disetarakan, risiko stroke perempuan di rumah berbahan bakar padat tercatat 39 persen lebih tinggi, dan kaitan itu cukup kuat untuk disebut bermakna secara statistik.

Pada laki-laki, selisihnya nyaris rata. Sebanyak 6,48 persen laki-laki di rumah berbahan bakar bersih terkena stroke, berbanding 7,02 persen di rumah berbahan bakar padat. Risiko mereka hanya 12 persen lebih tinggi, dengan rentang ketidakpastian yang membentang dari lebih rendah sampai lebih tinggi, sehingga tidak dapat dipastikan. Para peneliti menyebut perbedaan antara kedua jenis kelamin itu sebagai perbedaan tingkat sedang, bukan jurang yang tegas.

Stroke baru menurut bahan bakar rumahPerempuan: Bahan bakar bersih +4,99%, Bahan bakar padat +6,96%; Laki-laki: Bahan bakar bersih +6,48%, Bahan bakar padat +7,02%.Stroke baru menurut bahan bakar rumahPersen peserta yang terkena stroke baru selama diikutiBahan bakar bersihBahan bakar padat2%4%6%8%0Perempuan4,99%6,96%Laki-laki6,48%7,02%Hanya selisih pada perempuan yang bermakna secara statistik.
Sumber: Chenqin Si, Ningna Ren, Yuting Song, Yunpeng Zhang, dan Bing Li, Sex differences in the relationship between household solid fuel use and incident stroke and the mediating role of depressive symptoms in middle-aged and older Chinese adults, BMC Public Health, 26(1281), 2026. Grafik: Cekricek.id

Pola pada perempuan bertahan di setiap pengujian ulang. Tanpa peserta yang datanya tidak lengkap, risiko perempuan tercatat 35 persen lebih tinggi. Tanpa kasus stroke dua tahun pertama, angkanya naik menjadi 51 persen. Ketika hitungan diberi bobot supaya lebih mencerminkan penduduk, hasilnya 45 persen. Tiga jalan yang berbeda itu sampai pada kesimpulan yang sama: pada perempuan, kaitan antara bahan bakar padat dan stroke tidak mudah dihapus.

Bagaimana asap dapur bisa sampai ke pembuluh darah otak

Cara kerjanya dijelaskan para peneliti dari rujukan yang mereka kumpulkan. Pembakaran yang tidak sempurna menghasilkan partikel halus, karbon monoksida, nitrogen oksida, dan hidrokarbon aromatik polisiklik, yang menumpuk di dalam ruangan. Partikel halus dapat memicu peradangan dan stres oksidatif di seluruh tubuh hingga ke otak. Proses itu merusak lapisan dalam pembuluh darah, melepaskan zat pemicu radang, dan mendorong terbentuknya gumpalan darah, yang kemudian berperan dalam terjadinya stroke.

Yang membuat perempuan berbeda, menurut naskah itu, adalah lamanya mereka berada di dekat sumber asap. “Di rumah tangga yang terutama mengandalkan bahan bakar padat, keterlibatan dalam pekerjaan rumah yang lebih besar dan waktu tinggal di dalam ruangan yang lebih lama pada perempuan dapat menyebabkan paparan kumulatif yang lebih panjang dan lebih tinggi, sehingga memperbesar risiko,” tulis Chenqin Si dan rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.

Mereka juga menyebut kemungkinan kedua, yaitu kerentanan biologis: tubuh perempuan tampak lebih peka terhadap dampak buruk polusi udara. Untuk laki-laki, penjelasannya lebih berhati-hati. Ketiadaan kaitan yang bermakna bisa jadi disebabkan waktu paparan yang lebih pendek, misalnya karena merantau untuk bekerja, sehingga daya hitungan untuk menangkap kaitan itu terbatas. Apakah laki-laki memang tidak terpengaruh atau hanya belum terbaca, kata para peneliti, masih perlu diperiksa pada kelompok laki-laki yang lebih besar.

Baca juga Polusi Udara Berkaitan dengan Rendahnya Skor Penuaan Sukses

Murung sebagai jalur perantara antara asap dan stroke

Bagian paling baru dari naskah ini adalah dugaan tentang jalur memutar lewat suasana hati. Gejala depresi umum dijumpai pada usia lanjut dan lebih sering pada perempuan. Polusi udara, baik di luar maupun di dalam rumah, sudah dikaitkan dengan depresi oleh penelitian lain, dan depresi sudah dikaitkan dengan stroke. Karena itu, para peneliti menduga gejala depresi berdiri di tengah, sebagai perantara antara dapur berasap dan pembuluh darah otak.

Dua mata rantai itu memang terlihat di dalam data. Pada skala gejala depresi yang berkisar dari 0 sampai 30, penghuni rumah berbahan bakar padat mendapat skor lebih tinggi 1,68 poin. Peluang mereka tergolong bergejala depresi, yakni mencapai skor 10 atau lebih, tercatat 1,8 kali peluang penghuni rumah berbahan bakar bersih. Di mata rantai berikutnya, orang yang bergejala depresi memiliki risiko stroke 25 persen lebih tinggi.

Dari situ dihitung seberapa besar bagian yang lewat jalur murung. Pada seluruh peserta, gejala depresi menjelaskan hingga 15,7 persen kaitan antara bahan bakar padat dan stroke, kira-kira seperenam. Pada perempuan angkanya 13,5 persen dan bermakna secara statistik. Pada laki-laki angkanya 11,1 persen, tetapi rentang ketidakpastiannya melebar dari minus 169,4 sampai 163,8 persen. Para peneliti sendiri meminta angka laki-laki itu dibaca dengan sangat hati-hati.

Jalur itu juga diberi penjelasan cara kerja. Peradangan dan stres oksidatif yang menetap dapat mengganggu poros hormon stres dan keseimbangan serotonin, sehingga mendorong depresi. Sesudah itu rantainya berlanjut. “Yang penting, depresi itu sendiri dapat makin meningkatkan risiko stroke dengan memperkuat peradangan, mengganggu keseimbangan neuroendokrin, dan mendorong perilaku tidak sehat seperti merokok, penggunaan alkohol, dan kurangnya aktivitas fisik,” tulis para peneliti dalam naskah berbahasa Inggris itu.

Baca juga Pasien Stroke yang Makan Sehat Malah Rentan Multimorbiditas

Di titik mana penjelasan ini berhenti

Para peneliti memasang pagar sendiri di sekitar temuannya. “Istilah ‘efek’ dipakai sebagai istilah baku dalam analisis mediasi dan tidak boleh ditafsirkan sebagai bukti hubungan sebab-akibat dalam penelitian ini,” tulis mereka. Jalur dari asap ke murung lalu ke stroke adalah jalur yang diandaikan, lalu diuji kecocokannya dengan data. Mereka tidak memakai cara genetik atau rancangan lain yang dapat memastikan bahwa yang satu benar-benar menyebabkan yang lain.

Keterbatasan lain menyangkut cara data dikumpulkan. Stroke dan gejala depresi dicatat dari pengakuan peserta, bukan dari pemeriksaan, sehingga bisa meleset. Jenis bahan bakar pun dilaporkan sendiri, tanpa keterangan tentang ventilasi dapur, jenis tungku, lama dan seringnya memasak, atau pemakaian alat pemurni udara. Kadar polutan di dalam rumah tidak pernah diukur langsung. Faktor lain yang tidak tercatat juga tidak dapat dikesampingkan.

Ada pula beberapa hal yang dapat diperiksa pembaca di dalam naskah. Ringkasannya menyebut peran gejala depresi konsisten pada depresi umum maupun berat dan hanya ada pada perempuan, padahal pada ambang depresi berat angka perempuan, 3,5 persen, tidak diberi tanda bermakna di tabelnya. Bagian pembahasan juga menyebut jumlah laki-laki yang lebih kecil sebagai salah satu sebab, sementara tabel mencatat 6.583 laki-laki dan 7.345 perempuan, dengan 451 dan 466 kasus stroke.

Dapur yang sama, lama paparan yang tidak sama

Dari temuan itu, para peneliti menarik saran yang menggabungkan dua urusan yang biasanya dipisah. Kebijakan untuk menekan beban stroke, tulis mereka, sebaiknya sekaligus mendorong peralihan rumah tangga ke energi bersih, mengurangi polusi udara di dalam rumah, dan memperkuat layanan kesehatan jiwa di tingkat komunitas, terutama bagi perempuan. Menilai lingkungan tempat tinggal seseorang, menurut naskah itu, penting untuk mencegah stroke, seberat apa pun gejala depresinya.

Maka kejanggalan di awal mendapat jawabannya, sejauh yang bisa diberikan naskah ini. Asap memang tidak memilih, tetapi orang tidak berdiri sama lama di dekat tungku. Perempuan lebih lama memasak dan lebih lama berada di dalam rumah, dan pada merekalah kaitan dengan stroke terbaca, sebagian lewat suasana hati yang ikut memburuk. Pada laki-laki, kayu bakar yang sama menyala di rumah yang sama, dan hitungannya belum sanggup memutuskan.

Bagikan

Baca Juga

Lansia Kampala Makan Dua Kali Sehari meski Terima Bantuan Tunai
Taman Kota Toronto Tak Sama Ramahnya bagi Warga Kulit Berwarna
Warga Belanda yang Cemas soal Dunia Lebih Sering Terganggu Jiwa
Diare di Pesisir Bangladesh Datang lewat Air Asin dan Air Banjir
Anak Muda Kota Kecil Turki Jarang Bergerak, Tamannya Pun Sempit
Guru Nigeria Sulit Punya Waktu Pribadi saat Mengajar 3 Pelajaran