- Dari 3.058 orang yang datanya lengkap, 112 orang membawa kista, terdiri atas 79 kasus terkonfirmasi dan 33 kasus terduga.
- Dari 79 kasus terkonfirmasi itu, hanya 21 orang yang sudah pernah didiagnosis sebelumnya.
- Hati menjadi tempat kista pada 104 dari 112 orang, atau 92,9 persen.
- Pada warga berusia 60 tahun ke atas, kista ditemukan pada 51 dari 724 orang, atau 7,0 persen.
- Hanya 428 dari 2.842 orang, atau 15,1 persen, yang pernah mendengar tentang penyakit ini.
Daftar Isi
- Sebelum 2025, angka hanya lahir dari ruang periksa rumah sakit
- April sampai Juli 2025, yang tampak di layar USG
- Jejak usia yang dibaca Wangchuk sebagai paparan seumur hidup
- Kontak dengan anjing, sinyal yang diragukan Hattendorf dan rekan
- Setelah survei, usulan Zinsstag dan rekan untuk seluruh warga
- Batas survei 2025 dan yang bisa dicocokkan pembaca
Selama bertahun-tahun, pengetahuan Bhutan tentang ekinokokosis kistik, penyakit kista yang ditimbulkan larva cacing Echinococcus granulosus, bersumber dari catatan rumah sakit dan laporan kasus yang terpisah-pisah. Dari catatan semacam itu, sebuah kajian menghitung kira-kira 4,4 kasus baru per 100.000 penduduk tiap tahun sepanjang 2014 sampai 2019. Belum pernah ada yang mendatangi desa-desa di negeri itu, memeriksa perut warganya satu per satu, lalu menghitung berapa orang yang sebenarnya membawa kista tersebut.
Pekerjaan itulah yang dilaporkan Pema Wangchuk, Jan Hattendorf, dan Jakob Zinsstag dalam Community-based abdominal ultrasound survey of cystic echinococcosis in Bhutan: prevalence and risk factors, yang dimuat BMC Public Health volume 26 nomor 2528, tahun 2026. Ketiganya bekerja di Swiss Tropical and Public Health Institute dan University of Basel, sedangkan Wangchuk juga berafiliasi dengan Gidakom Hospital di Thimphu. Antara April dan Juli 2025, perut 3.077 warga berusia 12 tahun ke atas dari 44 desa di Distrik Bumthang diperiksa dengan ultrasonografi.
Hasilnya menggeser gambaran lama. Dari 3.058 orang yang datanya lengkap, 112 orang membawa kista, terdiri atas 79 kasus terkonfirmasi dan 33 kasus terduga. Setelah disesuaikan dengan pengelompokan per desa, kista yang terkonfirmasi terdapat pada 2,58 persen warga, dan angka itu naik menjadi 3,66 persen bila kasus terduga ikut dihitung. Dari 79 kasus terkonfirmasi itu, hanya 21 orang yang sudah pernah didiagnosis sebelumnya. Selebihnya membawa kista tanpa pernah tercatat di mana pun.
Sebelum 2025, angka hanya lahir dari ruang periksa rumah sakit
Penyakit ini, menurut uraian ketiga penulis, beredar di antara anjing dan ternak, sedangkan manusia hanya menjadi inang buntu yang tertular lewat makanan dan air yang tercemar. Organisasi Kesehatan Dunia menggolongkannya sebagai penyakit tropis terabaikan. Jumlah kasus baru di seluruh dunia diperkirakan naik dari sekitar 207.000 pada 2019 menjadi sekitar 236.000 pada 2030, atau bertambah 13,7 persen. Wilayah endemisnya mencakup Asia Tengah, Amerika Selatan, sebagian Afrika, dan Himalaya.
Bhutan punya hampir semua prasyaratnya. Permukiman pedesaan terpencar dan jarang, ternak digembalakan lepas, dan anjing hidup dekat dengan manusia. Pemeriksaan molekuler oleh National Center for Animal Health, yang dirujuk Wangchuk dan rekan, sudah memastikan adanya Echinococcus granulosus sensu stricto dan Echinococcus ortleppi pada sapi dan anjing.
Yang membuatnya sulit dilacak adalah sifat penyakitnya sendiri. Kista tumbuh lambat dan bisa bertahun-tahun tanpa gejala, sebelum membesar lalu menimbulkan nyeri perut atau sumbatan saluran empedu.
Di titik itulah catatan rumah sakit kehilangan daya. Kajian terdahulu yang dikutip para penulis menyebut sebagian besar kasus tidak terdiagnosis karena ketiadaan surveilans dan sarana diagnosis, terutama di pedesaan. Bumthang, distrik berpenduduk sekitar 17.000 jiwa pada ketinggian 2.600 sampai 4.500 meter, dipilih karena laporan rumah sakit sebelumnya menunjukkan beban kasus yang lebih tinggi di sana. Warganya hidup dari pertanian, ternak, dan penggembalaan yak serta sapi, sementara layanan USG nyaris hanya ada di satu rumah sakit distrik.
Baca juga Kesadaran Zoonosis Warga Dhading Nepal Masih Jomplang
April sampai Juli 2025, yang tampak di layar USG
Kota Chamkhar dan desa-desa di sekitar rumah sakit distrik sengaja tidak disertakan, sebab warganya sudah terbiasa mengakses USG. Yang didatangi adalah desa-desa di empat gewog, sebutan untuk blok administratif, termasuk sejumlah rumah tangga penggembala yak setengah nomaden di utara. Hati menjadi tempat kista pada 104 dari 112 orang, atau 92,9 persen. Empat orang lain membawa kista di ginjal. Sebagian besar hanya memiliki satu kista, dengan diameter median 5,9 sentimeter, dan pada 13 orang kista terbesarnya mencapai 10 sentimeter atau lebih.
Tahap perkembangan kista itu memberi keterangan tambahan. Dari 110 kista yang dapat digolongkan, 56,4 persen masih aktif, 20,0 persen sudah tidak aktif, dan 23,6 persen berupa lesi kistik yang belum bisa dipastikan.
Bagi para penulis, kista aktif tahap paling awal menandakan penularan masih berlangsung di tengah warga. Campuran kista aktif dan tidak aktif di berbagai kelompok usia, sebaliknya, menunjukkan infeksi lama yang menumpuk selama bertahun-tahun, pola yang juga dilaporkan survei serupa di Uzbekistan, Chile, dan Mongolia.
Kista aktif penting secara klinis karena biasanya memerlukan tindakan, mulai dari obat albendazol, tindakan lewat kulit, sampai pembedahan, bergantung pada tahapnya. Kista yang sudah tidak aktif pun, menurut naskah itu, tetap perlu dipantau. Pemeriksaan yang sama sekaligus menemukan hal lain pada 796 peserta, terutama perlemakan hati pada 659 orang dan batu empedu pada 76 orang. Semua peserta dengan temuan berarti mendapat konseling, rujukan, dan penanganan tanpa biaya di dalam sistem kesehatan Bhutan yang dibiayai negara.
Jejak usia yang dibaca Wangchuk sebagai paparan seumur hidup
Pola paling jelas dalam data itu adalah usia. Pada warga di bawah 19 tahun dan kelompok 20 sampai 39 tahun, kista ditemukan pada 1,7 persen, lalu naik menjadi 3,9 persen pada kelompok 40 sampai 59 tahun. Pada warga berusia 60 tahun ke atas, kista ditemukan pada 51 dari 724 orang, atau 7,0 persen. Para penulis membacanya sebagai cerminan sifat menahun penyakit ini: angka pada orang tua merekam paparan yang terkumpul sepanjang hidup di lingkungan endemis, bukan penularan yang baru terjadi.
Tafsir itu mereka sandarkan pada survei di Tibet yang mencakup lebih dari 80.000 orang dan menemukan tanjakan serupa menurut usia. Namun ketika semua faktor dihitung bersama, tanjakan di Bumthang tidak lagi bermakna secara statistik, dengan rentang ketidakpastian yang sangat lebar untuk kelompok tertua. Hal yang sama berlaku bagi jenis kelamin. Kista lebih sering ditemukan pada perempuan, 4,2 persen berbanding 2,9 persen pada laki-laki, tetapi selisih itu tidak cukup tegas untuk dipastikan.
Pekerjaan dan pendidikan mengikuti jalan yang sama. Petani, yang mencakup 70 persen peserta, mencatat angka kasar 4,25 persen, dan warga tanpa pendidikan formal 4,37 persen, jauh di atas 1,07 persen pada lulusan sekolah menengah. Keduanya gugur setelah penyesuaian. Wangchuk dan rekan menyandingkannya dengan laporan dari komunitas tani campuran di Tibet, tempat beternak terlalu lazim untuk bisa membedakan siapa yang lebih berisiko. Warga pendatang, yang angkanya 1,7 persen berbanding 3,6 persen pada warga asli, juga hanya mendekati batas kemaknaan.
Baca juga Hanya 0,76 Persen Remaja Taizhou Terinfeksi TB, BCG Menekannya
Kontak dengan anjing, sinyal yang diragukan Hattendorf dan rekan
Satu-satunya faktor yang lolos dari penyesuaian justru yang paling janggal. Warga yang mengaku kadang-kadang bersentuhan dengan anjing memiliki peluang 1,73 kali lebih besar membawa kista dibanding mereka yang mengaku tidak pernah. Akan tetapi, warga yang mengaku sering dan selalu bersentuhan dengan anjing malah mencatat angka terendah, masing-masing 0,9 dan 1,0 persen, di bawah 3,3 persen pada kelompok yang tidak pernah. Kebiasaan mencuci tangan dan makan daging mentah sama sekali tidak berkaitan.
Ketiga penulis sendiri tidak memperlakukan angka 1,73 itu sebagai temuan kokoh. Mereka menulis bahwa pola tak lazim tersebut kemungkinan mencerminkan faktor pengganggu yang tersisa, jumlah kasus yang terlalu sedikit di tiap kelompok, hasil positif palsu akibat banyaknya perbandingan, atau salah golong paparan, sehingga harus ditafsirkan dengan hati-hati. Pengakuan tentang seberapa sering menyentuh anjing, kata mereka, hanyalah takaran kasar di tempat anjing liar berkeliaran di mana-mana dan pencemaran lingkungan sudah meluas.
Dari situ lahir kesimpulan yang berbeda dari dugaan umum tentang kelompok berisiko. Dalam naskah berbahasa Inggris itu, Wangchuk, Hattendorf, dan Zinsstag menulis: “Tidak ada faktor risiko tingkat individu yang secara mandiri berkaitan dengan ekinokokosis kistik, yang menunjukkan bahwa penularan terutama didorong oleh paparan lingkungan bersama, bukan oleh ciri-ciri perorangan.” Selisih antardesa pun kecil, hanya menjelaskan sekitar 3,3 persen keragaman, sehingga paparan tampak tersebar di seluruh distrik dan bukan terkumpul di segelintir desa.
Setelah survei, usulan Zinsstag dan rekan untuk seluruh warga
Konsekuensinya menyangkut cara mengendalikan penyakit ini. Di lingkungan seperti Bumthang, menurut para penulis, upaya yang hanya menyasar rumah tangga pemilik anjing atau kelompok pekerjaan tertentu kecil kemungkinan memadai. Mereka mengusulkan langkah terpadu untuk manusia, hewan, dan lingkungan sekaligus: pemberian obat cacing pada anjing secara berkala, vaksinasi ternak yang menjadi inang perantara, pembuangan jeroan yang aman, perbaikan kebersihan pemotongan hewan, penyuluhan kesehatan bagi seluruh warga, dan surveilans yang diperkuat.
Penyuluhan punya alasan tersendiri dalam data mereka. Hanya 428 dari 2.842 orang, atau 15,1 persen, yang pernah mendengar tentang penyakit ini. Hanya 1,4 persen yang menyebut ada anggota keluarga yang pernah terkena. Sebaran antargewog juga tidak rata. Angka terkonfirmasi tertinggi tercatat di Chhoekhor, 3,5 persen, disusul Chumey dengan 3,0 persen dan jumlah kasus terbanyak, sedangkan Tang berada di ujung bawah dengan 0,3 persen.
Dalam rantai riset yang lebih panjang, angka 2,58 persen itu tidak berdiri ganjil. Para penulis menempatkannya di dalam rentang 0,7 sampai 4,9 persen yang dilaporkan dari Dataran Tinggi Qinghai-Tibet dan pedesaan Mongolia. Mereka mengakui angka survei tidak dapat dibandingkan langsung dengan hitungan rumah sakit sebesar 4,4 per 100.000 tadi, karena keduanya mengukur hal yang berlainan. Meski begitu, jarak di antara keduanya mereka nilai tetap sangat lebar, sejalan dengan kesenjangan deteksi yang sudah lama dicatat di wilayah endemis.
Baca juga Suhu, Bukan Hujan, Kunci Ramalan Dengue di Nepal Barat
Batas survei 2025 dan yang bisa dicocokkan pembaca
Sejumlah batas diakui para penulis. Survei satu waktu tidak dapat menetapkan sebab-akibat, dan paparan dicatat dari pengakuan peserta. Jumlah kasus yang hanya 112 membatasi daya uji.
USG perut dapat melewatkan kista yang sangat dini atau sudah mengapur, dan tidak menjangkau paru. Lesi kistik yang belum pasti tidak diperiksa ulang dengan uji darah, sehingga bisa menggelembungkan angka gabungan. Karena hanya mencakup satu distrik tanpa wilayah layanan rumah sakit, hasilnya tidak boleh dianggap mewakili seluruh Bhutan.
Ada pula beberapa hal kecil yang tidak seragam di dalam naskah. Abstrak menyebut kontak sesekali dengan anjing sebagai satu-satunya faktor yang berkaitan secara mandiri, sedangkan bagian kesimpulan menyatakan tidak ada satu pun. Jumlah warga pendatang tertulis 517 pada satu tabel dan 516 pada tabel lain.
Untuk gewog Tang, naskah mencantumkan 2 kasus dari 57 orang di samping angka 0,3 persen, dua bilangan yang sukar dipertemukan. Persentase kista tahap paling awal juga berbeda antara teks dan tabel, 26,4 dan 25,5 persen.
Dengan segala batas itu, survei Bumthang menambah satu mata rantai yang sebelumnya kosong. Catatan rumah sakit tahun 2014 sampai 2019 memberi tahu berapa orang yang datang berobat, sedangkan pemeriksaan dari desa ke desa pada 2025 memberi tahu berapa orang yang membawa kista tanpa pernah diperiksa. Para penulis menyebut hasil ini sebagai titik awal pemantauan. Mata rantai berikutnya, menurut mereka sendiri, adalah pengujian kotoran anjing serta pencarian telur cacing itu di tanah dan air.














