Lansia Kampala Makan Dua Kali Sehari meski Terima Bantuan Tunai

A A

Ilustrasi panci besar berbungkus daun pisang di atas tungku bata berapi kayu [Foto: Ssemmanda will/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

  • Hanya 32 orang, satu dari lima, yang terutama membelanjakannya untuk makan.
  • Sebanyak 30 orang, hampir satu dari lima, tergolong kurus.
  • Hanya 37 orang, atau 23,3 persen, yang kualitas hidupnya tergolong baik.
  • Lansia yang makan tiga kali atau lebih unggul di keempat sisi.
  • Data diambil pada satu waktu saja, sehingga tidak bisa menunjukkan sebab dan akibat.
Daftar Isi
  1. Ruma mendatangi tiga divisi kota dan mencatat siapa yang ditemuinya
  2. Tumusiime dan rekan-rekannya menghitung isi piring selama sehari
  3. Timbangan tim Ruma menunjukkan kurus dan gemuk sekaligus
  4. Namayengo dan timnya mengukur rasa hidup dengan skor nol sampai seratus
  5. Ruma menimbang seberapa jauh tujuh dolar itu bekerja
  6. Beberapa angka dalam naskah Ruma perlu dibaca ulang

Daniel Hendry Ruma dan timnya mengajukan pertanyaan sederhana kepada 159 orang berusia 80 tahun ke atas di Kampala, ibu kota Uganda: apa saja yang dimakan dan diminum dalam 24 jam terakhir. Jawabannya pendek. Lebih dari sepertiga hanya makan sekali. Sepertiga lagi makan dua kali. Padahal semuanya terdaftar sebagai penerima bantuan tunai bulanan dari pemerintah.

Catatan itu dituliskan Ruma bersama Joy Francesca Tumusiime, Faith Muyonga Namayengo, dan Norman Paul Shapiro dalam Nutritional status and quality of life of older persons on Social Assistance Grant for Empowerment (SAGE) in Kampala City, Central Uganda, terbit di BMC Public Health volume 26, artikel nomor 2481, tahun 2026. Keempatnya bekerja di Department of Nutritional Science and Dietetics, Kyambogo University, Kampala.

Bantuan yang dimaksud Ruma bernama Social Assistance Grant for Empowerment, disingkat SAGE. Besarnya 25.000 shilling Uganda sebulan, kira-kira tujuh dolar Amerika Serikat, untuk warga berusia 80 tahun ke atas. Uangnya dikirim Ministry of Gender, Labour and Social Development secara elektronik tiap tiga bulan, sebagian besar langsung kepada penerima.

Ruma mendatangi tiga divisi kota dan mencatat siapa yang ditemuinya

Kampala terbagi atas lima divisi, dan tim Ruma bekerja di tiga di antaranya: Kawempe, Nakawa, dan Rubaga. Dari tiap divisi diambil 53 orang. Usia rata-rata mereka 88,45 tahun, dan 67 orang sudah melewati 90 tahun. Laki-laki dan perempuan nyaris sama banyak, 80 berbanding 79. Mereka dipilih dari daftar penerima yang memuat 380 nama di Kawempe, 393 di Nakawa, dan 498 di Rubaga.

Tumusiime dan rekan-rekannya menemukan orang-orang yang sebagian besar sudah tidak berpasangan. Sebanyak 75 orang berstatus duda atau janda, 36 bercerai atau berpisah, dan hanya 32 yang masih menikah. Soal sekolah, 58 orang tidak pernah mengenyam pendidikan formal. Sebagian besar, 103 orang, tinggal bersama kerabat dekat, sedangkan 40 orang tinggal sendirian.

Ruma lalu bertanya ke mana uang bantuan itu pergi. Bagi 89 orang, atau 56 persen, SAGE adalah sumber penghasilan utama. Namun, pos terbesarnya bukan makanan. Sebanyak 45 orang memakainya terutama untuk cucu, 42 untuk air dan listrik rumah, serta 40 untuk berobat. Hanya 32 orang, satu dari lima, yang terutama membelanjakannya untuk makan.

Namayengo dan tim juga mencatat kesulitan sehari-hari yang disebut para lansia itu. Sebanyak 38 orang mengeluhkan air bersih yang langka, dan 37 orang hidup tanpa listrik. Sebanyak 40 orang lain menyebut kesulitan yang berbeda-beda. Hanya 44 orang, kira-kira satu dari empat, yang mengatakan tidak menghadapi kesulitan apa pun.

Baca juga Kesenjangan SES Perlebar Risiko Disabilitas Lansia Kota

Tumusiime dan rekan-rekannya menghitung isi piring selama sehari

Hitungan tim Ruma soal frekuensi makan berbunyi begini: 57 orang makan sekali sehari, 53 orang dua kali, dan 49 orang tiga kali atau lebih. Rata-ratanya 1,95 kali. Artinya, tujuh dari sepuluh lansia itu makan dua kali atau kurang. Para penulis mengingatkan bahwa angka dua kali makan berada di bawah anjuran minimal tiga kali sehari.

Namayengo dan rekan-rekannya kemudian memilah makanan itu ke dalam dua belas kelompok, dari telur sampai umbi-umbian. Hampir semua orang makan serealia, tepatnya 89,9 persen. Kacang-kacangan dimakan 79,9 persen, umbi-umbian 66,7 persen. Sesudah itu angkanya jatuh. Sayur hanya sampai ke piring 30,1 persen lansia, ikan 22,3 persen, dan susu 21,6 persen.

Isi piring lansia Kampala dalam sehariSerealia: Persen lansia yang memakannya +89,9%; Kacang-kacangan: Persen lansia yang memakannya +79,9%; Umbi-umbian: Persen lansia yang memakannya +66,7%; Sayur: Persen lansia yang memakannya +30,1%; Ikan: Persen lansia yang memakannya +22,3%; Daging: Persen lansia yang memakannya +16,7%; Buah: Persen lansia yang memakannya +14,6%; Telur: Persen lansia yang memakannya +10,2%.Isi piring lansia Kampala dalam sehariPersen dari 159 lansia, makanan 24 jam terakhir25%50%75%0Serealia89,9%Kacang-kacangan79,9%Umbi-umbian66,7%Sayur30,1%Ikan22,3%Daging16,7%Buah14,6%Telur10,2%Delapan dari dua belas kelompok pangan yang dicatat peneliti.
Sumber: Daniel Hendry Ruma, Joy Francesca Tumusiime, Faith Muyonga Namayengo, dan Norman Paul Shapiro, Nutritional status and quality of life of older persons on Social Assistance Grant for Empowerment (SAGE) in Kampala City, Central Uganda, BMC Public Health, 26(2481), 2026. Grafik: Cekricek.id

Tiga kelompok pangan paling jarang muncul dalam catatan Ruma. Daging dimakan 16,7 persen lansia, buah 14,6 persen, dan telur 10,2 persen, kira-kira satu dari sepuluh orang. Para penulis menduga sebabnya beragam: harganya mahal, dianggap berakibat buruk bagi kesehatan, sulit didapat, lama dimasak, dan tidak ada yang membantu menyiapkannya.

Menurut Tumusiime dan kawan-kawan, lebih dari separuh lansia, 53,5 persen, mendapat makanan dengan membeli di pasar. Hanya 17 persen yang memakan hasil tanam sendiri. Para penulis mengaitkannya dengan kota yang sarananya terbatas untuk membuat kebun pekarangan. Skor ragam pangan rata-rata 6,69 dari dua belas kelompok, dan 22 orang makan dari kurang dari empat setengah kelompok.

Timbangan tim Ruma menunjukkan kurus dan gemuk sekaligus

Setelah bertanya, tim Ruma menimbang berat dan mengukur badan. Indeks massa tubuh rata-rata 22,8. Separuh lansia, 80 orang, berstatus gizi normal. Sisanya terbelah ke dua arah. Sebanyak 30 orang, hampir satu dari lima, tergolong kurus. Di sisi lain, 36 orang berat badannya berlebih dan 13 orang obesitas. Para penulis menyebutnya beban ganda malnutrisi.

Namayengo dan rekan-rekannya mendapati frekuensi makan paling kuat berkaitan dengan badan kurus. Lansia yang makan tiga kali atau lebih jauh lebih kecil peluangnya tergolong kurus. Sebaliknya, mereka yang makanannya tidak dibeli di pasar berpeluang kurus sekitar dua kali lebih besar. Para penulis menafsirkan kelompok ini tidak punya uang untuk membeli makanan.

Jenis kelamin juga muncul dalam hitungan Ruma dan tim. Laki-laki lebih kecil peluangnya tergolong kurus, tetapi dua kali lebih besar peluangnya berat berlebih atau obesitas. Peluang berat berlebih juga lebih tinggi pada lansia yang punya penghasilan selain SAGE. Angka kurus dalam temuan ini, tulis mereka, lebih tinggi daripada rata-rata nasional Uganda.

Baca juga Separuh Lansia Pusat Warga Emas Klang Valley Menua Sehat

Namayengo dan timnya mengukur rasa hidup dengan skor nol sampai seratus

Pekerjaan berikutnya bagi tim Ruma adalah menanyakan bagaimana para lansia itu menilai hidupnya sendiri, dari kesehatan badan sampai lingkungan tempat tinggal. Jawaban diubah menjadi skor nol sampai seratus. Skor 45 ke bawah digolongkan buruk, 65 ke atas tinggi. Skor keseluruhan rata-rata 52,27. Hanya 37 orang, atau 23,3 persen, yang kualitas hidupnya tergolong baik.

Tumusiime dan rekan-rekannya mencatat sisi psikologis sebagai yang paling rendah, dengan skor rata-rata 49,92. Pada sisi ini 82,4 persen lansia tergolong buruk. Sisi fisik menyusul dengan 74,2 persen, lalu hubungan sosial 72,3 persen. Sisi lingkungan paling tinggi skornya, 54,14, tetapi 62,9 persen tetap tergolong buruk.

Peta yang digambar Ruma tidak rata antardivisi. Di Kawempe, skor fisik rata-rata hanya 36,91. Di Nakawa angkanya 69,69, hampir dua kali lipat. Rubaga berada di tengah dengan 48,67. Pola serupa muncul pada tiga sisi lain: skor psikologis Kawempe 41,51, sedangkan Nakawa 64,86. Naskah mencatat selisih itu tanpa menguraikan sebabnya.

Lalu Namayengo dan tim menyandingkan skor itu dengan piring makan. Lansia yang makan tiga kali atau lebih unggul di keempat sisi. Selisih terbesar ada pada hubungan sosial, 64,54 berbanding 49,20. “Ini menegaskan peran gizi yang cukup dalam kualitas hidup manusia,” tulis Ruma dan ketiga rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.

Makan lebih sering, skor hidup lebih tinggiSkor kualitas hidup pada empat sisi lebih tinggi di kelompok yang makan tiga kali atau lebih sehari.Makan lebih sering, skor hidup lebih tinggiSkor rata-rata kualitas hidup lansia Kampala, skala 0 sampai 100Makan 1-2 kaliMakan 3 kali/lebih49,6056,38Fisik47,8454,59Psikologis49,2064,54Hubungan sosial52,2758,33Lingkungan110 lansia makan dua kali atau kurang, 49 lansia tiga kali atau lebih.
Sumber: Daniel Hendry Ruma, Joy Francesca Tumusiime, Faith Muyonga Namayengo, dan Norman Paul Shapiro, Nutritional status and quality of life of older persons on Social Assistance Grant for Empowerment (SAGE) in Kampala City, Central Uganda, BMC Public Health, 26(2481), 2026. Grafik: Cekricek.id

Sekolah juga meninggalkan jejak dalam data Tumusiime dan kawan-kawan. Lansia berpendidikan menengah atau lebih tinggi mencatat skor fisik rata-rata 61,25, sedangkan yang berpendidikan dasar atau lebih rendah 47,31. Peluang mereka mengalami kualitas hidup buruk hanya seperempatnya. Para penulis menduga pendidikan membuka pintu ke pekerjaan dan penghasilan yang menentukan masa tua.

Ruma menimbang seberapa jauh tujuh dolar itu bekerja

Dari semua itu, Ruma dan tim sampai pada soal uang. Lansia yang punya penghasilan selain SAGE lebih terlindung dari kualitas hidup yang buruk. “Jumlah uang yang disalurkan dalam program SAGE Uganda bermanfaat bagi penerimanya, tetapi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan yang terus-menerus dihadapi para lansia,” tulis mereka, diterjemahkan dari bahasa Inggris.

Ada satu temuan yang berlawanan dengan riset lain, dan Tumusiime dan rekan-rekannya mengakuinya. Laki-laki dalam data mereka berpeluang lebih dari dua kali mengalami kualitas hidup buruk dibanding perempuan. Riset Boah dan kawan-kawan di Rwanda justru menemukan skor laki-laki lebih tinggi. Para penulis menduga laki-laki terlalu keras bekerja untuk keluarga hingga mudah runtuh fisik dan emosinya.

Baca juga Skor Framingham dan Risiko Jantung Warga Miskin Malaysia

Kesimpulan Ruma ditulis hati-hati. Karena lansia yang tidak bergantung pada bantuan itu lebih baik keadaannya, tulis para penulis, “ini mungkin menandakan bahwa bantuan itu berkontribusi minimal terhadap kesejahteraan gizi dan kesehatan para lansia.” Mereka menyarankan pemerintah mempertimbangkan kenaikan jumlahnya dan mendahulukan upaya yang mendorong lansia makan lebih cukup.

Namayengo dan rekan-rekannya juga menuliskan batas pekerjaan mereka. Data diambil pada satu waktu saja, sehingga tidak bisa menunjukkan sebab dan akibat. Ukuran berat dan tinggi badan tidak menangkap susutnya otot dan bertambahnya lemak pada usia lanjut. Penerima bantuan juga tidak dibandingkan dengan lansia yang tidak menerimanya, dan perbandingan itulah yang mereka sarankan untuk riset berikutnya.

Beberapa angka dalam naskah Ruma perlu dibaca ulang

Pembaca yang membuka tabel-tabel Ruma akan menemukan beberapa angka yang tidak cocok. Abstrak menulis rentang kepercayaan 1,53 sampai 3,04 untuk peluang 2,45 kali pada laki-laki. Tabelnya menulis 1,23 sampai 2,27, rentang yang tidak memuat 2,45. Untuk penghasilan lain, rentangnya 0,28 sampai 1,38, melewati angka satu, tetapi tetap dilaporkan bermakna.

Dua hal lain dalam naskah Namayengo dan tim juga patut dicatat. Bagian kesimpulan menyebut laki-laki sebagai penanda kurang gizi, sedangkan bagian hasil menulis laki-laki justru lebih kecil peluangnya tergolong kurus. Lansia dengan ragam pangan di atas enam kelompok ditulis 75 orang di satu tabel dan 103 orang di tabel lain.

Pertanyaan Ruma tentang 24 jam terakhir itu pada akhirnya dijawab dengan daftar yang pendek: serealia, kacang-kacangan, umbi, dan bagi kebanyakan orang tidak lebih dari dua kali makan. Tujuh dolar sebulan sampai ke tangan mereka. Pada sebagian besar dari mereka, uang itu lebih dulu pergi ke cucu, air, listrik, dan obat sebelum sampai ke piring.

Bagikan

Baca Juga

Taman Kota Toronto Tak Sama Ramahnya bagi Warga Kulit Berwarna
Warga Belanda yang Cemas soal Dunia Lebih Sering Terganggu Jiwa
Diare di Pesisir Bangladesh Datang lewat Air Asin dan Air Banjir
Anak Muda Kota Kecil Turki Jarang Bergerak, Tamannya Pun Sempit
Guru Nigeria Sulit Punya Waktu Pribadi saat Mengajar 3 Pelajaran
Orang yang Cukup Selenium Lebih Jarang Terkena Kanker Usus