- Tujuh belas dari 18 peserta setuju atau sangat setuju bahwa ruang hijau penting bagi kesehatan jiwa mereka.
- St. James Town punya sedikit ruang hijau, sedangkan Jane-Finch punya banyak taman dan lembah sungai.
- Dua belas peserta memakai ruang hijau untuk olahraga dalam dua pekan terakhir.
- Beberapa perempuan lain dari kedua kawasan juga mengaku merasa tidak aman di ruang hijau publik.
Daftar Isi
Taman kota tidak sama ramahnya bagi semua warga Toronto. Delapan belas warga kulit berwarna di dua kawasan padat kota itu memotret taman dan lembah sungai di dekat rumah mereka. Lebih dari 200 foto dan video terkumpul dari 35 kunjungan.
Foto-foto itu menjadi bahan Exploring pathways and barriers to wellbeing for racialized communities in public greenspaces: a photovoice study in Toronto, Canada karya Nadha Hassen, Sarah Flicker, Caitlin Arizala, Clara Stewart-Robertson, Darryl D’Souza, Josephine Grey, Minakshi Das, dan Sayem Khan. Naskahnya terbit di BMC Public Health sebagai naskah dalam proses terbit tahun 2026. Hassen berasal dari Dalla Lana School of Public Health, University of Toronto.
Hasilnya dua lapis. Taman menolong pikiran, tubuh, dan pergaulan warga. Tetapi sampah, jalan yang gelap, papan larangan, dan rasa tidak aman menghalangi manfaat itu.
Dua Kawasan Padat
St. James Town terletak di pusat Toronto, Jane-Finch di barat laut. Keduanya padat dan memuat banyak perumahan publik. Lebih dari 65 persen penduduknya tergolong minoritas kasatmata dan lebih dari 50 persen imigran.
Pendapatan rumah tangga tahunan median di kedua kawasan kurang dari 51.000 dolar. Bedanya ada pada hijau. St. James Town punya sedikit ruang hijau, sedangkan Jane-Finch punya banyak taman dan lembah sungai.
Sepuluh peserta tinggal di Jane-Finch dan delapan di St. James Town, terdiri atas 13 perempuan dan lima laki-laki. Tujuh orang menyebut diri Asia Selatan, tiga berkulit hitam, dan tiga Timur Tengah. Dua lainnya Asia Tenggara, dua Indo-Karibia, dan satu ras campuran.
Mereka berpendidikan tinggi, sebab 94 persen sudah atau sedang menempuh pendidikan tinggi atau profesi. Hanya 28 persen bekerja penuh waktu. Foto diambil pada akhir musim panas 2021, ketika pandemi Covid-19 masih berlangsung dan kedua kawasan tergolong titik rawan penularan.
Taman Penenang Pikiran
Tujuh belas dari 18 peserta setuju atau sangat setuju bahwa ruang hijau penting bagi kesehatan jiwa mereka. Lima belas orang merasa gembira berada di sana. Dalam dua pekan terakhir, delapan orang datang untuk meredakan stres.
Fatema, perempuan Asia Selatan paruh baya di Jane-Finch, memotret jalan setapak berpohon yang ia lewati tiap hari. Fotonya ia beri judul Mentally fresh. Pandemi memutus kebiasaan itu karena ia takut tertular di lift gedungnya, lalu lama terkurung di rumah.
Ayesha, perempuan Indo-Karibia di Jane-Finch, belajar mengenali tumbuhan dan hewan di taman. Ia juga berdoa di tepi sungai di lembah. Pengalamannya di taman, menurut Ayesha, berubah total sejak itu.
Tidak semua bisa tenang. Nathan, lelaki Asia Selatan di St. James Town, tidak bisa bersantai di ruang hijau kawasannya yang ia sebut sesak dan kotor. Suasananya, menurut dia, tegang dan penuh kecemasan.
Baca juga Kunjungan ke Ruang Biru dan Kesehatan Mental Lansia Jepang
Sambungan Rumah Sempit
Bagi penghuni apartemen, taman adalah lanjutan rumah. Minakshi, perempuan Asia Selatan di Jane-Finch, duduk beberapa menit di bukit kecil di bawah pohon untuk yoga dan meditasi harian. Keluarganya tinggal di apartemen tanpa halaman belakang.
Lima peserta datang ke ruang hijau dalam dua pekan terakhir hanya untuk menyendiri. Amal, perempuan Muslim Timur Tengah paruh baya di St. James Town, berharap bisa melihat alam dari jendelanya, bukan deretan gedung. Menurut Amal, perancang kawasan tidak mengutamakan kesehatan jiwa penghuni gedung apartemen yang padat.
Sundari tinggal bersama suami dan anak-anaknya di satu ruangan di St. James Town. Selama pandemi anak-anak berdiam di rumah dan suaminya bekerja dari rumah. Keluarga itu, menurut Sundari, tertekan.
Michael, lelaki berkulit hitam di Jane-Finch, tinggal sendirian di apartemen. “Kalau Anda tidak merasa aman di luar, Anda tinggal di dalam lemari,” kata Michael dalam wawancara berbahasa Inggris. Keadaan itu, menurut dia, akan mengganggu kesehatan jiwa.
Lari, Kriket, Basket
Dua belas peserta memakai ruang hijau untuk olahraga dalam dua pekan terakhir. Amita, perempuan Indo-Karibia usia dua puluhan di Jane-Finch, mula-mula hanya duduk membaca di taman dekat rumah keluarganya. Lalu ia berlari dan memakai palang gantung serta bangku taman sebagai tempat latihan gratis.
Isatu, perempuan muda Muslim berkulit hitam di Jane-Finch, memotret lapangan basket yang tidak terawat. Di kawasan itu ada lapangan tenis baru yang terawat baik. Padahal, menurut Isatu, tidak banyak warga di sana yang bermain tenis.
Sayem bermain kriket di lapangan darurat buatan warga di Jane-Finch. Pemainnya datang dari banyak negara dan siapa pun boleh ikut memukul. Pada musim dingin mereka tidak bisa bermain karena tidak ada fasilitas dalam ruang.
Di St. James Town, sebuah kolam renang atas tanah terbengkalai di tengah ruang hijau publik yang tidak bernama. Julia, perempuan ras campuran, mencatat papan bertulisan No Ball Playing in this Area dan No Loitering or Trespassing. Nathan menyebut warga merasa tidak berdaya membuat pengambil keputusan mendengar kebutuhan mereka.
Pulang Lewat Gelap
Enam peserta melintasi ruang hijau sebagai jalur menuju tempat lain. Kate, perempuan Filipina generasi pertama di Jane-Finch, memotret jalan pulangnya dan menggelapkan foto itu. Ia merasa tidak aman berjalan lewat taman selepas pukul lima sore, padahal tidak punya pilihan lain.
Foto itu ia sebut seruan untuk menambah lampu jalan. Beberapa perempuan lain dari kedua kawasan juga mengaku merasa tidak aman di ruang hijau publik. Priya, perempuan Asia Selatan di St. James Town, pernah dihadang seorang pemuda di taman dan sangat ketakutan.
Michael berbalik arah saat bertemu sekelompok lelaki ketika bersepeda sendirian di lembah. Ia mengaku sudah terbiasa menghindari situasi semacam itu karena rasnya. Ia juga mencatat layanan sepeda sewa berhenti persis di persimpangan Jane dan Finch.
Ayesha menyoroti satu jalur yang dipakai warga sebagai trotoar utama. Perawatannya pada musim dingin tampak sederhana, tetapi tidak berjalan. Ia menduga pemerintah kota mencatat jalur itu sebagai tempat rekreasi, bukan sarana angkutan.
Baca juga Kesenjangan SES Perlebar Risiko Disabilitas Lansia Kota
Tempat Bertemu Tetangga
Dua belas peserta setuju atau sangat setuju bahwa mereka merasa menjadi bagian dari lingkungannya. Roua, ibu asal Timur Tengah yang belum lama pindah ke Kanada, bertemu teman dan kenalan baru di taman bermain. Vasuki, ibu Asia Selatan di St. James Town, kini merasa seperti di negerinya sendiri.
Constance, perempuan berkulit hitam di Jane-Finch, merasa tidak seorang pun memiliki ruang hijau. Ia bisa masuk taman tanpa ditanya sedang apa di sana. Namun ia juga melihat tiap kelompok berebut tempat di lapangan tenis dan taman bermain, lalu kelompok lain merasa tersisih.
Nathan sudah lima tahun tinggal di St. James Town dan tetap merasa cukup terasing. Warga terus datang dan pergi. Fotonya, Trying to get out, memperlihatkan bunga kuning di balik pagar.
Andrew membawa soal kelas. Ia memotret sebuah lapangan golf yang baginya tidak ramah dan sulit dimasuki. Di Vietnam orang gemar berkumpul di ruang hijau, tutur Andrew, tetapi di Kanada alam bebas dan pondok liburan terasa sebagai urusan orang kulit putih.
Sembilan Jalan, Banyak Sandungan
Hassen dan rekan-rekannya merangkum semua cerita itu menjadi sembilan tema. Tiga menyangkut jiwa, yakni bersantai, terhubung dengan alam, dan perluasan rumah. Tiga menyangkut tubuh, yakni kegiatan sendiri, kegiatan berkelompok, dan perjalanan aktif; tiga lagi menyangkut pergaulan, yakni bersosialisasi, rasa memiliki, dan modal sosial.
Sandungannya berulang. Bangku rusak, toilet umum tidak ada, pancuran air minum kotor, dan tempat sampah meluap. Beberapa peserta membandingkannya dengan taman di kawasan berpenghasilan lebih tinggi seperti Waterfront, High Park, Rosedale, dan Cabbagetown.
“Pengalaman warga menegaskan bahwa ruang hijau tidak netral atau dapat diakses secara universal,” tulis Nadha Hassen dan tujuh rekannya dalam naskah berbahasa Inggris itu. Menurut mereka, ruang hijau dibentuk oleh keputusan kebijakan dan riwayat minimnya investasi.
Taman juga punya batas. Para penulis mencatat ruang hijau tidak bisa sepenuhnya mengimbangi persoalan yang lebih dalam seperti pengangguran, kerawanan pangan, dan ketidakpastian tempat tinggal. Warga tetap mendatanginya untuk meredakan tekanan pada masa darurat kesehatan.
Baca juga Separuh Buruh Migran Myanmar di Chiang Rai Pergi Berobat
Batas dan Catatan Naskah
Para penulis menyebut penelitian ini kecil dan bersifat penjajakan. Hanya 18 warga di dua kawasan Toronto yang terlibat. Temuannya bukan hitungan statistik dan perlu dibaca bersama kepustakaan yang lebih luas.
Taman, lembah sungai, dan koridor jaringan listrik tidak dibedakan. Seluruh proses berjalan daring, sehingga hanya warga yang punya internet dan peralatan yang bisa ikut. Kerangka pikirnya, menurut para penulis sendiri, banyak dipandu kepustakaan Barat.
Ada beberapa hal kecil yang bisa diperiksa pembaca. Andrew ditulis sebagai warga St. James Town pada tabel kesejahteraan fisik, tetapi sebagai warga Jane-Finch pada tabel kesejahteraan sosial. Naskah memang menyebut satu peserta terhubung dengan kedua kawasan, tanpa menyebut namanya.
Pembagian peserta ditulis sepuluh dan delapan, genap 18, sehingga tidak jelas di mana peserta berkawasan ganda itu dihitung. Kutipan Michael tentang upah dan waktu luang juga ditaruh di bawah tema terhubung dengan alam. Naskah yang tersedia masih versi yang belum disunting akhir.
Delapan belas warga itu tetap datang ke taman yang sama. Di sana ada yang menggelar tikar piknik, ada pula yang bergegas pulang sebelum gelap.















