Diare di Pesisir Bangladesh Datang lewat Air Asin dan Air Banjir

A A

Ilustrasi sumur pompa tangan berkarat dengan bak semen di antara batang pohon kelapa [Foto: Asivechowdhury/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

  • Di kelima fasilitas, pasien diare bertambah tajam dari Maret sampai Mei, bulan-bulan terpanas dalam setahun.
  • Kaitan curah hujan dengan jumlah kasus tidak bermakna secara statistik, dengan angka korelasi hanya 0,094.
  • Anak berumur 0 sampai 3 tahun menempati bagian terbesar, 37,6 persen dari seluruh kasus.
  • Jhalokathi District Hospital mencatat 34,01 persen pasien pulang atas permintaan sendiri, tertinggi dari semua fasilitas.
Daftar Isi
  1. Air asin yang menetap di Satkhira dan Barguna
  2. Air banjir yang datang musiman di Jhalakathi dan Gopalganj
  3. Suhu yang naik bersama jumlah pasien
  4. Hujan yang tidak naik bersama jumlah pasien
  5. Balita dan perempuan yang mengisi ranjang rawat
  6. Pasien yang pulang sembuh dan pasien yang minta pulang

Sumur pompa yang airnya berubah asin di Satkhira dan jamban yang meluap ketika hujan di Jhalakathi tampak seperti dua persoalan yang tidak bersangkutan. Yang pertama menetap sepanjang tahun. Yang kedua datang dan pergi bersama musim. Keduanya ternyata berujung di tempat yang sama, yaitu ranjang pasien diare di rumah sakit pemerintah di pesisir Bangladesh.

Dua jalan itu dipetakan Golam Kibria, Md. Raisul Islam, Hashinur Rahman Pavel, dan Nadia Sharmin dalam artikel berjudul Assessing vulnerability of diarrheal diseases associated with climate variability effects in four coastal districts of Bangladesh. Artikel tersebut dimuat BMC Public Health pada 2026 dan belum diberi nomor volume. Keempat penulisnya bekerja di Centre for Environment and Climate Change Research, lembaga di bawah Ministry of Environment, Forest and Climate Change di Dhaka.

Bahannya dua macam. Catatan rawat inap lima fasilitas kesehatan pemerintah di empat distrik, dari Januari 2017 sampai Desember 2022, memuat 46.741 kasus diare di antara 361.265 pasien, kira-kira satu dari delapan. Di samping angka itu ada suara orang: 28 wawancara dengan dokter, bidan, asisten kesehatan, dan guru, serta sembilan diskusi kelompok bersama warga.

Air asin yang menetap di Satkhira dan Barguna

Satkhira dan Barguna menghadap laut dengan cara masing-masing. Satkhira kerap dilanda gelombang pasang dan rembesan air asin, sedangkan Barguna menanggung banjir pesisir yang dibawa siklon. Warga di kedua distrik menggambarkan hal yang serupa: air asin masuk ke sumur pompa dan membuat air permukaan tidak bisa dipakai untuk waktu yang lama. Banyak di antara mereka merasa keadaan itu memburuk, didorong naiknya muka laut dan pasang yang makin kuat.

Di Shyamnagar, Satkhira, Dr. Mahmuda Akter, seorang tenaga kesehatan setempat, menyebut banjir yang sering datang dan rembesan air asin sebagai penyumbang utama wabah diare. Klinik komunitas, menurut keterangan yang dicatat naskah, kerap kehabisan obat pokok seperti oralit. Ia mengusulkan sumur pompa dalam dan penampungan air hujan agar warga punya air bersih.

Di Patharghata, Barguna, Farida Begum, seorang petugas kesehatan, menuturkan bahwa gelombang pasang dan genangan membuat diare muncul sepanjang tahun. Nelayan dan rumah tangga berpenghasilan rendah paling terancam karena bergantung pada sumber air yang tercemar. Pusat layanan setempat kekurangan sumber daya. Pasien sering dirujuk ke rumah sakit divisi di Barisal, yang mahal dan sulit dijangkau.

Dua jalan air menuju diareDua pasang distrik menghadapi diare lewat jalur air yang berbeda.Dua jalan air menuju diareKiri: Satkhira dan Barguna. Kanan: Jhalakathi dan GopalganjDistrik air asinDistrik banjirIntrusi air asinBanjir, genanganBahaya utamaSepanjang tahunMusimanSifat paparanSumur pompaSumur dangkalYang tercemarTenaga kurangDrainase burukKeluhan wargaSumur dalamBenahi drainaseUsul jalan keluarDirangkum dari diskusi kelompok dan wawancara dalam naskah.
Sumber: Golam Kibria, Md. Raisul Islam, Hashinur Rahman Pavel, dan Nadia Sharmin, Assessing vulnerability of diarrheal diseases associated with climate variability effects in four coastal districts of Bangladesh, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Para informan di dua distrik ini menegaskan satu hal. Air asin adalah tekanan menahun yang membuat air sumur pompa tidak aman diminum, dan ia tidak bisa diselesaikan dengan tindakan musiman saja. Kekurangan tenaga medis terlatih pun paling terasa di sini. Karena itu usul yang muncul bersifat jangka panjang, yakni sumur pompa dalam dan penampungan air hujan.

Baca juga Pola Musiman Diare Akut di Fiji Memuncak Tiap Awal Tahun

Air banjir yang datang musiman di Jhalakathi dan Gopalganj

Di sisi lain, Jhalakathi dan Gopalganj tidak mengeluhkan air asin. Jhalakathi dikenal dengan genangan dari luapan sungai, sedangkan Gopalganj dengan hujan yang tidak menentu dan rendaman musiman. Warga di kedua distrik menunjuk banjir sesekali dan genangan sebagai pangkal masalah. Yang terkena adalah sumur dangkal dan jamban cubluk, dan bahaya cemarannya memuncak pada musim monsun.

Di Kathalia, Jhalakathi, Abdur Rahman, seorang tokoh masyarakat, menyebut pasokan obat yang terbatas dan sarana kesehatan yang tidak memadai sebagai penghalang besar pengobatan. Ia meminta saluran drainase diperbaiki dan obat darurat disediakan saat banjir. Di Gopalganj, Dr. Khaled Hossain, pejabat kesehatan distrik, mengaitkan hujan tak menentu dan banjir musiman dengan lonjakan kasus.

Pada pasangan kedua ini layanan kesehatan relatif lebih mudah dijangkau, tetapi lonjakan musiman tetap terjadi. Warga menyoroti drainase yang buruk dan tidak adanya peringatan dini yang tepat waktu. Maka usul mereka pun berbeda dari pasangan pertama: membenahi saluran air dan memperkuat peringatan dini di tingkat kampung.

Perbedaan itulah yang oleh para penulis dijadikan pegangan. “Memperlakukan semua distrik secara seragam dalam perencanaan adaptasi berisiko membuat sumber daya salah alokasi,” tulis Kibria dan rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Yang sama di keempat distrik hanyalah siapa yang paling rentan: anak kecil dan perempuan.

Suhu yang naik bersama jumlah pasien

Catatan rumah sakit memperlihatkan irama yang berulang. Di kelima fasilitas, pasien diare bertambah tajam dari Maret sampai Mei, bulan-bulan terpanas dalam setahun, lalu menyusut pada paruh kedua tahun. Pada April 2019 dan April 2022, jumlah pasien rawat inap melampaui 600 kasus dalam sebulan. Pola itu bertahan selama enam tahun pengamatan.

Kasus paling banyak tercatat ketika suhu maksimum berada di rentang 30 sampai 35 derajat Celsius. Kaitan antara suhu maksimum dan jumlah kasus bermakna secara statistik, dengan angka korelasi 0,228. Namun kaitan itu lemah, dan naskah sendiri menyebut suhu sebagai peramal yang bermakna tetapi lemah. Para penulis menduga panas mempercepat pertumbuhan bakteri dan membuat orang lebih banyak meminum air yang tercemar.

Suara dari lapangan searah dengan angka itu. Kekurangan oralit yang dikeluhkan warga dalam diskusi kelompok terjadi bertepatan dengan lonjakan pasien pada Maret sampai Mei. Di semua lokasi, warga juga menyebut suhu yang naik dan musim yang bergeser sebagai sebab bertambahnya beban penyakit.

Naskah lalu menengok ke depan dengan meminjam proyeksi World Bank Group. Jumlah hari dengan indeks panas di atas 35 derajat Celsius di Bangladesh diperkirakan bertambah dari 99,66 menjadi 133,47 hari setahun menjelang pertengahan abad pada salah satu skenario iklim. Bagi para penulis, itu berarti rentang suhu berisiko tadi akan berlangsung lebih lama.

Baca juga Gelombang Panas Dhaka: Merasa Terancam, 7,77 Kali Lebih Sakit

Hujan yang tidak naik bersama jumlah pasien

Pada hujan, hitungannya berbeda. Kaitan curah hujan dengan jumlah kasus tidak bermakna secara statistik, dengan angka korelasi hanya 0,094. Kasus diare justru lebih banyak dilaporkan ketika curah hujan berada di rentang 0 sampai 40 milimeter. Di atas 60 milimeter, jumlahnya turun tajam.

Hasil itu sekilas berlawanan dengan cerita warga tentang banjir dan jamban yang meluap. Para penulis mendamaikannya dengan dua penjelasan. Bulan yang sedikit hujan juga bulan yang lebih sejuk, sehingga pengaruh musim ikut bercampur. Selain itu, hujan sedang dapat mencemari sumur dangkal, sedangkan hujan lebat mungkin mengencerkan kuman. Dua pengaruh yang berlawanan itu saling meniadakan.

Dari sini muncul peringatan yang berlaku untuk suhu maupun hujan. “Karena itu penting untuk tidak mencampuradukkan variasi musiman dengan dampak perubahan iklim, sebab keduanya bekerja pada skala waktu yang berbeda dan melalui mekanisme yang sebagian berlainan,” tulis para penulis. Puncak Maret sampai Mei adalah siklus tahunan yang lazim di Bangladesh.

Batasnya mereka sebut terang. Enam tahun catatan tidak cukup untuk menangkap perubahan iklim yang berlangsung puluhan tahun. Data itu hanya merekam bagaimana suhu musiman kini berkaitan dengan beban diare. Memisahkan pemanasan jangka panjang dari naik turunnya cuaca antartahun memerlukan deret waktu yang lebih panjang.

Balita dan perempuan yang mengisi ranjang rawat

Siapa yang dirawat? Anak berumur 0 sampai 3 tahun menempati bagian terbesar, 37,6 persen dari seluruh kasus, atau lebih dari sepertiga. Dewasa muda berumur 20 sampai 35 tahun menyusul dengan 32,9 persen. Kelompok di atas 35 tahun mencatat 17,8 persen. Anak 4 sampai 12 tahun hanya 6,8 persen, dan remaja 13 sampai 19 tahun paling kecil, 4,9 persen.

Balita dan dewasa muda paling banyak dirawat0-3 tahun: Bagian kasus +37,6%; 4-12 tahun: Bagian kasus +6,8%; 13-19 tahun: Bagian kasus +4,9%; 20-35 tahun: Bagian kasus +32,9%; Di atas 35 tahun: Bagian kasus +17,8%.Balita dan dewasa muda paling banyak dirawatPersen dari 46.741 kasus diare rawat inap, 2017-202210%20%30%40%00-3 tahun37,6%4-12 tahun6,8%13-19 tahun4,9%20-35 tahun32,9%Di atas 35 tahun17,8%Lima fasilitas kesehatan pemerintah di empat distrik pesisir.
Sumber: Golam Kibria, Md. Raisul Islam, Hashinur Rahman Pavel, dan Nadia Sharmin, Assessing vulnerability of diarrheal diseases associated with climate variability effects in four coastal districts of Bangladesh, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Menurut jenis kelamin, selisihnya tipis tetapi bermakna secara statistik. Perempuan mencakup 52,7 persen kasus, laki-laki 47,3 persen. Para penulis tidak membacanya sebagai perbedaan tubuh semata. Perempuan mengambil air dan menyiapkan makanan, sehingga lebih lama bersentuhan dengan sumber yang tercemar. Keterbatasan gerak mereka juga menunda kepergian ke tempat berobat.

Untuk anak kecil, naskah menyodorkan penjelasan lain. Kekebalan usus mereka belum matang, dan mereka terpapar kebiasaan buang air besar di tempat terbuka di sekitar rumah. Gabungan keduanya, menurut para penulis, menerangkan mengapa beban pada kelompok ini jauh melampaui kelompok umur lain.

Pasien yang pulang sembuh dan pasien yang minta pulang

Cara pasien meninggalkan rumah sakit juga terbelah. Di Shyamnagar Upazila Health Complex, Satkhira, 99,01 persen pasien diare pulang dalam keadaan membaik, angka tertinggi di antara fasilitas yang diteliti. Angka terendah tercatat di Patharghata Upazila Health Complex, Barguna, yakni 52,92 persen.

Pada sisi sebaliknya, Jhalokathi District Hospital mencatat 34,01 persen pasien pulang atas permintaan sendiri, tertinggi dari semua fasilitas. Di Shyamnagar angkanya 0,51 persen. Para penulis menyandingkan angka itu dengan cerita informan tentang ongkos angkutan yang tak terjangkau di daerah rawan banjir. Mereka membacanya sebagai tanda hambatan akses, bukan tanda kesembuhan.

Baca juga Dua Puluh Satu Tahun Diare Menular Beijing dan Ramalan 2025

Semua kaitan itu dibatasi oleh para penulisnya sendiri. Hitungan mereka tidak memperhitungkan kelembapan, cakupan sanitasi, dan akses layanan, sehingga kaitan suhu tidak boleh dibaca sebagai sebab-akibat. Jumlah kasus tidak dibagi dengan jumlah penduduk, jadi perbandingan antardistrik terbatas. Data rumah sakit juga tidak mewakili seluruh beban penyakit di tengah masyarakat.

Beberapa hal dalam naskah dapat diperiksa pembaca. Nama Golam Kibria tertulis dua kali pada baris penulis. Naskah menyebut lima fasilitas, tetapi grafik cara pulang pasien memuat fasilitas keenam, Tala Upazila Health Complex. Rincian sembilan diskusi kelompok tidak mencantumkan Shyamnagar, padahal hasil diskusi di sana dilaporkan. Dari 46.741 kasus, 282 tercatat dengan kode sindrom iritasi usus tanpa diare.

Sumur yang asin dan jamban yang meluap akhirnya tetap dua persoalan, masing-masing dengan musim dan obatnya sendiri. Di Satkhira dan Barguna, air asin tinggal sepanjang tahun. Di Jhalakathi dan Gopalganj, air banjir datang lalu surut. Catatan rumah sakit dalam naskah menunjukkan keduanya paling ramai mengirim pasien pada bulan-bulan terpanas.

Bagikan

Baca Juga

Anak Muda Kota Kecil Turki Jarang Bergerak, Tamannya Pun Sempit
Guru Nigeria Sulit Punya Waktu Pribadi saat Mengajar 3 Pelajaran
Orang yang Cukup Selenium Lebih Jarang Terkena Kanker Usus
Gigitan Lalat Hitam Mengepung Empat Kampung di Bendungan Nigeria
Eksim Lebih Jarang di Rumah Dekat Taman, Lebih Sering Dekat Air
Gendang Besale Batin Sembilan Kini Berkulit Kambing, Bukan Macan