- Guru yang mengajar tiga pelajaran atau lebih hanya mencatat rata-rata skor 43,3, sedangkan guru lain 51,7.
- Sebanyak 64,7 persen guru menghabiskan delapan jam atau lebih di tempat kerja setiap hari.
- Guru dengan 50 murid atau lebih per kelas justru mencatat skor lebih tinggi, yakni 54,4.
- Lokasi sekolah di desa atau kota tidak mengubah skor keseimbangan hidup guru.
Daftar Isi
Tiga mata pelajaran sudah cukup menggerus hidup pribadi seorang guru. Begitu yang terbaca dari jawaban 1.174 guru sekolah menengah di Oyo State, Nigeria barat daya. Jam kerja yang panjang dan berdiri berjam-jam di depan kelas membawa akibat serupa.
Temuan itu dilaporkan M. O. Balogun, F. O. Omokhodion, D. Consonni, dan O. A. Popoola dalam artikel berjudul Work conditions and work-life balance among secondary school teachers in Southwest Nigeria. Artikel tersebut dimuat BMC Public Health pada 2026. Tiga penulisnya bekerja di College of Medicine University of Ibadan, Nigeria, dan satu lagi di sebuah rumah sakit di Milan, Italia.
Para guru itu mengajar di 49 sekolah, negeri dan swasta. Sebanyak 24 sekolah berada di empat wilayah pedesaan. Sisanya, 25 sekolah, berada di tiga wilayah perkotaan Ibadan.
Yang diukur adalah keseimbangan antara kerja dan hidup pribadi. Guru menjawab 15 pernyataan, misalnya apakah hidup pribadinya terganggu pekerjaan atau apakah ia terlalu lelah untuk bekerja dengan baik. Jawaban itu dijumlahkan menjadi skor 15 sampai 75. Makin tinggi skornya, makin seimbang hidupnya.
Rata-rata skor seluruh guru adalah 49,2. Angka itu berada sedikit di atas titik tengah rentang. Namun, rata-rata tersebut menyembunyikan jarak yang lebar antarkelompok guru.
Tiga pelajaran, skor anjlok
Jarak terlebar muncul pada jumlah mata pelajaran. Guru yang mengajar kurang dari tiga pelajaran mencatat rata-rata skor 51,7. Guru yang mengajar tiga pelajaran atau lebih hanya 43,3.
Selisih itu tidak hilang ketika usia, jenis kelamin, status nikah, dan jenis sekolah ikut diperhitungkan. Guru dengan tiga pelajaran atau lebih tetap tertinggal 5,2 poin. Kelompok ini tidak kecil, yakni 30 persen dari seluruh guru, atau hampir satu dari tiga.
Menurut para penulis, pelajaran yang terlalu banyak menambah tuntutan kerja dan memangkas waktu pulih. Guru juga makin jarang terlibat dalam kegiatan keluarga atau sosial. Mereka mengaitkan beban ini dengan tuntutan kurikulum dan kekurangan guru.
Kerugiannya tidak berhenti pada satu sisi. Pada guru dengan tiga pelajaran atau lebih, pekerjaan lebih banyak mengganggu hidup pribadi. Hidup pribadi mereka pun lebih banyak mengganggu pekerjaan. Semangat yang biasanya saling mengalir antara rumah dan sekolah ikut menipis, meski selisihnya kecil.
Baca juga Kembali ke Kantor di Taipei, Nyeri Otot dan Cemas Pekerja Naik
Delapan jam di sekolah
Jam kerja menjadi beban kedua, sebab 64,7 persen guru menghabiskan delapan jam atau lebih di tempat kerja setiap hari. Itu kira-kira dua dari tiga guru, dan skor mereka lebih rendah: guru yang bekerja delapan jam atau lebih mencatat rata-rata 47,0, sedangkan guru yang bekerja kurang dari delapan jam mencatat 53,0. Selisihnya tetap 4,5 poin setelah usia, jenis kelamin, status nikah, dan jenis sekolah diperhitungkan.
Para penulis membaca angka ini sebagai soal waktu. Ketika tuntutan kerja terus melampaui waktu pulih, keseimbangan hidup guru ikut runtuh. Mereka menyebut ketimpangan waktu itu sebagai penentu utama.
Naskah juga mencatat pekerjaan yang paling menekan. Sebanyak 35,3 persen guru menunjuk kegiatan menilai dan mencatat lembar jawaban murid. Hampir sama banyak, 34,4 persen, menunjuk penulisan catatan dan rencana pelajaran. Hanya 12,2 persen yang mengaku tidak tertekan.
Empat jam berdiri
Beban ketiga bersifat fisik. Lebih dari separuh guru, 57,3 persen, berdiri lebih dari empat jam selama bekerja. Rata-rata skor mereka 47,4, sedangkan guru yang lebih sedikit berdiri mencatat 51,5.
Selisihnya memang paling kecil di antara tiga beban, yakni 2,4 poin. Namun, arahnya sama di semua sisi yang diukur. Guru yang lama berdiri lebih sering melaporkan hidup pribadi yang menguras tenaga kerjanya.
Para penulis mengaitkan berdiri lama dengan ketegangan otot dan rangka, terutama nyeri punggung bawah dan tungkai. Lelah fisik itu terbawa pulang. Akibatnya, guru sulit ikut kegiatan santai atau kegiatan keluarga.
Baca juga Penyakit Kerja Terduga Menumpuk di Tujuh Sektor Malaysia
Kelas padat, skor tinggi
Satu hasil berjalan berlawanan: guru dengan 50 murid atau lebih per kelas justru mencatat skor lebih tinggi, yakni 54,4. Guru dengan kelas lebih kecil hanya 46,4, dan selisihnya 5,4 poin setelah faktor lain diperhitungkan. Angka itu hampir sama besar dengan kerugian akibat tiga mata pelajaran, tetapi arahnya terbalik, dan sekitar sepertiga guru, 34,4 persen, mengajar kelas sepadat itu.
Para penulis mengakui hasil ini mula-mula terasa janggal. Mereka menawarkan tiga penjelasan. Pertama, kelas besar di sekolah negeri Nigeria kerap diberikan kepada guru senior, dan guru senior mungkin sudah punya cara menata kerja dan keluarga.
Kedua, kelas besar bisa mengurangi beban menilai. Guru mungkin memakai penilaian baku untuk kelompok, bukan umpan balik untuk tiap murid. Ketiga, ruang kelas yang penuh mungkin memberi guru rasa bermakna dalam pekerjaannya.
Ketiganya masih dugaan. “Penting dicatat bahwa temuan ini tidak terduga, dan rancangan potong lintang tidak memungkinkan kesimpulan sebab-akibat,” tulis Balogun dan rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Mereka meminta penelitian lanjutan untuk mencari tahu cara kerjanya.
Desa dan kota
Peneliti semula menduga guru desa lebih sulit menyeimbangkan hidup. Alasannya keterpencilan, pelajaran rangkap, dan dukungan yang terbatas. Dugaan itu tidak terbukti.
Kondisi kerja di dua wilayah memang berbeda. Guru desa lebih muda, sebab 51,2 persen berusia di bawah 40 tahun, sedangkan di kota 43,6 persen. Kelas padat lebih banyak di desa, yaitu 42,0 persen berbanding 27,0 persen.
Guru kota lebih lama berada di sekolah. Sebanyak 72,3 persen bekerja delapan jam atau lebih, sedangkan di desa 56,8 persen. Pekerjaan sampingan lebih sering dimiliki guru desa, 20,6 persen berbanding 15,4 persen. Meski begitu, lokasi sekolah tidak mengubah skor, dan naskah menyebut pengaruhnya tidak ada atau dapat diabaikan.
Para penulis menilai hasil nihil itu layak dicatat dan mengajukan dua kemungkinan. Sekolah negeri di Oyo State dikelola seragam oleh satu badan pendidikan dasar negara bagian, sehingga aturan penempatan guru dan kurikulumnya sama. Kemungkinan lain, guru desa bersandar pada dukungan komunitas yang lebih kuat.
Baca juga Sekolah Filipina Tutup 29 Bulan, Murid Lupa Wajah Teman Sekelas
Batas pembacaan
Angka-angka ini punya batas. Semua guru ditanyai satu kali saja, sehingga penelitian tidak dapat menentukan mana sebab dan mana akibat, dan jawaban dari pengakuan guru sendiri bisa meleset karena ingatan atau keinginan tampil baik. Datanya pun dikumpulkan pada 2018, dan para penulis sendiri menyebut keadaan mungkin sudah berubah sejak saat itu.
Kepuasan kerja memberi warna lain. Sebanyak 61,2 persen guru menyatakan puas dengan pekerjaannya, dan 27,1 persen sangat puas. Yang tidak puas 9,6 persen, sedangkan yang sangat tidak puas 1,6 persen.
Yang perlu dicek
Beberapa bagian naskah tidak seragam. Simpulannya meminta perabot ergonomis untuk mengatasi akibat duduk terlalu lama. Padahal, yang diukur sepanjang naskah adalah berdiri terlalu lama.
Batas jam berdiri juga berubah-ubah. Satu tabel memisahkan guru pada empat jam atau kurang dan lebih dari empat jam. Tabel berikutnya memakai kurang dari empat jam dan empat jam atau lebih.
Tabel ciri peserta pun memuat keganjilan. Wilayah Akinyele disebut pedesaan, tetapi tabel itu mencatat 25 guru kota di barisnya. Naskah ini masih berupa versi yang belum disunting akhir, sehingga pembaca dapat mencocokkannya lagi dengan versi final.
Usul para penulis
Dari temuan itu, para penulis mengajukan tiga usul. Badan pendidikan dasar di tingkat nasional dan negara bagian diminta membatasi jumlah mata pelajaran per guru. Kepala sekolah diminta menjaga jadwal harian agar tidak melebihi delapan jam.
Usul ketiga menyangkut ruang kelas. Sekolah negeri diminta menyediakan meja yang bisa dipakai sambil duduk atau berdiri serta kursi yang menopang tubuh. Tugas di luar mengajar, seperti menyusun catatan pelajaran, juga diminta ditata ulang.
Para penulis menegaskan satu hal untuk penyusun kebijakan. Yang menentukan hidup guru adalah beban kerjanya, bukan letak sekolahnya. Karena itu, mereka menyarankan pembenahan diarahkan ke beban tersebut.
Jadi, ukuran yang paling menggerus hidup guru di Oyo State bukanlah jumlah murid di kelasnya. Ukurannya adalah jumlah pelajaran, jam kerja, dan lamanya berdiri.















