- Siapa yang pertama kali menggubahnya, dan kapan, tidak diketahui.
- Bentuknya disebut hampir sama dengan pantun Melayu karena sama-sama tersusun dari empat larik.
- Ada pula bait yang menyatakan lebih baik mati berkalang tanah daripada diperintah kerbau putih, sebutan bagi Belanda.
- Satu bait bahkan menimbang dua macam manusia: orang biasa mengejar harta, sedangkan orang mulia mencari kebenaran.
Daftar Isi
Nasihat, menurut anggapan yang lazim, paling ampuh bila diucapkan terus terang, dengan suara orang tua yang tegas dan telunjuk yang mengarah kepada anak. Orang Mandar di Sulawesi Barat memilih jalan memutar: teguran itu mereka titipkan pada puisi lama empat larik bernama kalindaqdaq, yang dilantunkan alih-alih dihardikkan, dan justru karena tidak langsung itulah ia dianggap lebih menyentuh hati anak yang mendengarnya.
Gambaran itu disusun Ridhwan, Sri Astuti A. Samad, Khaeruddin Kiraman, dan Hasan dalam artikel Kalindaqdaq Tradition of Mandar Community in West Sulawesi: Islamic Education Study Based on Local Wisdom, yang terbit di el Harakah Jurnal Budaya Islam volume 23 nomor 2 tahun 2021. Para penulisnya berasal dari Institut Agama Islam Negeri Bone, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry di Banda Aceh, dan Curtin University di Western Australia, dan mereka membaca kalindaqdaq sebagai tempat ajaran Islam dan adat setempat bertemu.
Nama puisi itu sendiri, sebagaimana dikutip naskah, berasal dari kata kali yang berarti isi dan daqdaq yang berarti dada, sehingga kalindaqdaq adalah isi dada, isi hati yang dikeluarkan untuk disampaikan kepada orang banyak. Di samping itu ada tafsir yang mengaitkannya dengan kata Arab untuk memintal benang, pekerjaan yang menuntut kehati-hatian, dengan kata untuk gudang tempat ilmu dan kebijaksanaan disimpan, dan dengan kata untuk kalung, perhiasan yang indah.
Isi dada yang tak bertuan
Siapa yang pertama kali menggubahnya, dan kapan, tidak diketahui. Naskah itu menyebut sebuah lontaraq, yakni manuskrip kuno, bernama Lontaraq Pattapingang yang menggolongkan kalindaqdaq sebagai sastra setempat tanpa nama pengarang, dan kini siapa pun bebas mencipta, menyalin, atau mengubahnya dalam bahasa Mandar. Puisi yang tak bertuan itu, dengan kata lain, menjadi milik setiap orang yang mau memakainya.
Bentuknya disebut hampir sama dengan pantun Melayu karena sama-sama tersusun dari empat larik. Umumnya larik pertama berisi delapan suku kata, larik kedua tujuh, larik ketiga lima, dan larik keempat kembali tujuh, sehingga bait itu menyempit di tengah lalu melebar lagi di ujungnya. Salah satu rujukan yang dipakai para penulis bahkan menyebutnya ungkapan campuran yang iramanya terbentuk dari kebudayaan Melayu.
Namun, kesamaan bentuk itu tidak membuat isinya seragam. Naskah mencatat sebelas jenis kalindaqdaq: tentang agama, untuk orang tua, untuk pemuda, untuk gadis, dan untuk anak-anak, lalu yang berisi nasihat, humor, satire, percintaan, dan kritik sosial, ditambah satu jenis yang oleh para penulis diterjemahkan sebagai kecabulan. Isi dada orang Mandar, rupanya, tidak selalu khidmat; ia bisa indah, tetapi bisa juga menyindir dan mengejek.
Kegunaannya pun berlapis. Kalindaqdaq menjadi sarana pendidikan akhlak, etika, dan agama, menjadi media penyebar kabar adat, pelengkap upacara, alat komunikasi tradisional, dan hiburan. Ia dilantunkan dalam totamma mangaji, upacara bagi anak yang tamat membaca Al-Quran, yang biasa digabung dengan sayyang pattu’du’, kuda menari: anak itu diarak berkeliling kampung di atas kuda, diiringi para penabuh rebana, pada bulan Maulid atau pada 17 Agustus.
Baca juga Nalar Mistis Kebo-keboan Banyuwangi Dicari Nilai Islamnya
Teguran yang dititipkan pada bait
Justru di dalam rumah puisi itu bekerja paling halus. Ajaran tauhid, misalnya, dipadatkan ke dalam bait yang dalam bahasa Mandar berbunyi Pennassai sahadaqmu, Mesa Allah Taala, Nabi Muhammaq, Suro to matappa-Na: perjelaslah syahadatmu, Allah Yang Maha Esa, Nabi Muhammad utusan-Nya yang tepercaya. Bait semacam ini dipakai guru yang mengajarkan tauhid kepada muridnya, dan juga orang tua kepada anaknya.
Sebagian bait tauhid itu, menurut naskah, bersumber dari ajaran Annangguru Muhammad Thahir, ulama yang dikenal sebagai Imam Lapeo dari Campalagian dan wafat pada 1952. Ia berguru kepada Syekh Hasan bin Alwi Jamalullail, ulama keturunan Yaman yang lahir di Lasem lalu menetap dan menyebarkan Islam di Pambusuang. Puisi yang tak bernama pengarang itu, dengan demikian, tetap punya jalur guru yang bisa ditelusuri.
Perintah ibadah disampaikan dengan cara serupa. Satu bait menyebut rukun Islam berurutan, dari syahadat, salat, zakat, puasa, sampai haji, lalu meminta pendengarnya memahami semuanya dengan sungguh-sungguh. Tekanan terkuat jatuh pada salat, yang dalam bait lain diumpamakan sebagai suluh di tempat gelap dan bekal yang pantas dibawa, sementara bait berikutnya mengingatkan bahwa salat tidak perlu dipikul dan air wudu tidak perlu dijinjing.
Di situlah persoalannya menjadi menarik, sebab para penulis menyatakan orang tua pada umumnya tidak menegur atau menasihati anak secara langsung. Bila anak belum juga hirau, lantunan itu dilanjutkan, dan anak, tulis mereka, biasanya segera mengerjakan salat sesudah mendengarnya. Naskah menyebut cara ini sangat ampuh untuk mengingatkan salat lima waktu, walau tidak menyertakan hitungan berapa anak yang benar-benar menurut.
Malu sebagai pelajaran pertama
Kalau tauhid dan ibadah diajarkan sebagai kewajiban, akhlak diajarkan sebagai harga diri. Dalam bahasa Mandar akhlak disebut gau’ atau sipaq, dan keduanya bertaut erat dengan siri’ dan lokko’, rasa malu. Satu bait meminta pendengarnya menjaga rasa malu itu baik-baik, sebab rasa malulah yang membedakan manusia dari hewan, dan orang yang tidak memilikinya dianggap serupa hewan.
Naskah itu juga mengutip Darmawan Mas’ud, sejarawan dan budayawan Mandar, yang menjelaskan bahwa siri’ dan lokko’ adalah bagian terpenting kehidupan orang Mandar. Wujudnya dalam bait cukup terang: pesan leluhur agar jangan sombong, jangan berdusta, dan jangan mengejar jabatan, serta anjuran merendahkan diri di hadapan guru karena guru adalah sumber kebaikan. Ada pula larangan bagi lelaki memasuki rumah yang hanya dihuni perempuan.
Poros seluruh bacaan itu dirumuskan para penulis dalam satu kalimat. “Kalindaqdaq juga merupakan bukti harmonisasi Islam dan adat, dan ia dapat mendukung pengembangan pendidikan Islam sebagai bagian yang tak terpisahkan dari pendidikan di Indonesia,” tulis Ridhwan, Sri Astuti A. Samad, Khaeruddin Kiraman, dan Hasan dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Sejak kalimat itu, puisi rumah tangga tadi dibaca sebagai sesuatu yang lebih besar daripada alat menegur anak.
Baca juga Canang Kuantan Singingi, Satu Nada E yang Membawa Kabar Adat
Sandaran klaim tersebut adalah ungkapan Mandar yang juga dikutip naskah, adaq makkesaraq, saraq makkeadaq: adat menyatu dalam syariat, dan syariat melebur dalam adat. Adat akan mati tanpa syariat, demikian lanjutan ungkapan itu, dan syariat pun akan mati tanpa adat. Dari sana para penulis menarik falsafah hidup orang Mandar, yaitu keteguhan beragama, keselarasan adat dan syariat, satunya kata dengan perbuatan, dan rasa malu.
Benang putih yang rela dicelup
Justru sebaliknya dari kesan lembut itu, kalindaqdaq juga menyimpan bait yang keras. Jenis yang disebut Kalindaqdaq Pettomuaneang mengumpamakan kesatriaan lelaki Mandar sebagai benang putih yang rela dicelup dan diberi warna, sebuah gambaran yang dipinjam dari pekerjaan menenun sarung sutra lalu dipindahkan ke medan juang. Warna itu, menurut naskah, adalah warna darah.
Bait lain memakai bahasa pelaut: makin kencang angin tenggara, makin terkembang layar, dan lebih baik hancur daripada surut kembali. Ada pula bait yang menyatakan lebih baik mati berkalang tanah daripada diperintah kerbau putih, sebutan bagi Belanda. Rujukan yang dipakai para penulis membaca tiga watak pemimpin di dalam bait-bait itu, yakni ketulusan, keteguhan, dan ketegasan.
Latar sejarahnya disebut singkat. Naskah mengaitkan semangat itu dengan peristiwa Galung Lombok di Polewali Mandar, pembantaian yang dilakukan Westerling, ketika pada Februari 1947 orang Mandar yang melawan dituduh perampok dan ekstremis lalu dibunuh tanpa proses hukum. Disebut pula Andi Depu, pejuang perempuan Mandar yang hidup pada 1907 sampai 1985 dan dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada 2018.
Namun, bait kepahlawanan itu tidak berdiri sendiri, sebab di sampingnya ada bait tentang hidup bersama. Susah ditanggung bersama dan senang dinikmati bersama, agar orang terhindar dari perpecahan; siapa yang ingin disukai hendaknya memperbaiki tutur, sikap, dan lakunya. Satu bait bahkan menimbang dua macam manusia: orang biasa mengejar harta, sedangkan orang mulia mencari kebenaran.
Baca juga Prabu Siliwangi di Hulu Citarum, Tapa yang Dibaca sebagai Islam
Yang belum dijawab oleh pustaka
Di situlah persoalannya bagi pembaca yang ingin tahu lebih jauh. Seluruh bahan penelitian ini berasal dari buku, artikel jurnal, dan hasil riset lain; tidak ada pengamatan di kampung dan tidak ada wawancara dengan orang tua atau anak Mandar. Karena itu, pernyataan bahwa anak biasanya segera salat sesudah mendengar kalindaqdaq bertumpu pada pustaka terdahulu, bukan pada pengamatan para penulis sendiri, dan asal-usul puisi itu tetap gelap.
Beberapa hal dalam naskah juga layak diperiksa ulang oleh pembaca. Tahun wafat tiga ulama, termasuk Abdul Qadir Jailani pada 1166, ditulis dengan singkatan BC yang berarti sebelum Masehi. Satu paragraf tentang falsafah hidup Mandar tercetak dua kali berurutan dengan rujukan yang sedikit berbeda, korban Galung Lombok disebut 40.000 orang di satu tempat dan puluhan ribu di tempat lain, dan ejaan kalindaqdaq sendiri berganti-ganti.
Para penulis menutup dengan anjuran agar kalindaqdaq dilestarikan, supaya nilai pendidikan Islam yang berpijak pada kearifan setempat tetap hidup di masyarakat. Mereka juga mencatat bahwa puisi itu kini banyak dipakai sebagai lirik lagu Mandar. Bila teguran yang dahulu dilantunkan orang tua di rumah itu berpindah ke dalam lagu, masihkah ia sampai ke telinga anak sebagai nasihat, atau tinggal sebagai nyanyian?















