- Kata ulang dalam tiga novel 1970-an paling sering memakai awalan, jumlahnya 372 data.
- Sufiks tercatat 153 data, konfiks 96 data, dan kombinasi afiks 13 data.
- Infiks atau sisipan tidak ditemukan pada kata ulang di ketiga novel.
- Kata ulang berimbuhan terbentuk lewat tiga jalan pembentukan.
- Dua makna paling dominan adalah perbuatan berulang-ulang dan makna jamak atau banyak.
Daftar Isi
Kata ulang dalam tiga novel 1970-an paling sering memakai awalan. Jumlahnya 372 data. Akhiran menyusul dengan 153 data, lalu imbuhan pengapit dengan 96 data. Gabungan beberapa imbuhan paling jarang, 13 data.
Hitungan itu dimuat dalam artikel Putri Liberti dan Siti Ainim Liusti berjudul Reduplikasi Berimbuhan dalam Novel Indonesia Modern Tahun 1970-an, yang terbit di jurnal Persona volume 5 nomor 1 tahun 2026. Keduanya dari Universitas Negeri Padang.
Yang mereka cari adalah kata ulang yang sekaligus berimbuhan. Contoh yang mereka beri di awal naskah adalah bergerak-gerak. Kata itu, tulis mereka, adalah kata ulang dari bentuk dasar gerak yang mendapat prefiks ber- di depan. Dalam istilah mereka, gejala ini disebut reduplikasi berimbuhan.
Tiga Novel Satu Dasawarsa
Sumbernya tiga novel. Pada Sebuah Kapal karya Nh. Dini pertama kali diterbitkan Dunia Pustaka Jaya pada 1972, tebalnya 351 halaman. Kering karya Iwan Simatupang terbit pada tahun yang sama lewat Gunung Agung, tebalnya 226 halaman. Harimau! Harimau! karya Mochtar Lubis diterbitkan Dunia Pustaka Jaya pada 1975, tebalnya 216 halaman.
Kedua peneliti punya alasan memilih ketiganya. Menurut mereka, karya-karya itu mewakili pemakaian bahasa Indonesia dalam sastra modern periode 1970-an. Bahasanya relatif komunikatif dan dekat dengan bahasa sehari-hari, dan kata ulang berimbuhan di dalamnya beragam. Ada alasan lain. Sampai sekarang, tulis mereka, belum ditemukan penelitian yang khusus menjadikan ketiga novel itu objek kajian kata ulang berimbuhan. Kajian terdahulu cenderung membahas imbuhan saja atau kata ulang saja, secara terpisah.
Baca juga Tujuh Cerpen Horison 1969 dan Keyakinan Redaksinya
Awalan Paling Banyak
Imbuhan yang diletakkan di depan kata dasar disebut prefiks. Jenis inilah yang paling banyak menempel pada kata ulang. Di Pada Sebuah Kapal ada 161 data, di Harimau! Harimau! 120 data, dan di Kering 91 data.
Nh. Dini menulis: “Dengan seolah-olah memikirkan pertanyaan itu aku menundukkan kepala sebentar.” Kata seolah-olah berasal dari bentuk dasar olah dengan prefiks se-. Maknanya menyatakan menyerupai atau tiruan.
Mochtar Lubis menulis: “Hutan raya berubah-ubah wajahnya.” Bentuk dasarnya ubah, prefiksnya ber-. Kata itu menyatakan perbuatan yang dilakukan berulang-ulang, yang oleh kedua peneliti disebut frekuentif.
Di novel yang sama ada kalimat ini: “Berjam-jam mereka mencari di kebun pisang, tak lagi mereka dapat menjumpai Wak Hitam.” Prefiksnya tetap ber-, tetapi berjam-jam tidak menyatakan perbuatan. Maknanya keadaan atau waktu.
Iwan Simatupang menulis: “Seorang gaib, tubuhnya dipotong-potong, menari-nari di bumi yang juga terpotong-potong.” Kedua peneliti mengulas dipotong-potong. Prefiksnya di-, maknanya perbuatan berulang-ulang.
Contoh lain dari Kering adalah berkeping-keping dan bertahun-tahun. Yang pertama dipakai untuk mata air yang sudah lama kekeringan dan menjadi lubang-lubang kecil berlumpur kering, dan menyatakan banyak. Yang kedua muncul dalam kalimat “Rasa takut ini bertahun-tahun meneror bahasanya.”
Akhiran dan Konfiks
Sufiks adalah imbuhan di akhir kata dasar. Jumlah seluruhnya 153 data. Rinciannya 90 data di Pada Sebuah Kapal, 49 data di Kering, dan 14 data di Harimau! Harimau!. Salah satu sufiks yang dicontohkan adalah -an. Nh. Dini menulis: “Kemudian iring-iringan menuju ke kuburan di luar kota.” Mochtar Lubis menulis tentang tujuh orang yang duduk di sekeliling api, “masing-masing dengan kenang-kenangan sendiri, hasrat-hasrat sendiri.”
Sufiks -kan muncul di Kering. Kalimatnya pendek: “Jangan sia-siakan waktumu!” Bentuk dasarnya sia, diulang menjadi sia-sia, lalu diberi akhiran. Maknanya menyatakan intensitas.
Konfiks adalah imbuhan yang mengapit kata dasar, di awal dan di akhir sekaligus. Jumlahnya 96 data. Sebanyak 60 data ada di Pada Sebuah Kapal, 25 data di Kering, dan 11 data di Harimau! Harimau!.
Konfiks ke-an termasuk yang dicontohkan. Iwan Simatupang menulis: “Kesulitan-kesulitan adalah biasa.” Ia juga menulis: “Akhirnya, dia sadari kesia-siaan usahanya.” Yang pertama menyatakan bermacam-macam, yang kedua menyatakan perihal bentuk dasarnya.
Di Harimau! Harimau! ada konfiks ber-an pada kata berjauh-jauhan. Kalimatnya tentang orang-orang yang bekerja mengumpulkan damar. Maknanya menyatakan saling, atau resiprokal.
Baca juga Lima Lukisan Retno Amalia Pratiwi Menjawab Novel Gibran
Kombinasi Paling Jarang
Jenis keempat adalah kombinasi afiks. Jumlahnya 13 data. Pada Sebuah Kapal dan Kering masing-masing memuat 6 data, sedangkan Harimau! Harimau! memuat 1 data.
Satu-satunya data di novel Mochtar Lubis itu mengira-ngirakan. Kalimatnya: “Mereka tak dapat lagi mengira-ngirakan telah berapa lama mereka berjalan demikian.” Kombinasinya me-kan, dengan bentuk dasar kira.
Kombinasi yang sama ada pada menggeleng-gelengkan di Kering. Kombinasi me-i ada pada menghalang-halangi, juga di Kering. Nh. Dini memakainya dalam kalimat “Sampai kini aku selalu mengulang-ulangi sendiri bahwa hal itu telah lalu.” Semua contoh tadi bermakna perbuatan berulang-ulang. Pengecualiannya menyia-nyiakan di Pada Sebuah Kapal, yang dipakai tokohnya saat menyalahkan diri karena menyia-nyiakan hari libur. Kata ini menyatakan intensitas.
Sisipan Tidak Muncul
Infiks adalah imbuhan di tengah kata dasar, atau sisipan. Jenis ini tidak ditemukan pada kata ulang di ketiga novel. Kedua peneliti menyebut sebabnya: infiks jarang ditemukan dalam novel Indonesia modern tahun 1970-an. Dua kajian terdahulu yang mereka rujuk menemukan infiks. Salah satunya kajian atas novel Trauma karya Boy Candra. Kajian-kajian itu membahas imbuhan secara umum, bukan imbuhan pada kata ulang.
Ada pula kesamaan. Empat kajian terdahulu itu sama-sama menemukan prefiks sebagai jenis yang paling dominan. Satu di antaranya, atas cerpen Mata yang Enak Dipandang karya Ahmad Tohari, mencatat 115 data prefiks, 22 data konfiks, dan 8 data sufiks.
Tiga Jalan Pembentukan
Kata ulang berimbuhan terbentuk lewat tiga jalan. Pertama, kata dasar diberi imbuhan dulu, baru diulang. Contohnya latihan-latihan: latih menjadi latihan, lalu diulang utuh. Nh. Dini memakainya dalam kalimat “Dan pada saat-saat itu aku merasakan keinginan yang besar untuk mengikuti kembali latihan-latihan menari seperti pada waktu kecilku.” Keterangan-keterangan dan dataran-dataran dibentuk dengan cara yang sama.
Kedua, kata dasar diulang dulu, baru diberi imbuhan. Contohnya mengulang-ulang dari ulang-ulang, juga terburu-buru dari buru-buru. Kata kekanak-kanakan dibentuk dari kanak-kanak yang kemudian diapit ke-an.
Ketiga, imbuhan dan pengulangan berlangsung bersamaan. Kedua peneliti memasukkan seolah-olah, iring-iringan, berjam-jam, dan bertahun-tahun ke jalan ini. Kesalahan-kesalahan di Pada Sebuah Kapal juga mereka catat di sini.
Berubah-ubah dicatat sebagai imbuhan dulu baru pengulangan. Berkeping-keping dicatat sebaliknya, pengulangan dulu baru imbuhan, dengan prefiks yang sama.
Baca juga Keluhan dan Sindiran Mendominasi Tuturan Felix Siauw di Podcast
Makna Berulang dan Banyak
Dua makna paling dominan. Yang pertama perbuatan yang dilakukan berulang-ulang. Yang kedua makna jamak atau banyak. Keduanya muncul di ketiga novel. Makna berulang tampak pada mengulang-ulang, berubah-ubah, dan mengangguk-anggukkan. Makna banyak tampak pada latihan-latihan, pikiran-pikiran, dataran-dataran, dan kemungkinan-kemungkinan. Mochtar Lubis menulis tentang tokohnya yang “tak hendak membiarkan dirinya dihanyutkan oleh pikiran-pikiran yang demikian.”
Makna lain juga tercatat. Berwarna-warna dan minum-minuman menyatakan bermacam-macam. Terburu-buru menyatakan sungguh-sungguh atau intensif, sedangkan kekanak-kanakan menyatakan menyerupai bentuk dasarnya.
Kedua peneliti melihat gabungan itu sebagai gejala yang lazim dalam praktik berbahasa di masyarakat. “Bahkan penggunaan afiksasi yang bergabung dengan reduplikasi cenderung menghasilkan makna baru yang memperkaya atau memperjelas makna dari kata dasarnya,” tulis Putri Liberti dan Siti Ainim Liusti dalam naskahnya.
Batas Tiga Novel
Angka-angka ini datang dari tiga novel saja. Ketiganya terbit pada 1972 dan 1975. Datanya diambil dari Korpus Nusantara, yang disingkat KORTARA. Kajian terdahulu yang mereka sebut mengumpulkan data secara manual. Kajian ini dibantu aplikasi korpus. Menurut simpulan keduanya, KORTARA mampu menghasilkan data kebahasaan yang sistematis, praktis, dan berbasis fakta.
Tujuan mereka tiga: mendeskripsikan jenis, proses pembentukan, dan makna kata ulang berimbuhan. Jawabannya empat jenis imbuhan, tiga jalan pembentukan, dan dua makna dominan. Dari tiga novel itu, prefiks tetap yang terbanyak dengan 372 data. Kombinasi afiks yang paling sedikit, 13 data.














