Pemegang Asuransi Lebih Sering Berobat, Biaya Belum Tentu Ringan

A A

Aula rawat jalan bertingkat Rumah Sakit Xianyue di Xiamen, Tiongkok, dengan eskalator [Foto: HualinXMN/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

  • Kelima studi yang menilai pemakaian layanan menemukan asuransi kesehatan berkaitan dengan lebih seringnya pasien berobat.
  • Tujuh dari 14 studi melaporkan asuransi kesehatan dasar tidak melindungi pasien dari beban biaya penyakit tidak menular.
  • Di Iran, asuransi tambahan tercatat 3,8 kali lebih protektif, sedangkan asuransi dasar tidak efektif.
  • Status sosial ekonomi adalah penentu beban biaya yang paling sering muncul, dilaporkan di delapan studi.
  • Kira-kira dua pertiga studi berasal dari China, sehingga hasilnya terbatas untuk digeneralisasi.
Daftar Isi
  1. Yang pasti: pemegang asuransi lebih sering berobat
  2. Yang belum pasti: apakah ongkosnya ikut ringan
  3. Ketika asuransi menolong: paket manfaat yang lebar
  4. Ketika asuransi tak menolong: penggantian yang tipis
  5. Siapa yang paling terbebani biaya
  6. Siapa yang paling sering memakai layanan

Kartu asuransi dan tagihan berobat biasa dibayangkan bergerak berlawanan arah: yang satu dipegang, yang lain menyusut. Sebuah telaah atas 15 studi dari negara berpenghasilan rendah dan menengah memperlihatkan gambaran yang tidak sesederhana itu. Pada orang dengan penyakit tidak menular, asuransi kesehatan selalu berkaitan dengan lebih seringnya berobat, sedangkan kemampuannya melindungi dari beban biaya belum bisa dipastikan.

Telaah itu ditulis Basant Adhikari, Cheerawit Rattanapan, Orapin Laosee, dan Piyapong Janmaimool. Judulnya Effects of health insurance on economic burden and health service utilization among people with noncommunicable diseases in low- and middle-income countries: a systematic review, terbit di BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Keempatnya bekerja di ASEAN Institute for Health Development, Mahidol University, Thailand, dan Adhikari juga tercatat di Kementerian Kesehatan Provinsi Bagamati, Nepal.

Penyakit tidak menular yang mereka telaah ada empat: penyakit jantung dan pembuluh darah, kanker, penyakit paru kronis, dan diabetes. Menurut data yang dikutip para penulis, kelompok penyakit ini menyumbang kira-kira tiga perempat kematian di dunia, dan 82 persen kematian itu terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah. Penyakit jantung dan pembuluh darah saja menyumbang 30 persen kematian global, kanker 13 persen.

Di sisi keuangan, para penulis memakai satu istilah kunci, yaitu pengeluaran kesehatan katastrofik. Maksudnya, uang yang dibayar dari kantong sendiri untuk berobat melampaui ambang kemampuan bayar rumah tangga, paling sering dipatok 40 persen dari belanja di luar pangan. Angka kejadiannya di dunia memburuk, dari 9,6 persen pada 2000 menjadi 13,5 persen pada 2019, dan penyakit tidak menular disebut sebagai salah satu pemicu utamanya.

Asuransi kesehatan dan penyakit tidak menularAsuransi kesehatan dan penyakit tidak menularAsuransi kesehatan dan penyakit tidak menularTelaah studi dari negara berpenghasilan rendah dan menengah15studimasuk telaah10dari Chinasisanya 5 negara7tak protektifdari 14 studibiaya5berobat naikdari 5 studilayananJalan risetnya3.992 artikel disaring15 studi memenuhisyaratHasil biaya terbelah
Sumber: Basant Adhikari, Cheerawit Rattanapan, Orapin Laosee, dan Piyapong Janmaimool, Effects of health insurance on economic burden and health service utilization among people with noncommunicable diseases in low- and middle-income countries: a systematic review, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Yang pasti: pemegang asuransi lebih sering berobat

Lima dari 15 studi menilai seberapa sering pasien memakai layanan kesehatan, mulai dari kunjungan rawat jalan, rawat inap, sampai lama menginap di rumah sakit. Kelimanya sampai pada hasil yang sama. Asuransi kesehatan berkaitan dengan naiknya pemakaian layanan rawat jalan maupun rawat inap pada orang dengan penyakit tidak menular.

Para penulis merumuskannya tanpa keraguan. “Kepesertaan asuransi kesehatan adalah penentu pemakaian layanan kesehatan yang paling konsisten, dilaporkan bermakna di kelima studi yang menelaah hasil ini,” tulis Adhikari dan rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Temuan serupa mereka jumpai pada riset lain dari China, Tanzania, dan Amerika Serikat.

Contohnya tersebar di tabel telaah itu. Studi pasien diabetes di China mencatat asuransi menaikkan pemakaian layanan. Studi di Vietnam, yang mencakup penyakit tidak menular yang sudah berlangsung tiga bulan atau lebih, melaporkan hal yang sama. Begitu pula studi pasien diabetes atau hipertensi di China, yang menemukan kaitan positif antara asuransi dan pemakaian layanan.

Baca juga Separuh Peserta JKN Tak Memakai Kartunya Saat Berobat Jalan

Yang belum pasti: apakah ongkosnya ikut ringan

Pada sisi biaya, hasilnya terbelah. Sebanyak 14 studi menilai beban ekonomi, dan tujuh di antaranya melaporkan asuransi kesehatan dasar tidak melindungi pasien dari beban biaya mengurus penyakit tidak menular. Dua dari tujuh studi itu bahkan menemukan kaitan yang berlawanan dengan harapan, yakni tekanan keuangan yang lebih besar pada pasien yang berasuransi.

Tujuh studi lainnya melaporkan asuransi melindungi. Tiga dari tujuh studi ini mengaitkan perlindungan tersebut dengan tingkat penggantian biaya yang lebih tinggi untuk perawatan penyakit tidak menular di dalam paket manfaat.

Gambaran per penyakit sama terbelahnya. Dua dari empat studi kanker menyimpulkan asuransi melindungi dari beban ekonomi. Pada diabetes, dua dari tiga studi melaporkan asuransi tidak efektif mengurangi kesulitan keuangan. Sebaliknya, tiga dari empat studi tentang penyakit kronis yang tidak merinci jenisnya menemukan asuransi melindungi.

Simpulan para penulis menaruh kedua hasil itu dalam satu kalimat. “Asuransi kesehatan adalah penentu kuat meningkatnya pemakaian layanan kesehatan, tetapi kemampuannya melindungi orang dengan penyakit tidak menular dari beban ekonomi masih belum dapat disimpulkan,” tulis mereka. Perdebatan soal memadai atau tidaknya perlindungan itu, menurut naskah, masih berlangsung.

Ketika asuransi menolong: paket manfaat yang lebar

Studi-studi yang menemukan perlindungan punya ciri yang berulang. Di Ethiopia, asuransi kesehatan berbasis komunitas melindungi pasien penyakit kronis dari pengeluaran katastrofik, dan paket manfaatnya menentukan seberapa jauh perlindungan itu. Di Kerala, India, asuransi melindungi pasien penyakit jantung dan pembuluh darah dari pengeluaran katastrofik sekaligus dari tekanan keuangan.

China menyumbang beberapa contoh. Sebuah studi tahun 2013 menemukan skema yang dalam naskah disingkat NCMS menurunkan pengeluaran katastrofik rumah tangga secara bermakna. Studi lain mendapati asuransi dengan manfaat lebih luas mengurangi tekanan keuangan untuk rawat inap dan rawat jalan. Pada pasien kanker, skema dengan tingkat penggantian lebih tinggi menurunkan pengeluaran katastrofik.

Studi dari Iran memberi pembanding yang paling tajam. Pada rumah tangga pasien kanker saluran cerna, asuransi tambahan tercatat 3,8 kali lebih protektif terhadap pengeluaran katastrofik, sedangkan asuransi dasar tidak efektif. Tabel telaah itu merangkum pelajarannya: rancangan paket manfaat sangat menentukan.

Baca juga Skor Kelayakan Perawatan Jangka Panjang dalam JKN Capai 8,10

Ketika asuransi tak menolong: penggantian yang tipis

Di sisi lain, studi-studi yang tidak menemukan perlindungan juga menunjuk ke arah paket manfaat. Pada pasien kanker di China, tidak ada kaitan antara asuransi dan pengeluaran katastrofik, dan paket yang terbatas dinilai tidak efektif untuk penyakit berbiaya tinggi. Pada pasien kanker di tiga bulan terakhir hidupnya, asuransi tidak melindungi karena tingkat penggantiannya rendah.

Pola serupa muncul pada diabetes. Pasien diabetes di China yang mengidap dua penyakit kronis atau lebih tidak terlindung dari pengeluaran katastrofik karena paket manfaat yang rendah. Studi lain pada pasien diabetes mencatat asuransi menaikkan pemakaian layanan dan beban ekonomi sekaligus, dengan paket manfaat terbatas sebagai penyumbang keduanya.

Di Vietnam, asuransi tidak berkaitan dengan beban ekonomi karena buruknya cakupan atas biaya yang dibayar sendiri, misalnya obat. Di Nigeria, pada pasien hipertensi dan diabetes, tidak ditemukan kaitan bermakna antara asuransi nasional dan pengeluaran katastrofik ataupun pemiskinan. Pada pasien penyakit jantung dan pembuluh darah di China, skema NCMS tidak melindungi, terutama bagi kelompok rentan seperti lanjut usia.

Para penulis menjelaskan mengapa selisih itu jatuh ke rumah tangga. Biaya perawatan penyakit tidak menular yang tinggi kerap melampaui cakupan asuransi. Obat yang tidak tersedia, pembayaran informal, dan perawatan yang dicari di luar sistem asuransi menambah uang yang keluar dari kantong sendiri. Kekurangan tenaga kesehatan dan pasokan, terutama di layanan primer, mereka sebut ikut memperberat beban keluarga.

Siapa yang paling terbebani biaya

Asuransi bukan satu-satunya penentu. Dari 14 studi yang menelaah beban ekonomi, status sosial ekonomi adalah faktor yang paling sering muncul, dilaporkan di delapan studi. Pada kebanyakan kasus, status sosial ekonomi yang lebih tinggi melindungi rumah tangga dari pengeluaran katastrofik.

Faktor yang menentukan beban biaya pasienStatus sosial ekonomi: Jumlah studi +8; Pemakaian layanan kesehatan: Jumlah studi +5; Penyakit ganda: Jumlah studi +4; Status pekerjaan: Jumlah studi +4; Ukuran keluarga: Jumlah studi +4; Pendidikan: Jumlah studi +3.Faktor yang menentukan beban biaya pasienJumlah studi yang melaporkan tiap faktor, dari 14 studi2468100Status sosial ekonomi8Pemakaian layanan kesehatan5Penyakit ganda4Status pekerjaan4Ukuran keluarga4Pendidikan3
Sumber: Basant Adhikari, Cheerawit Rattanapan, Orapin Laosee, dan Piyapong Janmaimool, Effects of health insurance on economic burden and health service utilization among people with noncommunicable diseases in low- and middle-income countries: a systematic review, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Faktor kedua justru pemakaian layanan itu sendiri, yang dilaporkan di lima studi. Pasien yang sering rawat inap dan rawat jalan kerap menanggung biaya lebih tinggi, dan cakupan asuransi belum tentu menutup semuanya. Mengidap beberapa penyakit sekaligus, status pekerjaan, dan ukuran keluarga masing-masing muncul di empat studi, lalu pendidikan di tiga studi.

Di titik inilah dua sisi temuan bertemu. Asuransi menaikkan pemakaian layanan, dan pemakaian layanan yang tinggi berkaitan erat dengan beban ekonomi yang lebih besar. Para penulis menduga pemakaian layanan menjadi perantara antara asuransi dan beban biaya. Seberapa besar peran perantara itu, menurut mereka, tidak dapat ditentukan dari telaah ini.

Baca juga Dukungan Keluarga Gandakan Kepatuhan Obat Hipertensi di Kamboja

Siapa yang paling sering memakai layanan

Pada sisi pemakaian layanan, daftar penentunya lebih pendek. Setelah asuransi, yang bermakna di kelima studi, penyakit penyerta dilaporkan di tiga studi. Status sosial ekonomi, akses ke dokter keluarga, dan pendidikan masing-masing muncul di dua studi. Rumah tangga berstatus sosial ekonomi lebih tinggi, tulis para penulis, cenderung punya akses lebih baik ke layanan kesehatan.

Kedua daftar itu dibaca dengan sejumlah batas yang diakui naskah. Kira-kira dua pertiga studi berasal dari China, negara berpenghasilan menengah atas yang sistem asuransinya sangat berbeda dari negara berpenghasilan rendah dan menengah bawah. Ukuran beban ekonomi juga tidak seragam antarstudi, dengan ambang pengeluaran katastrofik berkisar 15 sampai 40 persen. Telaah ini pun hanya memuat studi kuantitatif berbahasa Inggris.

Para penulis menutup dengan dua hal. Besarnya peran pemakaian layanan sebagai perantara masih menjadi celah riset, dan paket manfaat asuransi perlu diperkuat serta diperluas agar perlindungan keuangan bagi pasien penyakit tidak menular meningkat.

Bagikan

Baca Juga

Premi Asuransi Kendaraan Lebih Ringan bila Klaim Besar Dibatasi
Taman Bermain di Tepi Jalan Ankara Lebih Berisiko Logam Berat
Kurs Renminbi Berperilaku Lain Saat Kebijakan Sulit Ditebak
Vitamin D Ibu Hamil di New Delhi Naik, Berat Bayi Tak Berbeda
RI-Singapura Bentuk Satgas Kejar Perusahaan Pembakar Hutan
Peluang Pulih dari Henti Jantung di Tokyo Berbeda Barat dan Timur