Peluang Pulih dari Henti Jantung di Tokyo Berbeda Barat dan Timur

A A

Ambulans Dinas Pemadam Kebakaran Tokyo terparkir dengan pintu belakang terbuka di kawasan Stasiun Tokyo [Foto: Dick Thomas Johnson/Wikimedia Commons, CC BY 2.0]

  • Tiga puluh hari sesudah masuk rumah sakit, 34 dari 116 pasien itu pulih dengan fungsi otak yang baik.
  • Hasil yang lebih baik berkumpul di kawasan barat, yang merupakan distrik bisnis utama kota itu.
  • Bertambahnya waktu di lokasi dari 0 menjadi 30 menit berkaitan dengan peluang hasil baik yang kira-kira 50 persen lebih rendah.
  • Di antara 34 pasien yang pulih baik, hanya 5 orang, 14,7 persen, yang jantungnya berhenti di rumah.
  • Datanya berasal dari satu rumah sakit dengan jumlah pasien yang relatif kecil.
Daftar Isi
  1. Rumah Sakit di Dekat Istana Kaisar dan Seratus Enam Belas Pasien yang Dibawa ke Sana
  2. Dari Rumah sampai Stasiun, Tempat Jantung Berhenti Tidak Membawa Hasil yang Sama
  3. Peta Tokyo yang Terbelah Barat dan Timur di Sepanjang Jalur Kereta Keihin–Tohoku
  4. Enam Belas Menit di Lokasi, Tujuh Menit di Perjalanan, dan Peluang Pulih yang Menipis
  5. Yang Belum Bisa Dijawab oleh Satu Rumah Sakit dengan Seratus Enam Belas Pasien

Jantung seseorang berhenti di tengah Tokyo. Petugas ambulans tiba, mendapati irama jantung yang masih bisa dikejut, lalu memberi kejutan listrik. Pada saat yang sama, Tokyo Command Center menghubungi rumah sakit satu per satu, mulai dari yang terdekat dengan lokasi, sampai ada yang memastikan menerima. Selama menunggu, petugas boleh memasang selang napas, membuka jalur infus, dan memberi adrenalin. Menit terus berjalan.

Menit-menit itulah yang ditelusuri Atsushi Senda dalam artikel Spatial variation in neurological outcomes after shockable out-of-hospital cardiac arrest in central Tokyo: a single-center retrospective study, terbit di BMC Public Health tahun 2026. Senda berasal dari Graduate School of Medical and Dental Sciences, Institute of Science Tokyo, dan Department of Emergency Medicine, Toda Chuo General Hospital, Jepang. Ia mengerjakan seluruh penelitian itu seorang diri, dari mengumpulkan data sampai menulis naskahnya.

Bahannya adalah pasien henti jantung di luar rumah sakit yang dibawa ke Tokyo Medical and Dental University Hospital, disingkat TMDU, antara 1 Juni 2016 dan 30 Mei 2022. Dari 835 pasien yang tercatat, 116 orang memiliki irama jantung yang bisa dikejut ketika ambulans tiba, yaitu fibrilasi ventrikel atau takikardia ventrikel tanpa nadi. Hanya kelompok inilah yang ditelaah.

Tiga puluh hari sesudah masuk rumah sakit, 34 dari 116 pasien itu pulih dengan fungsi otak yang baik. Delapan puluh dua orang lainnya berakhir dengan cacat berat, koma, atau meninggal. Senda menelusuri apakah tempat jantung berhenti, dan lamanya waktu sebelum pasien tiba di rumah sakit, berkaitan dengan hasil akhir itu.

Rumah Sakit di Dekat Istana Kaisar dan Seratus Enam Belas Pasien yang Dibawa ke Sana

TMDU berdiri di pusat Tokyo, dekat Istana Kaisar, Stasiun Tokyo, dan kantor-kantor pemerintah pusat. Dalam sistem gawat darurat kota itu, rumah sakit dibagi menjadi tiga tingkat menurut perkiraan beratnya kondisi pasien. TMDU termasuk rumah sakit tersier, tingkat yang merawat kondisi berat dan mengancam nyawa.

Tokyo, tulis Senda, adalah salah satu kota terpadat di dunia. Kota itu mengoperasikan lebih dari 250 unit layanan gawat darurat medis dan 10 rumah sakit gawat darurat tersier, sehingga ia menyebutnya model kesiapan kota menghadapi henti jantung. Namun kota besar punya rintangan yang jarang ada di perdesaan: jaringan transportasi yang rumit, gedung bertingkat tinggi, dan kesenjangan sosial ekonomi.

Seratus enam belas pasien itu punya usia tengah 62,5 tahun. Perempuan hanya 18 orang, atau 15,5 persen. Sebanyak 86 kejadian, 74,1 persen, disaksikan orang lain. Pada 73 pasien, 62,9 persen, orang di sekitar melakukan resusitasi jantung paru sebelum petugas datang, dan pada 45 pasien, 38,8 persen, orang di sekitar memakai alat kejut jantung otomatis. Jarak tengah dari lokasi kejadian ke TMDU 1,93 kilometer.

Hasil akhir diukur dengan skala bernama Cerebral Performance Category, disingkat CPC, yang lazim dipakai menilai fungsi otak sesudah henti jantung. CPC 1 berarti sadar dengan fungsi normal atau hanya cacat ringan, CPC 2 cacat sedang, CPC 3 sadar dengan cacat berat, CPC 4 koma atau keadaan vegetatif, dan CPC 5 meninggal. Senda menggolongkan CPC 1 dan 2 sebagai hasil yang baik.

Rinciannya begini. Delapan belas pasien, 15,5 persen, berada di CPC 1 dan 16 pasien, 13,8 persen, di CPC 2. Empat belas orang, 12,1 persen, masuk CPC 3 dan 12 orang, 10,3 persen, masuk CPC 4. Lima puluh enam pasien, 48,3 persen, meninggal.

Baca juga Skor Kualitas Hidup Lansia Jantung Vietnam di Bawah Rata-rata

Dari Rumah sampai Stasiun, Tempat Jantung Berhenti Tidak Membawa Hasil yang Sama

Tiga puluh pasien, 25,9 persen, mengalami henti jantung di rumah atau bangunan hunian. Dua puluh lima orang, 21,6 persen, di jalan. Enam belas orang, 13,8 persen, di stasiun. Sisanya tersebar di panti lansia sebanyak 12 orang, fasilitas kesehatan 8 orang, tempat kerja 6 orang, toko 4 orang, dan hotel 2 orang. Lokasi 13 pasien tidak diketahui atau tidak tercatat.

Lalu daftar itu dibelah menurut hasil akhir. Di antara 34 pasien yang pulih baik, hanya 5 orang, 14,7 persen, yang jantungnya berhenti di rumah. Di antara 82 pasien dengan hasil buruk, jumlahnya 25 orang, 30,5 persen. Stasiun berbalik arah: 7 orang atau 20,6 persen pada kelompok yang pulih baik, 9 orang atau 11,0 persen pada kelompok lainnya.

Tempat jantung berhenti pada dua kelompok pasienRumah atau hunian: Pulih baik (34 orang) +14,7%, Hasil buruk (82 orang) +30,5%; Jalan: Pulih baik (34 orang) +20,6%, Hasil buruk (82 orang) +22,0%; Stasiun: Pulih baik (34 orang) +20,6%, Hasil buruk (82 orang) +11,0%; Panti lansia: Pulih baik (34 orang) +5,9%, Hasil buruk (82 orang) +12,2%.Tempat jantung berhenti pada dua kelompokpasienPersen pasien di tiap kelompok, 30 hari sesudah masuk rumah sakitPulih baik (34 orang)Hasil buruk (82 orang)10%20%30%40%0Rumah atau hunian14,7%30,5%Jalan20,6%22,0%Stasiun20,6%11,0%Panti lansia5,9%12,2%Pulih baik: CPC 1-2. Hasil buruk: CPC 3-5.
Sumber: Atsushi Senda, Spatial variation in neurological outcomes after shockable out-of-hospital cardiac arrest in central Tokyo: a single-center retrospective study, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Senda menghitung koefisien korelasi tiap lokasi dengan hasil yang baik. Rumah atau bangunan hunian mendapat angka negatif 0,219, stasiun 0,123, jalan 0,061, dan tempat kerja 0,032. Ia membacanya sebagai hubungan positif yang lemah untuk kejadian di stasiun dan hubungan negatif yang lemah untuk kejadian di rumah. Semua angka itu ia sebut eksploratif.

Lantai gedung ikut dicatat, meski hanya tersedia pada 37 pasien atau 31,9 persen. Nilai tengah lantai kejadian pada pasien yang pulih baik adalah lantai 1. Pada pasien dengan hasil buruk, lantai 3. Koefisien korelasinya negatif 0,023, yang oleh Senda juga dibaca sebagai hubungan negatif yang lemah untuk lantai yang lebih tinggi.

Dua kelompok itu berbeda pula dalam hal lain. Usia tengah pasien yang pulih baik 54,0 tahun, sedangkan pada kelompok hasil buruk 65,0 tahun. Kejadian yang disaksikan orang lain mencapai 82,4 persen pada kelompok pertama dan 70,7 persen pada kelompok kedua. Resusitasi oleh orang di sekitar tercatat 76,5 persen berbanding 57,3 persen, dan pemakaian alat kejut jantung otomatis 50,0 persen berbanding 34,1 persen.

Dua kelompok pasien henti jantung di TokyoDua kelompok pasien henti jantung di TokyoDua kelompok pasien henti jantung di Tokyo116 pasien dengan irama jantung yang bisa dikejutPulih baikHasil buruk3482Jumlah pasien54,0 tahun65,0 tahunUsia tengah82,4%70,7%Ada saksi76,5%57,3%Ditolong orangsekitar14 menit16 menitWaktu di lokasi6 menit7,5 menitWaktu perjalananWaktu adalah nilai tengah. Ditolong: pijat jantung oleh orang di sekitar.
Sumber: Atsushi Senda, Spatial variation in neurological outcomes after shockable out-of-hospital cardiac arrest in central Tokyo: a single-center retrospective study, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Peta Tokyo yang Terbelah Barat dan Timur di Sepanjang Jalur Kereta Keihin–Tohoku

Ketika hasil itu dibentangkan di atas peta, Tokyo terbelah. Hasil yang lebih baik berkumpul di kawasan barat, yang merupakan distrik bisnis utama kota itu. Kawasan timur lebih buruk. Tetapi begitu usia, jenis kelamin, ada tidaknya saksi, dan resusitasi oleh orang di sekitar ikut diperhitungkan, keunggulan kawasan barat menjadi kurang jelas.

Bagi Senda, memudarnya selisih itu punya arti. Ia menulis bahwa hal tersebut menunjukkan kepadatan penduduk yang lebih tinggi dan kemungkinan lebih besar henti jantung disaksikan orang ikut menyumbang pada hasil yang lebih baik. Ketika waktu kerja petugas gawat darurat juga dimasukkan, kawasan di sebelah timur TMDU tetap mencatat prognosis paling buruk.

Ada satu garis yang ia tunjuk di peta itu. Jalan arteri utama yang melintasi jalur kereta Keihin–Tohoku memisahkan kawasan barat yang baik dari kawasan timur yang buruk. Menurut Senda, jalan itu mungkin ikut memperbaiki prognosis dengan meredam keterlambatan pengangkutan pasien. Koridor jalan dan rel besar, tulisnya, mungkin berkaitan dengan proses pengangkutan.

Harga tanah menyusul. Harga tanah di Tokyo paling tinggi di kawasan tengah dan menurun ke arah luar, dan pola itu menyerupai peta hasil pasien dengan koefisien korelasi 0,321. Rasio luas lantai bangunan berkorelasi positif sedang dengan prognosis, 0,212. Jumlah rumah sakit gawat darurat tersier yang terletak di antara lokasi kejadian dan TMDU tidak menunjukkan korelasi kuat, negatif 0,091.

Senda memberi peringatan pada angka harga tanah itu. Banyak henti jantung terjadi di luar rumah, dan hanya 30 pasien, 25,9 persen, yang mengalaminya di rumah atau bangunan hunian. Karena itu harga tanah di lokasi kejadian, menurut dia, tidak boleh dibaca sebagai status sosial ekonomi pasien atau rumah tangganya. Angka itu hanya menggambarkan ciri tempat jantung berhenti.

Baca juga Kunjungan ke Ruang Biru dan Kesehatan Mental Lansia Jepang

Enam Belas Menit di Lokasi, Tujuh Menit di Perjalanan, dan Peluang Pulih yang Menipis

Kembali ke menit-menit di lokasi kejadian. Petugas tiba dengan nilai tengah 6 menit sesudah panggilan diterima. Mereka berada di lokasi selama 16 menit, lalu menempuh perjalanan ke rumah sakit selama 7 menit. Pada pasien yang pulih baik, waktu di lokasi 14 menit dan perjalanan 6 menit. Pada pasien dengan hasil buruk, 16 menit dan 7,5 menit.

Hubungannya dengan hasil akhir digambar Senda sebagai dua kurva yang menurun. Bertambahnya waktu di lokasi dari 0 menjadi 30 menit berkaitan dengan peluang hasil baik yang kira-kira 50 persen lebih rendah. Bertambahnya waktu perjalanan dari 0 menjadi 15 menit berkaitan dengan peluang yang kira-kira 25 persen lebih rendah. Kaitan itu lebih kuat pada waktu di lokasi daripada waktu perjalanan.

Peta waktu pun tidak rata. Waktu di lokasi umumnya lebih lama di bagian tengah Tokyo, kecuali di beberapa kawasan kecil di selatan TMDU. Sekitar 5 kilometer di timur laut TMDU, waktu di lokasi relatif singkat. Waktu perjalanan cenderung memanjang seiring jarak ke rumah sakit. Senda tidak membacanya sebagai kecepatan ambulans, sebab waktu itu dipengaruhi bentuk jalan, lalu lintas, lampu merah, kepadatan persimpangan, dan pilihan rute.

Mengapa menit di lokasi tampak lebih menentukan? Senda menawarkan satu dugaan. Begitu rumah sakit tujuan ditetapkan, rumah sakit dapat bersiap menyambut pasien, sehingga waktu perjalanan terpakai lebih efisien dibanding waktu di lokasi. Ia meminta temuan ini dibaca hati-hati, mengingat rancangan penelitiannya berupa pengamatan dan jumlah pasiennya terbatas.

Penelitian lain yang ia kutip pun tidak seragam. Sebagian melaporkan waktu di lokasi yang panjang lebih merugikan fungsi otak daripada keterlambatan pengangkutan, sebagian lain menekankan pentingnya waktu perjalanan. “Secara keseluruhan, hasil ini menunjukkan bahwa kedua rentang waktu pra-rumah sakit layak dioptimalkan, meskipun bobot relatif waktu di lokasi dan waktu pengangkutan perlu dievaluasi lebih lanjut dalam penelitian yang lebih besar,” tulis Atsushi Senda dalam naskahnya yang berbahasa Inggris.

Baca juga Kekuatan Genggaman yang Menurun dan Risiko Jantung

Yang Belum Bisa Dijawab oleh Satu Rumah Sakit dengan Seratus Enam Belas Pasien

Angka pasien yang pulih baik di TMDU tetap relatif tinggi, bahkan pada mereka yang waktu pra-rumah sakitnya panjang. Senda membandingkannya dengan sebuah penelitian terdahulu di Jepang, yang mendapati hanya 14,4 persen pasien memiliki prognosis fungsi otak yang baik. Ia mengakui tidak ada penjelasan pasti, lalu mengajukan dua dugaan.

Dugaan pertama adalah letak. Tingginya angka kejadian yang disaksikan dan resusitasi oleh orang di sekitar mungkin mencerminkan posisi rumah sakit itu di pusat kota. Dugaan kedua adalah jalur perawatan baku di TMDU. Begitu ada kabar pasien dengan irama yang bisa dikejut akan datang, tim rutin menyiapkan resusitasi dengan mesin jantung paru di luar tubuh, dan angiografi koroner serta pengaturan suhu tubuh termasuk perawatan standar bagi pasien yang memenuhi syarat.

Pasien dengan irama yang tidak bisa dikejut sengaja tidak disertakan. Di Tokyo, tulis Senda, hampir semua orang tanpa aktivitas jantung dibawa ke rumah sakit, termasuk yang sudah menunjukkan lebam mayat dan kaku mayat. Tidak ada protokol baku bagi kelompok itu, dan keputusan perawatan diambil lewat pembicaraan dokter dengan keluarga. Hasil fungsi otak yang baik pada kelompok tersebut jarang.

Batas penelitian ini ia tulis panjang. Datanya berasal dari satu rumah sakit dengan jumlah pasien yang relatif kecil, sehingga tidak dapat menangkap kerumitan sebuah kota metropolitan. Jumlah yang terbatas itu juga menghalangi penyesuaian menyeluruh, sehingga hasilnya tidak boleh dibaca sebagai perkiraan sebab-akibat. Mutu resusitasi tidak dinilai. Perawatan di rumah sakit tidak masuk ke dalam model, dan perbandingan antarrumah sakit tidak mungkin dilakukan.

Senda menutup naskahnya dengan menahan diri. “Temuan ini harus ditafsirkan sebagai eksploratif dan penghasil hipotesis,” tulisnya, juga dalam bahasa Inggris. Ia meminta penelitian berbasis populasi di banyak rumah sakit, yang memasukkan faktor tingkat rumah sakit, pemilihan rumah sakit tujuan, perawatan di rumah sakit, dan indikator sosial ekonomi yang lebih lengkap.

Sampai penelitian semacam itu ada, yang tercatat dari pusat Tokyo adalah 116 jantung dengan irama yang masih bisa dikejut. Tiga puluh hari kemudian, 34 pemiliknya pulih dengan fungsi otak yang baik.

Bagikan

Baca Juga

Lafal Bahasa Inggris Murid Colombo Tersandung Bunyi Bahasa Ibu
Trakoma pada Anak Yaman Tinggal 0,9 Persen Usai Tiga Putaran Obat
UNS Kirim Tim Medis ke Tiga Kota Terdampak Asap Karhutla
Pasien Diabetes Korea yang Punya Tempat Berobat Tetap Lebih Patuh
Darah Tinggi Lebih Dulu Datang daripada Diabetes pada Warga India
Guru Periksa Mata Murid, 7 dari 10 Kasus Gangguan Terjaring