- Sembilan belas dari dua puluh murid di Colombo mengganti bunyi th dengan bunyi t atau s.
- Sekitar 45 persen murid menambahkan vokal di depan gugus konsonan, sehingga school menjadi iskool.
- Sekitar 40 persen murid memberi tekanan sama kuat pada semua suku kata dalam kata yang panjang.
- Sebagian murid takut ditertawakan teman sekelas karena cara mereka melafalkan kata tertentu.
- Semua data berasal dari satu lembaga saja, dan jumlah murid sedikit serta tidak seimbang.
Daftar Isi
Sembilan belas dari dua puluh murid itu tersandung pada satu bunyi. Bunyi tersebut adalah th pada kata thin dalam bahasa Inggris. Mereka menggantinya dengan bunyi t atau s, sehingga kata think terdengar seperti tink atau sink.
Temuan itu dimuat dalam artikel Fathima Fazna Jawzi dan Rohan Abeywickrama berjudul Phonological Challenges in ESL Learning among Sinhala and Tamil Speakers in Colombo, Sri Lanka. Artikel tersebut terbit di Andalas International Journal of Socio-Humanities volume 8 nomor 1 tahun 2026. Jawzi bekerja di Alashbal International School, Qatar, sedangkan Abeywickrama di Sabaragamuwa University of Sri Lanka.
Murid-murid itu belajar bahasa Inggris tingkat menengah di sebuah pusat bahasa swasta di Colombo. Usia mereka 13 sampai 17 tahun, sembilan orang berbahasa ibu Sinhala dan sebelas orang berbahasa ibu Tamil. Suara mereka direkam ketika membaca dan bercerita bebas, dan lima guru di lembaga yang sama ikut diwawancarai.
Bunyi yang Tak Dikenal
Sebab kesalahan itu ada di bahasa ibu. Sinhala dan Tamil sama-sama tidak mempunyai bunyi th seperti pada thin, sehingga murid memakai bunyi yang paling akrab bagi mereka. Seorang guru menceritakan bahwa kebanyakan murid Sinhala tetap mengucapkan tink sesudah dikoreksi.
Bunyi th pada kata this bernasib serupa. Dua belas dari dua puluh murid, atau 60 persen, menggantinya dengan bunyi d. Kata this menjadi dis, dan that menjadi dat.
Bunyi sh pada sheep menyulitkan sembilan murid, atau 45 persen. Banyak di antara mereka menggantinya dengan s, sehingga sheep terdengar seperti seep. Menurut kedua peneliti, penutur Sinhala dan Tamil sering tidak membedakan kedua bunyi itu dalam bahasa pertama mereka.
Dua Bahasa, Dua Pola
Kedua kelompok murid tidak tersandung dengan cara yang persis sama. Tujuh dari sembilan penutur Sinhala mengganti th dengan t. Delapan dari sebelas penutur Tamil lebih sering menghilangkan konsonan di akhir kata dan kesulitan dengan vokal rangkap.
Jawzi dan Abeywickrama membaca hal itu sebagai jejak sistem bunyi masing-masing bahasa. Kesulitan pada th dimiliki bersama, sedangkan masalah lafal yang lebih umum berbeda menurut bahasa pertama murid. Mereka sendiri meminta perbandingan ini dibaca hati-hati karena jumlah murid sedikit dan tidak seimbang.
Baca juga Pengetahuan dan Praktik Higiene Menstruasi Siswi Sri Lanka
Vokal yang Tertukar
Vokal juga menjadi batu sandungan. Dua belas dari dua puluh murid, atau 60 persen, tertukar antara vokal pada cat dan vokal pada cut. Vokal pendek pada bit biasanya dipanjangkan, sehingga kata itu terdengar seperti beet.
Kedua peneliti menduga sebabnya ada pada jumlah pembeda vokal, yang dalam Sinhala dan Tamil tidak sebanyak bahasa Inggris. Murid lalu menyatukan bunyi-bunyi yang mirip menurut bahasa pertama mereka. Seorang guru memberi contoh nama negara Canada, yang semua vokalnya diucapkan jelas termasuk pada suku kata tak bertekanan.
Dari School ke Iskool
Kesalahan lain mudah dikenali telinga. Sekitar 45 persen murid menambahkan vokal di depan gugus konsonan. Kata school menjadi iskool, dan special menjadi ispecial.
Penjelasannya kembali pada aturan bunyi bahasa ibu. Sinhala dan Tamil tidak mengizinkan gugus konsonan yang rumit. Murid menyisipkan satu vokal untuk memecah deretan konsonan yang asing bagi mereka.
Kebiasaan itu bertahan lama. Seorang guru mengatakan murid tingkat lanjut pun masih mengucapkan iskul tanpa menyadarinya, bahkan sesudah bertahun-tahun belajar. Para guru juga mencatat murid cenderung mengulangi lafal keliru teman sekelasnya, sehingga lafal itu menjadi kebiasaan di dalam kelas.
Irama yang Rata
Persoalan lafal tidak berhenti pada bunyi satuan. Sekitar 40 persen murid memberi tekanan sama kuat pada semua suku kata dalam kata yang panjang, sehingga ucapan mereka kurang alami menurut irama bahasa Inggris. Sinhala dan Tamil memberi penekanan kira-kira setara pada tiap suku kata, sedangkan bahasa Inggris berirama tekanan.
Contoh di kelas adalah kalimat I will go to the market. Dalam bahasa Inggris yang wajar, tekanan jatuh pada go dan market. Murid menekan setiap kata sama rata, dan seorang guru menyebut ucapan itu terdengar agak seperti robot.
Catatan pengamatan kelas memperlihatkan murid sering membaca nyaring kata demi kata, datar dan tanpa irama yang lazim. Letak tekanan pun kerap meleset. Kata important diucapkan dengan tekanan di suku pertama, bukan di suku kedua.
Intonasi ikut keliru. Banyak murid menaikkan nada di tempat nada seharusnya turun. Akibatnya, sebuah pernyataan terdengar seperti pertanyaan.
Baca juga Sekolah Filipina Tutup 29 Bulan, Murid Lupa Wajah Teman Sekelas
Takut Ditertawakan Teman
Para guru melihat sisi lain di balik salah lafal itu. Murid tampak gugup ketika harus berbicara. Mereka sering berhenti, merendahkan suara, atau mencari peneguhan sebelum berucap.
Banyak murid enggan bersuara bila sebuah kata memuat bunyi yang asing. Mereka memilih kosakata yang lebih sederhana atau menghindari bahasa Inggris sama sekali. Seorang guru menuturkan sebagian murid takut ditertawakan teman sekelas karena cara mereka melafalkan kata tertentu.
Kedua peneliti menempatkan temuan ini sejajar dengan temuan soal bunyi. “Temuan ini mengungkap bahwa kesulitan fonologis tidak hanya berkaitan dengan bahasa, tetapi juga bersifat psikologis,” tulis Fathima Fazna Jawzi dan Rohan Abeywickrama, pengajar di Alashbal International School dan Sabaragamuwa University of Sri Lanka, dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.
Sikap menghindar itu punya harga, sebab lafal membaik lewat latihan teratur dan banyak pengalaman. Murid yang dikoreksi dengan cara yang tidak mendukung biasanya makin takut berbicara. Para guru menekankan perlunya suasana belajar yang memperlakukan kesalahan sebagai kesempatan memperbaiki lafal.
Ada pula alasan budaya. Sebagian murid dan guru sengaja mempertahankan ciri bunyi bahasa ibu untuk menjaga identitas kebahasaan mereka. Kedua peneliti menyebut alasan budaya itu berperan penting dalam kesulitan lafal.
Para guru melaporkan sebagian murid sulit menyesuaikan lafal karena satu kekhawatiran. Mereka takut terdengar tidak wajar atau dianggap pamer di lingkungan pergaulannya. Bagi kedua peneliti, hal ini memperlihatkan rumitnya hubungan bahasa, identitas, dan penerimaan sosial.
Gejala itu diperkirakan lebih kuat pada murid tertentu. Mereka adalah murid yang di luar kelas terutama berbicara dalam bahasa Sinhala atau Tamil. Kebiasaan itu menguatkan pola lafal bahasa ibu.
Lafal Jarang Diajarkan
Kelas ikut menyumbang masalah. Para guru menjelaskan bahwa latihan lafal jarang diprioritaskan di kelas bahasa Inggris di Sri Lanka. Perhatian lebih banyak diberikan pada tata kalimat, makna, dan keterampilan menulis.
Akibatnya, murid hanya menerima sedikit bimbingan atas kesalahan lafal. Kesalahan itu lalu menetap seiring waktu. Seorang guru menyatakan murid sering kesulitan memperbaiki pola lafal yang keliru tanpa keterlibatan gurunya.
Contoh yang didengar murid juga terbatas. Banyak murid bergantung pada ragam bahasa Inggris berciri lokal, terutama dari guru dan media di Sri Lanka. Kedua peneliti menambahkan bahwa banyak guru di negara itu sedikit atau tidak pernah mendapat pelatihan resmi tentang ilmu bunyi bahasa.
Baca juga Lampu Kelas Xinjiang Diduga Perlambat Miopia Anak Uighur
Usul dari Para Peneliti
Jawzi dan Abeywickrama mengusulkan latihan lafal yang terang dan terencana. Salah satunya latihan pasangan kata yang berbeda satu bunyi saja, seperti thin dan tin, atau ship dan sip. Mereka menyarankan program bahasa Inggris di Sri Lanka diperbarui agar memuat komponen lafal yang terstruktur.
Usul kedua menyangkut telinga murid. Murid didorong menyimak media berbahasa Inggris seperti siniar, buku audio, dan acara televisi. Guru disarankan mendapat pelatihan tentang cara bunyi dihasilkan dan cara memberi koreksi.
Usul ketiga menyentuh rasa takut. Kedua peneliti menganjurkan latihan lafal bersama teman, bermain peran, dan latihan berbicara secara berkelompok. Mengatasi sebab-sebab emosional itu mereka nilai sama pentingnya dengan latihan bunyi.
Batas penelitian ini mereka tulis sendiri. Semua data berasal dari satu lembaga saja. Hal itu, menurut mereka, dapat membatasi keluasan temuan untuk kelas bahasa Inggris lain di Sri Lanka.
Beberapa pertanyaan mereka serahkan kepada riset berikutnya. Di antaranya perkembangan lafal dari waktu ke waktu dan manfaat perangkat lunak pelafalan berbasis kecerdasan buatan. Dua hal lain yang mereka sebut ialah ragam lafal antardaerah di Sri Lanka dan dampak pengajaran bunyi sejak sekolah dasar.















