- Overdosis tak disengaja menjadi cedera mematikan termahal, sedangkan jatuh tak disengaja menjadi cedera tidak mematikan termahal.
- Biaya overdosis mematikan naik 123 persen, dari 503 miliar dolar pada 2015 menjadi 1,13 triliun dolar pada 2022.
- Jatuh yang berujung rawat inap menelan 474 miliar dolar pada 2022, naik 35 persen dari 2015.
- Kejadian jatuh yang ditangani di gawat darurat berkurang 17 persen ketika kejadian jatuh yang berujung rawat inap bertambah.
- Baik pada cedera mematikan maupun yang tidak mematikan, total biaya didominasi biaya nonmedis.
Daftar Isi
Overdosis obat dan terjatuh tampak seperti dua kemalangan yang tidak saling berkaitan. Di Amerika Serikat, keduanya bertemu di puncak daftar yang sama, yakni daftar cedera paling mahal. Overdosis tak disengaja menjadi cedera mematikan termahal, sedangkan jatuh tak disengaja menjadi cedera tidak mematikan termahal. Masing-masing memimpin dengan selisih yang lebar dari urutan di bawahnya.
Dua puncak itu dipetakan Scott A Wu, Alan G Soetikno, Karen M Sheehan, dan Alexander L Lundberg dalam artikel berjudul Trends in fatal and non-fatal injuries in the United States: analyzing incidence and costs from 2015 to 2022. Artikel itu terbit di BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Keempatnya berafiliasi dengan Northwestern University Feinberg School of Medicine di Chicago, dan mereka membaca data cedera yang diterbitkan Centers for Disease Control and Prevention untuk tahun 2015 sampai 2022.
Biaya yang dimaksud terbagi dua. Di satu sisi ada biaya medis, yaitu perawatan akut yang diterima ketika cedera terjadi. Di sisi lain ada biaya nonmedis, yaitu nilai statistik sebuah nyawa yang hilang pada cedera mematikan, serta hilangnya pekerjaan dan kualitas hidup pada cedera yang tidak mematikan. Total biaya sebuah jenis cedera dalam setahun adalah hasil kali jumlah kejadiannya dengan biaya rata-rata per orang.
Di Sisi Kematian, Overdosis Memimpin Sendirian
Keracunan obat tak disengaja, yang oleh para peneliti disebut juga overdosis mematikan, menelan biaya 1,13 triliun dolar Amerika Serikat pada 2022. Tujuh tahun sebelumnya angkanya 503 miliar dolar. Para peneliti mencatat kenaikannya 123 persen, tertinggi di antara semua jenis cedera yang ditelaah. Jumlah kematiannya bergerak searah, dari 44.121 pada 2015 menjadi 99.592 pada 2022.
Hampir seluruh biaya itu berasal dari nilai nyawa yang hilang. Biaya medisnya hanya 721 juta dolar, atau rata-rata 7,2 ribu dolar per kematian. Total biaya overdosis pada 2022 lebih dari dua kali biaya cedera mematikan termahal berikutnya, yaitu kecelakaan kendaraan bermotor. Para peneliti menyebut overdosis mematikan sebagai krisis kesehatan masyarakat yang sudah diakui di negeri itu.
Di bawah overdosis berbaris kecelakaan kendaraan bermotor, lalu bunuh diri dengan senjata api, lalu pembunuhan dengan senjata api. Kematian akibat kendaraan bermotor naik dari 36.156 menjadi 44.534, dan total biayanya bertambah 22 persen. Bunuh diri dengan senjata api naik dari 22.015 menjadi 27.032 kematian, dengan biaya bertambah 21 persen. Pembunuhan dengan senjata api mencatat kenaikan biaya terbesar kedua, yakni 54 persen.
Hanya satu jenis cedera mematikan dalam daftar sepuluh besar yang biayanya turun, yaitu bunuh diri dengan keracunan obat. Sembilan lainnya naik, dan rata-rata perubahan biaya sepuluh jenis itu mencapai 28 persen. Angka tersebut merupakan laju pertumbuhan tertinggi di antara tiga kategori yang dibandingkan para peneliti.
Baca juga Kenapa Pengawasan Orang Tua Tak Langsung Tahan Narkoba
Di Sisi Perawatan, Jatuh Memimpin Dua Daftar
Pada cedera yang tidak mematikan, para peneliti memisahkan dua kelompok. Kelompok pertama adalah pasien yang dirawat inap lalu dipulangkan. Kelompok kedua adalah pasien yang ditangani di instalasi gawat darurat lalu dipulangkan. Jatuh tak disengaja menempati urutan pertama di kedua kelompok, baik menurut jumlah kejadian maupun menurut total biaya.
Jatuh yang berujung rawat inap menelan 474 miliar dolar pada 2022, naik 35 persen dari 352 miliar dolar pada 2015. Kejadiannya bertambah dari 1.338.502 menjadi 1.697.299. Biaya medisnya menjadi yang terbesar pada setiap tahun yang ditelaah dan memuncak pada 2022 dengan 92 miliar dolar, atau 53,9 ribu dolar per cedera.
Jatuh yang cukup ditangani di gawat darurat menelan biaya lebih besar lagi, yakni 931 miliar dolar pada 2022, naik 14 persen dari 819 miliar dolar pada 2015. Kejadiannya mencapai 6,57 juta pada 2022. Biaya medisnya juga yang terbesar di kelompok itu setiap tahun, dengan puncak 70 miliar dolar pada 2015.
Urutan di bawah jatuh diisi jenis cedera yang sama dengan susunan terbalik. Di kelompok rawat inap, cedera penumpang kendaraan bermotor berada di urutan kedua dan cedera terbentur atau tertimpa benda di urutan ketiga. Di kelompok gawat darurat, cedera terbentur atau tertimpa benda naik ke urutan kedua dan cedera penumpang kendaraan bermotor turun ke urutan ketiga.
Yang Sama: Biaya Terbesar Tidak Ada di Rumah Sakit
Kedua puncak daftar itu punya satu kesamaan. Baik pada cedera mematikan maupun pada cedera yang tidak mematikan, total biaya didominasi biaya nonmedis. Isinya nilai statistik sebuah nyawa, hilangnya kualitas hidup, dan hilangnya pekerjaan. Tagihan perawatan hanya bagian kecil dari angka yang dicatat untuk overdosis maupun untuk jatuh.
Kesamaan berikutnya terletak pada lajunya. Rata-rata biaya sepuluh cedera mematikan termahal naik 28 persen dan rata-rata biaya sepuluh cedera rawat inap termahal naik 26 persen selama delapan tahun itu. Penduduk Amerika Serikat pada kurun yang sama hanya tumbuh 3,9 persen. Semula para peneliti menduga kejadian dan biaya sebagian besar cedera tidak akan melampaui pertumbuhan penduduk.
Pada tiga cedera mematikan termahal, kenaikan total biaya terjadi walaupun biaya per cedera relatif stabil atau menurun. Biaya per kasus overdosis mematikan tercatat 11,4 juta dolar pada 2015 dan tetap 11,4 juta dolar pada 2022. Karena itu para peneliti menunjuk bertambahnya jumlah kejadian sebagai pendorong utama biaya cedera mematikan.
Yang Berbeda: Porsi Medis dan Arah Angka
Perbedaannya mulai tampak pada porsi biaya medis. Dibandingkan cedera mematikan, cedera yang tidak mematikan memuat bagian biaya medis yang lebih besar. Biaya medis kotor jatuh di kedua kelompok jauh melampaui biaya medis cedera mematikan mana pun dalam daftar teratas. Jatuh yang mematikan sendiri mencatat biaya medis terbesar di kategorinya, yaitu 1,8 miliar dolar atau 38 ribu dolar per kematian.
Arah angkanya pun berlainan. Di kelompok rawat inap, rata-rata biaya sepuluh cedera termahal naik 26 persen. Di kelompok gawat darurat, rata-ratanya turun 1 persen. Kejadian jatuh yang ditangani di gawat darurat berkurang 17 persen, dari 7.895.687 menjadi 6.570.493, tepat ketika kejadian jatuh yang berujung rawat inap bertambah.
Kelompok gawat darurat juga memuat lebih banyak jenis cedera yang biayanya menyusut. Cedera terbentur atau tertimpa benda turun 8 persen, serangan dengan pukulan turun 8 persen, dan cedera akibat kelelahan otot turun 22 persen. Cedera pesepeda turun 24 persen. Di kelompok rawat inap, kenaikan terbesar justru dicatat cedera pengendara sepeda motor, yakni 57 persen.
Satu jenis cedera sering terjadi tetapi tidak termasuk yang termahal. Keracunan tak disengaja yang berujung rawat inap tercatat 329 ribu kejadian pada 2022, terbanyak kedua di kelompoknya. Namun menurut total biaya ia hanya berada di urutan kesembilan.
Baca juga Kelambu Kamar Tidur dan Lansia Pesisir Surat Thani yang Jatuh
Apa Kata Para Peneliti tentang Overdosis
Untuk sisi kematian, para peneliti merujuk kajian terdahulu. Perubahan bertahap dalam kebijakan narkoba federal dan negara bagian disebut kesulitan mengatasi pemakaian zat terlarang. Berlanjutnya kematian akibat overdosis sebagian besar dikaitkan dengan meningkatnya pemakaian opioid sintetis. Opioid resep yang semula menjadi penyebab utama overdosis mematikan kemudian dilampaui fentanil buatan gelap dan overdosis beberapa zat sekaligus.
Kecelakaan kendaraan bermotor mencatat kematian hampir separuh dari overdosis pada 2022. Angka kematian lalu lintas Amerika Serikat per satu juta penduduk pada 2021 lebih dari dua kali angka Kanada, Australia, dan Inggris. Dugaan penyebabnya beragam, antara lain batas kadar alkohol dalam darah yang lebih longgar, pemakaian sabuk pengaman yang tidak konsisten, dan pengemudi yang tidak fokus.
Kenaikan bunuh diri dengan senjata api mereka sebut mengkhawatirkan dan rumit. Faktor hukum, kesehatan jiwa, dan sosial ekonomi diduga berperan di baliknya. Tingkat kepemilikan senjata di tiap negara bagian banyak menjelaskan perbedaan angka antarwilayah, tetapi hanya sedikit menjelaskan kenaikan yang terjadi belakangan.
Apa Kata Para Peneliti tentang Jatuh
Untuk sisi perawatan, penduduk yang menua dengan cepat disebut sebagai pendorong utama bertambahnya kejadian dan biaya jatuh. Kajian yang dirujuk para peneliti mencatat risiko jatuh lebih besar pada orang lanjut usia, perempuan, dan orang dewasa berpenghasilan rendah. Depresi dan diabetes juga disebut menambah risiko itu.
Perbedaan arah antara rawat inap dan gawat darurat mereka kaitkan dengan pandemi COVID-19. Pasien dan pengasuhnya diduga menunda mencari pertolongan darurat karena takut tertular di fasilitas kesehatan. Sumber daya layanan kesehatan juga mungkin dialihkan dan terbebani sehingga akses ke gawat darurat berkurang. Penurunan relatif di gawat darurat itu bertahan meski angkanya naik kembali pada 2021 dan 2022.
Dua puncak itu dirangkum dalam simpulan naskah. “Overdosis obat yang tidak disengaja dan jatuh yang tidak disengaja adalah cedera mematikan dan tidak mematikan yang paling mahal, masing-masing dengan selisih yang lebar,” tulis Scott A Wu dan rekan-rekannya, peneliti Northwestern University Feinberg School of Medicine, dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.
Baca juga Chiang Mai Buang Tahun Pandemi, Ramalan Kecelakaan Malah Meleset
Para peneliti mencatat sejumlah batas. Data usia dan jenis kelamin tidak disertakan, begitu pula penyebab di balik cedera, misalnya mengemudi dalam pengaruh alkohol atau melaju terlalu kencang. Biaya yang dilaporkan berupa total kasar yang tidak disesuaikan menurut usia. Sumber datanya juga tidak menyediakan ukuran ketidakpastian untuk angka kejadian maupun angka biaya.
Penjelasan yang mereka kutip dari kajian lain, termasuk pengaruh kebijakan dan COVID-19, tidak diuji dalam riset ini dan hanya berfungsi sebagai konteks. Dominasi nilai statistik nyawa pada biaya cedera mematikan dapat memengaruhi perbandingan dengan cedera yang tidak mematikan. Riset ini juga tidak memberi panduan pencegahan untuk cedera yang dipetakannya.
Menurut para peneliti, tren kejadian dan biaya cedera belakangan ini menunjukkan kematian yang bertambah, rawat inap yang naik, dan pemakaian gawat darurat yang menurun untuk cedera tidak mematikan. Mereka menyarankan riset berikutnya memakai kajian seperti ini untuk mencari strategi pencegahan dan penanganan cedera yang hemat biaya.














