Remaja Gemuk Tetap Lebih Rentan Dirundung di Negara yang Aman

A A

Halaman sekolah yang kosong dengan meja pingpong beton di Brux, Vienne, Prancis [Foto: JLPC/Wikimedia Commons, CC BY-SA 3.0]

  • Dari 143.091 remaja di 38 negara, 29,29 persen melaporkan pernah dirundung.
  • Remaja dengan berat badan berlebih dan obesitas lebih mungkin dirundung, dengan rasio odds 1,17.
  • Makin tinggi modal sosial sebuah negara, makin kecil peluang remajanya dirundung, dengan rasio odds 0,96.
  • Kaitan antara berat badan berlebih dan perundungan sedikit lebih kuat di negara bermodal sosial tinggi.
  • Penelitian ini tidak dapat menyimpulkan sebab dan akibat karena data dipotret pada satu waktu.
Daftar Isi
  1. Tubuh yang Keluar dari Ukuran Ideal
  2. Angka Perundungan Berbeda Jauh Antarnegara
  3. Modal Sosial Bekerja sebagai Payung Bersama
  4. Payung yang Tidak Menutup Semua Kepala
  5. Laki-laki dan Perempuan Hampir Sama
  6. Diterima Teman, Didengar Keluarga
  7. Di Mana Penjelasan Ini Berhenti

Negara yang warganya sehat, setara, bebas, aman, dan puas dengan hidupnya adalah tempat yang lebih teduh bagi remaja, sebab di sana perundungan lebih jarang terjadi. Akan tetapi, ada satu kelompok yang tidak sepenuhnya ikut berteduh. Remaja dengan berat badan berlebih dan obesitas tetap lebih rentan menjadi sasaran dibanding teman sebayanya, dan jarak itu malah sedikit lebih terlihat di negara-negara semacam itu.

Kejanggalan itu muncul dalam artikel A cross-sectional multilevel study of bullying victimisation among adolescents: the role of body weight status and social capital across 38 countries yang ditulis Ajeng Nova Dumpratiwi dan Wen-Hsu Lin. Artikel tersebut terbit di BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Dumpratiwi berasal dari International Health Program, School of Medicine, National Yang Ming Chiao Tung University di Taipei, Taiwan, sekaligus Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta, sedangkan Lin dari Institute of Health and Welfare Policy di universitas yang sama di Taipei.

Keduanya mengolah jawaban 143.091 remaja berusia 11 sampai 17 tahun di 38 negara, yang terkumpul lewat survei Health Behaviour in School-aged Children 2017/2018 yang dikoordinasi WHO. Dari seluruh remaja itu, 29,29 persen melaporkan pernah dirundung, kira-kira tiga dari sepuluh anak. Sementara itu, 15,94 persen tergolong berat badan berlebih atau obesitas menurut batas International Obesity Task Force yang disesuaikan dengan usia dan jenis kelamin.

Perundungan remaja di 38 negara, sekilasPerundungan remaja di 38 negara, sekilasPerundungan remaja di 38 negara, sekilasAngka gabungan seluruh remaja yang dianalisis38negara143.091 remaja29,29%dirundungpernahmengalami15,94%berat berlebihtermasukobesitas1,17rasio oddsdirundung bilaberat berlebihJalan risetnyaSurvei remajaBerat badanPerundungan
Sumber: Ajeng Nova Dumpratiwi dan Wen-Hsu Lin, A cross-sectional multilevel study of bullying victimisation among adolescents: the role of body weight status and social capital across 38 countries, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Tubuh yang Keluar dari Ukuran Ideal

Pertanyaan pertama kedua peneliti sederhana: apakah berat badan berkaitan dengan pengalaman dirundung. Jawabannya ya. Remaja dengan berat badan berlebih dan obesitas lebih mungkin dirundung dibanding teman yang kurus atau berbobot normal, dengan rasio odds 1,17. Kaitan itu tetap bertahan sesudah kepuasan hidup, hubungan di sekolah, dan komunikasi dengan teman ikut diperhitungkan. Temuan itu, tulis keduanya, sejalan dengan banyak penelitian lain.

Yang membuatnya rumit, mekanisme di balik kaitan itu belum banyak diterangkan oleh riset, dan kedua penulis mengakuinya. Meski begitu, mereka mencatat bahwa para ilmuwan secara luas menerima satu penjelasan yang masuk akal, yaitu perundungan berbasis berat badan. Anggapan tentang bobot yang normal dan tidak normal dibentuk oleh norma masyarakat yang mengutamakan tubuh langsing sebagai ukuran kecantikan, juga oleh apa yang disebut sizeism, diskriminasi sosial budaya atas dasar ukuran tubuh.

Karena itu, remaja yang tubuhnya tidak sesuai dengan ukuran ideal tadi menanggung risiko lebih besar. Naskah itu merujuk riset lain yang menunjukkan bahwa masyarakat kerap memberi stigma dan meminggirkan remaja dengan berat badan berlebih dan obesitas. Riset lain lagi, yang juga dirujuk kedua penulis, menyebut penampilan fisik yang berbeda dari tubuh ideal yang diterima masyarakat membuat mereka lebih mudah dirundung.

Baca juga Anak Kurus dan Anak Gemuk di Kampung Etnis Minoritas Sama

Angka Perundungan Berbeda Jauh Antarnegara

Perundungan tidak tersebar rata. Di Lithuania 54,74 persen remaja yang disurvei melaporkan pernah dirundung, di Republik Moldova 48,77 persen, dan di Turki 46,33 persen. Angkanya jauh lebih kecil di Spanyol, yakni 13,46 persen, lalu Islandia 15,91 persen dan Belanda 16,55 persen. Menurut perhitungan kedua peneliti, perbedaan antarnegara menjelaskan 7,1 persen dari keragaman pengalaman dirundung, cukup besar untuk membuat mereka menengok ke ciri negara.

Remaja yang melaporkan pernah dirundungLithuania: Persen remaja +54,74%; Republik Moldova: Persen remaja +48,77%; Turki: Persen remaja +46,33%; Gabungan 38 negara: Persen remaja +29,29%; Belanda: Persen remaja +16,55%; Islandia: Persen remaja +15,91%; Spanyol: Persen remaja +13,46%.Remaja yang melaporkan pernah dirundungEnam dari 38 negara dan angka gabungan, dalam persen20%40%60%0Lithuania54,74%Republik Moldova48,77%Turki46,33%Gabungan 38 negara29,29%Belanda16,55%Islandia15,91%Spanyol13,46%
Sumber: Ajeng Nova Dumpratiwi dan Wen-Hsu Lin, A cross-sectional multilevel study of bullying victimisation among adolescents: the role of body weight status and social capital across 38 countries, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Sebelum menggabungkan seluruh negara, kedua peneliti memeriksa kaitan berat badan dan perundungan di tiap negara satu per satu. Mereka menulis bahwa temuannya konsisten menunjukkan peluang dirundung yang lebih tinggi pada remaja dengan berat badan berlebih dan obesitas, walaupun tidak semua kaitan itu bermakna secara statistik. Kaitan yang bermakna tercatat antara lain di Jerman dengan rasio odds 1,59, Islandia 1,43, Austria 1,39, Spanyol 1,36, dan Portugal 1,33.

Kekuatan kaitan itu, tulis mereka, sangat bervariasi dari satu negara ke negara lain. Proporsi remaja yang tergolong berat badan berlebih dan obesitas pun tidak seragam: 30,88 persen di Malta dan 21,85 persen di Kanada, tetapi hanya 6,64 persen di Kazakhstan dan 8,15 persen di Belanda. Keragaman inilah yang mendorong keduanya menimbang remaja dan negaranya sekaligus dalam satu perhitungan.

Modal Sosial Bekerja sebagai Payung Bersama

Ciri negara yang mereka pilih adalah modal sosial. Dalam naskah ini modal sosial tidak diartikan sebagai pertemanan antarorang, melainkan sebagai gabungan kestabilan sosial dan kesejahteraan seluruh penduduk. Ukurannya diambil dari Global Sustainable Competitiveness Index 2015, yang merangkum lima hal: ketersediaan dan keterjangkauan layanan kesehatan, kesetaraan dalam masyarakat, kebebasan, tingkat kejahatan, dan kepuasan hidup. Skor rata-rata 38 negara itu 51,29 pada skala sampai 100.

Hasilnya searah dengan dugaan kedua peneliti. Makin tinggi modal sosial sebuah negara, makin kecil peluang remajanya dirundung, dengan rasio odds 0,96. Kaitan itu berlaku terlepas dari pendapatan per kapita dan kesetaraan gender negara tersebut. Dua ukuran yang disebut terakhir, yakni produk domestik bruto per kapita 2016 dan Global Gender Gap Index 2016, justru tidak menunjukkan kaitan yang bermakna dengan perundungan.

Cara kerja payung itu diuraikan kedua penulis lewat lima unsurnya, dengan bersandar pada riset terdahulu. Sistem layanan kesehatan yang kuat membantu mencegah perundungan melalui pelaporan kasus, akses perawatan, dan perlindungan dari bahaya. Ketimpangan menciptakan ketidakseimbangan kuasa yang dapat menormalkan perundungan. Kebebasan menumbuhkan keeratan dan saling percaya, kejahatan membuka paparan pada perilaku berbahaya, dan kepuasan hidup yang tinggi berkaitan dengan komunitas yang lebih saling percaya dan mau bekerja sama.

Baca juga Obesitas Anak Thailand Melonjak Dua Kali Lipat Saat Pandemi

Payung yang Tidak Menutup Semua Kepala

Persoalannya, perlindungan itu tidak terbagi sama rata. Ketika berat badan dan modal sosial negara diuji bersama, muncul interaksi dengan rasio odds 1,01 yang bermakna secara statistik tetapi sangat kecil. Artinya, kaitan antara berat badan berlebih dan perundungan sedikit lebih kuat di negara bermodal sosial tinggi. Kedua penulis menyebut interaksi itu lemah dan variasinya antarnegara rendah.

Mereka segera memagari cara membacanya. “Yang penting, temuan ini tidak boleh ditafsirkan bahwa perundungan lebih sering terjadi di negara dengan modal sosial lebih tinggi; sebaliknya, hasil kami menunjukkan negara-negara ini cenderung memiliki tingkat perundungan keseluruhan yang lebih rendah,” tulis Dumpratiwi dan Lin dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Yang sedikit melebar hanyalah selisih antara remaja dengan berat badan berlebih dan yang tidak.

Penjelasan yang mereka tawarkan bertumpu pada norma. Di lingkungan yang menjunjung tinggi kesehatan, keterbukaan, dan kesejahteraan, perbedaan fisik seperti obesitas bisa menjadi lebih kentara. Modal sosial, menurut literatur yang mereka rujuk, kerap bekerja di dalam sistem atau keanggotaan kelompok. Orang dalam memperoleh keistimewaan, sedangkan mereka yang tidak cocok dengan gambaran ideal kelompok terpinggirkan dan lebih terbatas aksesnya pada sumber daya sosial.

Dengan kata lain, lingkungan yang secara umum aman pun menyimpan sisi lain. Norma internal yang kuat dan harapan yang diidealkan, tulis kedua peneliti, bisa tanpa sengaja membuat penyimpangan fisik lebih terlihat. Akibatnya, bentuk-bentuk halus pengucilan dan perundungan berbasis berat badan ikut diperkuat. Standar sosial yang kuat di negara bermodal sosial tinggi juga disebut sangat memengaruhi cara orang menilai sesamanya.

Laki-laki dan Perempuan Hampir Sama

Kedua peneliti lalu memisahkan remaja laki-laki dan perempuan. Hasilnya nyaris kembar. Berat badan berlebih dan obesitas berkaitan dengan perundungan pada remaja laki-laki dengan rasio odds 1,17 dan pada remaja perempuan 1,16. Secara keseluruhan remaja perempuan lebih kecil peluangnya dirundung dibanding laki-laki, dengan rasio odds 0,91, tetapi beban tambahan akibat berat badan hampir sama besar pada keduanya.

Interaksi dengan modal sosial pun serupa pada kedua kelompok, sama-sama kecil dan sama-sama positif. Naskah itu mencatat bahwa di negara industri perempuan yang lebih langsing dianggap lebih menarik, sedangkan laki-laki berotot dipandang lebih menarik dan lebih kuat. Gender, simpul kedua penulis, sangat memengaruhi makna sosial stigma berat badan, tetapi konteks struktural yang lebih luas bekerja dengan cara serupa bagi laki-laki dan perempuan.

Diterima Teman, Didengar Keluarga

Di luar berat badan, hitungan yang sama memperlihatkan apa saja yang berjalan seiring dengan lebih kecilnya peluang dirundung. Remaja yang setuju bahwa teman-teman sekolah menerima dirinya apa adanya mencatat rasio odds 0,26 dibanding yang tidak setuju, sedangkan yang bersikap netral 0,55. Rasa diterima oleh guru juga berkaitan dengan peluang yang lebih kecil, dengan rasio odds 0,83.

Rumah dan pertemanan menunjukkan arah yang sama. Hubungan keluarga yang lebih baik berkaitan dengan rasio odds 0,93, kebiasaan membicarakan masalah dengan teman 0,94, dan kepuasan hidup yang lebih tinggi 0,86. Usia pun berperan, sebab makin tua usia remaja makin kecil peluangnya dirundung, dengan rasio odds 0,86. Di antara seluruh remaja itu, 74,61 persen merasa diterima teman dan 78,17 persen merasa diterima guru.

Baca juga Depresi Remaja Thailand Selatan: Keluarga Retak dan Trauma

Di Mana Penjelasan Ini Berhenti

Kedua penulis mencatat sendiri batas penelitian mereka. Data berasal dari laporan remaja tentang dirinya, sehingga keinginan tampil baik dan kekeliruan mengingat bisa memengaruhi jawaban, dan beberapa ukuran yang dipakai bukan skala yang tervalidasi. Perundungan langsung dan perundungan siber digabung menjadi satu ukuran. Berat badan hanya dibagi dua kelompok, yang menyederhanakan kaitannya dengan perundungan meski memudahkan perbandingan antarnegara.

Karena seluruh data dipotret pada satu waktu, penelitian ini tidak dapat menyimpulkan sebab dan akibat. Remaja yang datanya tidak lengkap juga dikeluarkan, sehingga perkiraan angka perundungan mungkin bersifat hati-hati. Iklim sekolah, norma teman sebaya, status sosial ekonomi keluarga, dan konteks budaya tidak ikut dihitung. Keduanya menyarankan riset berikutnya mengikuti remaja dari waktu ke waktu dan memasukkan faktor-faktor itu.

Dari sana kesimpulan mereka kembali ke payung tadi. Lingkungan yang melindungi remaja dari perundungan, tulis keduanya, menuntut intervensi struktural dari pemerintah dan pemangku kepentingan publik melalui kebijakan dan investasi sosial, disertai strategi yang menyentuh faktor risiko individu. “Modal sosial tidak sepenuhnya menghapus kerentanan berbasis berat badan, yang menunjukkan bahwa stigma tetap ada bahkan di lingkungan yang melindungi,” tulis Dumpratiwi dan Lin.

Bagikan

Baca Juga

Hampir Satu dari Tiga Lansia di Asia Selatan Mengalami Kekerasan
Satu dari Empat Tenaga Kesehatan Bangladesh Idap Penyakit Ganda
Thailand 18 Tahun Melatih Tenaga Kesehatan Hadapi Flu Pandemi
Mahasiswa Kesehatan di Turki Merasa Belum Siap Menghadapi Bencana
Perdagangan Karbon di Tiongkok Ikut Menekan Biaya Berobat Warga
Perempuan Herat Lebih Terhalang Izin Keluarga daripada Jarak