Mahasiswa Kesehatan di Turki Merasa Belum Siap Menghadapi Bencana

A A

Ilustrasi isi tas siaga bencana: kotak P3K, senter, radio, dan air minum [Foto: Roger Brown/Pexels]

  • Hanya 19,5 persen dari 452 mahasiswa yang memiliki tas darurat, dan 19,5 persen memiliki rencana aksi bencana.
  • Makin tinggi skor kesiapan seorang mahasiswa, makin rendah skor persepsi risikonya.
  • Semua dari 24 mahasiswa di ruang diskusi menyatakan tidak merasa siap menghadapi bencana apa pun.
  • Hanya 31,9 persen yang pernah mengikuti pelatihan bencana, sedangkan 82,5 persen ingin mendapat pelatihan.
  • Media sosial disebut 91,15 persen mahasiswa sebagai sumber informasi tentang bencana.
Daftar Isi
  1. Tas Gempa
  2. Bangku yang Bergetar
  3. Angka di Atas Rata-rata
  4. Dua Hari di Jalan
  5. Sirene dan Kolong Meja
  6. Kampus di Muğla

Tas gempa itu tidak ia simpan di dekatnya. Seorang mahasiswa kedokteran gigi di sebuah universitas di Turki bagian barat mengaku panik setiap kali melihatnya. Ia duduk di ruang kelas fakultasnya bersama mahasiswa lain, beberapa bulan setelah dua gempa besar mengguncang negerinya pada 6 Februari 2023.

Pengakuan itu dicatat Media Subasi Baybuga, Mehtap Cullu, Zeynep Cetinkaya, dan Hatice Demir Kureci dalam artikel Disaster preparedness and disaster risk perception among undergraduate health sciences students: a mixed-methods study. Tulisan mereka terbit di jurnal BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Keempatnya berasal dari Muğla Sıtkı Koçman University di Muğla, Turki.

Mereka bertanya kepada 452 mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Kedokteran Gigi sepanjang April sampai September 2023. Sebanyak 24 mahasiswa lain diajak berbincang dalam dua diskusi kelompok di ruang kelas. Dari dua jalur itu muncul gambaran yang tidak sepenuhnya sejalan.

Tas Gempa

Mahasiswa kedokteran gigi tadi dicatat para penulis dengan kode FD5. “Setiap kali melihat tas gempa, saya hidup dengan panik, stres, cemas, dan skenario buruk. Karena itu saya berusaha tidak menyimpan hal-hal yang mengingatkan,” kata partisipan itu, seperti dikutip dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.

Ia tidak sendirian. Beberapa mahasiswa, menurut naskah itu, memilih tidak menyiapkan apa pun sebagai cara menghindari stres dan cemas. Seorang peserta diskusi menyebut bersiap-siap sama seperti terus-menerus hidup dengan kemungkinan gempa. Ada pula yang menganggap persiapan pribadi tidak berarti. Seorang mahasiswa ilmu kesehatan berpendapat persiapan seharusnya dilakukan sebagai negara, lewat infrastruktur dan bangunan, bukan orang per orang. Mahasiswa lain mengaku tidak percaya tas itu akan melindunginya dan tidak memandang tas sebagai persiapan.

Angka dari 452 mahasiswa menunjukkan arah serupa. Hanya 19,5 persen yang memiliki tas darurat, kira-kira satu dari lima orang. Persentase yang sama, 19,5 persen, memiliki rencana aksi bencana. Padahal 95,4 persen menilai daerah tempat tinggal mereka berisiko bencana.

Baca juga Banjir Tallo Makassar: Ibu Hamil Jatuh, Tirah Baring Dua Bulan

Bangku yang Bergetar

Bencana bukan hal jauh bagi para mahasiswa ini. Sebanyak 69 persen pernah mengalaminya. Di antara mereka yang pernah mengalami, 82,1 persen menyebut gempa bumi, 11,2 persen kebakaran, dan 6,7 persen banjir atau tanah longsor. Sebanyak 14,6 persen menyatakan pernah kehilangan akibat bencana.

Di ruang diskusi, 12 dari 24 mahasiswa mengaku pernah mengalami satu atau lebih bencana: gempa, kebakaran, banjir, atau tornado. Sebagian menggambarkan bencana dengan kata kiamat, ketidakberdayaan, kehilangan, panik, dan kekacauan. Sebagian lain menyebutnya peristiwa alam. Rasa kehilangan muncul dalam beberapa pengakuan. Seorang mahasiswa bercerita tentang tempat ia menghabiskan masa kecil dan masa mudanya, lalu berkata kenangannya hilang. Mahasiswa lain menyebut bangunan yang ada di foto-foto masa kecilnya sudah lenyap.

Kecemasan itu, menurut para penulis, bertahan setelah bencana lewat. Seorang partisipan berkode FHS 5 menceritakan apa yang terjadi saat ia duduk di sebuah bangku dan tanah sedikit bergetar: ia merasakan tangan dan kakinya gemetar. Partisipan lain mengaku masih terbangun pukul empat pagi setiap malam.

Angka di Atas Rata-rata

Dari jawaban tertulis, gambarannya lebih terang. Skor kesiapan bencana para mahasiswa rata-rata 28,25 pada skala yang terentang dari 13 sampai 52. Para penulis menyebutnya di atas rata-rata. Skor persepsi risiko bencana rata-rata 59,54, juga disebut di atas rata-rata.

Beberapa kelompok mencatat skor kesiapan lebih tinggi. Mahasiswi rata-rata memperoleh 28,82, sedangkan mahasiswa laki-laki 27,22. Mereka yang pernah mengalami bencana mencatat 29,04, berbanding 26,47 pada yang belum pernah. Perbedaan itu bermakna secara statistik. Jarak paling lebar tampak pada pelatihan dan rencana. Mahasiswa yang pernah mengikuti pelatihan bencana mencatat skor 31,05, sedangkan yang belum pernah 26,94. Pemilik rencana aksi bencana mencatat 32,59, berbanding 27,20 pada mereka yang tidak punya.

Skor kesiapan bencana, ya dan tidakSkor kesiapan bencana, ya dan tidakSkor kesiapan bencana, ya dan tidakRata-rata skor 452 mahasiswa, skala 13 sampai 52YaTidak31,0526,94Pernah ikutpelatihan bencana32,5927,20Punya rencana aksibencana29,0426,47Pernah mengalamibencana
Sumber: Media Subasi Baybuga, Mehtap Cullu, Zeynep Cetinkaya, dan Hatice Demir Kureci, Disaster preparedness and disaster risk perception among undergraduate health sciences students: a mixed-methods study, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Lalu ada temuan yang menjadi inti naskah. Makin tinggi skor kesiapan seorang mahasiswa, makin rendah skor persepsi risikonya. Hubungan terbalik itu bermakna secara statistik, dengan koefisien minus 0,382. “Temuan ini menunjukkan bahwa mahasiswa dengan tingkat kesiapan bencana yang tinggi cenderung memandang risiko bencana lebih rendah,” tulis Media Subasi Baybuga dari Departemen Keperawatan Kesehatan Masyarakat di Muğla Sıtkı Koçman University, bersama tiga rekannya. Kalimat itu aslinya berbahasa Inggris.

Para penulis menawarkan beberapa penjelasan. Pendidikan dan kegiatan persiapan menambah rasa mampu mengendalikan keadaan, yang menaikkan kepercayaan diri dan meredakan cemas. Persiapan juga bisa membuat orang merasa lebih aman daripada orang lain. Tinggal di daerah rawan, tulis mereka, dapat membuat risiko terasa biasa seiring waktu.

Pola yang sama terlihat pada kelompok lain. Mahasiswa yang pernah mengikuti pelatihan dan yang punya rencana aksi mencatat persepsi risiko lebih rendah. Sebaliknya, mereka yang kehilangan kerabat akibat bencana mencatat persepsi risiko lebih tinggi.

Baca juga Berat Badan dan Sikap ke Obesitas Mahasiswa Kesehatan Hanoi

Dua Hari di Jalan

Angka di atas rata-rata itu tidak terdengar di ruang diskusi. Semua dari 24 mahasiswa menyatakan tidak merasa siap menghadapi bencana apa pun. Kira-kira sepertiga saja yang mengaku punya persiapan pribadi. Hampir semua menilai kota tempat mereka tinggal berisiko.

Para penulis menamai selisih itu. “Ini menunjukkan adanya kesenjangan antara kesiapan yang dirasakan dan kesiapan yang sebenarnya,” tulis Baybuga dan rekan-rekannya dalam naskah berbahasa Inggris tersebut.

Mahasiswa yang pernah mengalami gempa bercerita tentang hari-hari sesudahnya. Seorang partisipan berkode FD1 mengaku tinggal di jalan selama dua hari, dengan tempat berlindung, air, dan upaya pencarian serta penyelamatan yang tidak memadai. Mahasiswa kedokteran berkode FM3 menyebut bantuan sesudah gempa sangat kurang.

Keamanan ikut dipersoalkan. Seorang mahasiswa menyebut ada orang yang menunggu di reruntuhan untuk menjarah. Mahasiswa lain mengatakan bantuan dan pasar dijarah, sementara keamanan tidak dapat dijamin. Rumah sakit lapangan juga muncul dalam cerita mereka. Seorang partisipan menyebut rumah sakit lapangan baru berdiri setelah tiga hari, dengan tenaga kesehatan yang kurang dan tanpa bahan. Partisipan lain mengatakan rumah sakit hancur dan layanan kesehatan tidak dapat diberikan. Beberapa mahasiswa menekankan pentingnya dukungan psikologis bagi korban.

Sirene dan Kolong Meja

Pelatihan bencana belum menjangkau sebagian besar mahasiswa ini. Hanya 31,9 persen yang pernah mengikutinya. Keinginan untuk belajar jauh lebih besar: 82,5 persen menyatakan ingin mendapat pelatihan. Latihan yang sudah ada pun dinilai kurang. Seorang partisipan berkode FHS 8 mengatakan latihan gempa sudah dilakukan sejak sekolah dasar, tetapi tidak ada yang menganggapnya serius. Urutannya, kata dia, hanya sirene berbunyi, berlindung di kolong meja, lalu keluar.

Sebagian mahasiswa mengusulkan pelatihan diwajibkan. Seorang mahasiswa menyebut pelatihan simulasi akan membantu orang memahami seriusnya bencana. Usul yang kerap muncul adalah pengawasan dan pengorganisasian yang dijalankan dengan efektif. Seorang mahasiswa ilmu kesehatan mengingatkan soal pengalaman lama. Ia bertanya-tanya apakah kesalahan yang sama akan terulang. Menurut dia, penting untuk menghindari kesalahan serupa dan mencegah kekeliruan yang mungkin terjadi.

Dari mana para calon tenaga kesehatan ini mengetahui soal bencana? Media sosial disebut 91,15 persen mahasiswa, televisi 60,84 persen, dan keluarga 41,15 persen. Dosen disebut 34,51 persen, sedangkan mata kuliah 33,63 persen. Di ruang diskusi jawabannya sama. Semua mahasiswa mengatakan berusaha mencari informasi bencana lewat media sosial, berita televisi, atau artikel koran daring. Mereka menganggap sumber-sumber itu dapat dipercaya.

Dari mana mahasiswa tahu soal bencanaMedia sosial: Persen mahasiswa +91,15%; Televisi: Persen mahasiswa +60,84%; Keluarga: Persen mahasiswa +41,15%; Publikasi ilmiah: Persen mahasiswa +39,60%; Media cetak: Persen mahasiswa +38,72%; Teman: Persen mahasiswa +34,96%; Dosen: Persen mahasiswa +34,51%; Mata kuliah: Persen mahasiswa +33,63%; Tenaga kesehatan: Persen mahasiswa +25,44%.Dari mana mahasiswa tahu soal bencanaPersen dari 452 mahasiswa, boleh memilih lebih dari satu sumber25%50%75%100%0Media sosial91,15%Televisi60,84%Keluarga41,15%Publikasi ilmiah39,60%Media cetak38,72%Teman34,96%Dosen34,51%Mata kuliah33,63%Tenaga kesehatan25,44%
Sumber: Media Subasi Baybuga, Mehtap Cullu, Zeynep Cetinkaya, dan Hatice Demir Kureci, Disaster preparedness and disaster risk perception among undergraduate health sciences students: a mixed-methods study, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Baca juga Cemas Finansial Mahasiswa Berujung ke Distres Psikologis

Kampus di Muğla

Naskah ini memuat batasnya sendiri. Para peserta berasal dari satu universitas di wilayah rawan bencana di Turki bagian barat, dan semua data berupa laporan diri. Jawaban dikumpulkan tidak lama setelah gempa Kahramanmaraş, sehingga menurut para penulis kesiapan dan persepsi risiko mungkin dinilai terlalu tinggi oleh peserta.

Gempa itu disebut naskah sebagai yang paling parah dan merusak di Turki dalam beberapa tahun terakhir. Kekuatannya 7,7 dan 7,6. Menurut angka resmi yang dikutip para penulis, 50.783 orang tewas, 115.353 orang terluka, dan 37.984 bangunan hancur.

Dari temuan itu para penulis mengajukan tiga saran. Materi kebencanaan dimasukkan ke kurikulum mahasiswa bidang kesehatan di lembaga serupa. Pelatihan terencana dengan teknologi seperti simulasi digelar untuk menaikkan kesiapan. Media sosial dipakai untuk menaikkan kesiapan dan persepsi risiko.

Tas gempa yang dihindari mahasiswa kedokteran gigi itu masuk ke pembahasan para penulis. Ucapannya mereka pakai sebagai tanda bahwa faktor emosi, seperti kecemasan, dapat menghambat perilaku bersiap. Studi berikutnya, tulis mereka, perlu menyertakan mahasiswa yang belajar di daerah berisiko tinggi.

Bagikan

Baca Juga

Perdagangan Karbon di Tiongkok Ikut Menekan Biaya Berobat Warga
Perempuan Herat Lebih Terhalang Izin Keluarga daripada Jarak
Bruselosis di Shanxi Naik Lagi Sejak 2017 dan Merambat ke Selatan
Dua dari Tiga Remaja dengan HIV di Ho Chi Minh Terpukul Pandemi
Perokok India Berkurang, yang Berhasil Berhenti Tetap Segelintir
Balita Nepal Lebih Sering Diare bila Ibunya Mengalami Kekerasan