- Dari seluruh balita itu, 8,9 persen mengalami diare dalam dua minggu sebelum survei.
- Balita yang ibunya mengalami kekerasan seksual tercatat 94 persen lebih sering diare dibandingkan balita lain.
- Kekerasan fisik tidak menunjukkan kaitan yang bermakna dengan diare anak.
- Balita yang ibunya dihina atau diancam pasangan tercatat 68 persen lebih jarang mendapat pengobatan.
- Hubungan sebab-akibat tidak dapat disimpulkan dari temuan ini karena penelitiannya potong lintang.
Daftar Isi
- Empat rupa kekerasan yang ditanyakan kepada para ibu
- Jalan dari pertengkaran orang tua ke sakit si anak
- Selisih yang bertahan setelah kemiskinan diperhitungkan
- Anak laki-laki lebih sering sakit, anak perempuan lebih jarang diobati
- Sejalan dengan Afrika dan Kamboja, dengan satu tambahan
- Batas yang dicatat kedua peneliti
Diare pada anak kecil biasanya dicari sebabnya di tempat yang kasatmata: air yang tidak aman, sanitasi yang buruk, berat lahir yang rendah, atau pemberian ASI yang kurang optimal. Jarang ada yang menoleh ke hubungan antara ibu si anak dan pasangannya. Padahal di Nepal, balita yang ibunya dihina, diancam, atau dikekang pasangan tercatat lebih sering terserang diare daripada balita lain. Sebagian dari mereka juga lebih jarang dibawa berobat. Kaitan itulah yang ditelusuri dua peneliti kesehatan masyarakat.
Keduanya adalah Divya Lakhotia dan Mariano Salazar, yang menuliskan hasilnya dalam artikel Maternal exposure to intimate partner violence and its association with diarrhoea prevalence and treatment among children under five in Nepal, dimuat BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Lakhotia bernaung di International Health Policy Program Foundation, Nonthaburi, Thailand, dan di Department of Global Public Health, Karolinska Institutet, Stockholm, Swedia. Salazar bekerja di departemen yang sama di Karolinska Institutet.
Empat rupa kekerasan yang ditanyakan kepada para ibu
Kekerasan oleh pasangan dalam naskah ini tidak hanya berarti pukulan. Lakhotia dan Salazar membaginya ke dalam empat bentuk: fisik, seksual, emosional, dan perilaku mengekang. Kekerasan emosional mereka artikan sebagai dipermalukan, diancam, atau dihina sampai seorang perempuan merasa buruk tentang dirinya sendiri. Kekerasan seksual berarti dipaksa secara fisik melakukan hubungan atau tindakan seksual yang tidak diinginkan. Kekerasan fisik merentang dari didorong dan ditampar sampai ditendang, dicekik, atau diserang dengan senjata.
Perilaku mengekang punya daftarnya sendiri. Pasangan cemburu atau marah ketika si perempuan berbicara dengan laki-laki lain, menuduhnya tidak setia, melarangnya bertemu teman-teman perempuan, membatasi hubungannya dengan keluarga, atau menuntut tahu keberadaannya setiap saat. Keempat bentuk itu ditanyakan untuk kurun dua belas bulan terakhir kepada 1.636 ibu dalam Nepal Demographic and Health Survey 2022, yang bersama-sama mengasuh 1.959 anak di bawah lima tahun.
Menurut Lakhotia dan Salazar, banyak kajian terdahulu terbatas cakupannya dan sering hanya menyoroti kekerasan fisik atau seksual. Padahal kekerasan emosional dan perilaku mengekang adalah bentuk yang paling umum. Naskah itu mencatat keduanya sudah dikaitkan oleh penelitian lain dengan kesehatan jiwa perempuan yang buruk, kehamilan yang tidak direncanakan, dan terganggunya pertumbuhan jangka panjang anak. Karena itu, dua bentuk yang jarang diteliti tersebut ikut mereka periksa.
Baca juga Bekal Ibu, Bukan Kuasa Ibu, yang Menentukan Vaksin Anak Filipina
Jalan dari pertengkaran orang tua ke sakit si anak
Bagaimana perlakuan terhadap ibu bisa sampai ke tubuh anak? Lakhotia dan Salazar merujuk sebuah kajian tahun 2011 yang menggambarkan jalurnya. Anak yang hidup di tengah kekerasan rumah tangga dirugikan secara langsung dan tidak langsung, mulai dari paparan stres akibat kekerasan sejak dalam kandungan sampai terganggunya pengasuhan dan pencarian layanan kesehatan. Ibu yang bergulat dengan stres serta kesehatan fisik dan jiwa yang memburuk, tulis mereka, bisa terbatas keterlibatannya dengan layanan kesehatan.
Naskah tersebut menyebut diare sangat peka terhadap cara anak diasuh, sumber daya rumah tangga, dan cepat-lambatnya orang tua mencari pertolongan. Ketiganya bisa terganggu ketika ibu mengalami kekerasan. Ada pula jalur lewat anak itu sendiri. Mengutip penelitian lain, Lakhotia dan Salazar menulis bahwa menyaksikan kekerasan menambah tekanan psikologis anak, yang pada gilirannya menaikkan risiko mereka jatuh sakit.
Lakhotia dan Salazar sendiri memeriksa dua hal: apakah balita mengalami diare dalam dua minggu sebelum survei, dan apakah balita yang diare itu dicarikan nasihat atau pengobatan. Tempat berobat yang dihitung beragam, dari rumah sakit pemerintah, pusat kesehatan, dan pos kesehatan, rumah sakit dan klinik swasta, serta apotek sampai lembaga swadaya masyarakat, toko, dan penyembuh tradisional.
Selisih yang bertahan setelah kemiskinan diperhitungkan
Dari seluruh balita itu, 8,9 persen mengalami diare dalam dua minggu sebelum survei. Dalam sampel, jumlahnya 177 anak. Kedua peneliti lalu membandingkan pengalaman kekerasan ibu dari anak yang diare dan ibu dari anak yang tidak diare. Di antara anak yang diare, 54 persen ibunya mengalami sedikitnya satu bentuk kekerasan, sedangkan di antara anak yang tidak diare angkanya 39 persen. Untuk perilaku mengekang, perbandingannya 44 persen dan 32 persen. Untuk kekerasan seksual, 8 persen dan 4 persen.
Lakhotia dan Salazar juga mencatat diare berkaitan dengan tingkat kemiskinan rumah tangga, pendidikan pasangan ibu yang lebih rendah, dan usia anak yang lebih muda. Dalam perhitungan lanjutan mereka memasukkan kekayaan rumah tangga, pendidikan ibu dan pasangannya, provinsi, tempat tinggal, agama, usia dan pekerjaan ibu, jumlah balita di rumah, serta usia, jenis kelamin, dan urutan lahir anak. Sesudah penyesuaian itu, beberapa bentuk kekerasan tetap berkaitan bermakna dengan lebih seringnya diare.
Kaitan paling kuat ada pada kekerasan seksual. Balita yang ibunya mengalaminya dalam dua belas bulan terakhir tercatat 94 persen lebih sering diare dibandingkan balita yang ibunya tidak mengalaminya. Kekerasan emosional menyusul dengan 87 persen lebih sering. Perilaku mengekang berkaitan dengan diare yang 64 persen lebih sering, dan pengalaman kekerasan dalam bentuk apa pun dengan 71 persen lebih sering.
Kekerasan fisik tidak menunjukkan kaitan yang bermakna dengan diare anak, baik sebelum maupun sesudah faktor lain diperhitungkan. Rasio prevalensinya 1,09, dengan rentang kepercayaan 0,62 sampai 1,92. “Sementara penelitian-penelitian sebelumnya menemukan hubungan yang bermakna antara kekerasan fisik yang dialami ibu dan diare anak, penelitian ini tidak menemukan hasil yang sama,” tulis Lakhotia dan Salazar dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.
Baca juga Pola Musiman Diare Akut di Fiji Memuncak Tiap Awal Tahun
Anak laki-laki lebih sering sakit, anak perempuan lebih jarang diobati
Gambaran itu bergeser ketika balita dipilah menurut jenis kelamin. Pada anak laki-laki, kekerasan emosional terhadap ibu berkaitan dengan diare yang 91 persen lebih sering, dan perilaku mengekang dengan 68 persen lebih sering. Pada anak perempuan, yang bermakna adalah pengalaman kekerasan dalam bentuk apa pun, juga dengan diare 68 persen lebih sering. Lakhotia dan Salazar menyimpulkan kaitan dengan diare lebih menonjol pada anak laki-laki.
Urusan berobat menunjukkan arah yang lain. Dari balita yang diare, 56,6 persen dicarikan pengobatan, atau menurut kedua peneliti sedikit di atas separuh. Hanya satu bentuk kekerasan yang berkaitan bermakna dengan peluang itu, yakni kekerasan emosional. Balita yang ibunya dihina atau diancam pasangan tercatat 68 persen lebih jarang mendapat pengobatan. Ketika dipilah, kaitan itu bermakna hanya pada anak perempuan, yang tercatat 91 persen lebih jarang diobati.
Lakhotia dan Salazar menyandingkan hasil itu dengan temuan penelitian lain. Penelitian di Gambia yang mereka kutip mendapati anak laki-laki lebih mungkin terkena diare, sedangkan anak perempuan lebih kecil peluangnya diobati. Anak laki-laki disebut lebih rentan terhadap infeksi masa kanak-kanak dan mungkin lebih bebas keluar rumah. Kajian di Asia Selatan menunjukkan pencarian layanan kesehatan kerap dibentuk norma gender, dengan anak perempuan yang sering dirugikan.
“Kontribusi unik penelitian ini adalah fokusnya pada bagaimana kekerasan oleh pasangan mengubah pola-pola bergender ini,” tulis Lakhotia dan Salazar. Mereka juga mencatat bahwa dalam sampel ini tidak ditemukan perbedaan bermakna antara anak laki-laki dan anak perempuan dalam hal seberapa sering diare maupun seberapa sering diobati secara keseluruhan. Perbedaan baru terlihat ketika pengalaman kekerasan ibu dianalisis terpisah menurut jenis kelamin anak.
Sejalan dengan Afrika dan Kamboja, dengan satu tambahan
Nepal bukan satu-satunya tempat pola ini terlihat. Lakhotia dan Salazar menyebut analisis besar atas data 37 negara Afrika sub-Sahara, yang melaporkan diare lebih mungkin terjadi pada anak yang ibunya mengalami kekerasan fisik, seksual, atau emosional. Di Kamboja, analisis data lebih dari satu dasawarsa menemukan hal serupa untuk kekerasan jenis apa pun. Sebuah kajian yang menggabungkan data Nepal, Bangladesh, dan India mendapati kekerasan fisik dan atau seksual menaikkan kemungkinan diare anak.
Soal berobat pun ada pembandingnya. Dalam kajian Kamboja itu, anak yang ibunya mengalami kekerasan lebih sedikit yang diobati ketika diare, yakni 32,0 persen berbanding 39,5 persen. Tambahan dari Nepal ada pada perilaku mengekang. Menurut Lakhotia dan Salazar, tidak satu pun kajian tadi memeriksa bentuk itu, sedangkan mereka mendapatinya berkaitan bermakna dengan diare anak. Mereka menilai kekerasan oleh pasangan perlu dipahami lebih luas ketika dikaitkan dengan kesehatan anak.
Baca juga Dua Puluh Satu Tahun Diare Menular Beijing dan Ramalan 2025
Diare, tulis keduanya, tetap menjadi salah satu penyebab utama kematian balita, dengan perkiraan 1,7 miliar kasus pada anak setiap tahun di seluruh dunia. Kekerasan oleh pasangan dialami tiga dari sepuluh perempuan secara global, dan di Asia Selatan angkanya 35 persen di atas rata-rata dunia. Di Nepal, kematian balita pada 2022 tercatat 27,3 per 1.000 kelahiran hidup.
Batas yang dicatat kedua peneliti
Lakhotia dan Salazar menuliskan sendiri batas temuan mereka. “Seperti semua penelitian potong lintang, hubungan sebab-akibat tidak dapat disimpulkan dari temuan ini,” tulis keduanya. Kaitan yang teramati, menurut mereka, bisa mencerminkan korelasi dan bukan pengaruh langsung kekerasan terhadap kesehatan anak. Keduanya menyebut datanya mewakili Nepal secara nasional dan lengkap.
Ada tiga batas lain. Kekerasan dilaporkan sendiri oleh para ibu, dan untuk perkara sepeka itu laporan bisa bias. Beberapa hal yang mungkin berpengaruh, seperti kondisi air, sanitasi, dan kebersihan, bisa terlewat karena datanya tidak terstandar. Lalu, jumlah balita diare yang bisa diperiksa urusan berobatnya relatif kecil, hanya 177 anak.
Dari sana mereka menarik saran. Penapisan kekerasan oleh pasangan dan layanan pendukungnya, menurut Lakhotia dan Salazar, bisa dipadukan ke dalam program kesehatan ibu dan anak agar keluarga yang berisiko dikenali dan ditolong lebih awal. Bentuk yang kerap terabaikan, yaitu kekerasan emosional dan perilaku mengekang, mereka minta mendapat perhatian lebih besar. Program kesehatan anak juga perlu memastikan anak laki-laki dan anak perempuan sama-sama terjangkau layanan yang tepat waktu.
Dalam simpulannya, Lakhotia dan Salazar menulis bahwa kekerasan seksual, kekerasan emosional, dan perilaku mengekang yang dialami ibu berkaitan bermakna dengan lebih seringnya diare anak, dan kaitan itu lebih kuat pada anak laki-laki. Kekerasan emosional berkaitan dengan lebih jarangnya pencarian pengobatan, terutama pada anak perempuan. Menurut keduanya, temuan itu menegaskan perlunya pendekatan kesehatan anak yang menyeluruh dan lintas sektor, termasuk pencegahan kekerasan dan dukungan bagi ibu.















